Kebesaran Allah SWT : Maha Esa, Maha Mengetahui, Maha Mendengar, Maha Melihat

6 min read

kebesaran allah swt
5
(4)

Islam adalah agama Tauhid. Ajaran men-Tauhid-kan Allah Subhanahuwata’ala sudah dibawa jauh sebelum Islam ataupun Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam lahir. Dari sejak Nabi terdahulu, sudah dikenalkan ajaran Tauhid. Nabi-nabi yang bertugas sebagai Rasul atau penyampai wahyu Allah seperti Nabi Nuh, Ibrahim, Musa dan Isa sudah terlebih dahulu menyerukan ajaran Tauhid.

Para Rasul yang insya Allah dirahmati Allah tersebut sudah mengajarkan bahwa semuanya berasal dari ‘satu’ hal dan akan kembali pada-Nya. Sedangkan, Islam adalah sebuah agama yang berlandaskan Tauhid yang dibawa oleh Rasul bernama Ahmad atau Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam. Rasul dan juga Nabi terakhir bagi umat Islam ini diperintahkan untuk menyempurnakan ajaran Tauhid yang sudah diajarkan terlebih dahulu oleh para Rasul sebelumnya.

Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam mendapat wahyu pertamanya di Gua Hira’ pada 17 Ramadhan saat berusia 40 tahun. Ketika itu, beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam menerima turunnya surat Al Alaq ayat 1-5 yang berisi kurang lebih tentang penciptaan manusia dari segumpal darah. Nabi Muhammad yang sedang bertafakur dan tiba-tiba ditemui Malaikat Jibril dibuat demam berhari-hari. Mulai saat itulah, masa ke-Rasul-an beliau Shalallahu ‘alaihi wassalam dimulai. Masa-masa penyebaran ajaran Tauhid baik secara sembunyi-sembunyi ataupun terang-terangan.

Baca Juga : [ Cerpen Religi ] Impian Qurban Tukang Pijat keliling

Dalam konsep agama Islam, Tauhid adalah konsep dalam akidah yang menyatakan keesaan Allah. Tauhid atau keesaan ini bukan hanya berarti satu dalam bentuk bilangan. Namun, ini menunjukkan dan menyatakan bahwa Allah subhanahuwata’ala itutidak mempunyai sekutu atau serupa. “Satu” yang dimaksud adalah dari segi Dzat. Tidak ada Dzat yang serupa ataupun memiliki sifat yang sama karena seluruh benda ataupun makhluk yang ada di dunia ini adalah ciptaan-Nya. Allah pula yang menciptakan segala sifat-sifat pada makhluk dan benda tersebut.

Dalam Islam, Tauhid direpresentasikan dalam sebuah kalimat sebagai syarat bahwa orang tersebut sudah masuk Islam atau yang biasa disebut Syahadat. Syahadat ada dua yaitu Syahadat Tauhid dan Syahadat Rasul. Syahadat Tauhid berbunyi “Asyhaduallaa Ilaahaillallah”, yang artinya ‘Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah’. Konsep keesaan melalui kalimat persaksian Tauhid ini harus melalui 3 tahap.

Jika seseorang mengucapkan kalimat Tauhid, maka baru 1 tahap saja yang sudah dijalani. Kalimat Tauhid yang syarat makna ini haruslah :

dilafalkan oleh lisan, diyakini dalam hati dan diamalkan dalam perbuatan.

Tahap yang lain adalah meyakini dalam hati. Seorang muslim haruslah yakin bahwa Allah adalah Dzat yang satu. Tiada sekutu baginya karena Dialah yang Maha Menciptakan segalanya. Tahap lainnya adalah mengamalkan apa yang ia yakini. Pengamalan ajaran Tauhid bisa dalam bentuk menyembah kepada Allah, meminta kepada Allah, tidak menyekutukan Allah dan banyak cara lain yang pada intinya adalah beribadah kepada Allah.

