[ Cerpen Romantis ] Purnama Di Balik Bukit

7 min read

cerpen romantis purnama di balik bukit
4.9
(11)

Kembali kesini, desa kecil di punggung bukit. Tempat yang sudah lama ingin kupijak lagi, menikmati panorama alam yang membentang panjang, hembusan angin yang mengguyur seluruh tubuh dan hawa bersih segar menyusup paru.

Baca juga : [ Cerpen Romantis Sedih ] Pesan Dari Langit Ketujuh

Padamu,  ingin berbagi cerita bahagiaku hari ini.

Masa telah lama berputar, tak ayal lagi semua berubah dan jauh dari suasana yang ku bayangkan. Walau sungai kecil itu tetap saja meliuk indah di bawah jembatan yang merupakan pintu gerbang masuk desa, persawahan yang menghijau, sapaan ramah ikhlas penduduknya, dan tentu saja batu raksasa biru gelap itu yang masih saja berdiri kokoh dan serasa masih saja remeh menatapku.

Hawa perubahan sudah terasa saat melintasi jembatan di atas sungai kecil itu. Tak lagi jembatan gantung dengan alas papan lapuk dan rapuh di sana sini. Jembatan yang selalu berayun jika dilintasi pejalan kaki maupun kendaraan roda dua yang tentu saja selalu membuat gamang. Lantainya yang lapuk dan bolong itu pernah nyaris membuat kita celaka, kini sudah terbangun kokoh permanen sehingga kendaraan roda empatpun bisa melintas secara leluasa.

cerpen romantis purnama di balik bukit

Lebih jauh kukayuh sepeda sport ku memasuki desa, mengikuti rombongan yang sudah melaju lebih dulu. Aroma perubahan makin kentara, desa yang dulu berkelililing sunyi hingga sipongang penghuni hutanpun jelas terdengar, bahkan bunyi ketukan petani memanen enau dan pukulan baji1) di dangau pengolah gambir dari jauhpun sayup-sayup bersahutan bisa kita nikmati. Kini riuh dengan geliat berbagai hasil bumi, berpacu dengan desa-desa tetangganya yang sudah lama maju dalam segala kegiatan ekonomi.

Pagi-pagi begini kami tak hanya berpapasan dengan petani yang pergi ke sawah sambil menggiring sapi menuju padang rumput penggembalaan, atau petani pengolah gula merah yang baru pulang sambil menyandang girik2) tempat panen niranya semalam, tapi juga dengan orang-orang yang sengaja berkeliling untuk bermain memacu adrenalin. Seperti halnya sekelompok pesepeda gunung yang aku ikuti, anak-anak muda yang menikmati lari lintas alam, orang-orang pergi menyandang peralatan memancing menuju embung indah di tepi bukit, atau komunitas trabas bersepeda motor trail, hingga   sekelompok atlet paralayang yang penuh semangat. Hal yang tak pernah terkirakan dulunya…., 25 tahun berlalu.

Jalan tanah liat terjal dan penuh batu itu, kini dibentangi hotmik mulus menggoda. Hingga jarak tempuh menuju pusat desa yang tak sampai 10 km, kini bisa dicapai dalam beberapa menit saja. Dulu…, ya dulu hanya bisa ditempuh berjalan kaki. Kalaupun dengan kendaraan roda dua, pengendara lebih sering mendorong akibat jalan licin hingga menghabiskan waktu satu atau dua jam… atau bisa berjam-jam bila kondisi jalan berlumpur yang makin parah sehabis hujan.

Pemandangan miris yang selalu membuat hati trenyuh itu nyaris tak kan mungkin terlihat lagi. Pemandangan dimana kita sering berpapasan dengan murid SMP yang pulang sekolah berjalan kaki dari desa di bawah sana, tempat terdekat mereka menuntut ilmu. Mereka berkelompok beberapa orang, memilih berteduh di bawah pohon di tepi jalan penuh debu. Kau terlihat menatap sekilas kaki-kaki kecil kumuh tanpa sepatu. Mereka sebagian lebih suka menjinjing sepatu lusuhnya mungkin karena tak nyaman lagi dipakai setelah lama dan jauh berjalan, atau mungkin saja untuk berhemat agar sepatunya tetap awet untuk dibawa ke sekolah setiap waktu. Lama kau menatap mereka….

“Setiap hari mereka seperti ini…” gumam mu

“Ya…., mungkin bisa mencapai 30 km atau bisa lebih” sahutku kecil. Terbayang lokasi sekolah mereka yang jauh dan parahnya kondisi jalan yang harus mereka tempuh saban hari.

