(Kumpulan Cerpen Horor Part 2) Cerita Seram di Sekolah

Kumpulan cerpen horor – Setelah part satu sebelumnya, kami kembali dengan lanjutan kumpulan cerpen seram berikutnya. Seperti juga di bagian pertama, cerita seram di sekolah di bawah ini sepenuhnya fiktif belaka. Semua kesamaan nama, kejadian, dan juga lokasi bukanlah sebuah kesengajaan.

Baca Juga :

(Kumpulan Cerpen Horor Part 1) Cerita Seram di Sekolah

Semakin penasaran dengan cerita-cerita seram yang terjadi di sekolah selanjutnya?

Klik!!

Diantara banyak sekolah lain di kota ini, bangunan sekolah kami memang termasuk salah satu paling tua. Bahkan disebut-sebut, gedung sekolah kami sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda dulu. Dimana gedung sekolah digunakan sebagai asrama putri dari para bangsawan dan juga keluarga kaya Belanda.

Sejak masuk sekolah ini 2 tahun lalu, bangunan gedung yang unik, artistik, dan mencerminkan gambaran kota tua dari negeri Belanda memang sangat mengusik kekaguman. Saya yang hobi fotografi sering kali menghabiskan waktu dengan mengambil gambar demi gambar dari berbagai sudut bangunan sekolah. Hasil foto yang saya ambil juga kerap kali mendapat pujian ketika diunggah di media sosial. Selain mendapat ribuan likes juga.

Reaksi positif yang saya dapat dari foto-foto gedung sekolah ini memompa keinginan untuk mengambil banyak foto lagi. Mungkin dari angle atau sudut berbeda untuk memperlihatkan keunikan bangunan sekolah. Saat itu saya berpikir, bangunan sekolah ini memang sebuah mimpi tersendiri untuk para fotografer arsitektur; salah satu cita-cita saya di masa depan.

Setelah berminggu-minggu berusaha mendapatkan angle baru untuk mengambil foto gedung sekolah, akhirnya saya menemukan sebuah sudut menarik. Pada sisi bangunan sekolah ada gedung dengan menara yang cukup tinggi. Menara ini difungsikan sebagai perpustakaan. Selain juga ruangan belajar kelompok di bagian bawah. Menara di gedung sekolah ini terdiri dari 3 lantai, dengan jendel besar yang sangat khas akan bangunan tua di masa kolonial. Sebuah gambaran yang akan sangat cantik ketika di foto.

Saya mencoba mengambil foto gedung dan menara dari sisi bawah. Namun hasil yang didapat justru kurang maksimal. Jendela-jendela yang ada di menara akan terlihat jauh lebih cantik ketika diambil dengan sudut pandang sejajar.

Sore hari itu setelah jam sekolah selesai, saya bertekad harus mendapatkan foto cantik untuk jendela dan menara tersebut. Setelah menimbang-nimbang, saya akhirnya memutuskan untuk memanjat pohon, yang memang tingginya akan cukup sejajar dengan menara. Hari yang semakin gelap membuat saya bergerak dengan cepat, melompat dari satu dahan ke sisi yang lain sembari menahan kamera DSLR yang cukup berat di bahu.

Upaya saya untuk memanjat rupanya tidak sia-sia. Seperti yang diduga, menara dan jendela-jendelanya terlihat begitu cantik dari angle di atas pohon. Belum lagi, langit yang tiba-tiba saja menggelap dengan awan mendung menggantung.

Seperti kesetanan, saya terus menekan tombol shutter di kamera. Mengambil foto demi foto jendela tersebut. Klik! klik! klik! saya terus mengambil foto, sembari mencoba beberapa angle lain.

Di satu waktu, ketika sedang membidik dari layar kamera, dengan lensa tepat menyorot ke jendela, saya melihat sesuatu yang lain. Seorang gadis. Tepatnya seorang gadis dengan penampilan seperti putri Belanda. Wajahnya pucat pasi dan ia tepat melihat ke arah saya.

Tertegun, refleks jemari saya terus mengambil foto, menekan tombol shutter di kamera. Klik! Dalam setiap jepretan, wajah sang putri Belanda tersebut kian dekat.. klik! dan ia semakin dekat.. klik! hingga tepat di depan wajah saya…

BACA JUGA :  [ Cerpen Horor ] Bisikan Dari Masa Lalu

… hingga akhirnya saya jatuh terjengkang dari atas pohon. Pingsan.

