Tiva Mahasiswa yang lagi fokus kuliah bahasa asing sembari nulis fiksi dan punya hobi nonton film sambil dengar lagu lawas

[ Cerpen Tragedi ] Di Kaki Bukit

9 min read

cerpen tragedi perang
5
(3)

Cerpen Tragedi – Theo dan Celeste adalah dua orang dari sekian banyak manusia yang bersembunyi di terowongan saat pesawat musuh mulai menjatuhkan peledak untuk memusnahkan permukiman penduduk serta nyawa manusia. Mereka terus berlari dengan kaki telanjang mencari tempat persembunyian agar terus dapat bertahan hidup menyingkir dari serdadu musuh yang tak segan menjatuhkan korban sekehendak hati. Di tengah perang yang sedang membuncah, Theo dan Celeste hanya memiliki rasa percaya serta belas kasih satu sama lain mengingat tragedi besar umat manusia belum menemukan titik terang untuk terselesaikan. Sejak pertama kali bertemu, Theo dan Celeste merasa telah memiliki perasaan dan nasib yang sama. Theo adalah seorang pria pemilik suara emas, lalu Celeste adalah seorang wanita dengan jari-jari indah yang pandai bermain piano serta menciptakan lagu-lagu indah bernuansa cinta. Pada akhirnya dua manusia itu memutuskan untuk terus menjalani hari secara bersama-sama dengan harapan kecil bahwa perang akan segera usai. Theo dan Celeste mempunyai mimpi untuk menjalani dunia yang lebih baik tanpa adanya rasa takut suatu saat nanti.

Cerpen Tragedi – Di Kaki Bukit

“MUSUH MENYERANG!”

Pesawat-pesawat melintas dengan deru memekakkan telinga. Gemuruh terasa hingga terowongan tempat Theo dan Celeste bersembunyi. Kaki-kaki telanjang mereka dipaksa berpijak pada kerikil yang sungguh menyakitkan, terlebih saat harus berlari jika salah satu serdadu musuh tiba-tiba menciduk.

Pesawat-pesawat musuh mulai mengeluarkan peledak dan suara yang luar biasa keras itu membuat siapa pun tak berani melawan. Rumah-rumah serta bangunan di daerah yang terkena dampak mulai mengeluarkan kepulan asap satu per satu dan perlahan hancur tak berbentuk. Puing-puing dari bangunan pun turut berserakan dan memenuhi jalanan di sekitar. Theo dan Celeste merupakan dua orang dari sekian banyak manusia yang memilih bersembunyi di dalam terowongan saat itu. Dua orang tanpa hubungan darah dan tak sengaja berjumpa karena terhubung oleh perasaan dan nasib yang sama, yaitu sama-sama telah ditinggal oleh keluarga sebab perseteruan yang belum menemukan jalan keluar sehingga membuat perang bergejolak. Banyak korban berjatuhan, tempat tinggal yang lenyap begitu saja, belum lagi masalah kekurangan pangan karena hancurnya lahan pertanian akibat serangan musuh.

Baca Juga :

[ Cerpen Tragedi ] Bulan Darah

“Kau baik-baik saja?” Theo membuka mata dan menurunkan tangan dari telinga. Celeste duduk di sampingnya dan masih menundukkan kepala tanpa bergerak sedikit pun. Theo hanya bisa memberi ketenangan dengan pelukan singkat. Lantas mengatakan bahwa pesawat-pesawat itu telah pergi.

“Celeste, angkat kepalamu,” ucap Theo sembari berusaha melihat wajah yang tersembunyi di balik dua lutut itu. Telinganya masih ditutupi— tampak ragu untuk sekadar menurunkan tangan. Celeste selalu berkata bahwa ia sangat takut dengan suara yang menggelegar seperti saat pesawat musuh meluncurkan peledak atau tembakan-tembakan musuh saat dengan keji berkeliaran menjatuhkan korban.

“Mereka telah pergi.” Theo berbisik tepat di telinga wanita itu.

Orang-orang yang bersembunyi di dalam terowongan bersama mereka mulai beranjak meninggalkan tempat persembunyian saat pesawat musuh telah pergi untuk memeriksa keadaan warga dan bangunan sekitar. Kondisi seperti ini adalah yang paling ditakutkan sebab tak ada yang tahu apa yang akan lenyap selanjutnya, atau apa yang masih bertahan.

“Theo,” Celeste mulai mengangkat kepala. “Bagaimana rumah kita?”

Serta-merta Theo memasang wajah bimbang. “Entah, kita harus siap dengan segala kemungkinan.”

