[ Cerpen Romantis ] Vera dan Kesalahan

Cerpen Romantis – Vera dan Kesalahan

Cerpen Romantis – Sebuah kesalahan yang menimbulkan kehancuran bagi hidup Vera Anastasya. Ya, Vera Anastasya adalah salah satu siswi pendiam di salah satu madrasah terkenal di Yogyakarta. Dia juga dikenal dengan sebutan Vera si pendiam dikelasnya. Tapi, dia sebenarnya tak sepenuhnya pendiam. Hanya saja saat Vera merasa nyaman, ia akan cerewet dan tak bisa diam. Dan kini ia harus terjebak dalam sebuah persahabatan dengan lawan jenisnya yang merupakan persahabatan pertama bagi hidupnya selama ini. Ia merasa cukup senang dan bersemangat ketika sahabatnya itu selalu ada untuknya. Apalagi sahabatnya itu adalah cowok paling cool yang sangat digemari banyak wanita. Tak hanya itu, sahabatnya juga terkenal dengan sikap dinginnya kepada wanita. Dan, siapa sangka jika sikap dingin lelaki itu bisa takluk dengan seorang pendiam seperti Vera. Namun, kebahagiaan Vera harus hancur ketika kesalahpahaman muncul antara sahabat dan sang pujaan hati yang selama ini ia kejar.

Lalu bagaimana nasib Vera dan sang pujaan hatinya ?

Apakah perjuangannya dengan orang itu akan sia-sia ?

Dan bagaimana kelanjutan persahabatan mereka ?

Dan siapakah orang yang akan dipilih Vera untuk tetap dihidupnya ?

Baca Juga :

[ Cerpen Romantis ] Matahari Tertutup Awan

[ Cerpen Romantis ] Delusi Hati

[ Cerpen Romantis ] Takdir Cinta Raka dan Dania

Pagi yang cerah bagi Vera untuk berangkat ke sekolah. Kini, ia merasa sangat senang karena dua hal, yaitu sahabat barunya dan ia harus tetap mengejar sang pujaan hati. Namun, saat Vera beranjak memasuki ruang kelasnya… tiba-tiba saja ada sosok misterius yang menarik paksa ya untuk terus berjalan mengikuti tarikan itu.

“Plisss jangan ganggu gue hantu penunggu. Gue janji gak akan telat lagi…”

Vera mengucap panjang lebar dengan keadaan mata tertutup. Sebenarnya ia sudah berangkat awal agar tidak terlambat, namun ojek online yang membuatnya harus terlambat dengan ban yang bocor. Tapi, ketakutannya menghilang ketika ia mendengar suara cekikikan yang sangat ia kenali.

“Gue gak salah nih? Cewek pendiam bisa takut sama hantu penunggu sekolah ini?.”

“Dion!! Lo ngapain sih pake narik tangan gue segala.”

“Lo ikut gue sekarang!.”

“Nggak, gue gak mau.” Jawab Vera menepis tangan Dion.

“Lo harus ikut gue!.”

Ya, Dion adalah sahabat lelakinya yang baru saja bersahabat kemarin.  Dan kini ia menarik tangan Vera lebih kencang hingga membuat Vera hampir terjatuh. Vera sudah berusaha menolaknya, tapi Dion tak mudah begitu saja melepaskan tangannya. Baru jadi sahabat sehari aja udah kasar banget, gimana kalo jadi sahabat selamanya.

“Loh kok keluar sekolah? Kita udah telat. Kenapa malah kesini..”

“Diem aja lo!.”

“Gak. Gue mau sekolah, gue gak mau bolos.”

“Lo pilih gue apa sekolah? Gue tau, Lo milih sekolah karena lo suka sama Revan kan?.”

“Gak. Gue gak suka sama Revan.”

“Yaudah kalo gitu lo harus ikut sama gue.”

