(Kumpulan Cerpen Horor Part 1) Cerita Seram di Sekolah

Sekolah bukan hanya menjadi tempat untuk mencari ilmu. Pada banyak kisah, sekolah merupakan tempat dengan berbagai pengalaman. Termasuk pengalaman yang berhubungan dengan dunia tidak kasat mata.

Kisah-kisah menyeramkan yang terjadi di sekolah juga bukan lagi satu hal baru. Nyaris semua orang sepertinya memiliki pengalaman seram atau menakutkan tersendiri selama masa-masa sekolah. Bahkan bisa dikatakan, pengalaman menyeramkan ini menjadi bagian keseruan tersendiri selama bersekolah.

Berikut ini, kami akan rangkum berbagai cerita, pengalaman, kisah, sampai cerpen misteri dengan latar belakang sekolah. Beberapa keseruan cerita di bawah ini bahkan mungkin tidak asing lagi. Seperti pernah mengalami. Namun percayalah, cerita dan kisah di bawah ini hanya fiktif belaka dan tidak ada kesamaan nama atau cerita yang disengaja.

Mau Aku Bantu?

Namaku Indra. Cerita ini terjadi saat aku bersekolah di salah satu sekolah menengah akhir swasta ternama di kota Surabaya, pada satu dekade lalu.

Saat itu, pertengahan semester di kelas dua, sekolah kami dikejutkan dengan satu berita. Seorang siswi ditemukan meninggal dunia. Tidak sembarangan, ia ditemukan meninggal dunia di salah satu bilik kamar mandi sekolah. Penyebabnya diduga bunuh diri.

Siswa itu bernama Siska. Siska merupakan seorang siswi yang cukup populer di sekolah. Ia bukan hanya akrab dan dekat dengan teman-teman dari kelasnya atau sesama jurusan saja. Siska bahkan akrab dengan adik dan juga kakak kelas.

Popularitas Siska bukan hanya sekedar karena keramahan. Ia juga seseorang yang cantik, pintar, dan sama sekali tidak pelit berbagi dengan teman. Siska dikenal sering kali membantu teman-teman. Gadis remaja ini kerap kali menawarkan bantuan kepada adik kelas, bahkan juga para guru. Sudah jelas sekali bukan mengapa banyak orang yang menyukai dan dekat dengan Siska?

Jadi tidak heran juga saat ia ditemukan meninggal dunia, seluruh sekolah bukan hanya kaget. Kami berduka. Rasa duka mendalam dirasakan seluruh sekolah sampai berbulan-bulan. Tidak ada yang tahu juga alasan mengapa Siska sampai bunuh diri.

Suasana di sekolah juga sempat berubah. Tiba-tiba saja kelas dan siswa terlihat lebih murung. Kami semua merasa benar-benar kehilangan sosok teman dekat yang baik hati. Walau masih bersedih dan kehilangan, pada akhirnya live must goes on. Perlahan kami mulai bangkit dan beraktivitas seperti biasa kemballi.

Pada penghujung semester, sekolah berencana untuk mengadakan acara perpisahan untuk murid kelas 3. Nyaris semua siswa dari kelas 1 dan 2 dilibatkan dalam proses persiapan acara.

Kami dibagi dalam beberapa kelompok, karena nantinya acara perpisahan terdiri dari beberapa kegiatan berbeda. Mulai dari bazzar makanan sampai panggung gembira. Saat itu, saya tergabung di kelompok dekorasi untuk menyiapkan panggung gembira.

Kesibukan persiapan acara membuat kami semakin dekat satu sama lain. Sekaligus mengubur kesedihan setelah kehilangan Siska. Pada malam hari tepat sebelum acara panggung gembira, kelompok kami menginap di sekolah. Tujuannya untuk ngebut menyelesaikan pembangunan panggung.

Malam itu kami sangat sibuk. Ada banyak sekali pekerjaan yang harus dilakukan. Kelompok kami yang terdiri dari 10 orang masing-masing mengerjakan bagian dari panggung. Sedangkan kelompok lain juga sibuk dengan dekorasi aula yang menjadi tempat acara. Malam itu berlalu dengan kami semua bekerja keras.