Celeste membalas dengan raut wajah yang sama dengan menatap masuk melalui dua netra legam yang saat ini menjurus padanya.

Theo melanjutkan, “Kita harus segera ke luar dan memeriksa.”

Selanjutnya tangan itu saling bergenggam erat dan keduanya berjalan pelan keluar dari terowongan tempat persembunyian. Pemandangan yang akan selalu sama saat selepas musuh menyerang adalah asap telah mengepul di banyak tempat, ratapan orang-orang akan rasa kehilangan, serta hilir mudik masyarakat untuk saling menyelamatkan satu sama lain.

Lalu Theo dan Celeste berjalan di antara itu semua.

“Aku takut pulang,” Celeste berkata pelan kala tangan Theo terasa lebih dingin saat bersentuhan dengannya.

Seketika Theo berhenti berjalan. Pria itu menenggelamkan kepala dengan tangan yang tak terasa mencengkeram Celeste semakin kuat hingga meninggalkan rona merah dan rasa sakit di tangannya. Perlahan Celeste meringis pelan.

“Ah, maaf—” seru Theo tiba-tiba saat pria itu akhirnya sadar bahwa kata-kata yang diucapkan Celeste sebelumnya telah membuat sesuatu yang selama ini selalu tersimpan dalam dirinya menjadi tak terkendali.

Theo melepaskan tangan Celeste. Memasang raut pilu dan berusaha menahan kata-kata yang ingin ia ucapkan— bahwa bagaimanapun ia akan memastikan bahwa semua akan baik-baik saja. Namun agaknya hal itu menjadi tertangguhkan sebab kenyataan tak selalu berpihak padanya. Pada Theo yang selalu ingin menjaga Celeste seperti apa pun keadaannya. Bahwa Celeste sendiri pun yang hanya bisa mengandalkan Theo setelah wanita itu kehilangan banyak hal. Bagaimana saat hanya hati nurani dan kasih sayang yang bisa menyelamatkan mereka di tengah situasi memilukan umat manusia seperti saat ini.

“Aku lebih takut saat aku tak bisa menjagamu, Celeste…”

Kata-kata itu begitu saja meluncur keluar dari mulut Theo saat wajah Celeste masuk ke penglihatan dan seolah memberi isyarat melalui air muka merana bahwa ia sangat membutuhkan Theo di sampingnya.

“Jangan katakan hal mengerikan itu lagi, Theo. Kau akan selalu bisa menjagaku. Tetaplah bersama apa pun yang terjadi,” Celeste berkata seraya menarik tangan Theo untuk kembali berjalan. “Ayo, kita pergi.”

Kaki-kaki tanpa alas itu mulai melangkah kembali. Berjalan di antara riuh nestapa manusia dengan harapan menggebu bahwa mereka berdua akan bisa melewati ini bersama-sama sampai takdir mengatakan bahwa semua akan berakhir.


Theo dan Celeste berhenti di kaki bukit yang di situ terdapat sebuah lubang besar seperti gua pada salah satu bagiannya. Mereka telah memeriksa keadaan rumah, dan tentu saja harapan bahwa semua akan baik-baik saja itu seketika sirna sebab semua bangunan warga telah hancur dan rata oleh tanah. Pada akhirnya dua orang itu memilih untuk kembali berjalan mencari posisi sementara yang dapat digunakan sebagai tempat bernaung. Malam telah tiba dan rintik-rintik hujan mulai turun. Kondisi gelap gulita kala penerangan betul-betul hanya mengandalkan cahaya aram temaram rembulan. Theo melirik Celeste yang memeluk lutut dengan pandangan mengedar pada langit malam. Rambut legam ikal milik wanita itu basah karena hujan. Theo mengeluarkan secarik kain dari saku celana lalu mengusap lembut rambut Celeste agar tidak basah.

“Dingin, tidak?” Theo bertanya dengan senyum tipis terpampang di wajah.

“Bohong kalau kubilang tidak dingin,” Celeste memasang senyum yang sama. “Tapi aku baik-baik saja, sungguh.”

Perlahan tarikan di sudut bibir Theo memudar. Pria itu memasukkan kembali kain ke dalam saku celana lantas tiba-tiba berdiri bangkit dari duduknya. Celeste menatap wajah itu penuh perhatian dan air muka keheranan.

“Aku akan pergi sebentar,” ujar Theo. “Tunggu di sini sampai aku kembali.”

“Mau ke mana?” Refleks Celeste bertanya.

Theo tak langsung menjawab. Ia menatap lekat wajah wanita yang telah lama hidup bersama dengannya itu. Orang yang ia jumpa saat suatu malam musim semi beberapa tahun lalu mencoba menghampiri dirinya yang tengah bernyanyi di sebuah restoran.

