Riana Abidin Seorang Ibu rumah tangga yang memutuskan melepas pekerjaan demi memaksimalkan waktu memfokuskan diri untuk keluarga. Dengan modal pengetahuan dasar tentang PAUD saat menjadi guru, saya tertarik dan terus mempelajari tentang parenting dan ingin berbagi seputar dunia anak dalam bentuk tulisan. Penulis bisa dihubungi di sosial media FB dan IG: Riana Rizki Abidin, email: rizki25th@gmail.com

Tips Menghadapi Kewalahan Saat Mengajarkan Calistung

3 min read

tips mengajar calistung
0
()

Tips Mengajar Calistung

Tips mengajar calistung – Calistung (baca, tulis, hitung) merupakan gerbang awal keseriusan anak dalam masa sekolah. Hal ini sering kali menjadi tuntutan saat memasuki Sekolah Dasar. Namun, perbedaan minat baca pada setiap anak sering kali muncul dalam kondisi yang berbeda-beda, sehingga hasil dari pembelajaran Calistung tidak bisa disamakan satu dengan yang lainnya dan bahkan tidak bisa dipaksakan. Saat bersekolah Taman Kanak-Kanak, anak lebih banyak bermain dan melakukan stimulasi untuk tumbuh kembangnya, selain itu Calistung memang belum disarankan untuk usia ini.

 

Oleh karena itu, sering kali orang tua ataupun guru merasa harus mengejar target Calistung untuk persiapan Sekolah Dasar. Karena waktu yang terbatas, Calistung seakan menjadi target. Naasnya, tidak semua anak menikmati pembelajaran Calistung yang seakan dipaksakan. Yang lebih buruk lagi, pemaksaan dapat menimbulkan trauma dan memunculkan kesan yang buruk pada kata “belajar”. Jika anak sudah tidak suka dengan belajar, lalu bagaimana ia akan menghadapi tahapan-tahapan selanjutnya?

Pada anak usia dini, pusat yang berkembang adalah perasaannya. Anak-anak yang merasa bahagia dan melakukan segala sesuatu dengan gembira, dapat memaksimalkan tumbuh kembangnya. Dan informasi yang mereka dapatkan dalam kondisi tenang tanpa paksaan akan mudah diserap. Oleh karena itu, metode dalam mengajarkan Calistung pada anak haruslah menyenangkan dan tidak bisa dipaksakan, apalagi ditargetkan karena waktu yang terbatas. Agar tidak kewalahan saat mengajarkan calistung, berikut hal-hal yang dapat dilakukan:

Tips Mengajar Calistung

 

  1. Stimulasi

Anak yang mendapatkan stimulasi minat baca sejak dini, akan lebih tertarik untuk belajar Calistung. Stimulasi tersebut dapat dilakukan bahkan sejak masih dalam kandungan, saat masih bayi, dan usia 2 tahun keatas.  Biasakan anak mendengarkan cerita dan melihat simbol-simbol yang berbentuk tulisan pada buku yang sesuai dengan usia mereka. Sehingga tanpa disadari mereka akan mengenal simbol-simbol yang akan mempermudah saat belajar calistung nantinya. Selain itu anak yang sudah dikenalkan buku sejak masih kecil (sebelum usia sekolah) dapat menumbuhkan minat baca. Stimulasi ini dapat dilakukan sesuai tahapan usia. Anak yang mendapatkan stimulasi yang cukup akan mempermudah saat belajar calistung nantinya.

 

  1. Pilih waktu yang sesuai

Saat mengajarkan Calistung, khususnya pada anak usia dibawah 6 tahun, pastikan segala kebutuhannya sudah tercukupi, seperti makan, istirahat dan waktu bermain yang cukup. Karena kebutuhan atau keinginan yang belum terpenuhi pada anak dapat mengganggu konsentrasi dan juga mood mereka. Carilah waktu khusus disela-sela aktivitasnya, seperti di pagi hari setelah selesai mandi dan sarapan atau sesaat sebelum waktu tidur. Sambil membacakan buku cerita, orang tua dapat mengenalkan huruf sambil menunjuk yang tertulis pada buku.

 

  1. Metode Pengajaran

Selain stimulasi dan pemilihan waktu yang tepat pada pembelajaran Calistung, metode yang digunakan untuk mengenalkan Calistung pada anak juga harus menarik, agar tidak memberikan kesan “belajar adalah hal yang membosankan”. Sama seperti halnya bermain bagi anak, bermain adalah hal menyenangkan yang ditunggu-tunggu setiap harinya.