Saya ditemukan oleh penjaga sekolah dalam keadaan pingsan di bawah pohon. Sedangkan foto-foto menara, jendela, dan juga sang gadis Belanda yang saya ambil sore itu, entar bagaimana, hilang.

Pesan Berantai

Masih ingat pesan berantai yang sempat menjadi tren di antara anak-anak dan remaja beberapa puluh tahun lalu? Saya ingat betul tren tersebut. Saat itu saya duduk di kelas 2 sekolah menengah pertama. Tren pesan berantai yang saya ingat bermula dari surat yang harus dikirimkan ke 10 orang. Bila tidak akan ada kejadian tidak menyenangkan terjadi. Di masa saya ketika itu, pesan berantai berupa sms.

Awalnya tentu saja, kami semua tidak menganggap serius pesan berantai ini. Malah hanya menjadikannya sekedar bercandaan dengan teman-teman. Tidak jarang kami mengirimkan pesan berantai kepada satu sama lain di kelas.

Isi pesan berantai tersebut sendiri tidak terlalu macam-macam juga. Hanya iming-iming mendapatkan keberuntungan bila sudah mengirimkan ke 10 orang. Sedangkan bila tidak meneruskan pesan tersebut, maka kesialan akan terjadi. Sekedar sesuatu untuk lucu-luan saja.

Namun suatu hari, saya dan teman-teman di kelas menerima pesan berantai yang cukup aneh. Kami tidak mengenali nomor pengirim pesan tersebut dan dikirimkan ke semua murid di kelas. Pesan berantai ini tidak berisikan iming-iming hal manis atau membahagiakan apapun. Melainkan hanya ancaman bila tidak menyebarkan maka hewan peliharaan kami akan mati.

Beberapa teman mengirimkan pesan berantai tersebut kepada satu sama lain. Tapi kala itu, saya mengacuhkannya. Selain karena sedang tidak memiliki pulsa, juga karena pengirimnya bukan nomor yang saya kenal.

Menariknya, dua hari setelah saya menerima pesan berantai tersebut, si Oren, kucing jalanan yang secara tidak langsung saya asuh di sekolah ditemukan mati. Tidak ada yang tahu apa penyebab kematian si Oren. Ia hanya ditemukan di bawah pohon, di halaman sekolah, tempat saya biasa memberinya makan.

Kematian Oren cukup membuat saya syok. Terutama di hari itu, saya juga menerima pesan berantai berikutnya. Kali ini menyebut saya akan gagal dalam ujian bila tidak meneruskan pesan tersebut. Lagi-lagi saya abaikan pesan itu. Dan lagi-lagi, beberapa hari kemudian saya memang benar mendapatkan nilai di bawah 60 dalam ujian; yang berarti saya tidak lulus dan harus remidial.

Saat itu saya mulai ketakutan. Pesan berantai baru kembali datang. Kali ini tanpa meminta saya untuk menyebarkan pesan tersebut, seolah tahu saya tidak meneruskan dua pesan berantai sebelumnya. Isi pesan kali ini mengatakan tentang kematian saya. Saya yang sangat ketakutan, menunjukan pesan berantai tersebut kepada guru dan orang tua. Namun mereka tentu saja hanya menjadikan pesan berantai sebagai tidak lebih dari candaan. Sedangkan saya sudah benar-benar ketakutan. Satu minggu penuh saya absen dari sekolah.

Pada minggu berikutnya, saya mulai kembali masuk sekolah. Tidak ada kejadian aneh atau mengganggu yang terjadi selama saya di rumah. Saya juga tidak menerima pesan berantai apapun lagi. Jadi saya menganggap pesan berantai yang saya terima hanya sekedar kebetulan dan tidak lebih dari candaan atau ulah iseng seseorang.

Namun perkiraan saya salah.

