Yakin Itu “Sex education?

2 min read

sex education
0
()

Yakin Itu “Sex education?

Emmmm tau gak, kalau beberapa hari lalu ada film yang cukup membuat heboh netizen.. kamu tau apa itu ??

Yeees… Baru-baru ini muncul sinetron yang berjudul “Dari Jendela SMP”. Yakin Itu “Sex education?

Para pemainnya remaja yang menginjak usia 13-17 tahun.

Ini menjadi polemik di tengah-tengah masyarakat, karena banyak sekali adegan yang dirasa tidak mendidik, mulai dari pacaran sampai kemudian hamil.

Bayangin deh ya…SMP gitu loh hamil !

Yaa menurut yang bikin film mungkin mendidik kali ya menurut versi mereka sih setidaknya.

Bagaimana kalau menurut pendidik atau para intelektual?

Yang pasti para pendidik agak kurang sreg sih ya, masak rela muridnya masih kecil hamil, bagaimana pendidikannya coba  dan tentu hal ini membuat para intelektual menganggap ini adalah tontonan yang merusak dan menjadi contoh buruk bagi generasi, bikin miris saja.

Baca juga : cara membuat ebook dengan aplikasi canva

Oh ya, ada fakta nih menurut yang dilansir dari suarasasak.com dengan adanya protes ini, akhirnya KPI NTB turut memberikan ancaman tertulis pada program TV swasta tersebut.

Eh ya tapi juga tak sedikit yang menanggap adanya program ini memberikan pelajaran tentang “Sex Education”. Yakin?

Peran tua haruslah bijak sih dalam memberikan pergaulan, anak-anak yang pacaran harus membatasi diri supaya tidak hamil dan lain-lain.

Bagaimana peran orang tua dalam pendidikan seks? Peran orang tua sebagai pendidik terkait seks dilakukan dengan menjelaskan masalah seks secara lengkap.

Jadi si anak mendapatkan informasi tentang seks bukan dari orang luar, temannya atau bahkan orang yang salah.

Orang tua juga dapat berperan sebagai pemantau terhadap anaknya terkait seks.

Hal ini dilakukan orang tua dengan mendampingi anak dalam menghadapi persoalan seksual.

Nah ini, tulisan ini di bikin salah satunya adalah dengan niat memantau persoalan seks pada anak.

Karena penulis punya anak ya tentunya dan juga perduli dengan anak-anak yang lain.

Mungkin saja ada orang tua yang membaca tulisan ini lalu memperhatikan anaknya yang beranjak dewasa.

Eh ya kok jadi curhat, balik lagi ke film tadi ya….

Namun, faktanya tidak demikian lho Pada Jumat, (10 Juli 2020) ada 37 pasangan anak SMP pesta ‘sex’ di hotel. Petugas menemukan kondom, obat kuat dan miras duh seperti ini lah, itu tadi di lansir dari berita tribuntimur.com.

Bisa jadi berita di atas adalah jawaban “Sex Education” yang dimaksud. Wah justru ngeri dong…

Buah dari pergaulan bebas dimana-mana jadinya, aduh !.

Maksudnya begini, remaja itu suka melihat tuntunannya.

Nah film tadi tidak menuntut kemungkinan di jadikan tuntunan dong dengan melihat fakta diatas?

Btw aku gak tau sih film ini masi tayang atau tidak aku cuma pernah nonton sekilas doang, harapanya sih sudah lenyap atau ganti dengan film yang mendidik beneran.

Dan harapannya sih sudah jangan sampai ada lagi film-film yang serupa.

Oh ya kembali ke isi film tadi ya.

Film ini isinya  juga memberikan contoh, anak-anak yang baru lulus SD bisa melakukan pergaulan bebas.

Pacaran sudah menjadi hal lumrah di kalangan mereka, tak melakukannya akan disebut kuno, tak laku dan lain-lain.

Padahal seyogianya di umur mereka yang masih muda, haruslah di isi dengan semangat juang yang tinggi untuk masa depan mereka, menggantungkan cita-cita mereka setinggi-tingginya bukan malah meredupkan semangat juang karena gemerlapnya pergaulan.

Seharusnya tak hanya teguran tertulis, tetapi bertindak tegas.

Bahkan harus memboikot acara tersebut agar masyarakat tidak dibuat bingung yang tak ada ujung penyelesaiannya.

Oh ya di dalam Islam, tontonan juga ada aturannya lho..tontonan yang tidak mendidik akan ditiadakan.

Program-program televisi dan radio akan dipenuhi dengan hal mendidik bahkan akan menjadi tuntutan bagi mereka.

Contohnya program tahfidz, bahasa arab, ilmu-ilmu pengetahuan tenang alam hewan dan lain-lain.

Tontonan tersebut akan menjadi tuntutan di kehidupan mereka, terdidik di madrasah oleh orang tua.

Negara menjadi sarana untuk mengarahkan program-program tersebut berjalan atau tidak, sehingga akan sangat sulit bahkan tidak ada ditemui kasus berzina.

Mereka akan disibukkan dengan hafalan  Al-Qur’an, hadits, belajar bahasa Arab, tafsir dan masih banyak lagi kesibukan mereka.

Akhirnya tak ada waktu yang sia-sia untuk mereka melakukan sesuatu yang tak bermanfaat, semua di isi dengan kebaikan.

Maka untuk mengembalikan manusia pada kodratnya, menyembuhkan anak-anak kita dari sindrom pacaran, yakni mengembalikan Islam menjadi sumber lini kehidupan.

Mulai dari tatanan politik, sosial, ekonomi dan pergaulan semua sudah ada aturannya sih dalam islam.

Terimakasih telah membaca artikel pendek ini, kapan-kapan kita sambung lagi ya.

Semoga artikel ini bermanfaat untuk semuanya terutama orang tua, karena penulis bukanlah penceramah yang sekali bicara langsung dapat tersampaikan ke audiens maka dengan tulisan ini harapannya dapat menyampaikan ke khalayak.

Bagaimana menurut kamu?

 

 

Suka Artikel Ini ?

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

error: Content is protected !!