allediasora penulis yang tersesat di antara aksaranya sendiri

[ Cerpen Tragedi ] Bulan Darah

6 min read

cerpen tragedi bulan darah
5
(1)

Cerpen Tragedi – Bulan Darah

Cerpen Tragedi – Buruh perempuan bernama Banou itu sedang menginisiasi gerakan menuntut hak-hak pekerja ketika ditemukan tak bernyawa di sebuah gang kecil tak jauh dari tempatnya bekerja. Ia ditemukan dalam keadaan rusak, dan tidak ada selembar pakaian pun melekat di tubuhnya.

***

Baca Juga :

Cerpen Religi – Impian Qurban Tukang Pijat Keliling

Tangan-tangan kasar itu mulai menjamah tubuh gadis itu dari ujung sampai ke ujung lagi. Sesekali mereka berhenti di tengah-tengah, di atas sepasang payudara yang mengkal, sembari mendesah. Bibir-bibir busuk hitam dengan lidah panas dan bau, mendecak-decak, mencecap sejengkal demi sejengkal bukaan kulit yang baru saja dilucuti dengan paksa.

“Makanya jangan sok pinter!”

Ujar laki-laki satu, ia tersengal-sengal  seraya menjilati tubuh gadis yang kini sudah tidak melawan lagi. Rambut merahnya tergerai dengan serampangan di atas jalanan penuh lubang yang kotor dan berbau pesing.

“Cakep bener dia, bos! Mulus lagi!”

Geram lelaki kedua, hidung besarnya yang menyerupai moncong babi mengendus-endus rambut merah lebat yang dulunya milik perempuan dengan wajah elok itu. Tubuh moleknya kini tidak menggunakan penutup suatu apa. Kedua payudaranya yang baru mengkal, tergantung lemas di bawah wajahnya yang sudah pias. Pangkal pahanya mengalirkan darah segar yang merembes perlahan ke badan jalan.

“Buat apa cakep kalo banyak bacotnya!” Seru lelaki yang dipanggil bos itu. Kawanan itu kemudian tertawa dengan tawa kasar yang parau. “Biar dia rasa, jadi buruh nggak usah kebanyakan tingkah! Tau rasa kan, lo sekarang!” Seru laki-laki satu seraya kembali mengoyak tubuh gadis itu.

Sakit, tolong!

Gumam perempuan itu ditengah-tengah napasnya yang terakhir. Lehernya telah dicengkeram begitu rupa, sementara bagian-bagian tubuhnya lumat oleh kawanan preman yang tadi mencegatnya. Ia bisa merasakan tangannya dijilati, sementara kaki-kakinya dicengkeram sama kuatnya dengan cengkraman di lehernya, sehingga ia tak bisa lagi bergerak.

Tolong! Sakit! Hentikan, tolong!

Perempuan molek itu pernah meminta hingga suaranya serak. Ia telah menjerit dan berteriak. Menendang dan mencakar-cakar. Ia mengiba dengan putus asa, bagai anak domba di bawah cengkeraman para serigala: segalanya sia-sia.

Serigala-serigala itu berwujud lelaki satu, dua, tiga, dan empat, yang sama sekali mengabaikan permintaannya. Mereka menyergap, lalu menyeretnya ke dalam gang sempit yang jarang dilalui manusia. Di dalam sana, kawanan lelaki itu kemudian berpesta. Mengganyang si wanita sampai puas. Mereka mencabik-cabik tubuh itu hingga koyak, sampai tuntas, habis napasnya.

“Wah, bos, kayaknya dia mati, nih!” Seru lelaki empat dengan bekas luka yang melintang di wajahnya. Ia baru saja menunaikan hasratnya yang begitu mendesak, sampai-sampai mengabaikan bahwa tubuh di bawahnya itu sudah kaku, jelas sekali tidak ada kehidupan yang tertinggal di dalamnya.

Lelaki itu tak akan melupakan betapa wajah mayat bisa membuatnya ketakutan. Ia tak akan lupa bagaimana sepasang bola mata yang tadinya begitu hidup dan menawan, berubah mengerikan saat yang tertinggal hanyalah selongsong tubuh kosong, tanpa jiwa.

