[ Cerpen Religi Islami ] Menuju Cinta-Nya

15 min read

cerpen religi islami menuju cintanya
5
(5)

Cerpen religi islami menuju cintaNya – Cerita ini menceritakan perjalanan seorang Perempuan bersifat Kasar dan berhati dingin bernama Jessica Hannele dalam menemukan agamanya. Ia terlahir dari keluarga yang beragama Kristiani tetapi ia tidak mempercayai bahwa Tuhan itu ada. Baginya, agama hanya sekedar nama yang diberikan orang tuanya untuk ia letakkan di KTP. Hingga suatu ketika dalam perjalanannya menuju pulang ke rumah, ia mendengar alunan suara merdu dari suatu tempat yang membuat dia merasa tersentuh dan merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya. Karena rasa penasaran tersebut membuat Jessica mengikuti asal suara merdu itu berada. Tibalah ia di suatu tempat ibadah umat muslim bernama Masjid. Ia turun dari motornya dan berjalan ke dalam Masjid. Lalu Ia melihat punggung seorang Pemuda dengan memakai peci biru yang sedang mengalunkaan suara merdunya. Rasa penasaran Jessica membuat ia ingin menunggunya hingga dapat melihat wajah pemuda yang bernama Rahman itu. Karena ketertarikannya terhadap Rahman, membuat ia mencari tau lebih dalam tentang Rahman maupun agamanya. Akankah Jessica dapat menemukan cinta-Nya?

***

Baca Juga :

[ Cerpen Religi ] Ketenangan Hati

[ Cerpen Religi ] Impian Qurban Tukang Pijat keliling

Cerpen Religi Islami Menuju CintaNya

cerpen religi islami menuju cintanya

Di Club ternama Jakarta,

Seorang perempuan cantik berambut panjang mengenakan pakaian pendek ketat bewarna biru menghampiri Jessica yang sedang duduk sambil berbincang dengan teman-temannya.

“Berani juga lo dateng ke Club yang sering gua kunjungin,” ujarnya sambil mendorong kepala Jessica.

Seketika mereka yang sedang tertawa sambil menikmati minuman langsung terdiam dan menatap perempuan itu.

“apa-apaan lo bi**h!!” Ujar kesal salah seorang teman Jessica yang langsung berdiri dari tempat duduknya.

Jessica tersenyum tipis lalu ia berdiri dari tempat duduk dan langsung memegang lengan perempuan itu dan membalikkannya ke belakang tubuhnya hingga membuat ia berteriak hingga membuat suasana club menjadi tegang.

“aaa aw aw.. an***g lepasin gua!!” Ujarnya dengan meronta-ronta kesakitan.

Teman-teman perempuan itu langsung dihalangi oleh teman-teman Jessica untuk tidak ikut campur.

“karena lo udah berani nyentuh kepala gue..” menekan lengannya dengan keras.

“nikmatin nih sakitnya lengan lo berhari-hari ya,” ujar Jessica dengan tatapan dingin sambil menekan lengannya lebih keras.

“aaaahhhhh!!” Suara teriakan perempuan itu hingga membuat semua orang menatap kearah mereka.

Jessica langsung melepas cengkramannya dan kembali duduk sambil menikmati minuman yang ada di depannya.

“Hahaha! Anak orang woy!” Seru salah seorang teman Jessica tertawa.

Perempuan itu menangis kesakitan lalu mengatakan dengan nada tinggi meleking,

“LO!! Keluar dari sini mati lo ya!” Menatap tajam sambil pergi meninggalkan mereka.

“ckk.. Digituin aja nangis sok bilang mau bikin gua mati” ujar Jessica sambil tertawa kecil.

Perempuan berparas cantik dan berhati dingin itu bernama Jessica Hannele. Ia lahir bulan Desember tahun 2000 di Jakarta. Meski ia memiliki sifat kasar dan terkesan liar, namun dia hanya ingin diperhatikan banyak orang karena jauh dilubuk hatinya ia hanya seorang perempuan baik kesepian yang membutuhkan kasih sayang. Dan baginya, Club  adalah tempat dimana ia dapat melepaskan rasa sepinya.

“Tit tit tit tit… ” suara alarm ponsel Jessica.

