Obat Tidur, Bukan Satu-Satunya Solusi Penderita Insomnia

2 min read

obat tidur untuk insomnia
0
()

Sulit tidur atau insomnia adalah gangguan tidur yang sering dialami, baik itu oleh anak-anak, remaja, mahasiswa, pekerja, bahkan para lansia. Kondisi ini akan membuat Anda berakhir dengan uring-uringan di atas kasur, main gadget, ataupun nyemil di malam hari. Saat bangun pun, tubuh Anda jadi tidak fit dan berstamina. Tidak sedikit penderita insomnia yang berakhir menggunakan obat tidur.

Apakah penggunaan obat tidur aman untuk tubuh?

Setiap obat yang dikonsumsi harus berada di bawah pengawasan dokter. Artinya, meskipun obat dijual di apotek secara bebas, tapi penggunaannya tetap berdasarkan resep dokter. Hal ini untuk meminimalisir efek samping yang dapat muncul dan menghindari ketergantungan pada obat.

Pemberian dosis obat akan ditentukan dokter berdasarkan tingkat keparahan gangguan tidur yang dialami. Jadi, Anda tidak boleh sembarangan dalam mengonsumsi obat tidur, apalagi tanpa resep dari dokter. Berikut ini beberapa jenis obat tidur yang dijual bebas.

Baca Juga: 9 Penyebab dan Cara Mengatasi Gejala Vertigo

Benzodiazepin.

Obat tidur golongan benzodiazepin terbagi lagi berdasarkan masa paruh obat di dalam tubuh. Adanya perbedaan pada masa paruh ini menunjukkan keefektifan obat benzodiazepin dalam mengatasi kesulitan untuk memulai tidur. Berikut beberapa jenis obat yang termasuk golongan ini adalah sebagai berikut.

  1. Triazolam, memiliki masa paruh obat lebih dari 10 jam.
  2. Aprazolam, lorazepam, dan estazolam memiliki masa paruh obat 10-20 jam.
  3. Diazepam dan clonazepam memiliki masa paruh obat lebih dari 20 jam.

Sementara itu, untuk mengatasi keluhan sering terbangun dini hari, obat dengan masa paruh 10-20 jam akan lebih efektif. Hal ini karena masa paruh obatnya yang tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lama. Obat golongan benzodiazepin mengandung zat sedatif (penenang), sehingga penggunaannya harus dengan resep dokter.

Umumnya, efek samping yang dapat timbul dari pemakaian obat tidur ini adalah:

  1. Rasa kantuk hebat.
  2. Pusing.
  3. Rasa nyeri di kepala.
  4. Mulut jadi kering dan lidah terasa pahit.
  5. Hang over, efek yang muncul akibat akumulasi sisa metabolit aktif dari obat, seperti mual, perasaan ringan di kepala, dan suf (butek). Kondisi ini dapat memicu terjadinya kecelakaan pada pengendara motor.
  6. Gejala paradoksal, seperti mudah gelisah, marah-marah, mudah terangsang, dan mengalami kejang-kejang.
  7. Ketergantungan obat yang dipicu oleh kondisi abstinens, seperti sering mimpi buruk, muncul perasaan takut dan cemas, serta tubuh mengalami ketegangan hebat.
Non-benzodiazepin.

Obat golongan non-benzodiazepin dapat digunakan untuk terapi insomnia jangka pendek. Adanya obat tersebut sebagai alternatif yang baik untuk menggantikan obat tidur golongan benzodiazepin. Dengan efisiensi obat yang sama, golongan obat non-benzodiazepin memiliki risiko yang lebih rendah terhadap efek samping dibandingkan dengan obat golongan benzodiazepin.

Keunggulan lainnya adalah obat golongan non-benzodiazepin memiliki waktu paruh yang lebih singkat, sehingga kecil kemungkinan Anda mengantuk di siang hari. Selain itu, obat jenis ini tidak terlalu menggganggu siklus tidur normal penderita insomnia dibanding pengguna obat golongan benzodiazepin. Beberapa obat tidur yang termasuk ke dalam golongan ini adalah zolpidepam, zaleplon, eszopiclone, dan ramelteon.

Baca Juga: 6 Penyebab Migrain yang Patut Diwaspadai

Sebelum memilih obat tidur, coba atasi insomnia dengan terapi alami ini.

Banyak orang yang masih belum menyadari bahwa gangguan tidur tidak selalu diatasi dengan obat tidur. Setelah mengetahui efek samping dan kemungkinan ketergantungan pada obat, tidak ada salahnya jika Anda mencoba dengan terapi alami. Anda bisa mencoba beberapa terapi alami berikut untuk mengatasi gangguan tidur.

Ramuan jamu.

Beberapa tanaman herbal yang diracik untuk mengatasi gangguan tidur adalah lenglengan, pegagan, dan biji pala. Ramuan jamuan ini sudah digunakan sebagai obat tidur dan terkenal untuk mengobati insomnia, serta mengendalikan stres. Ramuan tiga jenis tanaman ini juga telah teruji secara klinis untuk efek relaksasinya dan sudah digunakan di klinik Saintifikasi Jamu Hortus Medicus sebagai anti-insomnia.

Teh daun gaharu.

Teh daun ini sangat populer di kalangan masyarakat, khususnya Kabupaten Bangka Tengah. Secara turun-temurun, teh daun gaharu telah banyak dikonsumsi untuk menghilangkan rasa lelah akibat gangguan tidur ringan. Penelitian yang dilakukan oleh Kamaludin et al. pada tahun 2017 juga membuktikan bahwa teh daun gaharu dapat memperbaiki pola tidur, meningkatkan kualitas tidur menjadi lebih nyaman dan nyenyak, serta tubuh terasa lebih segar saat bangun di pagi hari.

Madu.

Terkenal dengan banyak manfaatnya, madu ternyata juga dapat digunakan sebagai terapi atasi gangguan tidur. Kandungan tryptofan di dalam madu dapat membantu proses sintesis hormon melatonin yang mampu memperbaiki kualitas tidur. Menurut beberapa penelitian, pemberian madu satu jam sebelum tidur dapat mencegah dari kesulitan tidur, sehingga kualitas tidur menjadi lebih baik.

Baca Juga: 7 Cara Hidup Sehat yang Tidak Mendominasi Waktu Anda

Jadi, penggunaan obat tidur dapat Anda konsumsi apabila terapi alami sudah tidak mampu mengatasi insomnia Anda. Apabila dampak gangguan tidur Anda sudah parah, segeralah periksakan ke dokter untuk mendapatkan penanganan dan terapi medis yang tepat.

Suka Artikel Ini ?

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!