[ Cerpen Romantis ] Matahari Tertutup Awan

5 min read

cerpen romantis - woman moto bike
5
(1)

[ Cerpen Romantis ] Matahari Tertutup Awan

Cerpen Romantis – Deretan barang berlabelkan harga di puluhan rak ini sudah menjadi pemandangan sehari-hari bagi Rara. Terlebih lagi selepas Bunda Reta melahirkan adik bungsunya — Faza Rajathala.

Sekadar informasi saja, semenjak lima hari yang lalu, seorang Dezira Ratuathala sudah resmi dilantik menjadi Kakak Rumah Tangga Keluarga Athala, untuk ketiga kalinya. Sebab, sebelum ini dia sudah memiliki dua orang adik yang segender dengannya.

Rara membenarkan letak kacamatanya yang menurun. Kerutan pada kening tak terelakkan ketika dia membaca list belanjaan hasil coretan tangan Bunda Reta yang sudah seperti resep dokter profesional.

Sambil mendorong troli, Rara menghampiri satu per satu rak dan mengambil barang yang tertera sesuai aksara di lembaran. Tak lupa, gadis itu memberi centang di ujung baris menggunakan pena karakter Batman kesayangannya; sebagai pertanda dia telah memasukkan barang pesanan bunda ke troli.

Baca Juga :

Cerpen Romantis – Delusi Hati

“Susu ibu menyusui, udah. Selanjutnya, popok new born … di mana, ya?” Rara mengedarkan pandangan singkat. “Oh, di sana.” Kakinya kembali melangkah sembari membawa troli menuju tempatnya melihat produk berbahan utama kapas itu berjejer.

“Oke, terakhir, Bear Brand punya Raraaa,” serunya ceria seraya memborong empat kaleng ramping sekaligus dari display cooler.

Percaya atau tidak, produk susu berlogo beruang itu tidak ada di dalam list belanjaan Bunda Reta. Ya, namanya juga ‘Rara’, tiada hari tanpa Bear Brand jika telah menginjakkan kaki ke swalayan, katanya.

Entah mengapa, Rara merasa swalayan tampak ramai malam ini. Terbukti sekarang dia mengantre cukup panjang. Matanya melirik ke pintu keluar-masuk yang tembus pandang; jalanan juga begitu. Kebanyakan yang memenuhinya adalah sepasang muda-mudi seusia Rara. Apa malam ini ada acara atau festival yang berarti?

Lantas dengan sigap, gadis berjilbab dusty pink itu merogoh saku piyama floralnya dan menekan tombol on pada ponsel.

Saturday, 29 September 2018

08:39 PM

Ck, pantesan,” decaknya tak acuh sambil mematikan layar ponselnya dan menyimpan kembali ke tempat semula.

Kini giliran Rara untuk melakukan transaksi pembayaran. Sebagai pembeli berbudi pekerti nan luhur, Rara memindahkan borongannya dari troli ke meja kasir sendirian. Dengan cekatan, penjaga kasir mengarahkan belanjaan Rara ke barcode scanner sekaligus membungkus makanan instan dan produk rumah tangga dalam kantong berbeda.

“Total semuanya, dua ratus satu ribu, Ra,” ujar penjaga kasir—yang biasa Rara panggil dengan sapaan, Eonni Gisel—sambil menyodorkan slip pembayaran. Baik Rara maupun Gisel memiliki hobi yang sama yaitu, menonton drama Korea—fakta ini didapat saat mereka berbincang ringan di luar jam kerja Gisel tempo bulan lalu. Dari sanalah panggilan itu mulai melekat dan terjalin hubungan akrab antar keduanya.

Rara mengangguk santun sekalian menyeluk kocek piyama. Lalu menyerahkan dua lembar uang bergambarkan Presiden dan Wakil Presiden pertama Republik Indonesia. “Yah, nggak ada uang seribu. Kalau Rara kasih permen bisa nggak, Eonni?” selorohnya.

Gisel tertawa kecil. “Nggak bisa dong, Ra.”

“Ya udah deh, Eonni, kalau nggak bisa,” kekehnya di akhir. Giliran uang berwarna abu-abu yang gadis itu berikan.

Gisel tampak mengobrak-abrik laci kasir dan sekitarnya. “Hmm … nggak ada kembaliannya, Ra. Kamu mau permen? Atau mungkin … jajanan lain?” tanyanya wirang.