Kelelahan, beberapa dari kami akhirnya mengeluh. Keluhan yang berakhir dengan terjadinya perdebatan antara beberapa teman. Aku salah satunya. Lelah berdebat dengan teman di satu kelompok, aku pun menepi ke sudut belakang panggung. Niatnya memang menyendiri untuk menenangkan diri, sekaligus mengerjakan bambu-bambu yang harus disusun sebagai dekorasi di sisi panggung.

Ketika itulah, kejadian aneh terjadi. Aku yang sendirian di pojok aula justru merasa tidak seorang diri. Seperti ada seseorang lain yang ikut duduk bersamaku. Awalnya perasaan tersebut aku acuhkan, aku anggap hanya bagian dari emosi yang sempat meledak-ledak sebelumnya. Namun tidak lama, udara justru menjadi lebih dingin. Seakan-akan ada angin yang berhembus dari sisi samping kiri. Padahal tidak ada jendela atau pintu dari sisi tersebut.

Sedikit merasa ketakutan, aku bekerja dengan semakin cepat. Persis ketika itulah, aku mendengar bisikan yang sangat jelas, dengan suara yang juga sudah sangat akrab. Suara Siska yang bertanya tepat di telingaku, “mau aku bantu?”

Sepatu Merah

Menjadi cheerleader sepertinya impian banyak gadis remaja saat di sekolah. Seorang cheerleader sepertinya memiliki daya tarik dan juga kebanggaan tersendiri. Belum lagi stereotype bahwa seorang anggota cheerleader biasanya menjadi sosok populer di sekolah.

Menjadi anggota cheerleader di sekolah juga menjadi impianku.

Sejak masuk di sekolah menengah atas ini, impianku memang menjadi cheerleader. Semuanya berawal saat aku menyaksikan aksi para cheerleader di acara penerimaan murid baru. Saat itu para anggota senior cheerleader, yang terdiri dari 9 orang terlihat begitu gemulai melakukan gerakan demi gerakan. Mereka juga lihai berpindah dari komposisi yang satu ke lainnya.

Lompatan yang dilakukan, seruan lantang, sampai ketika mereka mengayunkan lengan dengan penuh semangat sukses menyihirku; dan ratusan murid baru lain yang berkumpul di aula sekolah. Ketika itu juga, menjadi cheerleader seakan sudah menjadi obsesi tersendiri bagiku.

Sayangnya untuk bisa masuk sebagai anggota cheerleader sama sekali tidak mudah. Bukan hanya karena proses seleksi yang ketat. Namun juga hanya orang-orang terpilih saja yang bisa bergabung. Setiap tahunnya, ekstrakulikuler ini hanya menerima kurang dari 10 anggota. Aku terobsesi menjadi salah satunya.

Obsesi dan impian menjadi cheeleader mendorongku untuk berlatih keras. Aku menghafalkan setiap gerakan yang diberikan, sekaligus berusaha membuat formasi demi formasi dengan lebih lues. Ketika berlatih ini, aku bahkan bermimpi untuk bisa menjadi center di group cheerleader, yang berada di posisi teratas untuk formasi piramid tersulit yang dilakukan.

Hari audisi dimulai. Aku menunjukan kemampuan terbaikku di depan guru pembimbing, ketua klub, dan juga beberapa anggota senior yang menyaksikan proses audisi. Setelah lolos dari proses audisi ini, masih akan ada proses seleksi tersendiri yang dilakukan tertutup.

Upaya, kerja keras dan juga doaku rupanya tidak sia-sia. Satu minggu kemudian aku dipastikan lolos audisi klub cheerleader. Kali ini aku, dan juga 15 orang lain yang lolos audisi tinggal menunggu hasil seleksi. Rasanya belum pernah aku merasa gugup seperti di minggu itu. Tanpa bisa disangka, dari hasil seleksi aku menjadi satu diantara sepuluh orang yang diterima masuk sebagai anggota baru klub. Berita yang menjadi kegembiraan tiada tara bagiku.

Sayangnya kemulusan proses seleksi dan audisi tidak berlanjut selama latihan. Aku justru sering kali membuat kesalahan, hingga bentakan dan bahkan ancaman akan dikeluarkan dari klub aku terima dari guru pembimbing maupun senior. Seperti diduga, untuk penampilan pertama anggota cheerleader junior kami di pertandingan olahraga, aku tidak terpilih sebagai center.

