[ Cerpen Religi ] Ketenangan Hati

5 min read

cerpen religi ketenangan hati
0
()

[ Cerpen Religi ] Ketenangan Hati

Cerpen Religi  – Ketenangan hati adalah anugerah terbesar dari Ilahi kepada setiap insani, tanpa ketenangan hati semua yang dimiliki manusia, baik itu harta, keluarga mau pun materi tak kan berguna lagi.

Ketenangan hati adalah sumber bahagia, tanpanya raga yang sehat akan percuma, tanpanya akal yang cerdas pun akan sia sia.

Ada banyak hal yang bisa menjadi sumber ketenangan hati. Cinta, harta, dan keluarga adalah beberapa contohnya , tapi semua itu hanya bisa diperoleh dari petunjuk sang Ilahi, bagaimana cara memperoleh-Nya? Bagaimana cara mengenali petunjuk-Nya?

Baca Juga :

Cerpen Tragedi – Bulan darah

Inilah yang melatarbelakangi di tulisnya karya ini, di angkat dari pengalaman pribadi bagaimana perjuangan si penulis dalam mencari ketenangan hati, mulai dari hal positif sampai negative pernah dilalui, dan cerpen ini adalah kesimpulan dari kisah panjang pencariannya.

Di dalam karya ini Akan ada banyak pesan yang berharga, mulai dari kisah nyata orang lain sampai kutipan indah dari ayat ayat-Nya.
Penasaran…?.
Silahkan disimak ya….

Semoga bisa menginspirasi, selamat membaca…

Salam pecinta Literasi…

-Ketenangan Hati-

Pagi ini begitu gelap dan sepi, tak terdengar bunyi apapun selain hembusan angin yang menyebarkan hawa dingin, jangkrik pun seakan ikut membisu menyesuaikan kondisi, kokok ayam yang biasa memeriahkan pagi pun juga ikut sunyi.

Begini lah kondisi lingkungan rumah ku pagi ini, lingkungan yang biasanya ramai berubah menjadi sepi, perubahan hawa adalah faktor yang mungkin menjadi sebab hal ini terjadi, tapi entahlah apakah benar penyebabnya adalah si hawa ini, aku pun tak mengerti.

Senin hari ini terasa begitu berbeda, tak seperti biasanya, aku yang setiap kali bangun pagi begitu semringah, kali ini lesu entah kenapa. Ku pegang jidatku sendiri, suhu normal, tak terlalu rendah juga tak terlalu tinggi.

“Ah perasaan apa ini,…. jangan terlalu lebay dong, kau kan laki2”, bisiku dalam hati.

Ku paksakan bangun dan coba meregangkan otot-otot ku yang masih kaku, mulai dari ujung jari tangan sampai ujung jari kaki semua ku paksa menari, terakhir ku maju mundurkan langkah kaki, Alhamdulillah lumayan sedikit mengurangi rasa aneh yang ku rasakan tadi.

Ku lihat jam, masih sekitar 15 menit lagi untuk adzan subuh berkumandang, masih sempat lah untuk shalat malam meski mungkin hanya dua rakaat untuk tahajud dan satu rakaat untuk witir.

Oiya, sebelum lanjut alangkah baiknya aku memperkenalkan diri, hallo assalamualaikum perkenalkan namaku zaki, seorang laki laki muslim berpostur tinggi, bertubuh kurus dan berparas jawa asli. Tak bisa berpenampilan rapi dan hanya berpenampilan menyesuaikan kondisi, itu terjadi karena aku punya prisnip kesederhanaan lebih menjaga hati, tapi meski begitu ada beberapa kebiasaan positif yang aku miliki. Salah satunya adalah shalat malam yang sudah menjadi kebiasaanku setiap hari, kebiasaan yang sudah ku lakukan cukup lama semenjak aku dapat nasehat dari salah seorang guru, yang beliau mengatakan bahwa shalat malam itu dapat memberi banyak manfaat bagi kehidupanku.

Memang kurasakan itu, kulihat banyak perubahan pada diriku, dari mulai fisik sampai tingkah laku, terutama masalah hati yang sering menghantuiku. Maklum lah namanya juga anak muda, kan memang lagi masanya begitu.

“He, he”.

Baik baik, ku rasa cukup, aku akan lanjutkan kisahku.

Sebagai seorang muslim aku meyakini bahwa nikmat waktu dan kesempatan adalah salah satu hal yang sangat berharga, jadi sekecil apapun kesempatan itu aku takkan melewatkannya.

Setelah ku sempurnakan kesadaran, aku bergegas menjauhi tempat tidurku, mengingat godaanya yang kuat sekali, apalagi ditambah hawa dingin dan selimut tebal diatas ranjang yang seakan akan memanggilku,

“Kembalilah zaki, tidur laaah…, tidur laaah…”.

Sempat langkahku terhenti karena godaan itu, tapi kemudian ku paksakan diri melawan, dan akhirnya semangatku mengalahkan hawa nafsuku, tanpa menunda lagi aku pun langsung pergi ke kamar mandi.