“Curang,” tutur Rara kesal tapi sarat akan gurauan.

Gadis berdarah Tionghoa itu mengusap tengkuknya yang ditutupi rambut pirang sebahu berbarengan dengan lontaran tawa lega. Tanpa menunggu persetujuan Rara, dia menaruh beberapa biji permen ke kantong produk makanan instan dan menempelkan kedua telapak tangannya di depan dada. “Senang melayanimu, KRT. Terima kasih telah berkunjung,” tutupnya ramah.

“Sama-sama, Eonni. Rara pulang dulu, ya,” pamitnya sembari melambai sebelum mengambil alih tentengan ke kedua tangan.

Sesampainya di parkiran, Rara menyangkutkan kantong belanjaan pada ganco, memakai helm bogonya, menyisipkan kunci ke kontak Vespa; dalam satu waktu mengklik posisi on, dan tangan kirinya menekan rem bersamaan dengan ibu jari tangan kanan yang memulai starter.

Satu sekon ….

Dua sekon ….

Tiga sekon ….

Motornya tidak menunjukkan reaksi.

Menyadari ada yang ganjil, Rara melihat ke sisi bahwa Vespa; dekat kaki kirinya. Ternyata, dia lupa menaikkan side stand motor otomatisnya.

Hadeuh, dasar Rara, sebalnya.

Setelah menduga semuanya beres—dengan cara yang sama—Rara kembali menstarter. Namun, galatnya kali ini pun kendaraan beroda dua miliknya tidak mau hidup. Ada apa ini? Apalagi yang dia lupakan?

Rara yang mulai gelisah mencoba menekan tombol starternya berkali-kali. Akan tetapi, meskipun jempolnya sudah terlihat memerah Vespanya tetap dalam keadaan awal. Diam seribu bahasa.

“Ya ampun, motorku kenapa sih?” tanyanya palak.

Keringat mulai bercucuran di kening Rara. Kepalanya menoleh ke seluruh penjuru. Jika dia meminta bantuan, itu menyusahkan orang tidak, ya? Soalnya, setiap insan juga kelihatan sibuk dengan urusan mereka pribadi. Rara tidak ingin mengganggu, tapi di sisi lain dia memang butuh bantuan saat ini.

Lewat mata empatnya, Rara menangkap sesosok manusia betengger manis di bangku teras swalayan yang fokus memainkan ponsel dengan posisi landscape. Dibandingkan orang lain di sekitarnya, dia hanya mengenal cowok itu. Haruskah Rara meminta tolong kepadanya?

Rara berpikir sejenak.

Baiklah, dia tidak memiliki opsi lain. Daripada terlantar di jalanan, lebih baik dia membuang gengsinya jauh-jauh. Ini juga demi keamanan jiwa dan raganya. Walau ragu, Rara tetap mengambil langkah maju. Di saat jaraknya dengan cowok bermata sipit itu cuma tinggal dua meter, geraknya seketika terhenti.

Astagfirullah, namanya siapa, ya? Bio? Geo? Rara lupa! Sadarnya.

Rara ingat, cowok itu memanglah teman sekelasnya. Namun, di waktu belakangan ‘kan dia izin sekolah kurang-lebih sepekan—demi menemani operasi persalinan sang bunda. Sedangkan posisinya itu, Rara tidak begitu hapal seluruh nama anggota kelas barunya, walaupun sempat berinteraksi selama sebulanan di awal Agustus kemarin.

Ihwal menyelaraskan antara nama dan wajah, memang terhitung lambat untuk diterjemahkan oleh otak Rara.

Belum sempat Rara melanjutkan aksi, cowok itu terlihat meyadari kehadirannya, kontan mengangkat kepala dari ponsel serta-merta menatap tajam ke arah Rara. Membuat Rara mati kutu di pijakannya.

“Kau ngapain?”

Rara acap kali mengerjapkan mata di balik kaca visor. “Oh, itu Bi-Bi … o, aku boleh minta tolong nggak samamu? Motorku dari tadi nggak mau hidup. Mungkin ko bisa coba benerin,” pintanya gelagapan di awal.