Celeste dengan riang berkata bahwa suara Theo betul-betul telah menarik perhatiannya. Saat itu pula ia mengetahui bahwa Celeste pandai merangkai kata-kata indah menjadi sebuah lagu ditambah wanita itu pun mahir memainkan piano. Theo bersedia untuk menyanyikan tiap lagu-lagu yang telah diciptakan Celeste dan pria itu kagum bukan main. Akhirnya dua orang manusia tanpa hubungan darah itu saling berhubungan sebab telah punya suatu keterikatan yang seiring berjalannya waktu menjadi bertambah kuat, sesuatu yang pada masa ini sangat sulit untuk ditemukan walau hanya sejenak— lantas orang-orang menyebutnya cinta.

“Mencari sesuatu untuk menghangatkanmu.” jawab Theo pada akhirnya selepas mengusap rambut Celeste yang hampir kering. Lagi, senyum simpul terbit di sana.

“Cepat kembali, Theo. Jangan pergi terlalu jauh.” Celeste memperingatkan.

“Kau tahu aku tak pernah bisa jauh darimu.”

Setelah berkata begitu Theo langsung berlari pergi lalu menghilang di balik pepohonan. Celeste menunggu dalam hening dan kegelapan malam. Perasaan cemas seketika menyeruak saat melihat punggung Theo yang pergi menjauh sedikit demi sedikit. Celeste sadar bahwa ia hanya seorang wanita sebatang kara yang tak bisa berbuat apa-apa. Selama ini ia hanya bisa mengandalkan Theo untuk membuatnya tetap bertahan hidup. Namun begitu apa mau dikata, Theo juga sama tak ingin lepas darinya. Mereka hanya hidup dari belas kasih satu sama lain, mengharapkan bahwa dengan begitu dapat menjadi sebuah impian kecil agar terus hidup bersama-sama melewati waktu demi waktu serta bertahan hingga kapan masanya perang ini akan berakhir.

Theo mempunyai secercah mimpi bahwa pria itu ingin mengajak Celeste bersama-sama untuk berkeliling ke berbagai wilayah dan melakukan kolaborasi musik di sana. Ia akan bernyanyi sebuah lagu hasil karangan Celeste, lalu wanita itu juga akan menjadi pengiring dengan memainkan piano di saat bersamaan. Theo selalu bermimpi bahwa mereka berdua akan menjadi pasangan serasi jika berada di atas panggung— menciptakan irama syahdu dengan alunan merdu piano serta berbait-bait lirik bermakna indah. Theo berharap agar suatu saat nanti jika perang telah usai, dirinya dan Celeste dapat menjelajahi dunia yang lebih baik tanpa rasa ketakutan dan kelaparan teramat sangat seperti saat ini. Mereka hanya ingin menciptakan kenangan indah bersama dan menghibur dunia dengan alunan musik agar manusia dapat segera melupakan bagaimana perihnya melewati masa sulit akibat entah ulah siapa lantas merayakan akhir penderitaan itu dengan suka cita. Semoga suatu saat nanti mimpi-mimpi itu dapat terwujud.


Celeste membuka mata.

Berkas cahaya menyalak masuk ke indra penglihatan saat ia berusaha menyadari bahwa pagi telah tiba. Celeste tertidur saat sedang menunggu Theo dan ternyata matahari telah terbit. Aroma sehabis hujan masih menyeruak tercium pekat. Hawa tidak dingin seperti saat malam, namun sisa-sisanya masih tertinggal sececah. Celeste berdiri bangkit dan segera melayangkan pandang ke sana kemari.

“Theo?”

Kaki itu melangkah ke luar gua. Terlihat mondar-mandir mencari keberadaan pria yang waktu tadi malam mengatakan permisi untuk pergi sejenak. Ternyata sejak semalam Theo belum juga kembali dan akhirnya Celeste tak sadar tertidur karena kantuk.

Wanita itu kembali berteriak, “Theo—?”

Tak ada tanda-tanda keberadaan pemuda itu. Seketika saja luapan rasa cemas itu betul-betul menjalar hingga Celeste kembali pada masa di mana ia tak bisa berpikir jernih karena terlalu takut. Kaki itu berlari dalam dada menggebu gelisah tak keruan sebab Theo berjanji akan kembali dan Celeste disuruh menunggu hingga ia tiba. Namun sampai pagi pun Theo belum menunjukkan batang hidungnya sama sekali. Sumpah demi apa pun Celeste panik bukan main.