Sepulang sekolah di hari itu, saya pergi ke kamar mandi yang letaknya cukup jauh dari kelas. Saat itu hari memang belum terlalu sore, tapi lampu di lorong kamar mandi rupanya mati. Hanya ada penerangan dari lampu di setiap bilik saja. Saya tidak terlalu mengidahkan keadaan itu dan cepat-cepat masuk ke dalam bilik. Saat sedang buang air, saya melihat ke langit-langit kamar mandi.. dan ada wanita dengan rambut panjang menjuntai, dan darah menetes dari mulut, mata, hidung, dan telinganya. Saya benar-benar terpaku ketakutan sampai tidak mampu menjerit.

BACA JUGA :  [ Cerpen Romantis ] Delusi Hati

Mulut hantu wanita tersebut terbuka, dan lebih banyak darah menetes membasahi saya. Ia mengeluarkan suara sepert lengkingan dan berkata dengan gaung yang seolah datang dari terowongan, “kamu akan mati!” Saya pun pingsan.

Guru-guru menemukan saya pingsan di kamar mandi sekolah entah berapa lama setelah itu. Tidak ada darah atau apapun, dan untungnya.. saya belum mati.

Bel Sekolah

Ketika di sekolah dulu, saya termasuk tipe murid yang sangat rajin. Bahkan mungkin terlalu rajin. Saya datang ke sekolah sebelum bel berbunyi dan seringnya pulang paling terakhir. Waktu tersebut saya gunakan untuk mempersiapkan dan mengulang pelajaran hari itu. Entah dengan membaca materi untuk pelajaran hari itu di pagi hari, atau mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan. Pekerjaan rumah yang saya kerjakan di sekolah. Tidak jarang juga saya menghabiskan waktu dengan berada di perpustakaan.

Hari itu seperti biasanya, saya datang jauh lebih dulu ke sekolah. Bukan hanya sebelum bel berbunyi. Malah tepat ketika gerbang sekolah baru dibuka.

Saya masuk ke ruangan kelas yang masih sangat kosong dan duduk di bangku di depan, bangku saya. Setelah beberapa lama, saya menyadari ruangan kelas tidak sepenuhnya kosong. Ada murid lain, teman sekelas yang saya kenal bernama Weni juga sudah duduk di bangkunya; di baris kedua dari tempat saya.

Weni menelungkupkan kepala di meja. Ia sepertinya tertidur, batin saya. Setelah itu saya melanjutkan fokus dengan buku sejarah yang sedang saya baca untuk pelajaran hari itu. Sampai bel berbunyi dan banyak teman lain masuk ke kelas.

Saat bel sekolah kembali berbunyi di sore hari, menandakan jam pelajaran yang sudah selesai, saya kembali masih fokus dengan deretan soal-soal matematika yang menjadi pekerjaan rumah hari itu. Nyaris semua teman sudah keluar kelas dan pulang. Hanya ada saya dan Weni, yang masih juga menelungkup di meja. Namun saat itu saya tidak khawatir karena Weni terlihat baik-baik saja selama jam pelajaran dan istirahat.

Kebiasaan di hari itu terus berulang. Weni selalu ada di mejanya setiap pagi dan pulang sekolah. Bahkan setelah bel berbunyi. Kami tidak pernah bertukar sapa karena Weni selalu terlihat tertidur di bangkunya. Sedangkan saya justru sibuk dengan ulangan pelajaran, buku, dan soal-soal yang saya kerjakan.

Selama beberapa minggu, kebiasaan itu terus berulang.

Sampai akhirnya suatu hari, saya terlambat datang ke kelas. Saya datang tepat ketika bel sekolah berdering.

Saat berlari ke arah ruangan kelas, di koridor saya berpapasan dengan Weni. Ia rupanya juga terlambat. Lucu sekali. Saya pun langsung menyapanya, mengatakan bahwa sangat lucu kami berdua terlambat dan datang awal bersama-sama ke sekolah. “Wen! Lucu ya kita datang pagi-pagi sebelum bel barengan dan pas telat juga bareng,” kekeh saya.

Namun Weni justru terkejut dengan kata-kata tersebut. Ia berhenti di koridor dan menatap saya dengan pandangan tidak percaya. “Loh.. bukannya kita terus sama-sama datang ke sekolah tepat ketika bel ya?”

Gantian saya yang terpaku.

Jera

Setiap sekolah pasti ada kisah-kisah tentang senioritas. Sayangnya senioritas di sekolah nyaris selalu bersinggunan dengan perundungan. Ini juga pernah terjadi di sekolah saya.