Rasa sakit hati sulit untuk kututupi. Aku begitu sedih karena untuk formasi piramid justru berada di bagian terbawah. Sedangkan temanku, Sinta justru terpilih sebagai center dan berada jauh di puncah piramid.

Kesedihan terus membayangiku terutama saat Sinta terpilih kembali sebagai center di beberapa penampilan berikutnya. Kerja keras dan impian yang kumiliki seakan terbuang dan sia-sia. Aku nyaris putus asa.

Untuk penampilan terakhir di tahun tersebut, kami akan tampil di pertandingan final pekan olahraga. Guru pembimbing mengungkap bahwa untuk penampilan ini tidak hanya anggota senior saja yang akan tampil. Anggota junior juga memiliki kesempatan bila mampu menunjukan performa baik selama latihan.

Aku kembali bekerja keras untuk bisa terpilih masuk ke dalam tim penampil. Meski tidak bisa menjadi center, karena pastinya sudah ada anggota senior yang akan mendapat posisi ini. Namun rupanya kali ini kerja kerasku tidak cukup. Sinta terpilih sebagai satu-satunya anggota junior yang akan tampil. Kesedihan, putus asa, dan kekecewaan membuatku menangis semalam suntuk setelah latihan usai.

Keesokan paginya sebelum latihan, aku melihat Sinta sedang pemanasan seorang diri. Ia mengenakan sepatu lari berwarna merah yang memang selalu ia pakai setiap latihan. Rasa kecewa dan marah karena tidak terpilih membuatku gelap mata, menumbuhkan rasa benci kepada Sinta. Ketika ia kembali dari pemanasan di lapangan dan masuk ke kamar mandi, yang memang letaknya cukup jauh dari ruang ganti, aku mengunci pintu kamar mandi tersebut dari luar. Tidak itu saja, aku juga meletakan tanda bahwa kamar mandi tersebut rusak.

Sinta tidak kembali sampai latihan pagi hari tersebut selesai.

Kekhawatiranku memuncak karena rupanya Sinta juga belum kembali ketika jam sekolah usai. Padahal pikirku, seseorang akan membukakan pintu kamar mandi karena mendengar jeritan atau teriakannya. Atau bahkan penjaga sekolah akan membuka kunci kamar mandi tersebut. Namun rupanya tidak.

Sepulang sekolah, saat sore mulai gelap aku kembali ke kamar mandi tersebut, berniat untuk membukakan kunci untuk Sinta. Tapi yang kutemukan justru sepatu merahnya bergantung di tengah pintu, dengan leher Sinta terjerat tali di atas plafon kamar mandi.

Aku berteriak sangat kencang, sampai membuat teman-teman yang sedang latihan olah raga dan guru di lapangan berlari ke arah kamar mandi. Sinta dipastikan tewas gantung diri.

Sampai berbulan-bulan tidak ada yang tahu bagaimana atau mengapa Sinta meninggal dunia. Tidak ada yang tahu pula bahwa aku mengunci pintu kamar mandi dari luar. Sinta hanya disebutkan meninggal dunia karena bunuh diri. Tinggal aku, meratapi rasa bersalah dan dihantui bayang-bayang sepatu merah Sinta.

Bayang-bayang sepatu merah Sinta juga bukan sekedar bayangan. Bukan sekedar gambaran rasa bersalah dan ketakutanku saja. Aku sering melihatnya. Entah itu sekelibat di lorong sekolah, atau ketika kami sedang berlatih cheerleader. Aku melihat sepatu merah Sinta seolah ia masih bersama kami, latihan dengan posisinya sebagai center di puncak teratas formasi.

Teman di Kolam Renang

Berenang adalah hobi dan juga kegemaranku dari dulu. Hobi yang akhirnya mengantarkanku menjadi juara di berbagai perlombaan. Mulai dari tingkat kota sampai provinsi. Saat berada di dalam air, tubuhku seakan menyatu dengan setiap gerakan tangan dan kaki. Membantuku meluncur dengan cepat, mendahalui lawan-lawan sampai di titik Finish.

Di sekolah, aku tergabung dengan klub ekstrakulikuler renang. Sekolah kami untungnya merupakan salah satu yang dikelola dengan baik oleh Yayasan dan memiliki kolam renang sendiri. Ini juga menjadi pertimbangan utamaku ketika memutuskan untuk bersekolah disini.