Allah Yang Maha Esa

Meyakini Allah maka harus mengenal sifat-Nya. Salah satu sifat Allah adalah Al Wahdaniyah yang artinya Esa. Untuk meyakininya, terkadang manusia butuh rasionalitas sedikit. Dikutip dari situs Bincang Syariah yang menyadur Kitab Al-Jawahirul Kalamiyah Fi Idhahil A’qidah Al-Islamiyyah karangan Syekh Thahir Al-Jazairi, dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut:

  1. Tuhan itu Maha Esa, tunggal, satu. Jikalau saja ada dua Tuhan, maka sudah pasti bumi dan seisinya akan hancur karena adanya perdebatan diantara keduanya. Terlebih lagi jika ada Tuhan-Tuhan yang lain.
  2. Allah Subhanahuwata’ala tidak butuh teman atau partner atau rekan. Untuk menciptakan seluruh alam semesta, cukuplah Allah ciptakan sendiri.
  3. Allah Subhanahuwata’ala tak butuh teman atau partner untuk mengatur dan menjaga sistem yang berlaku dan berjalan di alam semesta ini.
  4. Allah Subhanahuwata’ala tidak memiliki saingan sebagai Tuhan di alam semesta ini. Keajaiban yang terjadi di dunia ini dan bahkan segala mukjizat yang diberikan kepada para Nabi dan Rasul adalah hal kecil bagi Allah. Sehingga, jikalau ada yang mengaku sebagai Tuhan dan mengklaim memiliki kekuasaan tertinggi di alam semesta sudah semestinya tidak perlu dipedulikan.

Sifat-sifat keesaan Allah tertuang dalam Surat Al-Ikhlas di Juz ke-30.

قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ . اللَّهُ الصَّمَدُ . لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ . وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Katakanlah (Muhammad), Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu. (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia. (Q.S. Al-Ikhlas: 1-4)

Surat Al-Ikhlas menjadi bantahan terhadap orang-orang kafir yang tidak mau mengimani Allah Subhanahuwata’ala.

Allah Yang Maha Mengetahui

Sebagai seorang muslim, sudah selayaknya tauhid menjadi dasar, inti ataupun pondasi hidup kita. Selain itu, kita harus menjadikan Islam sebagai pandangan hidup kita. Muslim harus mengimani bahwa Allah Subhanahuwata’ala sudah mengatur alam semesta ini.

Sebagai seorang muslim pula kita wajib mengetahui sifat-sifat Allah dan mengenalnya. Allah Subhanahuwata’ala adalah Yang Maha Esa, sehingga tiada dua ataupun sekutunya. Kita wajib menaati segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Segala yang kita perbuat sudah pasti diketahui oleh Allah Subhanahuwata’ala, karena ialah Rabb Yang Maha Mengetahui.

تَنْزِيلُ الْكِتَابِ مِنَ اللَّهِ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

“Diturunkan Kitab ini (Al Qur’an) dari Allâh Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (Al-Mukmin: 2)

Allah Subhanahuwata’ala Maha Mengetahui segalanya. Yang dimaksud Maha Mengetahui ini tidak terbatas dan tidak ada pengecualian. Allah Subhanahuwata’ala mengetahui apa yang diperbuat hamba-Nya, bahkan ketika tiada orang lain yang mampu bersaksi atas perbuatan itu. Allah mengetahui pula apa yang sedang terjadi dimanapun, bahkan suatu kejadian yang belum terjadi sudah di ketahui oleh Allah Subhanahuwata’ala. Allahmengetahui segala sesuatu baik yang terjadi maupun belum terjadi. Allah lah yang menciptakan dan mengatur segalanya.

Dengan mengimani sifat Allah Yang Maha Mengetahui ini, kita dapat menambah taqwa kita kepada Allah Subhanahuwata’ala. Dengan memahami bahwa Allah Maha Mengetahui, kita jadi semakin yakin untuk menaati segala perintah-Nya dan juga menghindari segala larangan-Nya. Kita akan lebih mudah terhindar dari perbuatan maksiat, karena yakin bahwa Allah mengetahui perbuatan kita dan kita tahu konsekuensi dari perbuatan tersebut.

Selain itu, pemahaman terhadap sifat Allah ini menjadikan kita tidak terlalu berharap kepada manusia. Kita juga lebih tenang dalam menjalani hidup karena merasa yakin bahwa semua sudah diatur oleh Allah Subhanahuwata’ala, termasuk dalam urusan rezeki. Yang perlu diingat adalah tetap memaksimalkan ikhtiar dan doa dan memasrahkan (tawakal) hasil kepada Allah Subhanahuwata’ala.

Selain Maha Esa dan Mengetahui, Allah memiliki nama-nama lain yang sama-sama indah dan memiliki makna luar biasa.

Allah Subhanahuwata’ala memiliki 99 nama yang baik dan Indah. Salah satu nama tersebut adalah As-Samii dan Al-Bashiir yang artinya Maha Mendengar dan Maha Melihat. Lalu apa makna dari keduanya?

