[ Cerpen Tragedi ] Merengkuh Cintanya Dipersimpangan

11 min read

cerpen tragedi merengkuh cinta nya di persimpangan
0
()

Cerpen Tragedi – Mencintai dia yang tidak mencintaimu itu sakit. Sakitnya, sudah bisa ditebak. Tapi, bagaimana jika mencintai laki-laki yang mencintai orang yang kamu cintai? Pasti lebih sakit. Dikhianati orang yang mencintaimu, sekaligus orang yang dicintaimu. Mengalahkan sakitnya, gigi yang ngilu. Mengalahkan sakitnya, hentakan kaki pada tanah. Mengalahkan sakitnya, suara guntur dikala mendung.

Mengalahkan panasnya, terik matahari yang menyinari bumi. Lalu, apa yang kamu lakukan? Membencinya? Mengikhlaskannya? Karena tak semudah itu, untuk memilih sesuatu, disaat hati benar-benar remuk seremuknya.

Inilah yang dirasakan oleh Khansa. Seorang perempuan yang mencintai laki-laki bernama Dani. Mereka adalah sepasang kekasih yang saling mancintai. Bahkan sebelum Dani menyatakan cinta kepada Khansa. Dia sudah mulai tertarik dengan Dani. Awalnya sulit dipercaya. Tak bisa dibayangkan. Jika teman dekat menjadi seorang kekasih. Namun, jika sudah saling cinta, apa yang tidak mungkin menjadi mungkin. Tak ada salah mencintai teman dekat sendiri. Namun, ada hal pelik dibalik itu semua.

***

Baca Juga : [ Cerpen Keluarga ] Antara Cinta, Kenangan dan Upaya Menjaganya

Talita Nur Hafizdah. Nama yang tertera jelas, di KTP yang sedang aku genggam. KTP ini milik bundaku. Panggil saja, Ita. Orang yang penyayang. Yang membuatku tersenyum. Juga mengajariku banyak hal. Jika aku dirundung banyak masalah, maka bunda orang pertama yang kumintai solusi. Ya, bunda orang yang membuatku hidup kembali.
Empat tahun silam. Usiaku genap sembilan belas tahun. waktu itu, aku mempunyai tiga orang teman dekat.

Delon, Dani dan Nina. Aku dan mereka selalu bersama. Bahagia, perasaan yang dominan kala itu. Namun, siapa menduga. Justru itu awal deritaku.

Sebulan sesudah aku berkenal dengan mereka, Dani langsung menyatakan perasaannya kepadaku. Bimbang sekaligus senang. Jujur. Sejak awal bertemu, hatiku terasa aneh. Sepertinya, ada panah yang mendarat begitu saja.

“Dan, berikan aku waktu”. Aku menatapnya sejenak. Lalu, melihat ke arah bunga-bunga yang berada disekitar taman. Mulai hatiku bergeming, Persis apa yang dirasakan oleh lubuk hatiku. Tapi, apa daya aku tak dapat sepertinya. Wanita tak begitu mudahnya, untuk menyatakan perasaan. Memendam hingga sedalam-dalamnya, itu pilihan terakhirku”.

“Iya, Sa. Demi cinta, aku setia menunggu jawabanmu”. Dia membalas tatapanku. Tersirat mengerti apa yang aku katakan. Karena sukar, untuk menjawab pertanyaan yang serius.

“Makasih, Dan. Kamu udah mau ngerti. Aku balik dulu ya.. “. Segera aku meninggalkan Dani. Meski pertanyaannya masih teringiang jelas dibenakku.

“Iya, Sa. See you tomorrow..”. Sayup-sayup aku mendengar suaranya. Aku berbalik dan menjawab salam jumpannya,”See you too, Dan”. Aku tersenyum. Dia membalas senyumanku, kemudian aku pergi meninggalkannya.

Namun, pertanyaanya masih tertinggal dibenakku.
Malamnya, aku tak bisa tidur. Gelisah. Jawaban apa yang akan kuberikan kepada Dani. Aku tak mau Dani kecewa, ataupun membuat pertemanan kami kacau. Namun, aku tak mau membuang kesempatan ini. Akhirnya, aku kalap. Hatiku tak dapat berbohong. Ya. Terima saja.