Akhirnya tiba disebuah tempat seperti restoran. Bahkan Dion juga memberikan jaket untuk Vera agar dipakai. Ya, itung-itung biar gak ketahuan kalau mereka bolos dari sekolah. Apalagi jarak restoran dengan sekolah sangat dekat.

“Buruan cerita apa? Keburu gue mau balik ke sekolah.”

“Iya sabar Vera. Lo pikir ngomong gak pake nafas apa!.”

Vera berdehem, kemudian ia menyeruput es teh didepannya. Hari ini bukan hari bahagia, tapi hari paling sial. Kenapa juga sih harus bertemu Dion dan harus bolos masuk kelas. Jadi gagal kan rencana buat deketin Revan lagi, padahal tinggal dikit kesampaian.

“Gue galau Ver. Gue diselingkuhi sama pacar gue…” Ucap Dion sedikit merengek.

“Syukurin!.”

“Kok disyukurin sih, harusnya kan lo nyemangatin gue.”

“Sukur, suruh siapa suka cuek dan dingin sama cewek. Paling-paling pacar lo itu gak betah sama Lo.”

“Emang lo bukan cewek? Kalo semisal semua cewek gak betah sama lo, kenapa lo betah sama gue?.”

“Gue cewek lah. Ya gue betah sama lo itu karena kasihan aja sama lo. Lagian lo duluan yang ngedeketin gue, bukan gue yang ngedeketin lo.”

Vera langsung beranjak keluar dari restoran. Ia langsung menuju ke sekolah kembali. Dion yang terduduk santai hanya bergumam ditempat.

“Tumben dia cerewet.”

“Ver! Tungguin gue..”

Mereka mengendap-endap menuju depan pintu kelas. Bahkan mereka mengintip sedikit di pintu kelas. Tiba-tiba saja, ada seseorang yang membuka pintunya dan membuat Dion refleks menggenggam tangan Vera.

“Astaghfirullah, gue kira guru. Eh ternyata elo Van!.”

Revan melirik ke arah tangan Dion dan Vera yang saling menggenggam. Untung saja Vera sadar kalau Revan melihat tangannya, jadi dia dengan cepat langsung melepaskan genggaman Dion. Setelah lepas genggamannya, Dion langsung begitu saja masuk kelas. Tapi, Vera tak bisa masuk begitu saja. Ia masih ingin memandangi betapa gantengnya Revan.

“Dari mana aja lo?.”

“Kenapa? Revan cemburu ya? Gue kasih saran nih ya, kalau lo suka sama gue buruan bilang dong. Jangan gantungan gue terus. Jemuran aja bisa kering digantung, apalagi perasaan gue.”

Tanpa dijawab, Revan langsung masuk begitu saja. Tingkah Revan membuat Vera tersenyum tipis. Vera merasa sangat senang, karena dengan begitu Revan sudah menunjukkan tanda-tanda jatuh cinta pada Vera.

“Revan, jawab dong pertanyaan gue!.”

“Jangan diem terus.”

“Emang lo mau kalo gue diambil orang?.”

Revan menutup telinganya, ia sudah bosan mendengar ocehan Vera. Kalau Revan tak menuruti, bisa-bisa dia makin gila dan membuat Revan ikut gila karena ocehannya.

“Iya gue cemburu!.”

“Gue suka sama Lo!.”

“Apa? Gue gak denger.”

“Gue suka sama lo, Vera Anastasya.”

Vera tersenyum riang dan menghela nafasnya. Akhirnya setelah lama ia mengejar, tak sia-sia. Akhirnya juga Revan mau mengungkapkan cintanya terlebih dahulu. Namun, penghalang datang lagi. Kini saat Vera baru membuka mulutnya, ia langsung ditarik oleh Dion untuk keluar dari kelas.

“Apaan sih Dion! Gue baru mau ngomong sama Revan, udah diganggu aja.”

“Gue suka sama lo, gue sadar gue suka sama Lo dan gue pengen lebih dari kata sahabat.”