Baca Juga : [ Cerpen Romantis ] Seperti Iya Dan Tidak

“Sepertinya mereka tetap enjoy dan bahagia” lanjut mu melihat wajah-wajah penuh semangat mereka

“Ini ujian bagi mereka, yang bertahan tentu mendapatkan jalan mudah ke depannya” sahutku melanjutkan perjalanan setelah sedikit menyapa mereka.

Dan Vie…., tetap saja ada yang hilang. Gubuk usang petani itu sudah tak ada lagi, begitupun padang rumput di lereng bukit yang terbentang di kedua sisi jalan itu. Ingatkah kau tatkala kita terperangkap di sini..?

Saat itu tak terasa hari sudah terlalu sore dan mulai gelap saat kita memutuskan kembali naik ke desa, setelah seharian melakukan survey ke beberapa desa tetangga dan pasar terdekat sambil menunggu hujan reda.

“Sebaiknya kalian lewat jalur selatan…, jalur ini biasanya parah setelah hujan…!” ucap seorang bapak yang baru pulang dari sawah. Dan ini merupakan orang ke tiga yang memberikan saran senada. Aku menatapmu ragu minta persetujuan.

“Terlalu jauh untuk memutar lagi ke jalur selatan” bisikmu kecil tapi dapat meyakinkanku untuk tetap menempuh jalur ini.

Walau memiliki jarak yang lebih dekat, namun jalur utara ini memang jarang dipilih penduduk desa saat setelah hujan. Karena selain kondisi kecuraman jalan yang cukup parah, jalannya merupakan jalan tanah yang belum tersentuh pemadatan, lagi pula tak ada lagi rumah penduduk hingga sampai ke pusat desa.

Beberapa kali roda motor bututku terbenam di jalan berlumpur tebal hingga harus kita dorong bersama. Benar saja, sehabis hujan tanah liatnya semakin menebal membuat kaki payah melangkah dan kendaraan sulit bergerak. Namun perlahan kita tetap beranjak masuk dan menjauh dari batas desa.

Hari sudah beranjak magrib dan tak ada lagi kita papasi penduduk desa yang pulang dari ladang. Suara binatang hutan makin lama makin jelas terdengar dan awan merah yang tadinya menerangi bumi kian lama kian meredup lalu menghilang. Hanya cahaya lampu motorku yang menerangi jalan tanah terjal dan berlumpur itu.

Entah sudah berapa kali kita naik motor dan harus turun lagi akibat roda kendaraan yang terbenam di lumpur jalan. Dorong lagi… setelah sampai di jalan padat, motornya dinaiki lagi, begitu seterusnya hingga kita sampai di atas tanjakan paling tinggi.

Tempat ini sering dipilih sebagai tempat beristirahat bagi pejalan kaki yang menuju desa, mungkin karena merasa sudah melewati separuh jalan, atau mungkin karena baru saja selesai menaiki tanjakan yang paling tinggi dan panjang, atau juga karena di kedua sisi jalannya terdapat lereng landai yang ditumbuhi rerumputan yang cukup luas sehingga terasa lapang dan nyaman untuk beristirahat sejenak sebelum menempuh tanjakan terakhir menuju pusat desa.

“Kita istirahat dulu…..” ucapku tak bisa lagi menahan letih dengan nafas yang tersengal.

Kau mengikuti dalam diam, aroma khas tanah tersiram hujan masih menyengat hidung. Tempat ini sebenarnya sudah beberapa kali kita lalui di siang hari, dimana jalan datarnya lebih panjang karena berada di atas salah satu gundukan bukit. Dikiri kanan merupakan lereng menuju lembah yang merupakan savana luas hingga mata leluasa memandang panorama dan desa-desa lain di bawahnya.

Aku selonjorkan kaki dan berbaring sedikit mengambil jarak dari tempat mu duduk. Terasa nyaman sekali berbaring sejenak diatas rerumputan lereng bukit itu…… kupejamkan mata mencoba memulihkan tenaga.

Namun mendadak jalan dan sekitar kita menjadi terang……, aku terkejut, tercengang…. hingga ternganga berdecak kagum. Bola besar merah jingga baru saja menyembul dari balik batu raksasa itu, purnama penuh itu seakan telah memergoki kita, terasa sangat dekat seakan mudah di raih.

Rasa penatpun serta merta hilang menyaksikannya panorama dari atas bukit di malam hari di bawah terang sinar purnama penuh. Eksotis dan menakjubkan.