“Theo, kau dima—”

“Ce-Celeste—“

Suara itu mengagetkan Celeste. Lekas ia mencari arah sumber suara dan seketika saja wanita itu jatuh terperanjat kala pandangan itu bertemu dengan apa yang ada di hadapannya saat ini.

Theo menghampiri Celeste dalam keadaan bersimbah darah.

Kaki itu tertatih-tatih mendekat dengan wajah meringis dan sesekali batuk-batuk saat berusaha menaruh perhatian pada langkahnya. Celeste tak sanggup untuk sekadar bertanya apa yang telah terjadi dan bagaimana Theo bisa menjadi seperti itu. Ia terduduk di tanah dengan tampang tak percaya. Lalu perlahan setetes air mata jatuh saat kata-kata tak lagi kuasa keluar dari mulut. Celeste terlalu takut— ia tak bisa melihat keadaan Theo dengan darah mengalir di seluruh tubuh.

Theo berusaha berkata, “M-Maaf aku terlalu lama—”

“Berhenti meminta maaf dan katakan apa yang terjadi!” sela Celeste dengan masih berusaha menahan tangis.

Theo mengurungkan kalimatnya. Menjatuhkan kepala dan beradu pandang dengan Celeste yang terduduk di tanah. Seketika perasaannya terasa sakit saat menyaksikan betapa wanita itu sangat mengkhawatirkan dirinya. Sungguh, tapi saat menyaksikan Celeste mengeluarkan air mata seperti itu betul-betul seperti mengiris hatinya.

“Celeste, kumohon maafkan aku. Tapi aku sungguh telah habis pikiran untuk mencari di mana lagi kita mendapatkan sesuatu agar kita dapat terus bertahan hidup. Sayangnya, semalam aku tertangkap oleh warga saat—”

Celeste menatap tak percaya. “— Kau mencuri?”

Dua bola mata itu seakan berbicara bahwa perkataan Celeste adalah kebenaran yang selama ini terpendam. Enggan untuk diungkapkan kepada siapa pun sebab Theo sungguh paham bahwa Celeste tak akan pernah setuju dengan jalan yang ia pilih.

“Celeste, aku tahu— aku tahu betul perbuatan itu adalah dosa besar. Tapi saat melihat bagaimana setiap hari kita menahan lapar dan sakit-sakitan begini, tak ada cara lain yang bisa kuperbuat.” Theo berkata dengan kepala yang ditenggelamkan dalam.

Celeste tak bisa berkata-kata. Entah apa yang seharusnya ia terima sekarang; kenyataan bahwa selama ini Theo mendapatkan sesuatu atas hasil merebut hak milik orang lain atau keadaan bahwa jika tidak demikian mereka akan kalah dan mati. Pikiran itu membuat Celeste frustrasi tentang segala hal yang telah terjadi.

Tiba-tiba saja Theo membuka setengah pakaiannya, tak disangka sebuah bungkusan besar berada di balik itu. Di dalamnya ia menyimpan banyak sekali makanan, sayuran serta buah-buahan entah milik siapa. Wajah itu berusaha tersenyum, namun saat darah mengalir dari sela-sela rambut hingga turun ke wajah, Celeste tak sanggup untuk melihat. Makanan-makanan itu pun jatuh ke tanah.

“Aku membawa selimut dan makanan untuk kau makan selama beberapa hari ke depan, kuharap— kau masih bersedia menerima pemberianku.”

Theo tersenyum, akan tetapi sorot mata itu berkata lain. Celeste paham betul tentang bagaimana saat hanya tatapan yang berbicara dan tak sesuai dengan kata-kata yang keluar dari mulut.

Celeste tahu rasa sakit yang Theo terima adalah risiko dari tanggung jawab atas dirinya yang selalu mengandalkan pria itu dalam segala hal. Namun ia benci saat Theo hanya bertindak seorang diri seolah-olah Celeste adalah wanita lemah yang tak bisa berbuat apa-apa lalu merahasiakan berbagai hal di belakangnya.

“Kenapa kau tak pernah bercerita padaku—?” Celeste bertanya dengan air mata yang terus mengalir. Wanita itu melangkah maju mendekati Theo dengan tubuh bergetar hebat. Lantas dipeluknya erat saat Theo nyaris terjatuh sebab tak kuat menahan tubuhnya sendiri. Kepala itu terkulai lemas di pundak Celeste. Bau amis kentara tercium saat Theo betul-betul penuh darah di sekujur tubuh. Tangisan wanita itu semakin menjadi-jadi.

“Celeste, kau tahu tidak?” Perkataan Theo terpotong oleh batuk. “Hubungan kita yang bertahan lama ini membuatku semakin tak ingin kehilanganmu.”