Saat di kamar mandi aku teringat waktu yang mepet tadi, maka ku tuntaskan hajatku dengan cepat dimulai dari cuci muka sampai terakhir bersuci.

“Aaah, segar sekali kurasa, air pagi memang berbeda”. Ucapku saat keluar dari kamar mandi.

Rasa lesu tadi sedikit demi sedikit mulai menghilang, berganti menjadi kesegaran.

“baru bersuci saja perubahan nya kaya gini, apalagi kalo diikuti shalat malam ya”. Gumamku.

Tak lagi ingin menyia-nyiakan waktu, aku pun melangkah cepat kembali ke kamarku.
Kamar kecil dekat ruang tamu, itulah kamarku.
Lalu aku memasukinya dan langsung melangkah menuju lemari yang letaknya di sebelah kanan ranjangku. Lemari persegi dengan satu pintu, itulah lemariku.

ku buka lemariku itu, ku pilih dan ku ambil  pakaian terbaik yang ku punya, ku ganti pakaian lusuhku dengan pakaian terbaik yang sudah ku pilih tadi. Dan terakhir memastikan penampilanku di cermin persegi yang menyatu dengan lemari.

Ku tatap tajam cermin itu dan ku lihat dengan detail bayanganku.

“Kamu harus tampil terbaik, karena yang akan kau temui adalah Penciptamu”, ucapku untuk memotivasi diri.

Setelah memastikan penampilan terbaikku, tanpa ragu aku langsung melangkah ke tempat shalat yang berada didekat kamarku, dan sesaat akupun sudah siap untuk mendirikan shalat.

Ku gelar sajadah lalu bersimpuh pada ilahi, ku adukan semua keluh kesahku pada-Nya dan ku resapi semua doa yang ku panjatkan pada-Nya, aku tak peduli godaan syetan yang silih berganti berdatangan, karena ada satu tujuan yang sedang aku harapkan saat ini yaitu keridhoan.

“Ya Robbi,..”, kalimat ini berulang kali ku ucapkan, hingga tak terasa, air mata meleleh membasahi pipi mengingat dosa dan kesalahan.

“Ampuni hamba….”. Kalimat ini pun berulang kali ku ucapkan, hingga tak terasa, beban hidup yang ku punya seakan – akan hilang.

“Masya Allah, Ini nikmat sekali ya Robbi”.Gumamku

Tenang, damai, khusyu, itulah yang saat ini ku rasakan.

Pagi ini yang tadinya kurasa penuh keanehan, kini berubah menjadi pagi yang begitu menyenangkan dan penuh kenikmatan.

Saking nikmatinya, sampai – sampai tak terasa adzan shubuh mulai berkumandang, sehingga shalat malam pun terpaksa ku hentikan.

Aku terdiam mendengarkan lantunan merdu dari muadzin yang sedang mengumandangkan adzan, sambil menjawab lafadz adzan tersebut tentunnya.

“Indahnya”.gumamku.

Sesaat muadzin pun menyelesaikan adzannya, maka aku pun berdoa.

“Allaahumma robba haadzihid da’watit taammah, washsholaatil qoo-imah, aati muhammadanil washiilata wal fadhiilah, wasysyarofa, wad darajatal, ‘aaliyatar rofii’ah, wab’atshu maqoomam mahmuudanil ladzii wa’adtah, innaka laa tukhliful mii’aadz.”

Artinya: “Ya Allah, Tuhan pemilik panggilan yang sempurna (adzan) ini dan shalat (wajib) yang didirikan. Berilah al-wasilah (derajat di surga), dan al-fadhilah (keutamaan) kepada nabi Muhammad. Dan bangkitkanlah beliau sehingga bisa menempati kedudukan terpuji yang Engkau janjikan”.

Selesai berdoa, aku tak sia-siakan kesempatan untuk melaksanakan shalat sunnah dua rakaat sebelum shubuh, karena mengingat pahalanya yang luar biasa. Aku ingat sebuah hadist yang menerangkannya.

Dua rakaat sebelum shubuh lebih baik dari dunia dan seisinya”. (Al hadist).

Ya, Pahala shalat sunnah dua rakaat sebelum shalat shubuh itu lebih baik dari dunia dan seisinya.

“luar biasa pahalanya, sangat rugi mereka yang selalu melewatkanya”. Gumamku..

Selesai shalat Sunnah tadi, ku lipat kembali sajadahku lalu bergegas menuju Mushola.
Sambil melangkah, aku kembali bergumam,

“Alhamdulillah, benar kataku tadi, semua rasa aneh itu hilang berganti ketenangan, memang benar firmanNya yang berbunyi ( Hanya mengingat Allah hati menjadi tenang ), aaah, indahnya mengingat Robbi”.

Sesaat aku pun teringat sebuah kisah yang sangat berkesan dihati, sebuah kisah diskusi antara orang yang beriman dan tukang cukur yang ingkar pada Ilahi.