“mmhhh.. Udah pagi aja, ” ia sambil meregangkan tubuh dan mengambil ponselnya untuk mematikan suara alarm.

Matahari bersinar terang dan terdengar suara azan berkumandang. Jessica beranjak dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi. Selesainya ia mandi, ia bersiap dan bergegas ke bawah dengan menuruni anak tangga menuju meja makan untuk sarapan di siang hari. Karena, bagi Jessica.. siang adalah pagi dan malam adalah siang.

Mbak.. Papa belum pulang ya?” Teriak Jessica sembari menuruni anak tangga.

Sunyi.. hanya terdengar suara angin yang berhembus melalui lubang-lubang jendela.

Mbak?” Menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan Mbak Tari.

Jessica terdiam dan menduduki kursi meja makan. Lalu memakan makanan yang tersedia di atas meja makan. Sembari sarapan, ia melihat ke arah jendela dan memandanginya begitu lama. Ia melihat burung Merpati singgah di luar jendelanya. Melihat hal itu, Jessica berlari kecil dan melihatnya lebih dekat.

“putih bersih banget bulu Merpatinya, jadi pingin melihara,” geming Jessica sambil menundukkan tubuhnya.

“pelihara aja Jes biar ada yang bisa diajak bicara hihi” ujar Mbak Tari sambil tertawa kecil.

Mendengar suara Mbak Tari, sontak membuat Jessica langsung menoleh ke kanan dan terkejut melihat Mbak Tari yang tepat di samping wajahnya.

Cerpen religi islami menuju cintaNya ( Lomba Cerpen Okeylah Media )

“Ya ampun Mbak.. Kaget aku!” Seru Jessica yang perlahan menjauh dari Mbak Tari.

“fokus banget sih ngeliat Burung Merpatinya,” ujar Mbak Tari berjalan pergi.

Mendengar ucapan Mbak Tari, membuat Jessica berfikir untuk memelihara seekor hewan untuk menemaninya. Tanpa berfikir panjang, Jessica bergegas menaiki anak tangga menuju ke kamarnya dan bersiap membeli seekor hewan.

Mbak! Aku pergi, pintu jangan dikunci ya,” ujar Jessica sembari memakai jaket.

Jessica mengambil helmnya. Lalu menghidupkan motor ninja berwarna biru yang sedang terpakir di halamannya.

“mau kemana Neng? ” tanya Pak Didin sembari membukakan pintu gerbang.

“ada urusan Pak, pergi dulu ya! ” seru Jessica melaju pergi dengan cepat.

Suara motor Jessica membuat seorang perempuan yang menggunakan kursi roda terkejut dan menjatuhkan ponsel yang sedang ia pegang. Melihat hal itu membuat Jessica berhenti. Lalu menghampiri perempuan itu dan membantunya mengambilkan ponsel.

“makasih,” ucap lembut perempuan itu dengan tersenyum.

Melihat senyuman perempuan muslim itu membuat Jessica membalas kembali senyumannya.

“mau kemana Mbak? Mau nyebrang?” Tanya Jessica sambil melepaskan helm yang ia kenakan.

“ahh iya, tapi ketika mendengar suara motormu membuatku kaget terus buru-buru mundur deh,” ujarnya malu.

“aahh gitu, maaf.. sini gue bantu,” ujar Jessica sambil memegang dorongan kursi roda perempuan itu.

Kemudian, Jessica mendorong kursi roda perempuan itu kesebrang jalan. Sesampainya disebrang jalan, perempuan itu tersenyum dan mengucapkan terima kasih lalu pergi. Jessica menatap perempuan itu yang perlahan mulai menjauh lalu ia memasuki suatu rumah. Jessica kembali menyebrangi jalan dan menaiki motornya lalu pergi menuju petshop yang pernah ia kunjungi dulu bersama temannya.

“mau hewan apa Mbak?” Tanya penjual toko menghampiri Jessica.

“aku tidak tahu pasti mau melihara apa, tetapi setelah melihat banyaknya anjing disini membuatku ingin melihara anjing kecil gitu” ujar Jessica sambil berkeliling melihat-lihat.

“anak anjing ada banyak jenisnya Mbak, disini paling populer anjing jenis Cihuahua, Pomeranian, dan jenis Maltese” sambil menunjukkan gambar daftar anak anjing.