Esok sudah datang. Kusambut pagi itu dengan ceria. Aku berkata kepada Dani. Bahwa aku juga memiliki perasaan kepadanya.

“Dan, aku juga punya perasaan ke kamu”. Kusentuh tangan Dani, yang sedari tadi sibuk memainkan gadgetnya. .

“Apa, Sa?,” responnya kaget.

“Iya, sungguh aku punya perasaan ke kamu”. Aku pun menunduk malu. Denyut jantungku berdetak kencang.

“Kalau gitu, kamu terima cintaku, Sa?”. Diapun menatapku. Seolah tak percaya dengan apa yang aku katakan.

“Ya, Dan. Aku menerimamu. Aku.. aku mencintaimu dengan setulus hatiku”. Agak canggung aku ungkpakan. Bahagia? Bisa dibilang begitu. Perempuan mana yang tidak bahagia. Jika dicintai oleh laki-laki yang mencintainya. Dan aku merasakan hal itu.

“Terimakasih, Sa. Kamu mau menerima cintaku”. Dia menatapku lebih dalam. Lalu, memegang kedua tanganku.

Iya, Dan. Aku janji nggak akan berhianat. Kedua tanganku juga mengengam erat tangannya.

Resmi. Dani, bukan hanya teman. Dia juga kekasih pertamaku. Delon dan Nina mendukung hubungan kami. Mereka pula, memiliki hubungan seperti aku dan Dani. Meski, aku baru mengetahui tiga hari yang lalu.

***

cerpen tragedi merengkuh cinta nya di persimpangan

Hari demi hari, hubungan kami semakin romantis. Kami saling menyayangi dan saling mengingatkan. Aku melengkapi kekurangannya, dengan kelebihanku. Dani melengkapi kekuranganku dengan kelebihannya.

Namun, jarak lima bulan Hubungan kami merenggang.

Sepekan sekali dia menghubungiku. Aku juga menyesuaikan jadwalnya. Karena seminggu silam, aku getol menghubunginya. Tapi, dia tak mengubris. Enam bulan kemudian.. Kami dalam kampus yang sama, walau jurusan kami berbeda. Kami sering berjanji untuk saling bertemu selepas jam kuliah.

“Yang, nanti malam kita keluar yuk..,” tanya Dani dengan meletakkan ponselnya. “Em.. oke, Dan. E, Bab”. Aku gugup. Salah memanggilnya.

Apalagi, sudah sekian lama aku menunggu hal yang seperti ini. Aku melihat dia sekilas. Lalu, mengangan momen romantis yang akan terjadi nanti malam. “Sipp, Yang. Nanti aku jemput jam delapan tepat”.

Sejenak dia tersenyum saat menatapku dengan mengangkat kedua jempol tangannya. “Yap, Dan. Kutunggu kamu ditempat biasanya. E, maksudku, Bab”. Aku mulai lagi. Sudah terbiasa memanggilnya Dani. Sambil aku malu-malu dan memilih untuk duduk setelah 15 menit sedari tadi menikmati indahnya taman.

Jam 19.30 wib, aku lekas menuju cafe.

Nina dan Delon sudah ada disana. Tertulis, ‘Camelia Cafe’. Ya. cafe ini saksi bisu pertemanan kami. Sedangkan Dani, baru tahu dua minggu lalu. Saat dia tak sengaja menabrakku. Sejak itu pula aku mengenal dan berteman dengannya. “Yang, maaf agak terlambat,” ujar Dani merasa bersalah kepadaku. Iyya, Dan. nggk papa kok . Iya, Bab. Nggk papa kok”. Sudah berapa kali aku salah memangggilnya. Cukup.

Kali itu harus menghilangkan rasa salah tingkahku. Segera aku ambil cermin. Menata rambut dan memoles bibir dan kedua pipiku. “E, Lon, Nin. Aku mau jalan dulu ya.. menikmati malam minggu sama yayangku paling cantik,” kata Dani dengan sorot kedua matanya mengarah kepadaku.