“Masa? Yaudah, ayok! Cepetan cabut!” Perintah lelaki satu sambil membetulkan letak celananya. Ia telah berkali-kali ejakulasi di dalam liang si perempuan yang tak berdaya. Ketiga kawanannya bahkan harus memaksanya pergi dari liang itu untuk kemudian bergantian menggunakannya.

Perempuan itu mati dengan tubuh rusak dan berdarah-darah, sementara bulan di atas sedang bersolek dengan begitu besar dan megahnya.

***

Banou adalah buruh wanita yang memiliki wajah rupawan, dengan rambut merah panjang ikal sampai sebatas pinggang. Hari itu, ia memimpin rapat serikat buruh di tempatnya bekerja untuk menuntut hak-hak mereka yang disunat habis. Ia ingin memperjuangkan hak-hak buruh demi mendapatkan penghidupan yang lebih layak, dan jam kerja yang lebih manusiawi. Sudah lama sekali ia menggadang-gadang gerakan buruh yang bisa mengubah nasib mereka semua.

“Kita sudah terlalu lama diam, jika bukan kita sendiri yang bergerak, dan melawan, siapa lagi?” Ujarnya berapi-api. Banou dikenal sebagai perempuan dengan pendirian keras, meskipun usianya baru beranjak sembilan belas. Dilahirkan dalam keluarga miskin dan serba berkekurangan, mental Banou sudah ditempa dengan kesulitan dan sengsara, yang membuatnya menjadikan tekadnya lebih keras dari baja.

Banou, meskipun tidak pernah mengenyam pendidikan sekolah menengah, memiliki wawasan luas karena kegemarannya membaca berita. Banou juga merupakan salah satu buruh yang cukup vocal, sehingga suaranya sering didengar di berbagai media.

Gadis yang hanya tamat sekolah dasar itu, selalu bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarganya. Ia hanya tinggal bersama dengan ibu dan adik kembarnya yang masih balita. Hidupnya dihabiskan dengan berpindah dari satu pabrik ke pabrik lainnya, beraneka ragam pelecehan telah diterimanya sejak belia. Banou sudah kenyang dengan rasa sakit, karenanya, ia ingin bergerak, dan bisa membuat perubahan.

Ia percaya, orang kecil sepertinya, bahkan wanita, berhak memiliki hidup yang layak, serta sama berharganya dengan hidup orang-orang berduit di atas sana. Kini, Banou mengumpulkan rekan-rekan buruh yang memiliki tujuan sama dengannya selepas pulang kerja. Mereka berkumpul di tanah lapang tak jauh dari pabrik, pertemuan itu dilakukan secara terbuka, Banou sengaja melakukannya dengan terang-terangan, agar para atasannya bisa dengan mudah mengetahui, bahwa gerakan yang digagasnya sama sekali jauh dari pemberontakan.

Beberapa rekan buruh di hadapannya tampak mengangguk semangat, namun ada pula yang tampak ragu-ragu dan diliputi ketakutan. “Ban, ada peribahasa yang mengatakan, anjing tidak pernah mengigit tangan yang memberinya makan.” Sela salah satu kawan buruhnya. Rekannya itu lelaki berbadan tambun, yang rupanya berbanding terbalik dengan nyalinya.

“Ya, tapi apa kamu mau disamakan kayak anjing, Gon?” Sahut Banou sengit. Goni, rekan yang tadi menyahutinya tampak wajahnya memerah karena malu. “Sekalipun kita ini anjing, tapi bos-bos di atas sana itu cuma kasih kita remahan sisa. Sekarang lihat, deh, mana ada di antara kita semua yang makan enak, hidup layak? Padahal, tenaga kita diperas sampai tinggal ampas, boro-boro bisa napas!” Seru Banou lagi seraya menghidupkan batang rokok klobot yang dilintingnya sendiri.