“jadi, mesen dulu ya?” Tanya Jessica melihat daftar itu.

“khusus anak anjing memang kami tempatkan di tempat yang berbeda Mbak” Ujarnya.

“oh gitu, gak jadi deh Mbak, thanks ya!” Ucap Jessica sambil membuka pintu toko. Mendengar hal itu penjaga toko menatapnya dengan kesal.

Jam telah menunjukkan pukul 17.45 dan Jessica memutuskan untuk mengunjungi salah satu cafe terdekat toko. Hingga tidak terasa telah larut malam. Jessica kembali menaiki motor dan meninggalkan cafe lalu menuju ke club. 

Dentuman keras suara di dalam club membuat ia semakin menikmati suasana malam itu. Hingga menunjukkan pukul 4.00 pagi. Ia yang telah kelelahan dan setengah tidak sadar memutuskan untuk meminum air putih terlebih dahulu sebelum ia menaiki motor. Lalu ia menaiki motor dan melaju pergi dengan cepat. Dalam perjalanannya menuju pulang, ia mendengar alunan suara merdu dari kejauhan.

“suara siapa pagi-pagi buta gini?” tanya Jessica dalam batin dengan wajah setengah mabuk sembari memberhentikan motornya.

Rasa penasaran Jessica membawa ia mencari tahu asal suara itu berada. Ia ikuti suara itu. Lalu berhentilah ia tepat di depan tempat asal suara itu. Asal alunan suara yang menggetarkan hati Jessica itu berasal dari Masjid yang selalu ia lewati dan dia dengarkan azannya ketika ia di rumah. Ia memberhentikan motornya dan meletakkannya tepat di halaman Masjid. Kemudian, ia melihat ke dalam Masjid dan melihat sosok laki-laki berpeci biru gelap memegang sebuah microphone mengalunkan alunan yang indah hingga membuat Jessica hanyut mendengar suaranya sambil memejamkan mata. Hingga membuat Jessica tertidur.

___

Suara laki-laki terus berteriak dan sinar yang begitu terang seakan menyorot membuat Jessica terbangun,

“Mmhh.. Berisik banget sih!!” seru Jessica sambil membuka matanya secara perlahan.

“Was wes wos” suara bisikan dari orang-orang di depannya.

Orang-orang memandangi Jessica dengan tatapan dingin yang seakan bertanya-tanya. Jessica yang mulai sadar langsung beranjak dari tempatnya dan langsung bergegas menuju motornya.

Mbak!!” seru salah seorang laki-laki berlari mendekati Jessica.

Jessica menoleh ke belakang sambil menundukkan kepalanya.

“Ini.. kuncinya ketinggalan Mbak,” ujar laki-laki itu dengan lembut. Suaranya yang merdu membuat Jessica langsung menyadari bahwa ia adalah laki-laki yang mengalunkan alunan subuh kala itu.

Thanks” Jawab malu Jessica. Dengan cepat mengambill kunci motor dari tangannya. Tanpa sadar, ia tersenyum malu dan bergegas menaiki motornya lalu pergi.

Sesampainya Jessica di rumah, Jessica bertemu dengan ayahnya. Melihat ayahnya yang duduk di halaman rumah sambil membaca sebuah buku membuat Jessica semakin merasa bahagia dan berlari kecil menuju ayahnya.

“Papa!!” Sapa gembira Jessica sembari melepaskan jaket dan sarung tangan yang ia kenakan.

Ayah Jessica hanya diam tanpa mengatakan apapun dan memandang Jessica dengan tatapan dingin lalu ia melanjutkan membaca buku. Jessica yang tersenyum sumringah melihat ayahnya perlahan kian menghilangkan senyumnya. Lalu ia masuk ke dalam rumah dengan wajah yang masam. Langkah demi langkah Jessica menaiki anak tangga dan menuju kamarnya. Ia mendorong pintu dengan kencang hingga terdengar suara keras yang membuat dinding bergetar. Jessica berlari dan melompat ke tempat tidur. Ia memejamkan matanya hingga air matanya jatuh setetes demi setetes.