“Hmm.. baru enam bulan aja udh mesra amat,” timpal Delon santai. “Iya, dung. Pemanasan aku..”. Dani melihat jam yang melingkar ditangan kanannya. “Ah, kayak fitnes aja, pakek pemanasan segala”. Tak mau kalah. Kali itu giliran Nina yang menimpali “Da, jadi pergi nggk sih? Entar bedak sama gincuku ilang lho.. Kalo kamu kebanyakan ngobrol “.

Aku yang sudah berdandan cantik. Lengkap dengan dress special untuk orang special, hampir saja mengamuk. Karena aku sudah tak sabar. Momen semu, masih saja terngiang jelas di benakku. “Iya, yayangku paling cuantek. Yuk kita pergi!” katanya sebelum pergi. “Hati-hati Dan, Sa dijalan”. Delon yang sejak tadi melahap nasi goreng tiba-tiba berhenti makan. “Siap, aku pasti hati-hati. Coz aku nggk mau yayangku terluka,” jawabnya membuatku melayang. Aku dan Dani, segera pergi dari cafe.

Mobil Dani, lekas meluncur gesit keluar area parkir. Ini pertama kalinya Dani mengajakku keluar malam, selama beberapa bulan setelah hubungan kami putus. Dani santai menyetir. Akupun terdiam dan kedua bola mataku melihat suasana malam dibalik kaca mobil.

Lima menit kemudian, aku mencoba mencairkan suasana. “Bab, kamu masih sayang akukan?,” tanyaku agak ragu waktu itu. “Ya masihlah yang.. yang..,” responnya dengan membelokkan setir mobil. Karena waktu itu, ada pertigaan. “Em.. kalau gitu kenapa Bab jarang bales wa dari aku? “. Aku memeriksa ponselku. Takut tiba-tiba ada berita penting.

Dani diam sejenak..

“Aku.. aku.. maaf yang, aku sibuk banget. Agak gagap dia menjawab pertanyaanku. Tapi, rasa penyesalan terlihat diraut wajahnya. “Hem.. katanya masih sayang. Tapi waktu buat aku nggk ada. Ah, capek aku Bab kalo kayak gini terus,” jawabku dengan meletakkan ponselku ke dalam tas.

“Ya udah, sekarang aku ajakin kamu makan,” timpalnya santai. “Ya udah deh, aku juga kelaparan”. Aku mengalah. Ternyata, urusan perut yang dapat meregangkan rasa penasaranku. “Siap, Yang. Yuk turun! Kita udah sampai ni..,” katanya dengan memarkirkan mobil.

Dani turun, aku pun juga turun. Kami pesan makanan dan minuman yang sama. Dani makan lahap. Aku makan perlahan-lahan. Kami menikmati makanan masing-masing. Bukannya, aku tak mau berbicara. Kepekaan Dani ini yang aku tunggu.

Ternyata, tak sepatah katapun yang dilontarkannya. Akupun milih untuk berkelut dengan pikiranku sendiri. Setelah selesai makan, Dani segera mengantarku pulang. Aku hanya pasrah. Dani yang mengajakku jalan. Namun, dia malah membatalkan begitu saja.

“Yang, kamu aku antar pulang ya..”. Tak ada angin atau mendung, Dani spontan berkata begitu.

“Kenapa Dan, kok keburu banget? Apa gara-gara pertanyaanku dimobil tadi?,” tanyaku heran. “Nggk, yang. Aku.. aku.. memdadak ada wa dari ortuku, untuk segera pulang cepat,” timpalnya dengan membalas Wa seseorang. “Ah, ya udah deh. Kamu anter aku pulang ke kos-kosan”.

Aku langgsung saja mengiyakan. Tak lupa memberi saran yang tepat untuknya. “Siap. Ayo masuk, yang!,” jawabnya yang tiba-tiba semangat. Aku masuk ke mobil. Diam, hanya itu yang bisa kulakukan. Karena aku merasa aneh akan tingkah Dani malam ini. Dani dengan santai menyetir mobil. Sedangkan aku hanya berkelut dengan anganku dan sikap Dani malam itu. Ternyata, ekspektasi lebih indah dari kenyataan. Momen angan tadi siang gagal. Juga sikapnya yang aneh.

