Era New Normal: Rekonstruksi Semangat Gotong Royong di Lingkungan Perguruan Tinggi

2 min read

era new normal
0
()

era new normal

Era New Normal : Rekonstruksi Semangat Gotong Royong di Lingkungan Perguruan Tinggi

Era new normal – Meski pandemi Covid-19 belum sepenuhnya reda, namun saat ini pemerintah terus mendengungkan istilah new normal atau tatanan hidup baru bagi masyarakat Indonesia. Hal ini tentu saja bukan perkara mudah, mengingat penerapan new normal masih menjadi polemik hingga saat ini. Di satu sisi, new normal dianggap akan meningkatkan kasus Covid-19 dan dilain sisi menjadi upaya meredam tingginya kerentanan sosial yang terjadi di masyarakat. Bahkan ada indikasi bahwa new normal dipilih sebagai upaya menyamarkan ketidakmampuan negara untuk mengatasi pandemi Covid-19.

Apa itu New Normal ?

Sebelum membahas lebih jauh, ada baiknya kita memahami istilah new normal terlebih dahulu. Fenomena beredarnya istilah new normal dimaknai beragam oleh masyarakat Indonesia, itulah mengapa definisi dari istilah ini menjadi samar.

Presiden Joko Widodo mengungkapkan bahwa new normal berarti masyarakat harus bisa berkompromi, hidup berdampingan, dan berdamai dengan Covid-19 agar tetap produktif.

efek era new normal jokowi
Efek era new normal

Dilansir dari Kompas.com, Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmita, menjelaskan new normal sebagai perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19. Sementara itu, Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Achmad Yurianto menegaskan, istilah new normal menitikberatkan pada perubahan budaya masyarakat untuk berperilaku hidupsehat.

Terlepas dari perbedaan definisi yang ada, tatanan new normal secara sosiologis sama dengan istilah adaptasi hidup darurat pandemi (Syaifudin, 2020). New normal dimaksudkan agar berbagai sektor kehidupan yang tadinya tersendat atau bahkan terpaksa terhenti karena adanya pandemi, dapat (sedikit) bergerak kembali. Dengan kata lain, adaptasi hidup darurat pandemi merupakan salah satu upaya meredam laju tingkat kerentanan sosial di masyarakat yang tidak menentu. Kerentanan sosial yang dimaksud, berakibat pada penurunan produktifitas, terganggunya mata pencarian dan munculnya gangguan kecemasan sosial lainnyadi masyarakat.

Efek Era New Normal di Lingkungan Perguruan Tinggi

Salah satu sektor yang menjadi perhatian penulis adalah pendidikan, khususnya di lingkungan Perguruan Tinggi. Akibat pandemi, pemerintah mewajibkan seluruh perguruan tinggi untuk melakukan perkuliahan secara daring sejak beberapa bulan yang lalu. Hal ini didasarkan pada Surat Edaran dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor: 36962/MPK.A/HK/2020 tertanggal 17 Maret 2020 tentang Pembelajaran secara Daring dan Bekerja dari Rumah dalam rangka Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease (Covid-19). Artinya, mahasiswa dan dosen hanya bisa berinteraksi melalui perangkat digital guna kelangsungan proses belajar mengajar. Lambat laun, tak sedikit mahasiswa yang justru merasa jenuh. Ditambah lagi banyak dari mereka yang mengeluhkan kendala-kendala seperti kesulitan sinyal, keterbatasan perangkat digital, hingga kendala sosial yang justru berimbas pada motivasi belajar. Selain itu, isu UKT yang tiada habisnya, membuat keadaan makin tak kondusif. Permasalahan-permasalahan ini merupakan contoh kecil kerentanan yang terjadi di lingkup perkuliahan sebagai dampak dari adanya pandemi.

Budaya Gotong Royong di Era New Normal

Pada kondisi semacam ini, seluruh civitas akademika tidak bisa lagi bersikap dan bertindak egosentris. Perlu adanya strategi kebangsaan yang didasari nilai Pancasila dalam wujud nilai gotong-royong segenap komponen di lingkungan perguruan tinggi untuk bersama-sama membangun tatanan baru dunia perkuliahan. Gotong royong senantiasa dilandasi oleh sari pati dari nilai-nilai pancasila, yakni nilai ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan. Makadari itu, penting bagi kita untuk mengaktualkan nilai gotong royong guna menghadirkan Pancasila disetiap dinamika perkembangan zaman.

Menurut hemat penulis, budaya gotong royong dikalangan masyarakat Indonesia tetap menyisakan akarnya, meskipun kita ketahui bahwa nilai itu mulai luntur lantaran interaksi sosial saat ini benar-benar dibatasi. Hal ini dibuktikan dengan adanya gerakan-gerakan sosial yang saling bahu membahu untuk membantu mereka yang terdampak Covid-19. Gerakan sosial yang ditunjukkan di lingkup perkuliahan salah satunya berupa penyaluran bantuan sosial bagi mahasiswa yang terdampak. Kegiatan ini tentunya berangkat dari rasa kemanusiaan berupa kepedulian terhadap sesama. Tak berhenti disitu saja, ada banyak lagi kegiatan yang berasal dari inisiatif banyak pihak, baik oleh mahasiswa maupun dosen seperti melakukan kampanye pencegahan serta menghimpun donasi melalui platform pengumpulan donasi yang tersedia. Melalui aksi solidaritas semacam ini, telah membuktikan bahwa Civitas akademika mampu merekonstruksi nilai gotong royong yang sempat luntur, khususnya di lingkungan perguruan tinggi.

Momen semacam ini menghadirkan budaya gotong royong dalam bentuk dan inovasi baru tanpa menghilangkan nilai yang ada, yakni rasa kepedulian terhadap sesama. Menurut penulis, pola perubahan semangat gotong royong yang terjadi pada masa pandemi ini perlu dimaknai sebagai paradigma normal baru, yakni cara berpikir yang memandu perilaku untuk menanggulangi masalah dengan mengadaptasi nilai baru, realitas baru yang senantiasa berubah secara dinamik. Dalam konteks perang melawan Covid-19, baik dosen maupun mahasiswa, bahkan seluruh rakyat Indonesia harus memiliki cara berpikir yang sama bahwa pandemi harus diatasi bersama-sama bukan semata-mata tugas pemerintah. Hal ini nantinya akan membawa kita semua pada era baru kehidupan. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Baihaki, Dosen Pascasarjana Universitas Pasundan (Unpas) bahwa keberhasilan merekonstruksi nilai gotong royong merupakan sebuah penanda besar dari adanya era baru dalam kehidupan masyarakat setelah menghadapi bencana wabah covid-19. 

Suka Artikel Ini ?

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

error: Content is protected !!