“Jessica sini.. makan dulu,” suara hangat yang membuat Jessica membuka matanya dan melihat sekitar yang tampak tak asing. Lalu ia melihat ke arah wanita berambut pendek tersenyum dan menggerakkan jari seakan memberi tanda untuk mendatanginya. Jessica tersenyum lalu berlari menuju wanita itu dan memeluknya dengan erat.

Mom!! I’m really really miss you!! Mom!! take me with you Mom!” Seru Jessica yang tak kuasa menahan tangis.

Everything it’s gonna be alright honny, don’t be scared honny because I’m always beside you,” ucap lembut wanita itu sembari mengelus kepala Jessica.

Perlahan wanita itu mulai memudar dari pelukan Jessica. Ia berteriak histeris memanggilnya berulang-ulang. Hingga akhirnya Jessica terbangun secara spontan dari kasur sembari berlinangan air mata. Jessica kembali memejamkan mata dan menghembuskan nafasnya. Perasaan Jessica kalut seketika karena mimpi yang ia alami. Ia melihat ke arah dinding dan melihat jam yang menunjukkan pukul 17.00. Melihat jam, membuat Jessica terkejut lalu berlari menuju pintu kamarnya dan menuruni anak tangga secara cepat.

“Pah! Papa!!” Seru Jessica dengan wajah kusut dan rambut yang berantakan.

“Papanya Jessica.. Udah pergi Jes,” ujar Mbak Tari dengan nada rendah yang perlahan mendekati Jessica.

Mendengar hal itu, Jessica tertawa kecil sambil menatap langit-langi rumah dengan tatapan kosong. Perasaannya penuh dengan kebencian terhadap ayah maupun dirinya. Melihat keadaan Jessica, Mbak Tari mendekati Jessica dan memeluknya.

“Jes… Serahkan semua pada Tuhan ya. Mbak percaya, Jessica diberkati dengan kekuatan dari Tuhan” Mbak Tari mengelus punggung Jessika secara perlahan.

“Tuhan?!” Ucap Jessica dengan menyeringai.

“gue gak pernah sedikitpun dikasih kebahagian sama dia. Mama udah gak ada, papa ada tapi serasa gak ada, terus gue di adain untuk apa?!” ujar Jessica dengan nada sedih.

so, jangan pernah membahas soal Tuhan sama gue Mbak! gue gak pernah menganggapnya ada! Ngerti!” Jessica menggertak dengan tatapan marah sembari melepas dekapan Mbak Tari dan berjalan pergi.

___

Waktu terus berlalu. Jessica hampir tiap malam datang ke Club dan berakhir dengan mabuk. Hingga suatu ketika, ia pulang menjelang pagi dan bertemulah kembali ia dengan pemuda yang pernah ia temui di Masjid kala itu. Dengan tertawa tidak karuan ia turun dari taksi dan memeluk pemuda itu dari belakang yang sedang berjalan di pinggir jalan.

astagfirullah..” Ucapnya terkejut sambil melepas cengkraman dari Jessica.

Jessica hanya tertawa hingga dia terjatuh dan tak sadarkan diri. Pemuda itu lalu kembali ke Masjid. Mengambil sebuah ember yang terdapat di tempat wudhu dan mengisinya dengan air.

Byuurr.. Suara air tumpah ke wajah Jessica.

What The Hell?!” Ucap terkejut Jessica sambil membuka matanya secara perlahan.

“ini airnya masih ada Mbak, Mbak ke Masjid aja kalau masih belum sadar. Mari Mbak..” Ujarnya gugup sembari berjalan pergi menjauh dari Jessica.

Sontak Jessica menganga seakan tak percaya dengan apa yang terjadi padanya. Sehingga membuatnya sadar sepenuhnya dari mabuk. Jessica bangun dan membersihkan dirinya dengan menepuk-nepuk bagian yang terdapat debu pada dirinya dan kembali ke rumah dengan berjalan kaki. Ketika Jessica meninggalkan tempat itu, seorang pengurus Masjid mencari ember yang diambil pemuda itu. Namun, tidak ia temukan di area Masjid. Dengan wajah panik ia mencari hingga ke pinggir jalan. Dengan wajah terlihat setengah emosi ia bergeming,

“lah kok bisa di dieu, Hente tanggung jawab eta!” Ucapnya dengan nada sunda sambil kembali ke dalam Masjid.

