Strategi Sepakbola : Gegenpressing ala Guardiola vs Klopp

4 min read

strategi sepakbola gegenpressing guardiola vs klopp
5
(2)

Strategi Sepakbola : Gegenpressing ala Guardiola vs Klopp

 

Pengertian Gegenpressing

Gegenpressing adalah frasa Bahasa Jerman yang jika diterjemahkan ke Inggris menjadi Counterpressing. Dalam satu decade terakhir ini, frasa tersebut sangat lekat dengan sosok Jurgen Klopp yang sejak 2015 diikat kontrak oleh Liverpool. Sebelumnya, Klopp sudah mempraktikkan taktik ini bersama Borussia Dortmund dan hasilnya adalah patahnya dominasi Munchen di Bundesliga dalam 2 tahun berturut-turut.

Dalam sepak bola, terdapat 3 kondisi atau fase secara umum. Fase tersebut adalah fase menyerang, bertahan dan transisi. Menurut Jose Mourinho, fase transisi adalah fase paling krusial dalam permainan.

Singkatnya, pada situasi transisi kedua tim yang bermain atau hampir keduapuluh pemain (bahkan terkadang termasuk kedua kiper) berada pada positioning yang tidak ideal. Situasi inilah yang dimanfaatkan dalam taktik gegenpressing.

Namun benarkah sosok Jurgen Klopp adalah pelatih pertama yang menerapkan atau bahkan penemu dari taktik Gegenpressing?

Baca Juga :

Belajar Strategi Pola Penyerangan dan Pertahanan Permainan Sepak Bola

Sejarah singkat Gegenpressing

Jauh sebelum Jurgen Klopp, sekitar 50 tahun silam, Belanda bersama Rinus Michels terkenal dengan taktik totalfootball-nya. Lebih dekat lagi, ada Jurgen Klinsmann bersama tim nasional Jerman di Piala Dunia 2006. Jerman kala itu berhasil menjadi juara ketiga setelah di semi-final takluk dari Italia lewat perpanjangan waktu.

Namun, ternyata sosok Pep Guardiola yang lekat dengan istilah tiki-taka juga menerapkan taktik counterpressing ini. Guardiola yang sejak 2008 didapuk jadi pelatih utama Barcelona langsung menghadiahkan treble winner untuk para pendukung Barca. Rekor apik kepelatihan Pep berlanjut saat ia menangani Bayern Munchen (2013) dan kini di Machester City.

Gegenpressing yang manjur

Sesuai perkataan Mourinho, fase transisi adalah fase paling krusial dalam permainan. Tim yang bertahan lalu berhasil merebut bola dari penguasaan tim penyerang akan berusaha mencetak gol setelah melakukan build up serangan.

Tim yang baru saja merebut bola memiliki dua opsi, yaitu melakukan build up secara perlahan, rapi dan terstruktur atau melakukan serangan balik cepat atau dengan direct ball kepada target man. Opsi kedua sering dilakukan dengan cepat (mencapai kotak penalty kurang dari 20 detik), kondisi inilah yang disebut Mourinho krusial karena tim yang baru saja menyerang belum siap atau positioning pemain untuk bertahan belum rapi.

Tim yang menyerang cenderung sudah berubah dari formasi dasar, karena untuk membongkar pertahanan lawan perlu kombinasi dan gerakan yang cair. Alhasil ketika kehilangan bola, mereka akan sedikit kelabakan.

Salah satu cara yang efektif untuk mencegah terjadinya counter attack lawan adalah dengan melakukan pressing ketat tepat setelah kehilangan bola, taktik inilah yang disebut dengan counterpressing/gegenpressing.

Alih-alih kembali ke posisi bertahan, tim yang baru kehilangan bola akan langsung mengambil inisiatif untuk merebut bola kembali secepat mungkin. Taktik ini jika dilakukan secara kolektif dan sudah direncanakan serta dilatih dengan baik akan memiliki keunggulan sebagai berikut:

  1. Lawan melakukan force long ball. Biasa disebut menyapu/membuang bola dan tidak bertujuan untuk menyerang. Seringnya force long ball menghasilkan bola keluar lapangan atau tim penyerang kembali mendapat bola (recovery) di wilayah tengah lapangan.
  2. Lawan kebingungan mencari rekan dan mudah melakukan kesalahan. Pemain yang cerdas akan mengarahkan pemain yang menguasai bola untuk menggunakan kaki terlemahnya. Situasi ini akan membuat pemain mudah kehilangan bola dan recovery segera diperoleh.
  3. Jarak build up jauh lebih dekat. Setelah me-recovery bola, untuk melakukan serangan gelombang selanjutnya tidak perlu build up dari pemain bertahan atau bahkan kiper. Tak jarang gegenpressing ini hanya perlu melakukan 2-3 passing untuk mencetak gol, inilah yang sering terjadi saat Pep menahkodai City.

Namun layaknya taktik yang lain, gegenpressing ini juga memiliki beberapa kelemahan, antara lain:

  1. Stamina cepat terkuras. Pernyataan ini bisa diperdebatkan, umunya stamina pemain akan mudah habis. Namun, jika dilakukan secara kolektif dan cerdik maka justru pemain tidak perlu jauh-jauh turun dan melakukan koordinasi pertahanan.
  2. Mudah kebobolan jika lawan berhasil keluar dari pressing. Ketika lawan berhasil keluar dari situasi pressing, maka sisi half space di belakang akan mudah terekspos penyerang lawan dan pertahanan belum siap menerima serangan.
  3. Sistem terkesan berantakan. Ini bisa jadi sebuah kelemahan ataupun keunggulan dari takti gegenpressing. Akan jadi keunggulan jika dikoordinasikan dengan baik, namun jadi kelemahan ketika pemain yang melakukan pressing bingung sendiri.