Cowok itu menarik napas dalam, menggelapkan ponsel dan memilih mengantonginya dalam celana basket selututnya. Kemudian, bangkit dari sikap duduk semula sambil berjalan mendekati Rara. “Namaku Gio, bukan Bio-lo-gi,” ralatnya patah-patah.

Singkat memang sanggahannya, tapi sukses membuat wajah Rara merah padam. Sungguh, rasanya gadis itu ingin mengutuk ingatannya yang lemah. Salah memanggil nama orang merupakan hal yang memalukan bagi Rara. Ia mengucapkan permohonan maaf sewajarnya sambil memejamkan mata, saking jengahnya. Sadar tidak ada yang merespons, perlahan gadis itu membuka indra penglihatannya.

Kosong. Tidak ada orang lagi di muka.

“Udah coba kau engkol belum?”

Suara yang serasa bersumber dari belakang Rara, menariknya membalikkan tubuh dengan sempurna. Rara terkesiap saat melihat cowok jangkung itu berada di dekat Vespanya. Ia kira, cowok itu tidak akan membantu karena secara tidak langsung, Rara ‘kan telah menyinggungnya tadi(?).

“Be-belum, aku nggak bisa naikin tongkat ganda motorku,” jujur Rara.

Gio mengangguk paham. “Badanmu kecil soalnya,” komennya.

Sontak mata Rara membelalak prima. “Motornya aja yang keberatan. Jadi aku nggak kuat nongkatkannya. Bukan karena aku kecil!” bantah Rara tak terima.

Padahal sejujurnya, Rara memang tidak bisa menaikkan main stand motor apa saja. Mau itu motor berbodi besar ataupun kecil seperti Vespanya. Pokoknya untuk urusan motor, Rara memilih angkat tangan. Hanya saja, gengsi Rara menaik kali ini—tepatnya, setelah cowok di depan menatap remeh dirinya. Demi apa pun, Rara tidak suka apabila ada yang mangatai badannya kecil. Menurutnya, postur tubuh ini sudah termasuk tinggi dibandingkan gadis remaja lain seumurannya. Memang iya sih, kurus. Mungkin karena itulah Rara terlihat kecil. Namun, tetap saja Rara menolak mengakuinya!

Tidak berniat menanggapi bualan gadis berpelindung kepala—dengan visor hitam yang menutupi seluruh wajahnya—lebih jauh, Gio menaikkan main stand Vespa berwarna dominan oranye itu. Lalu menarik tuas kopling sambil menekan kick starter berulang-ulang. Hasilnya, kendaraan roda dua tersebut, konsisten tidak menyala.

Tatkala Gio mulai menyeka peluh di dahi, retinanya menangkap bayangan yang  menarik segenap perhatiannya—jarum fuel meter menunjuk huruf vokal E; tepatnya di zona balok merah terang.

Akhirnya, setelah sekian detik berdamai dengan pikiran dan batinnya, Gio membuang napas penat. Selanjutnya, dia memutuskan beristirahat dengan menduduki Vespa modern itu layaknya sedang menaiki odong-odong.

Rara yang mendeteksi perubahan iras muka dari teman sekelasnya tersebut, langsung melayangkan serangkaian pertanyaan. “Kenapa? Motornya rusak, ya? Perlu dibawa ke bengkel atau gimana?” jerinya.

Gio menjeling malas. “Udah berapa abad kau nggak ngisi bensin?” sarkasnya.

Rara mencoba mengenang kapan terakhir kalinya dia mengisi bensin. Entahlah, Rara tidak begitu mengingatnya. Yang pasti, dia sudah lama tidak mengendarai Vespa.

Hanya gelengan lambat yang menjadi jawaban Rara.

“Isi dulu sana,” titahnya.

Semula, Rara bingung dengan perintah itu, tapi ujug-ujug pipinya terserang virus pemanas. Harusnya dia sudah mengerti—bahwa bensin Vespanya habis—sedari Gio menanyakan tentang ‘bensin’ tadi. Disayangkan, jaringan nalarnya tidak mendukung.

Oke, Rara malu telak untuk kedua kalinya! Tolong katakan, ke mana dia harus menyembunyikan tampang?

Andai saja ada transportasi menuju luar angkasa di hadapannya, Rara yakin dia pasti sudah pindah planet detik ini juga.

Suka Artikel Ini ?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

error: Content is protected !!