Jessica yang telah sadar karena air yang ditumpahkan oleh pemuda itu berjalan menuju rumahnya. Dengan wajah emosi dan menahan dinginnya air pada tubuhnya.

“gila orang itu apa! pergi gitu aja tanpa minta maaf lagi. Wah gila!” geming Jessica sambil membersihkan diri di kamar mandinya.

Keesokan harinya, Jessica merasa dendam pada pemuda itu. Ia mendatangi Masjid ketika azan zuhur berkumandang. Tampak orang-orang mulai berdatangan ke area Masjid. Jessica berkeliling mengelilingi area Masjid sembari menunggu selesainya orang-orang yang tengah melaksanakan ibadah shalat. Tiada henti Jessica menatap ke dalam Masjid dan berjalan-jalan mondar mandir sambil menendang-nendangkan kakinya. Terlihat satu per satu orang-orang dari dalam Masjid mulai keluar dan pergi meninggalkan area Masjid. Melihat hal itu, ia melihat ke dalam dan mencari pemuda yang mengenakan peci bewarna biru gelap. Tampak orang-orang memandangnya kebingungan. Jessica hanya tersenyum melihat orang-orang yang menatapnya dengan kebingungan itu. Namun pemuda yang ia cari tak kunjung terlihat dari pandangannya hingga tersisa seorang laki-laki yang tengah menyapu halaman depan Masjid.

“Permisi Mas!” Sapa Jessica.

“Iya Neng?” Tanyanya sembari mendekat ke arah Jessica.

“Itu.. Saya mau nanya, Masnya tau gak laki-laki ganteng gitu berpeci biru terus sering kesini,” ujar Jessica.

Terlihat Mas itu persis seperti yang di deksripsikan oleh Jessica. Lalu Jessica kembali berbicara.

“Dia… sering mengalunkan suara indah gitu Mas subuh-subuh” ujar Jessica dengan nada cepat.

“ohh Rahman! Yang suaranya indah itu..” Jawabnya dengan nada orang sunda.

“Taulah Neng, buktinya saya tau namanya” ujarnya lagi.

“Ahh.. iyaa” Jessica tertawa kecil. “Mas tau rumahnya gak?” Tanya Jessica sembari mengeluarkan ponsel dari sakunya.

Kemudian ia memberitahukan Jessica alamat dari pemuda itu. Jessica langsung berlari menuju motor ninjanya lalu mengendarai menuju ke arah yang diberitahukan. Sampailah ia di suatu tempat yang terdapat banyak sekali anak-anak yang mengenakan pakaian muslim. Terlihat seorang perempuan mengenakan jilbab berwarna putih yang tampak tak asing diingatan Jessica melihatnya. Perempuan itu melambaikan tangan seakan menyapa dan memanggil ke arahnya. Lalu Jessica berjalan menuju ke arah perempuan itu dan tersenyum.

“halo!” Sapanya ramah kepada Jessica sambil berjalan dengan menggunakan kursi roda. Jessica hanya tersenyum dengan wajah tampak bingung melihat kesekelilingnya.

“Kamu mencari seseorang ya? Sebelumnya kenalkan aku Amira,” ujarnya ramah sembari memegang tangan Jessica.

“Ah.. iyaa, Jessica..” sambil memegang kembali tanggannya.

“sebelumnya.. Ini tempat apa ya? Banyak sekali anak kecil yang berkeliaran”. Tanya Jessica bingung.

“ini.. Semacam sekolah yang mempelajari lebih dalam pelajaran islam dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari makanya ia bertinggal disini. Kami biasanya menyebutnya dengan Pesantren” ujar Amira perlahan dengan nada halus. Lalu ia menatap Jessica,

“mau berkeliling kah?” Tanya Amira kepada Jessica.

“kalo boleh..” Jawab Jessica gugup dengan tatapan senang.

Amira memandang Jessica dengan lembut. Ia memundurkan kursi rodanya dan mendorongnya kedepan mengarah ke dalam Pesantren. Lalu Jessica memegang tempat dorongan kursi roda milik Amira,

ndak usah mbak Jes, tidak apa.. Aku bisa,” ucap Amira menoleh kebelakang melihat Jessica.