***

Baca Juga : [ Cerpen Tragedi ] Di Kaki Bukit

Esoknya, aku pergi ke kampus. Jarak kampus dengan kos-kosan tak jauh, hanya sepuluh menit memakai sepeda motor. Aku diam. Masih saja aku memikirkan kejadian tadi malam. Dani, nama itu yang selalu dibenakku. Namun, apa yang terjadi sebenarnya? Mengapa dia begitu terburu-buru? Seolah ada suatu hal yang membuatnya takut.


Sepuluh bulan lewat, Dani tak menghubungiku. Terpaksa aku pulang ke rumah tanpa bertemu dengannya. Padahal, aku ingin mengajak Dani untuk kerumah. Sekiranya dia bisa bertemu dengan mamaku. Aku ingin hubungan ini menjadi resmi. Tapi, apa daya. Dani tak pernah merespon. Sibuk, sibuk dan sibuk.

Jarak kampus dengan rumahku lumayan jauh. Jarak rumah per rumah disekitar rumahku, juga agak jauh. Tak salah, jika aku jarang keluar rumah. Hanya sekolah dan setelah itu kembali ke rumah. Mama tidak mengizinkanku untuk keluar. Ya, itu alasanku untuk ngekos. Dekat dengan kampus. Selain itu, banyak memiliki teman. Bebas, itu point utamanya.


Mama, aku merindukannya. Mama, orang pertama yang menyayangiku. Meski, waktu untukku tak terukir banyak. Tapi, Apapun yang kuminta, mama selalu menuruti. Termasuk permintaanku untuk kuliah dan ngekos diluar kota.

Namun hingga kuliah, aku belum tahu, apa profesi mama sebenarnya. Yang aku tahu, mama berangkat waktu aku tidur dan pulang kala aku bangun. Pulang membawa oleh-oleh dan uang yang banyak. Sesekali mama pernah menemani aku tidur dan berkataan,

“Khanzah sayang, jadi anak yang sukses ya.. dan dapet pekerjaan yang lebih baik dari mama”

Ya, aku rindu mama. Aku rindu masakan mama. Aku rindu kasih sayangnya. Liburan semester enam, sengaja tanpa menghubungi mama. Aku ingin membuat kejutan untuknya. Bus sudah sampai digang dekat rumah. Spontan aku turun dan menenteng oleh-oleh buat mama. Aku tak sabar bertemu dengan mama. Aku ingin melihat senyuman mama.

Aku pangling melihat rumahku sendiri. Rumah yang dulu sederhana, tiba-tiba menjadi indah. Mama, kapan merenovasi rumah ini? Mengapa tidak bercerita denganku? Padahal setahuku, mama sangat senang dengan model rumah yang lama.

Tiba-tiba saja, lamunanku buyar. Sepertinya, aku kenal dengan mobil itu. Ya, itu seperti mobil Dani. Tapi, tak mungkin. Karena pabrik mobil tak membuat satu barang saja. “Ah, bukan, itu bukan mobil Dani. Lagian Dani nggk tahu rumahku,” geming batinku. Sepuluh menit kemudian, mobil itu lekas meninggalkan rumah. Aku bergegas mendekati pagar rumahku.
“Assalamu’alaikum, Mama”. Tanganku meraih sebuah tombol bel, yang dipasang dekat pagar rumah

“Wa’alaikumsalam”. Sapa seorang wanita cantik, berambut pajang pirang. Yang seharusnya mau masuk kedalam rumah. Namun, malah berbalik badan. Karena mendengar salamku.

“Lho, kok nggk kabari mama kalo mau pulang?,” lanjutnya kaget. Saat mengetahui kedatanganku yang mendadak.

“Nggk, Ma. Khansakan mau memberi kejutan buat mama”. Aku segera masuk rumah. Setelah mama membuka pagarnya, yang sudah ditutupnya saat mobil itu pergi.

