Strategi Sepak Bola : Parkir Bus Ala Mourinho

4 min read

mourinho
5
(2)

 

Pengertian dan Sejarah Singkat “Parkir Bus”

Parkir bus adalah istilah untuk tim yang bermain sepakbola, namun menempatkan banyak pemain di area pertahanan sehingga menyulitkan pemain lawan untuk mencetak gol. Istilah ini sangat lekat dengan sosok Jose Mourinho. Istilah ini mulai menempel pada sosoknya pada saat leg kedua semifinal UCL 2009/2010. Saat itu Inter berhasil dibawanya menjadi juara UCL dan meraih Treble Winner.

Inter kala itu berhasil menang 3-1 di Camp Nou dan sedang dalam keadaan tertinggal 0-1 di leg kedua, namun secara agregat mereka masih menang dan lolos ke final. Saat itu, Mourinho menerapkan sistem dan pola pertahanan yang banyak, kuat dan solid. Hingga akhirnya hasil yang sesuai dengan apa yang ia harapkan terwujud.

Baca Juga :

Strategi Sepakbola : Gegenpressing ala Guardiola vs Klopp

Belajar Strategi Pola Penyerangan dan Pertahanan Permainan Sepak Bola

Namun, itu bukanlah awal terciptanya istilah tersebut. Hanya saja, meman Mou sendiri yang mencipptakan istilah itu. Uniknya, Mou menggunakan istilah yang berkonotasi sedikit negatif itu kepada tim lawan, yaitu Spurs saat Mou masih melatih Chelsea di 2004. Kala itu, Mou dibuat frustasi oleh rival sekota Chelsea karena mereka bermain defensif dan menumpuk banyak pemain. Ia pun menganalogikan rasa frustasinya dengan menyebut Spurs memarkir bus di depan gawang mereka.

Mourinho menilai bahwa dengan menumpuk pemain di depan gawang sendiri layaknya memarkir bis di depan gawang, karena tim yang menyerang akan sulit mencetak bola. Bola yang ditendang kea rah gawang akan terbentur oleh bis tersebut. Ia juga menilai bahwa hanya satu tim yang ingin menang dan satunya hanya ingin tidak kebobolan.

Setelah kritikan Mou keluar, mulai banyak yang lebih waspada dengan tim yang berinisiatif bertahan. Terlebih lagi, muncul permainan indah yang memiliki inisiatif untuk mempertahankan bola dalam penguasaannya selama mungkin sehingga punya kesempatan menyerang lebih besar dan sedikit kemungkinan kebobolan. Tiki-taka Barcelona, Wengerball, hingga Gegenpressing bisa dibilang sebagai lawan kata dari “parir bus”. Akibatnya, istilah parkir bus digunakan secara berlebihan dan kurang sesuai konteks.

Dikatakan tidak sesuai konteks karena dalam suatu permainan ada tim yang bertahan dan ada tim yang meyerang. Dengan menyeruaknya permainan “indah” maka tim yang tidak melakukan serangan dengan gencar dianggap bermain buruk dan menodai keindahan permainan sepakbola. Padahal, ketika tim kecil bertemu tim besar hal ini sering terjadi dikarenakan kemampuan tim atau sistem ataupun individu para pemainnya berjarak sangat jauh. Sehingga, mereka terpaksa ataupun dipaksa untuk bertahan saja dan hanya berkesempatan menyerang sesekali.

Morinho sendiri cukup sukses di awal kepelatihannya bersama Chelsea setelah menjadi asisten Luis van Gaal di Barcelona yang notabene memiliki filosofi bermain possession ball. Namun, Mou justru membawa filosofi yang agak aneh. Ia bersikukuh bahwa semakin sering tim menguasai bola, maka semakin besar kemungkinannya untuk kebobolan karena rawan membuat kesalahan fatal. Hal inilah yang membuatnya menjadi sosok rival abadi Pep Guardiola, meskipun keduanya sempat bekerja sama menjadi asisten LvG di Barca.

Seni Bertahan Untuk Menang

Ketika sering menggunakan counter attack cepat, Mou memang tak perlu banyak menguasai bola. Ia menguasai bola hanya untuk mencetak gol dan tak perlu bersusah payah merusak pola/formasi baku lawan. Singkatnya, ketika menyerang dan mencoba membongkar suatu pertahanan maka suatu tim perlu melakukan kombinasi gerakan yang hampir pasti merubah shape awal. Ketika kehilangan bola, maka mereka butuh waktu untuk kembali ke bentuk awal mereka dan menyiapkan pertahanan. Situasi inilah yang dimanfaatkan Mourinho untuk balik menusuk lawan tanpa perlu melakukan banyak penguasaan bola untuk mendapat 1 gol.

Mourinho melakukan pertahanan zona oriented sehingga bentuk baku timnya tidak terlalu berubah dan siap untuk menyerang balik. Rasanya tak adil jika menyebut ide Mourinho ini sebagai negative football dan merujuk ke pernyataan awal Mou bahwa hanya satu tim ingin menang karena pada dasarnya Mourinho juga ingin mencetak gol sebanyak-banyaknya untuk menang.

