[ Cerpen Romantis ] Seperti Iya Dan Tidak

[ Cerpen Romantis ] Seperti Iya Dan Tidak

Cerpen Romantis – “Radip!”

Hampir setengah populasi di kantin spontan menoleh ke arah sumber suara. Melihat cewek dengan rambut panjang bergelombang menderap langkah pada meja sudut kantin, tempat seorang cowok tiba-tiba menjatuhkan kepala dan menutupnya dengan buku, bersikap mati.

“Lo budeg, ya?” kata cewek itu, menarik buku paket yang menutupi tersangka.

Tertangkap basah, Radip mengerang malas di mejanya, berusaha memperbaiki posisi duduk dan mendongak melihat ke arah cewek yang memanggilnya, tak berdosa.

“Eh? Siluman ular,” sapa cowok bermata minimalis itu, cengengesan.

Cewek yang disebut siluman itu bersidekap. Merasa bingung. “Siluman?” ulangnya sangsi, apa yang Radip maksud adalah siluman beneran?

Cowok itu menaik turunkan alisnya, nyengir. “Nagin,” ucapnya ramah.

“Nadin,” koreksi cewek itu buru-buru. “Pake D,” tambahnya.

Radip mengangguk mengerti, cowok itu berdiri dan  mengulurkan tangannya minta disalami. “Salam kenal,” katanya sopan.

Tidak berniat menjabat tangan itu, Nadin memutar kepalanya jengah, menarik kerah belakang baju Radip. Menyeret cowok itu untuk mengikutinya seperti Kurban yang akan dipotong, tanpa menyadari gelak tawa yang mengiringi keduanya. Merasa lucu dengan persahabatan semacam itu.

Radip bego, batin Arga—teman Radip yang sebenarnya tidak terlalu mau mengakui pertemanan mereka—menutup wajah dan mengendap malu keluar kantin.

Baca Juga Cerpen Romantis Lainnya :

[ Cerpen Romantis ] Vera dan Kesalahan

[ Cerpen Romantis ] Takdir Cinta Raka dan Dania

[ Cerpen Romantis ] Delusi Hati

[ Cerpen Romantis ] Matahari Tertutup Awan

*** Cerpen romantis – Okeylah.com

Radipa putra atau yang biasa dipanggil Radip adalah cowok yang memiliki 2 gaya bahasa. Pertama, diam. Kedua—kalau sedang baik—dia akan menjawab “Nggak, malas,” dengan ketentuan sangat jarang dan siap ditatap sinis.

Setidaknya itulah yang terjadi dua hari belakangan yang tidak begitu Nadin ketahui.

Nadin menunjuk papan mading bertuliskan nama Radip dengan gestur tidak suka. Cewek berambut bergelombang ini cukup sensitif dengan nilai, sejauh ini. Dan baginya, ini seperti kegagalan besar dalam hidupnya.

“Sumpah, leher gue sakit,” eluh Radip tidak nyambung, cowok itu memutar lehernya 360º beberapa kali. “Seharusnya jangan di leher, Din,” ajarnya sebel.

Nadin berdecih, tangannya kembali menunjuk papan mading “Remedial Kimia?” ucapnya tidak percaya. “Makanya kalo gue ajarin tuh fokus! Jangan main HP, mulu,”

“Main HP?” protes Radip. “Lo nggak ingat? Lo sita HP gue, trus layarnya sampai remuk karena keduduk? Gue nggak punya HP lagi, Babe,”

Menyebalkan.

Nadin menjewer telinga Radip, kesal. Membuat cowok itu mengaduh dan berujung pada permohonan ampun.

“Apa sih, Din?!” geram cowok itu setelah terlepas, mengusap telinganya yang sudah memerah. Menatap Nadin dengan pandangan terluka.

“Gue tuh sebal dengan lo, tahu nggak?” cewek itu kembali menunjuk mading. “Lo remedial semua pelajaran jurusan?” ulangnya dengan nada tidak percaya.

Radip mendengus. Cowok itu berjalan santai, meninggalkan Nadin yang mengoceh aneh, membuat cewek itu mengikutinya dari belakang dengan perasaan jengkel.

“Itu cuman remedial, Din. Lagian, gue bisa remedial kapan pun,” enteng Radip sambil memasang senyum ke arah adik kelas yang melihatnya, tebar pesona. “Yang penting, gue ganteng,” tambahnya mengedipkan mata ke gerombolan adik kelas dan membuat gerombolan itu salah tingkah.

Sungguh tidak ada otak.

Nadin menggebuk lengan cowok itu, jengkel. “Gila lo ya,” tunjuk cewek itu sebelum berlalu meninggalkan Radip yang sedang tepe-tepe dengan adik kelas.

“Gila dan ganteng, catat itu!” teriak Radip dengan senang hati.

Nadin menoleh kebelakang, melihat Radip yang melambaikan tangannya sambil unjuk gigi, cewek itu langsung menjulurkan lidahnya, bersikap tidak begitu setuju dengan pernyataan terakhir Radip.