Disambut oleh keheningan dan samar hanya isak tangis yang terdengar.

Theo melanjutkan, “Saat pertama kali aku melihat kata-kata indah yang kau rangkai— ingin sekali rasanya kunyanyikan sebuah lagu Cinta hanya kepadamu. Tapi sayang, waktu untuk kita bercengkerama tidak terlalu banyak.”

“Theo, berhentilah berbicara…”

“Celeste, aku tak pernah menyesal kita dipertemukan dalam kondisi seperti ini. Dunia memang sedang kacau, namun aku justru bersyukur karena telah dipertemukan bersama denganmu melewati ini semua. Aku tak pernah sendiri, Celeste. Aku beruntung karena aku bersamamu.”

Bibir Celeste terkatup rapat saat embusan napas Theo terdengar sesak di pendengaran. Ia peluk erat tubuh ringkih itu dengan doa di dalam hati mengharapkan bahwa semua akan baik-baik saja.

Saat dalam dekap Celeste, sebuah pikiran terlintas begitu saja di benak Theo bahwa apa yang telah mereka tempuh bersama-sama tak akan pernah tergantikan oleh sesuatu berwujud materi. Pria itu sadar, satu-satunya harta yang ia punya berada tepat di depan matanya. Orang yang akan selalu berada di sampingnya, membantunya, menyemangati kala keadaan betul-betul kacau, dan melindunginya saat ia sendiri pun tak tahu akan melakukan hal yang sama atau tidak.

Saat sebelum mata itu tertutup, Theo membalas pelukan yang sama— berharap Celeste akan memaafkan dirinya dan terus berada di sisinya sampai kapan pun.


Celeste membaringkan tubuh Theo di dalam gua. Membersihkan luka-luka di sekujur tubuh pemuda itu yang didominasi oleh luka bekas pukulan dan beberapa sayatan benda tajam. Air mata itu tak pula berhenti mengalir. Celeste menangis terisak-isak saat luka itu sungguh mengerikan barang sekadar dilihat sekejap mata. Tapi bagaimanapun Celeste harus membersihkan Theo, memberikan obat dari apa pun untuk memulihkan luka-luka itu.

Saat di bagian kepala, Celeste melihat apa yang menjadi penyebab darah itu berada di sana. Sebuah luka— ah, Celeste terlalu takut untuk melihat lebih jelas. Ia terduduk di samping tubuh Theo dengan tangis tersedu-sedu. Tak ayal Celeste berpikir bahwa apa yang dialami oleh Theo sungguh membuatnya sakit bukan main. Sesuatu di dalam dirinya mengatakan bahwa Theo sangat ingin melindungi dan mengurusnya bagaimanapun rintangan yang harus ia hadapi.

Terkadang Celeste benci hal itu.

Saat pertama kali bertemu bahwa memang Theo yang memutuskan untuk ikut bersama Celeste sebab mereka berdua sama-sama tak punya tempat untuk dituju. Memilih mengembara untuk mencari tempat perlindungan sementara dari serangan musuh dan bertahan hidup menggunakan segala cara. Namun cara yang dipilih Theo saat ini tak diketahui oleh Celeste sama sekali. Itu menyebabkan perasaan Celeste menjadi campur aduk akan sesuatu yang benar atau salah.

Theo paham, Celeste akan menentang cara yang ia pilih. Pun Theo sama sekali tak punya pilihan lain karena yang ia pikirkan hanya agar wanita itu dapat terus hidup.

Theo hanya tak ingin Celeste mengikuti jejak orang-orang yang lenyap di tengah perang dalam berbagai macam kondisi tragis lalu dilupakan begitu saja. Tapi nyatanya Celeste sama saja— ia benci ketika mengetahui fakta bahwa Theo mempertaruhkan nyawa saat ia hanya ingin agar Celeste terus bertahan hidup dan suatu saat nanti mungkin dapat melihat bagaimana dunia ketika lepas dari perang.

Namun saat hari-hari telah berganti sejak terakhir kali Theo tertidur di dalam gua, ia tidak lagi membuka mata. Lalu pada akhirnya mimpi agar Theo dan Celeste dapat selalu bersama dan menjadi pasangan serasi di atas panggung itu seketika lenyap begitu saja.

Theo kehilangan nyawa karena kehabisan darah.

Suka Artikel Ini ?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 3

No votes so far! Be the first to rate this post.

Tiva Mahasiswa yang lagi fokus kuliah bahasa asing sembari nulis fiksi dan punya hobi nonton film sambil dengar lagu lawas
error: Content is protected !!