Allah Subhanahuwata’ala berfirman dalam Surat Asy-Syura ayat 42:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah As-Samii’ (Dzat yang Maha mendengar) dan Al-Bashiir (Dzat yang Maha melihat).” (QS. Asy-Syura: 11)

Allah Yang Maha Mendengar

Allah Subhanahuwata’ala memiliki nama Yang Maha Mendengar atau As-Samii’. Nama indah tersebut diulang dalam Al-Qur’an sebanyak 50 kali, salah satunya adalah dalam surat Asy Syura ayat 11 di atas. Lalu apa makna dari nama yang luar biasa tersebut?

Nama As-Samii’ ini dapat diartikan sebauh sifat yang dimiliki Allah yaitu Yang Maha Mendengar. Sifat mendengar ini tidak hanya mencakup suara manusia saja, namun seluruh makhluk di alam semesta yang sudah Allah ciptakan. Tiap suara di langit dan di bumi, baik yang lirih (sirr) maupun yang keras (jahr), baik yang terdengar oleh makhluk lain maupun yang tidak terdengar oleh makhluk lain semuanya terdengar oleh Allah Subhanahuwata’ala.

Allah Subhanahuwata’ala berfirman dalam surat Ar-Ra’du ayat 10 sebagai berikut.

سَوَاءٌ مِنْكُمْ مَنْ أَسَرَّ الْقَوْلَ وَمَنْ جَهَرَ بِهِ وَمَنْ هُوَ مُسْتَخْفٍ بِاللَّيْلِ وَسَارِبٌ بِالنَّهَارِ

Sama saja (bagi Rabb kalian), siapa di antaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus-terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari.” (QS. Ar-Ra’du: 10).

Dan juga pada Surat Mujadilah ayat pertama dijelaskan sebagai berikut.

 
قَدْ سَمِعَ اللَّهُ قَوْلَ الَّتِي تُجَادِلُكَ فِي زَوْجِهَا وَتَشْتَكِي إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ يَسْمَعُ تَحَاوُرَكُمَا إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

Sesungguhnya Allah telah mendengar perkataan wanita yang mengajukan gugatan kepada kamu tentang suaminya, dan mengadukan (halnya) kepada Allah. Dan Allah mendengar soal jawab antara kamu berdua. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. Al-Mujadilah: 1).

Sedangkan, Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Ahmad,


الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَسِعَ سَمْعُهُ الْأَصْوَاتَ

“Segala puji bagi Allah yang pendengarannya meliputi semua suara.” (HR. Ahmad 40: 228).

Hadist tersebut memperjelas bahwa yang mampu didengar oleh Allah bukan hanya perkataan manusia saja, melainkan segala bentuk suara. Baik yang disuarakan maupun tidak, baik yang disuarakan manusia maupun makhluk lain.

Islam menjadi agama Rahmatan Lil’alamin dating membawa sebuah kabar Bahagia sekaligus peringatan bagi orang-orang yang mau beriman. Allah memberikan sebuah peringatan juga melalui makna dari nama As-Samii’ ini.  Sebuah peringatan yang Allah sebut dalam Surat Az-Zukhruf di ayat 80.

أَمْ يَحْسَبُونَ أَنَّا لَا نَسْمَعُ سِرَّهُمْ وَنَجْوَاهُمْ بَلَى وَرُسُلُنَا لَدَيْهِمْ يَكْتُبُونَ

“Apakah mereka mengira, bahwa kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Sebenarnya (Kami mendengar), dan utusan-utusan (malaikat-malaikat) kami selalu mencatat di sisi mereka.” (QS. Az-Zukhruf : 80).

Allah memberi sebuah peringatan kepada kita, bahwa segala sesuatu yang kita lakukan selalu diperhatikan dan didengar oleh Allah baik secara langsung maupun melalui utusan Allah, yaitu para Malaikat.

Jadi dapat disimpulkan bahwa sifat mendengar bagi Allah ini memiliki 2 inti. Yang pertama, Allah mengetahui atau mendengar segala jenis suara, baik yang lahir maupun batin, baik yang jelas maupun yang tersembunyi. Kedua, Allah mendengar segala doa atau permintaan dari hamba-Nya sesuai dalam surat Ibrahim ayat 39,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَهَبَ لِي عَلَى الْكِبَرِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ إِنَّ رَبِّي لَسَمِيعُ الدُّعَاءِ

Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua (ku) Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Rabbku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa.” (QS. Ibrahim: 39).