“Duh, Khansa. Tapi beneran lho mama terkejut”. Mama memelukku erat. Senang. Yang dirasakan wanita cantik, berambut pirang. Akhirnya, dia dapat bertemu dengan anak semata wayangnya.

“Oiya, ma. Tadi itu mobilnya siapa?,” tanyaku kepada wanita yang masih terlihat gadis. Meski usianya sudah menginjak kepela empat.

“O.. itu mobil tamu mama”. Jawabnya singkat.
“Ya udh, Ma. Ini Khansa bawa oleh-oleh buat mama. Makan ya..”. Kuberikan dua bungkusan makanan khas Malang kesukaan mama.
“Oiyah, mama malam ini nggk kerja?,” lanjut tanyaku dengan berjalan gontai disamping mama.
“Em.. malam ini mama libur,Sa. Ohya, gimana kuliah, Sa. Lancar?”. Mulai mama menjawab dan memotong pertanyaanku.

“Iya begitulah, Ma. Masih banyak tugas..,” jawabku santai agak serius.
“Ya udah, kalo gitu Sa istirahat dulu dikamar. Kamar Sa masih rapi kok”. Mama membuka dua bungkusan itu. Kemudian pergi kedapur dan meletakkannya disana.

“Iyya, Ma”. Segera aku pergi ke kamar. Karena tubuh terasa letih. Energi yang sudah kupersiapkan sejak tadi pagipun terkuras habis.

***

Baca Juga : [ Cerpen Religi ] Impian Qurban Tukang Pijat keliling

Esoknya aku bangun. Usai sholat subuh, aku membaca novel yang kupinjam dari Sania teman sejurusanku. Sejak ketiga temanku, tak pernah kujumpai. Aku mulai mendekati Sania. Sania suka sekali melahap buku-buku, termasuk buku novel. Kala itu novel “Bumi Cinta” ada ditangannya. Aku mulai tertarik untuk meminjam. Sania mengizinkanku. Usai liburan aku berjanji akan mengembalikannya. Matahari mulai sepengalan.

Bergegas aku pergi ke mandi. Tapi ternyata, kamar mandi dilantai atas rusak. Terpaksa aku harus mandi dilantai bawah. Setelah sampai, kulihat pintu kamar mandi tertutup. Lima menit kemudian, aku mendengar suara dibalik pintu kamar mandi. Suara mama kesakitan “Ma, ada apa?,” tanyaku dibalik pintu kamar mandi. “Kayaknya mama nggk enak badan, Sa. Perut mama agak sedikit mual”. Wanita rambut pirang itu, membuka pintu. ” Ma, mau Khansa antarkan ke dokter? ,” tawarku kepadanya. “Nggk usah, Sa. Mama istirahat aja dirumah”. Mama menolak ketus. “Ya udah, Khansa mandi dulu”.

Dengan wajah malu aku berkata kepada mama. Meskipun canggung untuk berkata seperti itu. Karena kulihat raut wajah yang agak berbeda. “Iya, Khansa. Mama mau istirahat dikamar dulu,” jawab mama dengan berjalan menjauhi, aku berdiri. Sejam kemudian, semua sudah beres. Aku sudah selesai mandi dan bersiap-siap.

Waktunya minta izin mama. Mama mengiyakan. Segeraku tancap gas dan pergi keluar perumahan. Hari ini aku berjanji kepada Nia, teman dekat SMP ku. Kami selalu berbagi suka dan duka. Namun waktu SMA, kami tak bisa bersama. Nia harus ikut orang tuanya pindah keluar kota. Sudah kubujuk dia. Bahkan kedua orangtuanya. Tapi, tak kena juga. Alasannya, karena pekerjaan papanya. Mau tak mau aku harus berpisah dengan Nia.

Sejak hari itu juga, aku tak bertemu dia lagi. Aku tak akan melupakan masa-masa bersamanya. Tiga hari yang lalu, ada nomer tanpa nama masuk digadgetku. Keenakan mengobrol via WA, sampai aku lupa menanyakan perihal nama. Esok malamnya, dia baru berkata, Aku Nia. Sahabatmu. Dia juga berkata, kalau sudah kembali dirumah yang dulu. Lalu, kami berjanji untuk bertemu. Ya, aku merindukannya.

