[ Cerpen Romantis Sedih ] Pesan Dari Langit Ketujuh

5 min read

cerpen romantis sedih pesan dari langit ketujuh
5
(1)

Malam ini Diana Fitria sedih sekali. Ia tertunduk sedih sambil menatap dalam –dalam wajah Ahmad Syarif,  suaminya yang sangat ia cintai, sehidup semati, dunia akhirat. Diana berdiri lemah di samping ranjang suaminya. Ia tak tahan menatap langsung wajah suami terkasihnya itu. Sedih dihatinya semakin teramat dalam saat menatap pipa selang panjang yang tertancam di hampir seluruh tubuh suaminya, Nafasnya tersengal di tenggorokan saat itu, matanya mulai basah, namun ia berusaha untuk tetap tenang dan menahan tangisnya.

Berlahan–lahan tatapan matanya tertuju pada alat bantu pernafasan dan tabung oksigen yang terletak tak jauh dari kepala suaminya. Sebuah layar monitor tampak tak jauh dari ranjang besi tempat Syarif tertidur. Tampak garis bergelombang dengan lambat bergerak di layar monitor yang menandakan gerak jantung dan nafas Syarif masih bisa berdenyut walau lambat.  

cerpen romantis sedih pesan dari langit ketujuh

Diana makin tertunduk sedih hingga tak terasa meneteslah bulir air mata yang sejak tadi ia tahan. Air mata itu membasahi pipi dan kain jilbab biru yang menutupi bagian samping pipinya yang tirus. Sungguh, Diana tak tahan melihat sekaligus menyaksikan pejuangan suaminya melewati masa kritisnya. Sambil menahan tangis dan sesak di dada, Diana berkata lirih di dalam hati, “Ya allah, masihkan ada harapan untuk kesembuhan suami hamba dan masih adakah harapan untukku bisa bersama lagi dengan suami tercintaku ini?” Tangis Diana meledak saat itu

Baca Juga : [ Cerpen Tragedi ] Di Kaki Bukit

Tubuh Diana terasa terguncang. Ia menumpahkan seluruh tangis yang ia pendam di dada. Irma Rusyida Elmagfiratunnida, yang biasa dipanggil Irma,  sejak pagi hari absen mengajar di SMK untuk menemani kakak sulungnya di rumah sakit. Ia pun tidak tahan menyaksikan luapan kesedihan kakak tercintanya itu.

Spontan Irma memeluk tubuh kakaknya itu sambil berkata, “Kakak Diana, harus ikhlas dan sabar menerima cobaan dan ujian dari Allah, doakan saja yang terbaik untuk Kak Syarif “. Mereka pun menangis bersamaan.     

Seorang perawat kemudian datang menguatkan hati Diana dan Irma. Perawat itu  berkata dengan lembut, “Sabar dan tawakal pada allah, ya bu, dan berdoalah pada allah untuk kesembuhan suami ibu agar dapat melalui masa ktitisnya,” kata perawat wanita itu. Dibantu Irma, perawat wanita itu kemudian memapah Diana menuju tempat duduk di kamar ruang tunggu pasien.

Diana kemudian duduk di atas kursi meubel rumah sakit. Kedua tangannya ia kepalkan di kedua sisi pegangan kursi dan ia sandarkan kepalanya di dinding tembok. Diana kemudian sedikit memejamkan matanya sambi mencoba menahan berjuta gejolak perasaan di dalam dada.

Diana menerawangkan pikirannya untuk mengingat berbagai memory indah bersama  Syarif saat mereka hidup bersama sebagai suami istri selama hampir dua puluh tahun lamanya.

Dua puluh dua tahun yang lalu, saat Syarif yang kala itu baru berusia dua puluh tujuh tahun memberanikan diri untuk meminang Diana yang kala itu berusia dua puluh satu tahun.

Mereka yang pada waktu sama sama bekerja sebagai guru di salah satu SMK di Jakarta, terlibat “cinta lokasi”. Diana dan Syarif yang tidak mau berpacaran lebih lama, akhirnya memutuskan untuk segera meresmikan hubungan cinta mereka melalui ikatan suci pernikahan.

Akhirnya tepat hari jum’at tanggal 15 Mei 1995, diadakanlah acara ijab kabul pernikhan suci bertempat di dalam ruang utama sebuah masjid tak jauh dari rumah Diana.  Di bawah suara gemericik hujan serta diringi oleh suara alunan sendu ayat-ayat suci alqur’an yang terdengar samar-samar dari sebuah pita kaset, Syarif yang kala itu mengenakan kemeja koko berwarna putih, jas hitam, topi hitam dan celana kain berwarna hitam mengucapkan ijab kabul pernikahan di depan bapak mertua dan petugas KUA setempat.

