Menikah dan Perempuan

2 min read

menikah dan perempuan
0
()

Menikah dan Perempuan

Menikah sepertinya menjadi ujung tombak, puncak atau poin kehidupan. Menikah seperti suatu tujuan akhir dari episode tumbuh berkembangnya manusia. Menikah seolah hal yang sangat krusial dan penting untuk dilakukan dengan mengikuti standar-standar sosial dan budaya.

Di Indonesia, wanita umur 20-an pasti kerap sekali dihadang-hadangi dengan pertanyaan, ‘kapan menikah?’ benar, tidak? tanpa rasa empati atau basa-basi apakah yang ditanyai ini sudah punya calon atau belum. Ditelingaku, pertanyaan semacam itu terdengar seperti olokan, bukan keprihatinan.

Seolah menikah ini sinetron kejar tayang saja, mesti buru-buru dan berlomba dapat rating tinggi. Ditambah lagi dengan kalimat-kalimat yang tak ubahnya kutukan ibu peri jahat:

“cewek kalau sudah 25 keatas makin sulit cari pasangan”
“cewek kalau sudah terbiasa sendiri malas cari pasangan”
“cewek kalau mikir sekolah terus nanti cowok nggak mau”
“cewek juga nggak boleh pilih-pilih biar bisa nikah”
“cewek juga nggak boleh cuek nanti cowok nggak mau”

Oke, mari melihat pesan tersirat dibalik kalimat satir diatas. Ini cara agar cewek bisa cepat menikah:

1) cewek baiknya menikah dibawah umur dibawah 25 tahun,

2) cewek harus merasa ketergantungan (tidak boleh mandiri),

3) cewek nggak perlu sekolah tinggi-tinggi,

4) cewek harus menerima apa adanya sang calon suami,

5) cewek seharusnya ramah, peduli, menyayangi, rendah hati.

Baca juga : era new normal rekonstruksi semangat gotong royong di lingkungan perguruan tinggi


Dan mungkin masih banyak lagi hal-hal yang membuat perempuan seolah menjadi makhluk ‘tak berdaya’. Seolah kita didoktrin untuk menjadi perempuan yang ‘ketergantungan’, ‘lemah’, ‘tidak cakap’. Seolah kita tidak pantas berdiri sendiri. Seolah menjadi independen adalah hal yang tidak lumrah. Seolah menuntut ilmu sampai tinggi adalah hal yang sia-sia, bagi seorang perempuan.

Dan menikah adalah hal yang luar biasa, cita-cita seluruh umat manusia, hal yang patut dibanggakan, seperti prestasi. Menikah adalah puncak kehidupan yang paling didambakan dan diidamkan. Menikah dan memiliki lelaki yang mau menikahi, memiliki anak banyak, diam di rumah, mengurus anak dan melayani suami dengan full service seolah menjadi tolok ukur prestasi perempuan. Lalu, jika tidak bisa mencapai itu semua, perempuan akan dianggap gagal, tidak menarik, pantas dihujat, pantas ditinggalkan, pantas sendirian. Tidak bisa memenuhi standar-standar tersebut seakan menjadi suntikan mati bagi perempuan.

Ya, tak berdaya. Tak berharga.

Sayangnya, budaya itu sudah mendarah daging. Di jaman milenial ini, yang susah payah diperjuangkan para pahlawan wanita negara ini, agar perempuan memiliki hak yang sama, kesempatan yang sama dengan laki-laki, sayangnya dirontokkan oleh perempuan sendiri.

Merelakan cita-cita besarnya terkubur dalam-dalam hanya agar mendapat status ‘menikah’. Tak peduli apakah ia menikah dengan orang yang tepat, atau pernikahannya tidak bahagia, yang penting menikah. Tugas wanita seolah beres. Padahal dalam praktiknya, perempuan juga menderita batin, mental dan fisik, tapi ia rela mendapatkannya hanya untuk mempertahankan pernikahannya. Hanya untuk mempertahankan status ‘menikah’.

Kenapa perempuan rela menderita dan melupakan mimpi-mimpi besarnya hanya agar menikah tepat waktu? Siapa yang membuat standar ‘tepat waktu’ ini?

Perempuan seolah tak punya pilihan! Hidup mereka seolah sudah disetir dengan norma dan budaya tentang pernikahan. Perempuan sadar bahwa pernikahan bukan hal yang mudah, tapi menjadi perawan tua juga bukan kehidupan yang diinginkannya. Siapa yang mau seluruh hidupnya menyandang aib seperti itu?

Tapi, siapa yang memandang status ini demikian?

PEREMPUAN!

Perempuan sendirilah yang mendoktrin dirinya untuk tidak apa tak berdaya, menjunjung tinggi kehormatan laki-laki tapi tidak dengan dirinya, dan mengolok-olok mereka yang menikah diumur yang terbilang ‘tua’, atau mereka yang menjadi ‘janda’. Doktrin-doktrin patriarki yang digaungkan hingga mendarah daging ini juga karena propaganda perempuan sendiri.

Ini sangat ironis!

Bahkan aku sendiri sering mendengar orang tua (perempuan) yang menyarankan anak perempuannya untuk buru-buru menikah saat usianya menginjak 20 tahun, dan mewanti-wanti anak laki-lakinya untuk menikahi perempuan usia muda, dan perawan. Seolah perempuan yang sudah menikah tapi ditinggal suami tak layak mendapatkan privilage ini. Atau perempuan yang terbilang tua, tak pantas dinikahi. Mereka seperti orang buangan. Barang ‘bekas pakai’. Barang ‘tak laku jual’.

Sungguh menyedihkan bahwa harga diri wanita hanya dilihat dari kondisi selaput dara, yang sayangnya tidak ada suku cadangnya.

(hahaha!)

Sekian.
Wassalam.

Suka Artikel Ini ?

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

error: Content is protected !!