Dimana si tukang cukur meyakini bahwa Tuhan itu tidak ada, dia mengambil persepsi dengan adanya kekerasan dimana-mana, orang sengsara juga dimana-mana, kalau Dia ada, pasti semua akan damai sejahtera.

Namun argumennya berhasil dipatahkan dengan cerdas oleh orang beriman lewat analogi berkelasnya.

“Kurasa tukang cukur pun tidak ada, buktinya mereka yang berambut gondrong ada dimana mana”. Cletusnya berharap si tukang cukur terjebak dengan analoginya.

Ternyata benar dugaanya, si tukang cukur pun merasa tersinggung dengan celetukan si orang beriman tadi,  maka ia ( si tukang cukur) berkata,

“Apa maksudmu, lalu kau anggap aku ini apa?, aku (tukang cukur) katakan, “salah mereka yang berambut gondrong tidak mau mendekat kepada ku, kalau saja mereka mau mendekat kepadaku pasti aku akan mencukur mereka, kalau perlu gratis, sebagai pembuktian ku kepadamu bahwa tukang cukur itu ada”.

“Yap, begitulah Tuhan, Dia itu ada, hanya saja kebanyakan manusia tidak mau mendekat kepada-Nya, maka jadilah mereka sengsara dan terjadi banyak kerusakan di mana-mana”. Kata orang yang beriman menutup diskusinya dengan si tukang cukur sambil tersenyum.

Tukang cukur pun mengangguk tanda setuju dengan argumennya, dan mulai menyadari kekeliruannya akan pemahamannya terhadap konsep ketuhanan.

“Argumen yang luar biasa” gumamku saat Mengingat kembali jawaban dari orang yang beriman.

Kisah ini menyadarkanku akan pentingnya mengingat Sang Pencipta, dan kisah ini pula yang menyadarkanku bahwa keresahan hati dan perasaan gundah gulana itu disebabkan jauhnya hati dari mengingat-Nya.

Sebenarnya, ada banyak hal sih yang mungkin bisa menjadi hidayah bagi manusia, namun petunjuk yang diberikan oleh-Nya pada setiap manusia itu berbeda beda, untuk itu kita harus peka, karena peka adalah hal mendasar yang harus ada pada diri manusia agar bisa menangkap tanda – tanda dari petunjukNya.

Aku pernah ditanya tentang,” bagaimana caranya agar bisa peka terhadap petunjukNya?”.

Aku jawab, “Sebenarnya setiap orang mungkin memiliki konsep yang berbeda mengenai cara bagaimana bisa peka, kalau menurut pandanganku sih, peka itu harus dilatih dan dipaksa, dimulai dengan peka terhadap hal-hal yang kecil lalu hal-hal yang besar sampai terbiasa. seperti kata pepatah,” paksa, bisa, terbiasa”.
jika kamu sudah terbiasa peka terhadap petunjuk-Nya, maka kamu akan mudah menangkap petunjuk-Nya, jika kamu mudah menangkap petunjuk-Nya maka kamu akan mudah mengingat-Nya, dan jika kamu mudah mengingat-Nya, maka kamu akan merasakan ketenangan hati yang luar biasa. Itu janji-Nya”.

“Ketahuilah hanya dengan mengingat Ku hati menjadi tenang”. (Al Qur’an).

“Maka Ingatlah Aku maka Aku pun akan mengingatmu” (Al Qur’an).

Ini bukan kataku tapi kata-Nya langsung dalam Al Qur’an.

Saat sedang asyik-asyiknya bertafakur, tiba tiba iqomat terdengar, aku pun mempercepat langkahku agar bisa sampai tepat waktu di mushola.

“Alhamdulillah pas sekali”, gumamku dalam hati saat sampai di Mushola dan mengetahui bahwa aku datang di waktu yang tepat.

Dengan cepat aku langsung masuk kedalam mushola dan segera mengambil posisi ke dalam shaff  (barisan) jamaah, Alhamdulillah aku mendapatkan posisi di shaff pertama, karena kebetulan jamaah di mushola itu memang  langka,  jadi meski terlambat terkadang aku masih bisa dapat shaff pertama.

Sesaat imam shalat pun sudah memposisikan diri, lalu memeriksa shaff ( barisan) yang ada sebelum memulai shalat, melihat shaff ( barisan) sudah sempurna, imampun memulai shalat nya, di ikuti aku dan jamaah sebagai makmum di belakangnya.

“Allaaahu Akbar”.

Sekejap keheningan pun tercipta, semua jamah tenggelam dalam penghayatannya.

Akhirnya aktivitas pagi itu pun ku akhiri dengan Shalat shubuh berjamaah, membaca beberapa lembar Al-Qur’an dan dzikir pagi, lalu pulang.

Kebarongan , 1 Agustus 2020 22:12 WIB.
– Fakhri Nur Zaki –

Suka Artikel Ini ?

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

error: Content is protected !!