Tak sabar ingin lekas bertemu dengannya. Sore ini aku berjanji dengan Nia. Kupakirkan sepeda motor dan segera menuju rumahnya. Nia, sudah menungguku. Kami berpeluk erat dan saling melempar senyum. Nia dan aku banyak bercerita Sampai waktu tak kami pedulikan. Jam 20.00 wib. Nia mengajakku untuk dinner dicafe. Kami memesan nasi goreng maut dan juice alpukat. kami sengaja menikmati malam. Kami hanyut dalam nostalgia masa lalu.

Disela percakapan Nia memintaku untuk menginap dirumahnya. Aku meng-wa mama “Ma, Khansa menginap dirumahnya Nia” Setengah jam lebih, mama belum membalas. Aku dan Nia segera pulang. Namun, sebelum pulang aku melihat dari kejauhan, wanita berdress ketat warna merah sedang bermanja mesrah dengan laki-laki muda dimeja cafe paling pojok.

Lima menit kemudian, aku baru sadar.

Kalau mereka adalah orang yang kukenal. Mama dan Dani. Aku yang tadinya ingin usai, langsung saja berbalik arah. Aku menghampiri mereka. Nia kusuruh untuk menunggu ditempat parkir. Sayup-sayup kudengar percakapan mereka. Karena hiuk priuk café tak seperti dua jam sebelumnya. Tiba-tiba saja, kumendengar kata hamil dari bibir wanita itu.

Aku sudah didepan mereka. Mama dan Dani kagetnya bukan main. Sedangkan hatiku perih. berlinangan air mataku, membasahi pipiku. Aku tak tahan. Tak banyak bicara. Lalu, pergi meninggalkan mereka.

Mama membuntutiku. Aku tak mau tahu. Terus, saja aku berlari. saat mama menyebrang untuk mengejarku, tanpa sengaja, sepeda motor menabraknya. Orang-orang berbondong menolong mama. Meski, hati masih terluka. Tapi, rasa manusiawi masih tersisa. Aku ikut menolong mama. Setengah sadar, mama menyebut namaku dan berkata,

“Sa, maafin mama. Temui papamu, alamatnya ada didalam buku dirak meja mama. Baca bukunya. Semua tentang mama ada disana”. Kata mamaku lirih. Tiga menit kemudian mama menghembuskan nafas terakhir. “Ma.. mama.. bangun. Khansa nggk mau ditinggal mama.,” teriak dan isak tangisku pecah. Air mataku semakin meleleh. Hatiku semakin pedih. Kaki tak bisa bergerak. Benakku lelah untuk berpikir. Jiwa dan ragaku remuk. Akupun ambruk, tak sadarkan diri.

***

Dua tahun lebih, mama sudah meninggalkanku. Kini aku tinggal bersama papa Bagas dan bunda Ita. Papa Bagas, papa angkatku. Lelaki yang disayang dan dibenci oleh mama. Papa sengaja cerai dengan mama. Karena profesi mama seorang mbalon alias wanita lonte.

Mama terpaksa bekerja sebagai wanita kupu-kupu malam. Selain mama seorang diri, saudara mama tak ada yang mau membantu mama.

Alasannya, sama-sama susah. Tak payah mama berangkat malam. Pulang pagi. Namun, bisa dihitung berapa banyak mama pulang kerumah. Karena sebagian besar waktu mama berada diluar rumah. Namun, yang dihasilkan mama cukup. Bahkan lebih untuk memenuhi keinginan wanita pada umumnya.

Satu bulan mama, bekerja disana. Mama bertemu dengan laki-laki yang mau menerimanya apa adanya. Mereka berhubungan selama tiga bulan. Hingga bulan ke-empat laki-laki itu, berjanji akan menikahi mama. Namun, sebelum memasuki bulan ke empat. Perut mama semakin buncit. Mama terkejut. Tenyata perut mama sudah mengandung. Usianya sekitar dua bulan. Bukannya senang laki-laki itu atas berita mama. Dia malah mengamuk dan meninggalkan mama pergi.