Jadi, sudah selayaknya kita seorang hamba memohon hanya kepada Allah karena hanya Allah Yang Maha Mendengar dan mengabulkan segala permintaan.

Allah Yang Maha Melihat

Allah memiliki nama indah lain, yaitu Yang Maha Melihat atau Al Bashir. Artinya, Allah Subhanahuwata’ala memiliki penglihatan dan mampu melihat yang menjadi sifat yang melekat pada Allah.

Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa Allah Subhanahuwata’ala tidak pernah dan tidak akan bingung karena banyaknya hal yang didengar dan dilihat. Jika dianalogikan, seseorang yang buta tau bahwa langit berwarna biru walaupun tak pernah melihatnya secara langsung dan orang tuli bisa tau bahwa orang di sekitarnya sedang berisik meskipun orang tuli itu tidak mendengar suara berisik itu.

Baca juga : [ Kisah Inspiratif ] Doa dan Cara Cepat Melunasi Hutang ala Ustadz Yusuf Mansur

Maka, jika orang yang buta bisa mengetahui bahwa langit berwarna biru dan orang tuli bisa mengetahui keadaan sekitar sedang berisik apalagi Allah yang memiliki pendengaran dan penglihatan sempurna. Allah mampu melihat dan mendengar dengan pengelihatan dan pendengaran-Nya sendiri. Maka, Allah mampu mengetahui segala yang terjadi di alam semesta milik-Nya.

Dikutip dari situs almanhaj.or.id, Syaikh Shalih Alu Syaikh berkata, “Al-Bashiir adalah bentuk mubalaghah (bentuk kata dalam bahasa arab yang menunjukkan kesempurnaan) dari al-mubshir (yang melihat). Al-Bashir artinya yang pandangannya bisa melihat segala sesuatu. Dia bisa mengetahui dan melihat semut hitam yang merayap di kegelapan malam di atas batu hitam. Bahkan Dia melihat urat-urat semut, makanan yang mengalir di dalam tubuhnya. Sebagaimana imam Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Allah melihat urat-uratnya” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi. Dengan demikian, berarti penglihatan Allâh Subhanahu wa Ta’ala mengenai (menimpa) semua yang dilihat”. (Syarh al-Aqîdah al-Wasîthiyah, 1/162)

Allah mampu melihat seluruh hamba-Nya dan segala sesuatu yang terjadi di alam semesta. Namun, kita tak mampu dan tak sanggup untuk melihat Allah. Seperti yang dijelaskan dalam Hadist yang diriwayatkan oleh Muslim,

أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ

Engkau beribadah kepada Allâh seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak bisa melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia selalu melihatmu”. (HR. Muslim, no. 8).

Kita tak akan mampu untuk melihat Allah, namun Allah selalu mengawasi kita. Dalam hadist riwayat Muslim yang lain, desebutkan bahwa sampai kapanpun kita tak akan mampu untuk meilhat Allah.

Yakini, bahwa seorangpun diantara kalian tidak akan bisa melihat Tuhannya sampai dia mati.” (HR. Muslim 7283, Ahmad dalam Musnadnya 5/433)

Bahkan, disebutkan oleh Imam Muslin dan Ahmad bahwa saat Nabi Muhammad melakukan Isra’ Mi’raj, beliau tidak melihat Allah dengan mata yang ada di kepalanya secara langsung meskipun jaraknya dengan Allah cukup dekat.

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihat Tuhannya dengan hatinya dua kali”. (HR. Muslim no. 176, Ahmad dalam musnad 1/223).

Namun, terdapat perbedaan di kalangan ulama mengenai ini.

Hikmah Mengimani As-Samii’ dan Al-Bashir

Dengan meyakini bahwa Allah memiliki nama indah beserta sifat sempurna yang melekat pada-Nya, maka dapat menambah dan meningkatkan iman dan taqwa kita yang sudah pasti naik turun.

Orang beriman yang percaya Allah memiliki sifat tersebut akan senantiasa untuk menjauhi segala perbuatan maksiat. Meskipun orang di sekitar kita tak tahu apa yang kita perbuat, namun Allah tetap akan mengetahuinya. Allah juga mampu melihat dan mendengar segala permintaan yang kita pintakan. Sehingga, usaha yang kita keluarkan dalam rangka meraih apa yang diimpikan menjadi lebih maksimal karena termotivasi untuk menunjukkan kesungguhan kita kepada Allah.

Suka Artikel Ini ?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 4

No votes so far! Be the first to rate this post.

error: Content is protected !!