Diana yang saat itu berpakaian pengantin serba putih dan duduk diapit oleh kedua orang tuanya, tak hentinya meneteskan air mata haru dan bahagia saat Syarif mengucapkan ijab kabul pernikahan dan seluruh undangan yang hadir saat itu mengucapkan, “sah..!” . Mereka pun kemudian berdoa bersama untuk kebahagiaan pasangan Syarif dan Diana yang kala itu terlihat sangat bahagia. Senyum sumringah dan pancaran sinar bahagia dari keduanya terpancar dari kedua bibir dan sinar dari kedua bola mata mereka.    

Diana menghela pelan nafasnya. Ia merasakan Irma, sang adik tercinta menggeggam erat tangan kanannya. Nampaknya Irma berharap dapat memberikan kekuatan batin untuk kakak sulung tercintanya itu. Wajah Irma terlihat sedih saat itu namun Irma berusaha untuk kuat sambil menguatkan batin Diana agar tetap tabah menerima cobaan ini.

Diana berlahan menatap suaminya yang tertidur lelap. Tampak gelombang detak jantung suaminya bergerak berlahan di layar monitor.

Diana  kembali menyandarkan kepalanya di dinding dan memejamkan matanya. Ia kembali mengingat saat–saat indah saat mereka berbulan madu di pantai utara Kepulauan Seribu, Jakarta. Ia juga membayangkan sosok Syarif yang penuh pengertian, selalu mesra dan selalu penuh cinta pada Diana. Setiap hari Diana berboncengan motor dengan suami tercintanya.

Saat Diana berada diatas motor sambil memeluk erat pinggang suaminya yang tercinta, saat itulah hatinya begitu damai, memori indah ini mustahil bisa terlupakan Diana seumur hidupnya.

Selama dua puluh tahun lebih Diana berumah tangga dengan Syarif, tidak pernah sekalipun terjadi perselisihan atau pertengkaran diantara mereka. Sikap Syarif yang tenang, humoris, ramah dan menyejukkan, mampu menyeimbangi sikap Diana yang sejujurnya agak keras. Diana dan Syarif saling melengkapi dan mendukung dalam segala hal. Penghasilan Syarif yang pas-pasan sebagai guru SMK, mampu diimbangi Diana yang berprofesi tambahan sebagai pembuat kue dan aneka makanan lezat lainnya.

Kemampuan Diana yang setiap hari sangat mumpuni dalam memasak dan menyajikan makanan yang sangat lezat buat suaminya, mampu menghadirkan kebahagiaan didalam rumah tangga mereka walau hingga detik terakhir Syarif  dirawat dirumah sakit akibat penyakit komplikasi dan diabetes akut yang dideritanya, rumah tangga mereka belum dikaruniai anak seorangpun.

 “Irma…, aku sedih, ir, aku merasa belum menjadi istri yang baik bagi Syarif, suamiku, “kata Diana berlahan sambil menatap wajah Irma yang duduk berjongkok didepan wajahnya.

 “Aku sering juga meninggalkan suamiku sendiri di rumah, mungkin aku belum bisa menjadi istri yang terbaik buat beliau”.

Irma tersentak kaget mendengar perkataan Diana, kakak sulung tercintanya itu. Irma kembali menggengam erat tangan Diana dan mentap dalam-dalam wajah sendu kakak tercintanya itu.

 “Jangan berkata seperti itu kak, semua yang terjadi di dunia ini sudah menjadi suratan dan takdir dari Allah SWT, aku yakin, Allah pasti sayang pada Pak Syarif, suami kakak”. kata Irma sambil memeluk dan menepuk berlahan punggung kakak tercintanya itu.

”Ia, Irma…, aku yakin, Allah pasti lebih sayang dan cinta dengan Syarif,” kata Diana berlahan sambil meneteskan butir air mata. Diana saat itu berusaha setegar mungkin walau hatinya begitu hancur luluh berbalut kesedihan yang begitu mendalam.

“Irma…, aku harus rela dan ikhlas melepas Syarif pergi meninggalkan aku, karena aku yakin, Allah pasti lebih sayang dan cinta pada beliau, “kata Diana sambil menangis dan memeluk Irma , adiknya yang sangat dicintainya itu.