Terdengar beberapa gumaman mengiyakan di sana-sini. “Dengar, hari buruh memang sudah lama lewat, tapi tuntutan kita dari tahun kemarin belum juga diloloskan, masa kalian mau diam dan menyerah begitu saja?” Desak Banou seraya mengamati wajah-wajah lelah dan kuyu di hadapannya. Banou tahu, kebanyakan di antara mereka hanya ingin segera pulang, dan meletakkan lelah di bahu malam.

Ia pun merasakan hal yang sama, namun Banou bertekad, malam itu, suara mereka harus bulat untuk tiga tuntutan utama serikat buruh yang diketuainya. Satu, bayarkan upah buruh yang libur karena melahirkan. Dua, bayarkan upah lembur buruh, dan tiga, lindungi buruh perempuan dari kekerasan seksual.

“Kenapa kita nggak minta naik gaji juga, sih Ban?” tanya seorang kawannya yang lain. Banou menghembuskan asap rokoknya dengan berat. “Dunia lagi resesi, Cok! Kita mau nuntut juga harus realistis, gaji kita udah sesuai UMR, kok. Cuman jam kerjanya aja yang gak jelas, tuh! Makanya kita nuntut dikasih duit lembur!” Jelas Banou panjang lebar. Ia kemudian merasa lebih lega saat dilihatnya banyak kepala-kepala yang mulai mengangguk karena setuju dengan pendapatnya.

“Oke, gua liat lo pada udah capek, jadi rapat bisa selesai sekarang. Tapi udah pada setuju, kan? Ingat, besok kita mogok kerja, dan mulai long march dari pabrik sampe ke alun-alun, ngga boleh rusuh dan jarah-jarah. Ajak buruh lain yang lo kenal, yang belum ikut di sini.” Ujar Banou menutup rapat mereka.

Setelah kerumunan itu menggumamkan “ya” sebagai persetujuan, satu persatu buruh yang dikumpulkannya mulai membubarkan diri. Saat itu, seseorang yang sangat dikenalnya mendekatinya dengan wajah cemas. “Ban, gue denger lo mau ngomong sama media?” Tanya temannya itu khawatir.

Banou mengangguk pelan, “Ya, suara gue udah mulai didenger sama wartawan, kayaknya.” Sahut Banou acuh. Rekannya itu kemudian menahan lengan Banou dengan wajah khawatir, “Tapi, Ban, lo bilang ada yang ancam-ancam elu.” Bisiknya dengan suara lebih rendah.

Gadis itu mengamati Riwan, sahabat laki-lakinya itu dengan seksama. Riwan salah satu rekan kerja Banou di pabrik yang bisa dipercaya olehnya. Beberapa hari yang lalu memang ada beberapa orang yang “mengajaknya bicara” di tempat sepi. Banou tidak mengindahkan ancaman itu karena baginya kebebasan berpendapat adalah sesuatu yang harus dijunjung tinggi.

“Lo tenang aja, Wan, gue bisa jaga diri. Cuma preman-preman remeh yang datengin gue, gak akan surut langkah gue, Wan!” Balas Banou mantap. Riwan mengangguk resah mendengar ucapan Banou, “Inget, Ban, bos-bos kita itu gak suka kalo usaha mereka diganggu.” Ujar Riwan tampak sangat khawatir.

“Ya, tapi mereka juga harus belajar ngehargain orang-orang yang kerja sama mereka, Wan. Lagian, tuntutan kita gak ada yang aneh-aneh, kok.” Jawab Banou ringan seraya mulai melangkahkan kakinya.

Riwan memandangi punggung sahabatnya itu dengan gundah, pemberitaan demo buruh pada media tidak akan membuat pemilik pabrik itu senang.

*

Banou melangkah dengan gontai sembari menatap bulan bundar besar di atasnya. “Lo cantik banget malam ini.” Puji Banou pada bulan yang dilihatnya. Ia tak pernah percaya pada hal-hal di luar akal sehat atau semacamnya, namun melihat bulan begitu besar dan indah malam itu, mau tak mau rasa optimis mulai menjalari dirinya. Seolah-olah wajah bulan sedang tersenyum dan memberinya restu.