“Ha?.”

“Lo halu? Kita sahabatan baru sehari, belum lama. Tiba-tiba bilang naksir aja.”

“Gue serius Ver.” Ucap Dion meraih tangan Vera.

Vera melihat Revan yang mengintip ditepi pintu. Tapi, entah mengapa Revan langsung pergi saat Vera melihatnya. Mau tak mau Vera harus langsung pergi menyusul Revan. Ia tak mau kehilangan kesempatan yang selama ini ia kejar.

“Maaf, gue gak bisa.”

“Lo itu sahabat gue, dan lo tetap akan jadi sahabat gue.”

Revan menyadari jika Vera mengejarnya. Tapi, Revan malah semakin cepat berjalan menjauh dari Vera. Vera sudah mengejar dengan dipenuhi pikiran negatif. Ia takut kehilangan Revan, ia takut jika Revan mendengar ucapan Dion.

“Revan!!!.”

“Jangan lari terus!!.”

“Vera capek.”

“To..tolong… tolongin Vera…”

Revan tak menghiraukan ucapan Vera yang terbantah-bantah. Bahkan Vera sudah mengeluarkan banyak keringat dingin. Vera sudah tidak tahan lagi untuk berlari, dadanya sesak. Ia susah sekali untuk bernafas.

Brakkk!!

“Vera!!.”

Dion berlari kearah Vera, sedangkan Revan yang mendengar suara langsung menengok kebelakang dan langsung berlari mendekat kearah Vera.

“Ini salah lo, kenapa sih Lo egois banget! Kenapa lo gak mau dengerin suara Vera!.” Ucap Dion sembari marah-marah dan mendorong Revan dengan jarinya.

“Udah. Mending sekarang Vera bawa ke UKS! Lo gak perlu nyalahin gue.”

Dion dengan segera menggendong Vera menuju UKS. Revan memukuli kepalanya sembari mengikuti langkah Dion dari belakang. Revan menyesal, seharusnya Revan mendengarkan ucapan Vera. Seharusnya dia tidak seperti anak kecil yang suka kabur-kaburan. Seharusnya semua masalah itu ia hadapi bersama. Kini Vera dibaringkan di ranjang UKS, tetapi Revan masih menyalahkan dirinya sendiri.

–  cerpen romantis – Okeylah.com

“Lo ngerasa bersalah tuh gak guna!.”

“Emang dengan sikap Lo yang begitu, Vera akan baik-baik aja?.” Sindir Dion.

Kini Vera sudah ditangani oleh kakak PMR dan sudah diberi minyak angin. Tapi, Vera belum juga sadar. Kata anak PMR, Vera ada masalah sama pernafasan sehingga dia harus dibawa ke rumah sakit. Revan semakin menyalahkan dirinya sendiri. Dengan segera Revan dan Dion langsung mengikuti Vera yang dibawa ke rumah sakit.

“Vera, maafin gue…gue nyesel Ver.” Gumam Revan yang menyetir mobil.

Tanpa disangka, Revan mengendarai mobilnya dengan ngawur dan hampir menabrak motor didepannya. Untung saja Dion dengan cepat langsung membanting setirnya . Tapi, justru mobil Revan malah menabrak sebuah pohon didepannya.

“Van, Lo mau kita mati?.”

“Lo kalo nyetir yang bener dong! Jangan kek gini.”

“Maaf, gue gak fokus.”

Dahi Revan mengeluarkan darah dan ia malah pingsan. Dion yang disebelahnya langsung khuwatir dan segera memesan tapi untuk membawa Revan ke rumah sakit.  Ya, terpaksa harus pake tadi soalnya mobilnya rusak dan gak mungkin dipake jalan lagi.

“Ya tuhan Van, Lo ngrepotin banget sih.”

“Masa Cuma ke bentur dikit, langsung pingsan gitu aja.”