Strategi Mourinho juga masih sesuai dengan visi dasar sepakbola, yaitu mencetak gol sebanyak-banyaknya ke gawang lawan dan mencegah gawang sendiri dari kebobolan.

Lalu apa yang salah dari strategi Mou?

Merusak “Keindahan” Sepakbola

Mourinho dan strateginya sering dicap sebagai biang kerok dari rusaknya permainan indah. Kalangan umum mengatakan bahwa sepak bola terlihat indah jika tim yang mereka dukung bermain menyerang. Dengan menguasai bola, otomatis sebuah tim akan merancang build up penyerangan.

Di sepakbola lawas, ada totalfootball Belanda yang ngotot ignin menyerang. Lalu ada Brazil yang terkenal pemainnya terlihat lihai saat membawa bola sehingga terkesan indah dan memiliki talenta tak terhingga hingga kini. Di sepakbola modern, ada pelatih yang memainkan taktik one-two pass, gerak kombinasi indah, switch-play dengan umpan diagonal akurat dan sejenisnya. Contoh dari pelatih itu adalah Pep Guardiola dan Arsene Wenger.

Bagi kebanyakan orang, mungkin alasan menganggap sepakbola menyerang sebagai permain indah adalah karena menyukai para pemain yang terlihat semangat dan sangat bergairah untuk menang dengan mencetak gol. Ada pula yang suka dengan umpan-umpan cantik terlebih umpan jauh akurat, penyelesaian akhir penyerang yang berujung gol indah serta alasan lainnya.

Namun, pertahanan dalam sepakbola pun butuh kelihaian yang tak kalah penting. Bahkan tak jarang menimbulkan keindahan yang luar biasa. Melihat penyelamatan kiper sambal melayang di udara dan melakukan fingertip, duel udara pemain bertahan, hingga tackle indah para pemain bertahan atau bahkan cara mereka memotong serangan dengan cerdik.

Jadi, sah-sah saja jika ada tim bermain bertahan asalkan juga memiliki gairah untuk mencetak gol di saat yang tepat.

Ide Awal Mourinho

Mourinho sejak kecil disebut sudah membantu kerja ayahnya yang menjadi seorang pelatih untuk memantau lawan. Hasil pantauan ini akan dianalisis untuk kemudian diserang di bagian terlemahnya. Inilah yang menjadikan ia terkenal dengan strategi pragmatis ini.

Dengan filosofi tim yang membawa bola lebih rentan melakukan kesalahan, ia meaplikasikannya dalam system pertahanannya. Mou akan meminta pemainnya untuk cenderung lebih sabar saat ingin merebut bola. Disinilah letak perbedaan strategi Mou dengan Gegenpressing. Ketika serangan bali gagal berujung gol atau berhasil direbut kembali oleh lawan Mou cenderung menunggu situasi tepat yang akan membuat lawan lebih terpojokkan dengan cara menutup line passing lawan dan memaksa pembawa bola melakukan drible berisiko. Taktik ini disebut regroup, yaitu mereka segera membentuk pola pertahanan yang rapat kembali.

Ada dua opsi si pembawa bola, passing yang rentan ter-intercept lawan atau membawa bola namun rentan direbut dengan pressing kejutan yang disiapkan Mourinho (pressing trap). Kedua opsi akan berhilir ke terebutnya bola. Dan sama dengan konsep gegenpressing, serangan balik cepat tidak perlu waktu lama dan lebih berbahaya karena tim lawan belum siap betahan. Kejeniusan Mourinho ini membuatnya tidak hanya terkenal dengan system pertahanan, namun juga serangan balik cepatnya.

Lalu dimanakan letak bis Mourinho?

Mourinho akan memarkirkan bus (pemain) pada saat tertentu saja. Mou jarang menerapkan low block atau blok rendah sejak awal laga. Ia lebih sering menggunakan medium block bahkan sesekali blok tinggi. Namun, ketika tim lawan berhasil merangsek ke sepertiga pertahanan maka rancangan bis Mourinho segera disusun. Pada kasus laga leg kedua semi-final UCL 2010 melawan Barca, Mourinho memulai blok rendah ketika Thiago Motta dikartu merah di menit 27. Sepanjang laga, ia memarkir bus dan hanya mengandalkan serangan balik saja. Prinsipnya saat itu adalah, jika timnya berusaha merebut bola maka perlu meninggalkan zona yang ia jaga. Sedangkan, jika hal itu terjadi maka anak asuh Pep siap mengeksploitasi zona tersebut. Mou tak ingin situasi ini terjadi dan mengistruksikan pemainnya untuk menunggu saja.

“Tidak penting bagaimana cara kita bermain. Jika kau punya Ferrari dan aku hanya punya mobil butut, untuk mengalahkan anda dalam sebuah balapan perlu menghancurkan banmu atau menaruh gula di tangki bahan bakarmu”

-Jose Mourinho-

Suka Artikel Ini ?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

error: Content is protected !!