***

Hampir seluruh penghuni 1001 tahu kalau Radip dan Nadin bersahabat dekat. Bahkan legendanya, mereka sudah dekat sejak bayi. Dan tentu itu salah. Sebenarnya, Radip dan Nadin pernah berada di SMP yang sama, bersama Arga juga, tapi tidak dekat. Hanya sebatas sama tahu.

Kedekatan mereka bermula karena saat itu mau mendaftar di SMA yang sama.

“Tapi, gue nggak pernah dianggap,” cetus Arga, mengusap dadanya sambil memaksa senyum. “Gue bersyukur untuk itu,” dia memicingkan mata menatap Nadin, tidak terlihat seperti yang dia katakan.

Bagi Arga, Nadin itu hampir bisa disamakan Setan kecil yang menukar posisinya dari teman—baik—Radip menjadi orang—yang—tidak—begitu—berguna. Padahal, Arga dulu cukup bertahan menghadapi Radip yang selalu membuat keki. Kenapa hal itu seolah tidak dihargai?

Sisi dan Amel—teman Nadin—mengangguk, menyimak. Kedua cewek ini cukup menaruh penasaran dari awal masuk sekolah. Walau sudah kelas 2, mereka masih belum percaya kalau Radip dan Nadin hanya sebatas teman.

Terlebih, Nadin sekarang sedang memasangi dasi Radip.

“Liat,” titah Radip, menunjuk ke arah Nadin. “Dibesarkan seperti anak sendiri,” pamernya.

Nadin menarik kuat dasi Radip hingga membuat cowok itu mengaduh sebelum benar-benar menyelesaikan urusannya.

“Lo itu gue besarin buat jadi pembantu,” ingat Nadin agar Radip tidak salah paham, sambil mendorong Radip menjauh karena dasinya sudah selesai.

Arga, Sisi dan Amel tertawa garing melihat itu.

“Gue yakin, mereka bakal pacaran,” bisik Amel, mengajak Sisi dan Arga taruhan. Keduanya mengangguk, merasa setuju.

Nadin meneguk es teh-nya dengan wajah curiga. “Kalian ngomong apa?” tanyanya, penasaran.

“Eh itu, katanya, sejauh-sejauhnya ikan berenang tetap tenggelam juga, bener ya?” Cetus Arga bego.

*** Cerpen romantis – okeylah.com

Dari kerumunan orang-orang yang berjalan menuju pagar sekolah, Radip menjadi begitu mencolok karena kembali menuju kelas. Hari ini dia tidak ada latihan basket, padahal. Cowok itu terlihat santai memutar kunci motor di tangannya dan bersiul.

“Hai, Bosku,” tegurnya bersandar pada kusen pintu 2 IPA 1. Tidak mendapat respon lebih dari Nadin, cowok itu masuk ke dalam kelas yang sudah sepi itu. “Masih banyak, nggak?” tanyanya, sudah duduk di atas meja dan bersandar ke dinding.

Nadin menggeleng.

Sejujurnya, Radip tidak terlalu suka dengan kebiasaan Nadin menyelesaikan PR yang baru di dapat di sekolah. Selain aneh, itu juga keluar dari sistem pendidikan. Tapi dia tidak akan protes.

Saat ini yang hanya dia bisa lakukan adalah memperhatikan cewek itu dan menunggu. Kepalanya bersandar di dinding kelas saat mengatakan, “Lo tahu nggak kalo mie goreng dalam bentuk cup nggak perlu digoreng?”

“Nggak,” kata Nadin, tanpa menoleh.

“Kalo sebenarnya nama panjang Didin nggak ada Didin-didinnya, lo tahu?”

“Nggak, Radip,”

“Lo tahu kalo gue barusan ketemu Dinosaurus?”

“Nggak,”

“Kalo gue suka dengan lo?” Nadin kali menoleh, menatap Radip dengan wajah malas.

“Nggak. Lucu.” Ucap cewek itu sambil mengemas barangnya. Lalu menghampiri Radip tergesa. “Ayo pulang,” sambungnya berusaha menarik cowok yang masih diam di atas meja. Radip menahan tangan Nadin hingga membuat cewek itu menatapnya, bingung.

“Kalo nggak lucu, berarti lo anggap serius?” tanya cowok itu spontan, matanya mencari-cari sesuatu di wajah Nadin. Menunggu. Seperti berharap sesuatu yang tidak tahu apa itu. Tapi membuat jantungnya berdebar.

Nadin menarik tangannya, menatap Radip mantap.

“Gue—“ ucapnya menggantung. Radip mengernyitkan keningnya saat Nadin bersidekap. Lalu kalimat berikutnya terdengar tanpa keraguan. “Nggak bakal pernah pacaran dengan sahabat gue sendiri,”

Sial.

Cerpen romantis karya Dayana Putri

 

Recommended Product

Comments to: [ Cerpen Romantis ] Seperti Iya Dan Tidak
    error: Content is protected !!