“Lemah banget, gimana mau jadi pacarnya Vera kalo lemah.”

Dion terus menghujat Revan yang tak sadar. Mungkin, itu kesempatan Dion mengeluarkan unek-unek nya tanpa menyakiti hati Revan. Tapi, bener juga kata Dion, dia gak salah. Akhirnya sampai dirumah sakit, ia langsung membawa Revan ke IGD dan dengan begitu saja ia meninggalkan Revan. Dion tak peduli dengan Revan, yang ia pedulikan hanya Vera.

“Vera…”

“Ayo sadar Ver.”

“Gue gak mau kehilangan lo, gue gak masalah jadi sahabat lo selamanya asalkan lo bangun.”

Akhirnya Vera mengedipkan matanya. Vera menatap langit-langit dan bergantian menatap orang disebelahnya. Meskipun pandangannya kabur, ia bisa mengenali kalau itu Dion.

“Dion.”

“Iya kenapa Ver? Lo mau makan? Atau ada yang sakit?.” Jawab Dion dengan cepat.

“Revan mana? Gue pengen ngomong sama Revan.”

“Bentar lagi dia kesini, lo sabar aja.”

Vera melihat dahi Dion yang membiru. Ia memegang dahi Dion dan berhasil membuat jantung Dion deg-degan. Dion berusaha menahan nafasnya agar tidak terlihat saling didepan Vera.

“Kok dahi lo biru?.”

“Lo habis jatuh?.”

“Ver…”

“Sebenarnya tadi kita ada kecelakaan kecil. Dan sekarang Revan lagi ada di IGD.”

“Terus Revan gimana keadaannya?.”

Dion hanya terdiam saja, jujur Dion cemburu karena Vera mementingkan Revan ketimbang dia. Tapi, Dion juga tidak bisa egois begitu saja.

“Aku akan bahagia jika kamu bahagia, dan aku akan bersedih jika kamu bersedih.”

“Dion…”

“Maaf ya gue gak bisa nerima cinta lo.”

“Gue cuma pengen lo dapat yang lebih baik ketimbang gue…gue gak pantes buat lo.”

“Ver…”

“Eh maaf, gue ganggu ya…”

Revan ingin bergegas pergi menjauh. Ia tau jika Dion dan Vera pasti masih membicarakan tentang rasa nya tadi.

“Van, lo gak usah pergi.”

“Tapi…”

“Sini buruan, keburu gue berubah pikiran.”

Dion memegang tangan Vera. Revan melihatnya dan berusaha untuk tidak cemburu. Ini kesalahannya, dia terlalu lambat mengambil keputusan. Dia berusaha menarik bibirnya untuk tersenyum. Tapi, tiba-tiba saja, Dion juga memegang tangan Revan dan menyatukannya dengan tangan Vera.

“Gue pengen kalian bersatu.”

“Gue bahagia asalkan Vera bahagia. Tapi, lo harus janji kalau lo gak akan nyakitin Vera.

“Iya gue janji.” Jawab Revan.

“Dion, lo tetap mau kan jadi sahabat gue?.”

“Iya gue akan tetap jadi sahabat lo.”

Akhirnya Vera merasa bahagia. Dan akhirnya kehidupan Vera Anastasya kembali utuh. Ia mendapatkan sahabat terbaik dan ia mendapatkan pacar yang dia inginkan. Vera memeluk kedua orang itu, ia sekarang menjadi cewek paling beruntung di dunia ini karena mereka hadir.

“Mungkin menaruh harapan itu mudah, tapi mengejar dan menjaga itu susah. Jadi, jangan pernah kau sia-siakan orang yang mengejar dan bertahan denganmu, meskipun kau tak pernah mengharapkan nya dalam hidupmu.”

Cerpen Romantis karya Hera Zenia Widyawati

Recommended Product

Comments to: [ Cerpen Romantis ] Vera dan Kesalahan
    error: Content is protected !!