“Semoga besok berjalan sebagaimana harusnya, kasihan temen-temen gue diperlakukan semena-mena hanya karena buruh kecil.” Gumam Banou penuh harap. Ia kembali melangkah menyusuri malam yang sudah jatuh, dan melahirkan bayang-bayang.

Jalanan itu cukup sepi, namun Banou tak pernah risau, ia selalu melewati jalan itu tiap kali pulang bekerja. Sebenarnya, ia bisa naik mikrolet untuk sampai di rumahnya, namun Banou lebih memilih jalan kaki untuk menghemat pengeluarannya. Lagipula dengan berjalan kaki, Banou jadi bisa lebih banyak berpikir dan merenung sendirian.

Di tengah-tengah perjalanannya, ada empat sosok laki-laki yang menghadangnya. Banou teringat ucapan Riwan saat akan pulang tadi. “Centeng-centeng bos, nih.” Gumamnya mulai panik. Ia bisa saja berani dan percaya diri di siang hari saat banyak mata bisa melihatnya. Namun di tengah-tengah jalan sepi yang tidak ada manusia?

Banou mulai melihat ke sekeliling, namun tak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Rasa takut mulai menjalari tubuhnya, darahnya berdesir lebih cepat, dan degup jantungnya mulai bertalu-talu. Jalanan itu memang jalan alternatif yang sangat sepi dengan banyak aspal rusak, yang jarang sekali dilalui manusia.

Dengan memberanikan diri, Banou melangkah dengan hati-hati. Barangkali cuma orang nongkrong, batin Banou menenangkan diri. Harapan itu pupus, saat salah satu lelaki yang menghadangnya melemparkan seringai menyeramkan. Ia bisa saja berbalik, namun jarak mereka sudah terlalu dekat.

“Ini to, buruh sok tahu yang mau koar-koar di media?” Tanya salah satu laki-laki yang merintangi jalan yang akan dilalui Banou. Gadis itu kemudian bermaksud menuruti instingnya, ia langsung berbalik arah dan berniat melarikan diri. Namun, kawanan preman di hadapannya itu berjumlah empat orang, dan lebih gesit darinya. Belum sempat Banou melangkahkan kaki, mereka sudah berhasil menangkapnya. Ia menjerit saat diseret seperti boneka kain tak berdaya.

***

Riwan menemukan tubuh itu telanjang, koyak, dan babak belur dengan bulan bulat benar di atasnya. “Malam ini blood moon, Banou, sayang sekali.Gumam lelaki yang dekat dengan Banou itu miris. “Harusnya kamu tidak usah banyak tingkah, kamu bisa saja menghabiskan waktu bersamaku, alih-alih mengurusi serikat buruh yang tidak jelas juntrungannya itu.” Bisiknya sedih.

“Kamu juga sudah diperingatkan, tapi kamu sangat keras kepala.” Sambung Riwan lagi, sementara, dirasakannya ponsel di saku celananya bergetar. Perlahan lelaki itu membaca pesan yang masuk di ponselnya itu.

“Bagaimana?” Bacanya pada pesan yang diterimanya. “Beres.” Jawab Riwan pendek seraya mematikan ponsel. Ia yakin ayahnya bisa bernapas cukup lega sekarang, serikat buruh yang digadang oleh Banou membuatnya gelisah akhir-akhir ini, sampai-sampai Riwan harus menyusup di antara mereka demi menghentikan gerakan itu.

Riwan lantas menatap sedih pada gadis yang disukainya namun sangat keras kepala itu. ia termenung beberapa lama, kemudian melangkah gontai meninggalkan tubuh Banou dengan mata yang masih membelalak tanpa nyawa.

“Maaf, Banou, ayahku tidak mau kamu bicara dengan media.”

*

Surakarta, 05 Agustus 2020

twitter @adelliarosa

Suka Artikel Ini ?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

allediasora penulis yang tersesat di antara aksaranya sendiri

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!