BACA JUGA :  [ Cerpen Fantasi ] Dua Sisi Bulan: Takdir Para Pahlawan dan Raja iblis

Saat itu saya duduk di kelas 3 sekolah menengah atas di kota besar di pulau Jawa. Seperti juga remaja pada umumnya di umur itu, saya memiliki geng yang terdiri dari 4 cewek lain. Kami berlima bisa dibilang disegani. Terutama oleh adik kelas. Alasannya karena 3 dari kami merupakan mantan petinggi di OSIS. Sedangkan saya dan teman lain adalah mantan kedua di klub ekstrakulikuler. Jadi sudah semakin pasti para adik kelas segan dan bahkan takut kepada kami.

Sayangnya keseganan tersebut membuat kami arogan. Kami tidak jarang menatar adik kelas yang dinilai sombong, tidak menyapa saat berpapasan di koridor, atau malah yang sikapnya kami anggap keterlaluan. Seringnya, kami membawa adik kelas tersebut ke ruangan kelas kosong yang tidak lagi digunakan di lantai tiga dan memarahi mereka habis-habisan.

Di hari itu, mood kami sedang tidak baik. Seorang guru mengadakan tes secara mendadak dan kami belum belajar sebelumnya. Jadi sudah sangat mudah ditebak kami akan gagal di tes tersebut. Kenyataan itu membuat kami berlima, yang teman sekelas, merasa kesal.

Kekesalan kami bertambah saat seorang adik kelas, yang kurang kami kenal, menyenggol bahu saya saat berpapasan di koridor. Adik kelas tersebut juga tidak memberikan salam atau sapaan dan terus menunduk. Kesal, saya menanyakan nama dan kelasnya kemudian menyuruhnya datang ke kelas kosong di lantai 3 setelah jam sekolah selesai.

Namanya Arin, dan ia rupanya kelas 10. Sosoknya sebenarnya asing untuk kami, tapi itu bukan hal baru. Ada ratusan siswa di sekolah dan kami memang tidak hafal siapa-siapa saja mereka. Terutama junior di tingkatan berbeda.

Sepulang sekolah, kami berlima cukup yakin Arin tidak akan datang. Kami bahkan tertawa-tawa dan berencana untuk mendatanginya di kelas besok pagi. Selalu menyenangkan melihat ekspresi ketakutan dari adik kelas saat “dilabrak” senior di depan teman-teman mereka.

Namun Arin datang. Ia masih menunduk saat berjalan masuk ke ruangan kelas. Kami yang awalnya tertawa-tawa langsung memasang ekspresi bengis dan memojokannya ke tembok. Tentu sembari berteriak dan mengomelinya panjang lebar. Arin terus menunduk. Tidak ada kata-kata yang ia keluarkan.

Aksi diamnya membuat saya lebih kesal lagi. Saya langsung memakinya dengan keras dan membuatnya mendongakkan kepala dengan cengkraman di dagu. Tapi.. alangkah kagetnya… yang saya cengkram saat itu justru wajah yang berlumur darah. Arin terlihat menyeringai dengan darah yang terus menetes dari seluruh wajahnya. “Iya kakak.. besok saya sapa di koridor ya,” katanya dengan suara melengking tinggi.

Kami? Tentu saja berteriak ketakuan dan lari tungang langang dari ruangan kelas. Segera berlari sejauh-jauhnya sampai aman di pos satpam.

Besoknya kami tahu, tidak ada anak kelas 10 bernama Arin. Sejak saat itu juga kami jera. Tidak ada lagi aksi perundungan atau marah-marah kepada junior. Kami bahkan aktif menghentikan teman-teman lain di tingkat yang sama untuk melakukan aksi senioritas yang tidak terpuji tersebut.

Rupanya membutuhkan sosok seorang Arin untuk menghentikan aksi tidak baik kami. Oh ya, untungnya Arin juga tidak pernah menyapa kami di koridor sekolah.

Aluna Nayaka

Halo, nama saya Aluna Nikita G. Nayaka. Saya seorang pemimpi yang kebetulan gemar tulis menulis. Penikmat musik dan film, serta sedang menyenangi urban farming.

Recommended Product

Comments to: (Kumpulan Cerpen Horor Part 2) Cerita Seram di Sekolah