 

Bahkan tak ada kata bosan untuk bermain. Maka pengajar ataupun orang tua sebisa mungkin memberikan mindset kepada anak bahwa belajar adalah hal yang menyenangkan. Pada usia dini, bisa menggunakan metode belajar sambil bermain. Sehingga anak tidak menyadari bahwa saat ia bermain, ada pembelajaran di dalamnya. Pengajar atau orang tua dapat membuat game, seperti membuat kartu huruf dan angka, anak dapat diminta untuk melompat ke kartu yang sudah dijajarkan, lalu menyebutkan apa yang tertulis di atasnya.

 

Selain itu, pengajar atau orang tua dapat menaruh kartu-kartu tersebut di tempat-tempat tersembunyi, anak diberikan clue lalu diminta untuk mencarinya. Contoh lainnya, anak dapat diajak menulis di atas pasir menggunakan jari tanpa alat tulis atau menulis menggunakan kapur di jalanan. Tentunya bukan di jalan raya ya 🙂

 

  1. Rutin

Mengingat mood anak sering kali berubah-ubah. Memaksakan anak untuk belajar tentulah menjadi sia-sia. Konsentrasi anak dapat berubah pada hal lain jika pembelajaran hanya dikaitkan dengan durasi yang lama. Durasi anak belajar tidak menjamin pemahaman yang sempurna. Belajar 2x dalam seminggu dengan durasi 1- 2 jam belum tentu lebih baik dari belajar 15 menit setiap harinya pada anak usia dini.

 

Proses sangatlah penting dalam menentukan hasil. Tidak perlu terburu-buru dan terfokus pada hasil kemampuan anak. Biarkan anak mempelajarinya perlahan hingga betul-betul paham dan suka akan belajar. Pengulangan akan membuat anak semakin mengerti dan paham maksud dari suatu hal yang ia pelajari. Buatlah pola ataupun jadwal tertentu untuk anak belajar secara rutin. Tentunya tetap memperhatikan cara mengajarkannya ya 🙂 Agar anak tidak merasa stress dan selalu dituntut untuk belajar.

 

  1. Perlakukan anak dengan hormat dan penuh kasih sayang

Setiap orang pasti ingin diperlakukan dengan baik dan tidak suka dipaksa, begitu juga dengan anak-anak. Jika kita menginginkan anak melakukan hal yang kita minta dengan senang hati, maka kita harus membuatnya senang dan juga terkesan. Gunakan bahasa kasih sayang dan juga kalimat positif saat meminta anak untuk melakukan sesuatu. Jangan lupa berikan pujian atau reward saat ia berhasil melakukan sesuatu dengan baik. Sehingga anak akan merasa dihargai dan juga bertambah percaya diri. Seperti: ”Wah… hebat! Kamu dapat menulis dengan baik. Itu semua karena kamu terus berlatih dan pantang menyerah.”

 

Anak yang mendapatkan motivasi dan bahagia tentulah dapat lebih mudah menyerap pembelajaran. Saat anak melakukan kesalahan ataupun kekeliruan, jangan melabel anak dengan kata-kata yang dapat menyakiti hatinya, seperti “Kamu gimana sih? Gitu aja kok nggak bisa!”. Cara kita memperlakukan anak akan menentukan semangat belajar anak. Dan anak yang bersemangat dalam belajar tentulah hasilnya akan baik.

Baca juga : Cara Menulis Artikel Yang Baik dan Menarik

Banyak hal yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang dan kemampuan anak. Semuanya akan berkembang optimal ketika  semua kebutuhan dan haknya terpenuhi. Termasuk belajar yang merupakan hak dan juga kebutuhan setiap anak agar dapat hidup dengan baik dan juga mandiri pada saat dewasa nanti.

 

Perasaan bahagia, stimulasi pada setiap tahapan tumbuh kembang dan cara ia mempelajari suatu hal sangat menentukan kualitas anak di masa depannya kelak. Calistung hanyalah dasar dari berbagai aspek pembelajaran. Cepat atau lambat, anak dapat menguasainya dengan baik selama pengajar ataupun orang tua mengajarinya dengan sabar mendampingi setiap prosesnya. So, don’t be panic! 🙂

Suka Artikel Ini ?

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Riana Abidin Seorang Ibu rumah tangga yang memutuskan melepas pekerjaan demi memaksimalkan waktu memfokuskan diri untuk keluarga. Dengan modal pengetahuan dasar tentang PAUD saat menjadi guru, saya tertarik dan terus mempelajari tentang parenting dan ingin berbagi seputar dunia anak dalam bentuk tulisan. Penulis bisa dihubungi di sosial media FB dan IG: Riana Rizki Abidin, email: rizki25th@gmail.com
error: Content is protected !!