Aku menghabiskan waktu di kolam renang sekolah nyaris setiap sore. Berlatih dan juga bersenang-senang di air. Ini adalah duniaku.

Saking seringnya berada di area kolam renang sepulang sekolah, aku menjadi akrab dengan beberapa siswa lain, yang rupanya juga sering kali menghabiskan waktu mereka di situ. Ada 2 orang siswa yang sering menghabiskan waktu di kolam renang, nama mereka Andril dan Dini.

Berbeda denganku, mereka tidak selalu bermain-main atau berenang di air. Sebaliknya Andril dan Dini cukup sering hanya sekedar duduk-duduk di pinggir kolam, menontonku berenang atau latihan sembari bercakap-cakap. Mereka adalah teman yang seru dan aku semakin merasa dekat dengannya.

Kedekatan dengan Andril dan Dini memang sangat menyenangkan. Mereka mengaku bukan bagian dari klub ekstrakulier renang; jadi memang aku tidak pernah melihat mereka saat anggota klub lain sedang latihan. Namun sebenarnya, aku tidak pernah melihat mereka selain di area kolam renang.

Lama kelamaan hal ini menggangguku. Aku mulai bertanya mereka di kelas apa dan mengapa kami tidak pernah berjumpa di koridor atau ruangan lain di sekolah. Andril menyebut ia kelas 2 jurusan IPA sedangkan Dini kelas 3 dengan jurusan Bahasa. Memang sebenarnya masuk akal aku tidak pernah bertemu mereka karena ruangan kelas 2 dan 3 berada di sisi lain gedung sekolah.

Sore hari itu, aku menghabiskan waktu selepas pulang sekolah dengan berenang 4 putaran. Sangat melelahkan dan aku cukup bergegas untuk bersiap pulang. Andril dan Dini sempat menahanku untuk cepat-cepat pulang, karena mereka masih ingin ngobrol-ngobrol lebih jauh. Tapi aku lelah dan sudah sangat rindu kasur empuk di kamar sehingga menolak permintaan mereka.

Sebenarnya ini bukan kali pertama Andril dan Dini berusaha menahanku untuk pulang ke rumah setelah bersama-sama di kolam renang.

Saat sedang mencuci rambut di salah satu bilik kamar mandi di sisi kolam renang, aku merasakan sesuatu yang aneh. Di tanganku terdapat gumpalan rambut panjang berwarna putih, yang tentu saja bukan rambutku.

Aku menjerit dengan cukup keras dan langsung melemparkan rambut tersebut ke lantai kamar mandi yang basah. Tanganku gemetaran saat kembali menyisir rambutku dengan jari-jari, dan segumpal rambut panjang putih kembali rontok di tangan. Rambut putih yang rontok tersebut juga menjadi semakin banyak dengan setiap sisiran dengan jari-jari tangan.

Dengan bergegas, aku segera berlari ke arah cermin yang menggantung di sisi luar bilik kamar mandi untuk melihat rambutku. Benarkah aku sudah tumbuh uban? Apakah itu rambutku?

Saat itulah, pada bayangan di kaca, aku melihat dua orang temanku: Andril dan Dini. Hanya saja wujud mereka bukan seperti yang ku kenal. Mereka terllihat tua dengan rambut putih panjang, sama seperti rambutku yang juga berubah putih beruban dan panjang. Bayangan keduanya menyeringai menyeramkan di kaca dan berkata, “jangan pulang dulu ya.. temani kami di kolam renang.” Aku menjerit sejadi-jadinya.

Jeritan yang rupanya juga menggema dan ditirukan oleh Andril dan Dini.

Beberapa hari kemudian, aku baru mengetahui bahwa Andril dan Dini memang siswa di sekolah tersebut. Keduanya sepasang kekasih yang meninggal dunia karena tenggelam di kolam renang. 60 tahun lalu.

Aluna Nayaka

Halo, nama saya Aluna Nikita G. Nayaka. Saya seorang pemimpi yang kebetulan gemar tulis menulis. Penikmat musik dan film, serta sedang menyenangi urban farming.

Recommended Product

Comments to: (Kumpulan Cerpen Horor Part 1) Cerita Seram di Sekolah
    error: Content is protected !!