Benar saja, tak seorangpun melintas di jalur ini saat setelah hujan dan apalagi malam. Lama kita terdiam, menerawang dan hanyut dengan fikiran masing-masing. Sempat juga terlintas di fikiranku, apa yang dibicarakan orang saat kami nanti sampai di pemukiman malam-malam begini, dan mencoba-coba menerka apa yang engkau fikirkan. Takut ? malu? Atau mungkin saja menyesal mengikuti program di desa ini?, menjadi volunteer3) dalam program pengentasan desa tertinggal. Aku enggan mencari jawabannya.

“Kita lanjut…?!” ucapku memecah kesunyian

“Sebentar lagi…., masih letih,”

“dan …… purnama di balik bukit itu sangat bagus” sambung mu kemudian

“Apanya….?”

“Bulan besar, bulat dan bersinar terang itu” jawabmu

“Sama seperti matamu…., bulat besar dan bercahaya” kata-kata itu begitu saja keluar dari mulutku.

“Memangnya kenapa….?, jelek..?’

“Tidak, aku sangat menyukainya, berbinar penuh semangat” suaraku terasa sedikit menghilang. Dan kamu hanya diam seperti tak mendengar.

Telah hampir dua bulan kita tinggal bersama kelompok lain di desa ini, rasa suka akan karakter dan kesederhanaanmu makin terasa. Perjuangan kita dari pagi hingga malam ini membuat rasa itu makin sulit untuk dibendung. Hanya rasa takut terhadap responmu yang masih saja menahanku, rasa takut yang makin memudar.

Aku tak juga mendengar suara mu, kucoba sedikit memiringkan tubuh hingga bisa melihatmu. Astaga…., ternyata kita amatlah dekat.

“Nafasmu masih sesak?” ucapmu masih tetap menatap langit

Aku tak menjawab, hanya menarik nafas agak panjang dan mencoba lebih tenang. Kembali menelentang lurus menatap langit terang.

“Kamu punya pacar…? tanyaku ragu

“Tidak….., belum pernah” jawabmu setelah lama terdiam

“Kenapa….? Bukankah banyak yang sangat mengagumi mu?”

“Itu saja tidak cukup.., sebaliknya kan harus saling menyukai, saling mengagumi. Lagi pula punya pacar bukan sebuah keharusan” jelasmu pragmatis

“Aku adalah salah satunya…” gumamku lambat tapi yakin jelas kau dengar.

Kau memiringkan tubuh, menatapku demikian dekat hingga bisa kurasakan hangatnya tiap hembusan nafasmu. Mata bulat besar itu seakan mau melumatku. Aku membuang pandangan.

Senyap, yang terdengar hanya bunyi gesekan pohon bambu tertiup angin.

“Hanya itu…?” akhirnya kau memecah kesunyian sambil kembali tetap menatap awan, seakan bicara pada purnama yang kini mendekati langit di atas kepala kita

“Jauh lebih dari itu, ku ingin jadi pasangan mu” suaraku jelas saja terdengar getir dan mendadak mukaku terasa pias dan panas.

Kau tersenyum dan sekilas ada rona merah di wajahmu, kembali kita meluruskan tubuh menatap lurus ke atas, ke langit dengan bulan purnama penuh yang kini menjauh dari balik bukit, mendekati langit di kepala kita. Kepala dengan hati yang baru ditumbuhi rasa dan asa. Rasa bahagia mengisi setiap pori di hatiku, kuyakin begitupun dengan mu….

Sekonyong terasa tetesan air hinggap diwajahku…. Satu … dua….

“Hujan….” teriakmu tertahan

“Kita tak mungkin naik lagi…, ke pusat desa” sergah ku panik dan segera berdiri

Searah kita melangkah cepat menuju gubuk usang di kiri sisi jalan. Gubuk itu memiliki lantai yang masih cukup kuat dan bersih pertanda masih sering digunakan petani beristirahat dan berteduh pulang dari ladang.

Namun ternyata hanya memiliki tiga dinding yang utuh, satunya kearah jalan dan masing-masing satu lagi di kiri dan kanan jalan. Sedangkan dinding di sisi lain yang mengarah ke lembah, kosong melompong bak jendela besar menganga. Yang tertinggal hanya serpihan kayu bekas dinding yang lapuk jatuh ditiup angin.

Kita bersandar di satu dinding memunggungi jalan, dan menghadap ke sisi jendela besar menganga sehingga mata leluasa memandangi lembah dan kerlap kerlip lampu di desa lain di bawah sana. Hujan makin deras, sepertinya mustahil melanjutkan perjalanan, disinilah kita terperangkap dan sepakat menunggu subuh.