Tak terasa, jam di kamar tempat Syarif di rawat menunjukkan pukul dua dini hari. Irma tampak sangat lelah dan tertidur pulas di kursi di dalam ruang tunggu kamar rawat inap, sementara Diana sedang tenggelam dalam kekhusuan shalat tahajud dan doa-doa panjang yang ia lantunkan pada Allah SWT di dalam hatinya.

Seorang perawat dengan berjalan berlahan mendekati Diana dan menunggu di belakang tempat Diana sedang shalat tahajud. Nampaknya ia memilih menunggu dan tidak ingin mengganggu kekhusuan shalat Diana.

Diana akhirnya menyadari ada seorang perawat menunggunya di belakang. Seketika itu , ia menghentikan shalat tahajudnya dan menghampiri perawat itu.

“Bu, ibu di tunggu bapak sekarang ruangan bapak sekarang juga,” kata seorang perawat sambil menghampiri Diana yang masih mengenakan mukenah putih itu.

Diana segera membangunkan Irma. Mereka kemudian berbegas meninggalkan ruang tunggu pasien dan bergegas menuju ruang perawatan suaminya. Diana saat itu melihat denyut jantung suaminya yang semakin melemah. Ia kemudian mendekati Syarif, suami tercintanya itu yang sedang menghadapi sakaratul maut. Diana kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Syarif.

Baca Juga : [ Cerpen Tragedi ] Bulan Darah

“Abi…, aku ikhlas jika abi ingin pergi, aku mohon maaf kalau selama aku menjadi istri abi, aku sebagai istri belum dapat menjadi istri yang baik dan belum dapat memberikan yang terbaik buat abi, sekali lagi aku ikhlas jika abi hendak pergi, allah pasti lebih sayang abi dari siapapun di dunia ini, “ kata  Diana tegar sambil tersenyum. Ia kala itu berusaha seikhlas mungkin mengiringi kepergian Syarif, suami tercintannya.

Tepat menjelang Azan shalat subuh berkumandang, nafas Syarif semakin lemah. Diana kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga suamnya sambil membisikkan dua kalimat syahadat.

Sedetik kemudian, Syarif sang suami tercinta berpulang ke hadirat Allah untuk selamanya. Irma kemudian memeluk tubuh kakak tercintanya itu sambil berlinang air mata. Keesokan paginya, jenazah Syarif dikebumikan di areal masjid pesantren tak jauh dari tempat tinggal Diana.

Malam ini tak terasa empat puluh hari sudah Syarif meninggalkan Diana. Saat kira-kira jam dua dini hari, Diana bermimpi ditemui almarhum suaminya yang sangat ia cintai dan berlahan berkata kepadanya

“Duhai Dianaku, jangan kau lewatkan purnama malam ini, karena tuhan memberiku janji. Diana, istri tercintaku, bahwasanya bayang ragaku, suaraku dan secercah kasihku akan terus terbawa diantara redup cahaya purnama malam ini. Wahai Diana, istri tercintaku, usaikan tangismu, sedihmu dan ratapmu. Kembalilah tangguh seperti alasanku dulu memilihmu menjadi istriku. Kuatkan dirimu, ganjal peranku untuk para mujahid di pesanten kita.

Diana kekasihku, bersabarlah, aku tak pernah pergi dari sisimu, aku selalu ada di dekatmu, lebih dekat dari denyut nadimu. Pesanku dari langit ke tujuh ini akan terus selamanya menemanimu. Dianaku yang tercinta, tetaplah tangguh dan istiqomah di jalan Allah untuk menjadi bidadariku yang abadi di surga nanti”.

Diana kemudian terbangun dari tidur. Ia kemudian melangkah menuju kamar mandi. Ia kemudian mengambil air wudhu dan segera bergegas melaksanakan shalat tahajud di tengah pancaran cahaya sinar bulan purnama yang menerangi  malam itu.

 “Ya, Allah, ampunilah dosa Pak Syarif, suami tercintaku, lapangkan dan terangi kuburnya, berikanlah beliau tempat yang layak dan terbaik di sisimu. Ya, Allah kuatkan hati hamba agar aku dapat menjalankan amanah atau pesan dari suamiku itu dari langit ketujuh ini  dan mampu menjadi bidadari yang abadi bagi suamiku di surga nanti. Ya, Allah. kabulkanlah doa hambamu,” kata Diana dalam doa khusuknya yang lirih sambil mengusap bulir air mata yang terus bercucuran dari kedua kelopak matanya

. (Depok, 13 Juni 2020)

Suka Artikel Ini ?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

error: Content is protected !!