Gegenpressing ala Guardiola

Guardiola menerapkan peraturan 6 detik bersama Manchester City. Singkatnya, Guardiola menginstruksikan para pemainnya untuk segera merebut bola tepat setelah kehilangan bola dengan melakukan pressing ketat di 6 detik awal kehilangan bola.

Jika pressing di 6 detik awal gagal, maka akan ada 2 opsi yang diberikan Pep. Opsi pertama adalah melakukan pelonggaran pressing untuk menilik kembali situasi pertandingan sekaligus melakukan pemosisian pemain dalam pola bertahan. Opsi kedua adalah melakukan professional foul di wilayah lawan. Opsi kedua sering diambil ketika tim lawan dikenal memiliki kelebihan dalam serangan balik seperti Untied, Madrid dan Munchen.

Opsi pertama dilakukan dengan maksud memberi nafas pemain di tengah dan belakang agar memposisikan diri. Namun, situasi ini juga memberi nafas pada pemain bertahan lawan untuk perlahan melakukan build up. Lawan akan lebih tenang dalam menguasai bola.

Pep terkenal sebagai pelatih jenius memiliki pola khas pada permainannya. Namun, pola tersebut dapat ia sedikit modifikasi dengan menyesuaikan tim yang akan ia lawan. Pada situasi opsi pertama, ketenangan lawan terutama ketika menguasai bola di wilayah sendiri justru dimanfaatkan oleh Pep Guardiola. Dengan momentum dan timing yang tepat maka secara kolektif pemain Pep akan melakukan pressing ketat lagi.

Sebagai contoh adalah pertandingan City melawan Madrid pada laga leg kedua 16 UCL 2019/2020. Sterling melihat Militao yang menguasai bola hanya memiliki opsi umpan kepada Varane dan Ferland Mendy karena Kroos dijjaga oleh De Bruyne. Opsi umpan pada Varane cukup riskan karena hanya menyisakan Varane sedangkan ada Foden dan Jesus yang siap menutup Varane. Sterling dengan cerdik melakukan pressing sambil menutup passing line ke Mendy. Bola berhasil Sterling rebut meskipun tidak berujung gol.

Sedangkan untuk opsi kedua, Pep menginstruksikan pemainnya untuk melakukan tackling yang tergolong riskan untuk diganjar kartu kuning demi menggagalkan build up cepat pemain lawan. Istilah untuk strategi ini adalah tactical foul atau professional foul.

Pada pertandingan City melawan West Ham di Oktober 2019, City membuat 13 pelanggaran dan West Ham hanya 5 kali. Statistik ini disoroti oleh Pellegrini, pelatih West Ham. Ia menuding Pep sengaja melakukan perusakan ritme permainan lawan dengan melakukan pelanggaran, namun Pep menolak tudingan itu. Namun dikutip oleh ESPN FC, Rodri yang menjadi pemain baru musim itu di City justru menyatakan bahwa tactical foul adalah sesuatu yang baru ia pelajari di City.

Ketika di City, instruksi ini sering diberikan kepada para pemain gelandang bertahan seperti Fernando dan Fernandinho. Datangnya Rodri juga menambah stok amunisi ‘kecerdikan’ Pep. Namun, sejak di Barcelona Pep juga pernah menggunakan taktik ini. Hanya saja, Barcelona yang memiliki Javier Mascherano dan Sergio Busquet terkesan lebih bersih karena pembacaan permainan, timing, dan momentum yang dilakukan kedua pemain itu dalam merebut bola sangat baik.

Gegenpressing ala Jurgen Klopp

 

Klopp penah mengatakan bahwa tiada playmaker di dunia yang sebaik saat situasi counterpressing. Kurang lebih apa yang dilakukan olen Jurgen Klopp mirip dengan Pep Guardiola. Namun, ada sedikit perbedaan dari keduanya.

Jurgen Klopp tergolong lebih tidak sabar dalam merebut bola kembali. Klopp menginstruksikan peemainnya untuk lebih man oriented. Para pemain harus ada yang mengincar si pembawa bola dan beberapa pemain terdekatnya. Namun, tetap ada yang bertugas untuk menjaga zona penting yang dapat dieksploitasi lawan. Pemegang bola hanya akan memiliki waktu singkat untuk berfikir harus mengumpan atau membawa bola karena pressing ketat dan cepat dari pemain Klopp.

Klopp selalu lekat dengan kata gegenpressing karena hampir di tiap pertandingan tingkat pressing yang dilakukan cukup ketat dan tinggi. Mulai dari Hoffenheim, Dortmund hingga kini di Liverpool taktiknya tak jauh berubah. Hanya saja kini ia memiliki taktik dan pola yang lebih matang serta pemain yang lebih memumpuni juga. Kelebihan dari Jurgen Klopp adalah ia menjadikan situasi counterpressing sebagai build up serangan. Artinya, ini adlaah bagian dari serangan dan ketika bola sudah berhasil direbut maka pemain sudah siap untuk mencetak gol.

 

Pada intinya, kedua pelatih sama-sama menekankan untuk melakukan pressing ketat tepat pada saat kehilangan bola. Dengan memanfaatkan shape/pola penyerangan yang belum baik dari lawan, mereka akan kebingungan untuk memainkan bola dan dengan tekanan yang diberikan secara tepat maka lawan dengan mudah melakukan kesalahan.

 

https://totalfootballanalysis.com/article/klopp-his-tactical-evolution-from-dortmund-to-liverpool-tactical-analysis-tactics

Suka Artikel Ini ?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

error: Content is protected !!