“Kau menyesal Vie…?” Tanya ku memecah kedinginan

“Tentang apa…?”

“Bepergian denganku seharian dan memilih jalan ini sehingga kita terperangkap disini?’

Kau hanya diam…, rasa bersalah menggelayutiku

“Tidak…., aku bahkan menikmatinya. Jarang-jarang ada pengalaman horor dan menantang seperti ini” jawabanmu membuat ku sedikit lebih tenang.

Lama kita terdiam…, menatap kerlap kerlip lampu di bawah sana. Purnama sudah lama beranjak dari balik bukit itu.

“Al……”

“hmm,……”

“Kenapa menyukai ku…?”

Aku diam, memikirkan jawabannya. Namun semakin kupikirkan, terasa kian buntu

“tak bisa kujelaskan…., rasanya…!” jawabanku gagap dan sepertinya tak memuaskan hingga kau tetap menungguku untuk lagi berucap sambil menatapku.

“Aku mengagumimu begitu saja……, dan aku merasa cocok dengan karaktermu.”

Memang dalam hati aku menilaimu sebagai perempuan yang tidak manja walau dibesarkan di tengah keluarga yang berkecukupan.

“hmmmm…., ? “

“Bagiku masa depan seperti perjalanan yang baru saja kita lalui…., tidak akan mulus bahkan mungkin terjal dan mendaki.”

“Tapi kau bisa menaklukannya kan…?” ucapmu tersenyum, sembari sejenak menggenggam lenganku. Sejenak, tapi hangatnya tak pernah sirna.

“Bukan hanya aku…., tapi kita …!, Inshaa Allah akan kita taklukan” jawabku

Kehangatan terasa dapat melawan angin gunung yang selalu saja meniup kencang, dari lembah membelai gubuk berjendela besar. Kelelahan mulai terasa, begitupun rasa kantuk. Aku berusaha tak banyak bergerak ketika kurasa kepalamu jatuh ke bahuku, takut pulasmu terganggu. Kunikmati dengkur halusmu hingga subuh menjelang.

***

Vie…., masih mau kah kau mendengar ceritaku?. Tidak untuk mengingat pedihnya perpisahan, tapi mengenang rasa bahagia yang pernah ada.  

Walau di usia yang tidak muda lagi, menuju pusat desa di pagi cerah ini dengan bersepeda jauh terbilang lebih mudah.

“Hoiiii…. Kau kah ini Al….???” seorang wanita paruh baya menyapa dan mendekati ku. Diiringi beberapa wanita lain yang samar-samar mulai ku ingat lagi. “tak ada yang berubah dari mu… sudah sekian lama” yang lain menimpali.

“Ah…. Aku pikir uni-uni4) lupa dengan ku…” begitulah, dalam hitungan detik kami begitu akrab. Pertanyaan bertubi-tubi kadang tak silih berganti.

Dan baru ku sadari…, kelompokku sudah dari tadi menunggu. Aku harus pamit….

“Devie…. dimana…?” huff….. pertanyaan yang selalu tidak kutunggu-tunggu.

Bagaimana aku harus menjawab mereka, mereka yang dulunya saban hari menyaksikan kita merenda cita dan merajut rasa. Haruskah ku akui bahwa aku gagal menahanmu, menahan dari penantian tak berujung, sementara waktu terus berjalan dan menghantui setiap kodrat perempuan?

Akhirnya aku hanya tersenyum dan bilang bahwa kau dan keluargamu baik-baik saja. Amiin…

Vie….. sebelum melanjutkan perjalanan ini, kuedarkan lagi pandangan ke sekeliling desa di punggung bukit ini. Desa yang pernah memberikan tempat pada kita. Tetap saja ada yang tersisa, tempat dimana asa mulai disemai, tempat dimana cita mulai berharap, dan tempat dimana rasa mulai tumbuh dan berkembang walau lenyap digerus waktu.

Vie….., Tentu tetap saja ada yang salah.

Harusnya aku disini berbahagia bersama mereka, mengayuh dan memanen peluh, bukan untuk berkeluh dan berziarah ke makam kenangan.

Bukik Bonsu, 2 Agt 20

1. Baji : alat tradisional pengolah gambir

2. Giriak : tabung potongan bambu tempat menyimpan nira hasil panen enau

3. Volunteer : pekerja lepas yang direkrut untuk program tertentu.

4. Uni : kakak (minang)

Suka Artikel Ini ?

Click on a star to rate it!

Average rating 4.9 / 5. Vote count: 11

No votes so far! Be the first to rate this post.

error: Content is protected !!