Mama tak tahu harus berbuat apa. Setiap kali mama menelpon, laki-laki itu tak pernah merespon. Mama, hampir frustasi. Bahkan, terbesit ingin mengakhiri hidupnya. Namun, Mama tak berani mengugurkan bayi yang tak berdosa. 2 bulan mama diasingkan dari rumahnya. Usia kandungannya menginjak lima bulan. Kemudian ada Papa menjadi penolong. Papa adalah teman dari temannya.

Papa berbohong pada keluarganya, kalau anak yang dikandung mama itu anaknya. Papa tak peduli apapun kondisi mama. Sebab, papa tulus mencintai dan menyayangi mama. Mamapun berjani tak kembali pada profesinya.

Setahun kemudian papa bangkrut. Sikap mama mulai berubah. Mamapun sering keluar malam dan pulang pagi. Malah pernah, mama keluar selama tiga hari dan hari ke-empatnya baru pulang. Papa resah dengan sikap mama. Sepekan kemudian, Papa tahu, mama bekerja menjadi wanita lonte atau tante genit. Satu bulan sesudahnya, papa memutuskan untuk berpisah dengan mama.

Dani. Anak yang tak cukup mampu. Keinginannya untuk kuliahpun terhambat. Namun, Tino, temannya Dani, mengajaknya untuk mengebet tante yang berjouis. Mamaku, salah satunya. Dia membiayai kuliah Dani sampai lulus. Tetapi, dengan syarat Dani harus mau jadi teman hidupnya.

Namun, Dani belum siap untuk menikah. Dani masih ingin kuliah. Sementara mama tak sanggup dengan syahwatnya. Dani juga tak bisa berbuat. Jika dia menolak, mama marah dan memutus kuliahnya. Malam itu, dirumah megah nan indah, dengan terpaksa terjadi hubungan yang tak semestinya.

Satu bulan usai, mama baru mengaku bahwa dia mengandung anak Dani. Dani tak tahu harus berbuat apa. Namun, dia tak boleh mengecewakan mama. Ya, terpaksa lagi Dani harus mendampingi mama. Namun, tak sampai hari-h, mama meninggal.

***

Sejak mama pergi, aku menjadi pilu. Apalagi aku mengetahui isi buku harian mama. Mama menuliskan sangat jelas kehidupannya. Begitu pula identitasku dan hubungan mama dengan Dani. Kesimpulannya, aku anak haram, yang tak jelas siapa bapaknya. Sementara Dani, sudah mengenal mamaku bahkan mereka memiliki hubungan yang spesial. Artinya, selama ini aku mencintai calon ayah tiriku.

Awalnya aku stress.Tapi, Bunda Ita menyadarkanku, tentang apa guna sebenarnya hidup? Untuk apa aku dihidupkan? Padahal aku terlahir dari hubungan yang haram. Begitu juga, orang yang kucintai dengan tulus, Ternyata sudah menghianatiku.

Namun, sejak Papa Bagas dan bunda Ita, bersedia mengangkatku sebagai anak mereka. Semua beban hidupku, terasa ringan. Mereka juga sangat menyayangiku. Seolah-olah aku anak kandung mereka. Mereka juga mengajariku tentang agama islam. Aku dulunya yang tak pernah mengores islam sedikitpun, kini getol mendalami islam.

“Maulifa Adibah Al-khansa, kamu nggk boleh gunda. Allah menciptakan kamu bukan untuk itu. Tapi untuk mengujimu. Pun beribadah kepadaNya secara totalitas. Namun tetap, hubungan mamamu dengan lelaki itu salah. Ya, seharusnya manusia bisa mengendalikan hawa nafsunya..,” protes batinku untuk menenangkan.

“Sudah waktunya untuk merengkuh cinta Nya disegala persimpangan masalah dalam kehidupan”. Kumenghela nafas perlahan. Berharap apa yang sudah terjadi dapat dijadian sebuah pelajaran.

Minggu, 5 Mei 2019
Babat- Lamongan.

( Cerpen ini diikutsertakan dalam lomba menulis cerpen Okeylah Media )

Suka Artikel Ini ?

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

error: Content is protected !!