“arahkan saja Mir and panggil gue Jessica aja jangan pake mbak segala,” ujar Jessica sembari mendorong kursi roda Amira. Amira mengangguk malu dan mengarahkan Jessica tempat yang ingin ia tuju.

Selama berkeliling, Jessica melihat-lihat sekaligus mencari keberadaan pemuda itu di ruangan-ruangan yang ia dan Amira lewati. Hingga dari kejauhan terdengar suara yang tampak tak asing dari suatu tempat. Membuat Jessica tiba-tiba berhenti mendorong Amira dan meniggalkan Amira sendirian. Amira tampak bingung dan menoleh ke belakang melihat Jessica yang perlahan pergi meninggalkannya.

Jessica berlari dan mencari keberadaan suara yang sempat ia dengar. Ia menatap satu persatu ruangan melalui jendela. Hingga di satu ruangan terlihat seorang pemuda kembali mengalunkan suara nan indah bersama anak-anak kecil yang sedang memandanginya. Mendengar suara itu, Jessica berjalan secara perlahan dan mendekati ruangan tersebut dan melihat wajah pemuda itu lebih dekat.

“nah jadi gitu ya. Ada penekanan dibagian ini dan agar suaranya panjang menggunakan nafas dari perut,” ujar lembut pemuda itu kepada anak-anak yang sedang memperhatikannya.

Jessica memandanginya diam-diam melalui jendela dari ruangan tersebut. Ia tampak sangat mengagumi sosok pemuda itu hingga amarahnya hilang seketika ketika melihat pemuda itu. Jessica pergi meninggalkan ruangan tersebut dan mencari Amira. Terlihat Amira yang sedang sendirian di bawah pohon memandang langit.

“Mir, gue tinggal sini boleh? ” Tanya Jessica dengan terengah-engah.

“Kamu dari mana saja? Ku fikir kamu telah pergi, ” ujarnya khawatir.

“Maaf ninggalin tiba-tiba, abis nyari kamar mandi soalnya,” ujar Jessica dengan cepat.

“gimana? Boleh gak anak umuran gue tinggal disini?” Tanya Jessica dengan tatapan sungguh-sungguh.

“Pesantren itu untuk segala umur Jes, banyak santri umuran kita yang mendalami agama islam melalui Pesantren ini,” ujar lembut Amira.

“huft.. Gak menjawab pertanyaan gue ni cewek,” geming Jessica sambil melirik ke atas.

“Maaf, tentu boleh Jes.. Silahkan kamu ambil keperluanmu di rumahmu izin dengan orang tuamu lalu kembalilah kapan saja kesini. Kamu harus tau bahwa disini memiliki peraturan yang harus dipatuhi. Ketika kamu kembali lagi akan kuberi tahukan semua peraturan itu, ” ujar Amira.

“eh.. kedengeran ya? Maaf. Oke gue pergi dulu ya besok pagi gue kesini lagi bye Mir,” ujarnya sambil menggaruk kepalanya lalu pergi meninggalkan Amira.

Keesokan siangnya Jessica datang ke Pesantren dengan membawa tas yang berisikan pakaian dan barang Jessica. Jessica berkeliling dan mencari Amira.

“eh Dek!” Seru Jessica ke salah satu anak yang sedang bermain kelereng di Lapangan.

“iya Kak?” Ucap salah seorang anak berjalan menuju Jessica.

“nyari Amira kemana?” Tanya Jessica.

Ustazah Amira? Biasanya disana kak. Mari saya antar,” ucap anak itu sambil mengarahkan Jessica menuju ke suatu tempat.

Mendengar kata Ustazah membuat Jessica bingung tetapi ia hiraukan rasa itu dan mengikuti anak itu. Tibalah ia di suatu tempat dan bertemu dengan salah seorang perempuan dan menyapa,

Almahujud ya Akhi?” Tanya perempuan itu ke anak yang bersama Jessica.

“Maaf, saya mencari Amira. Bisa temui saya dengan Amira?” Tanya Jessica mendekati perempuan yang sedang berbicara dengan anak itu.

Shukraan Ahmad, silahkan kembali ke Asrama,” ucap perempuan berjilbab hijau itu ke anak tersebut. Lalu mendekati Jessica.

“mari ke dalam” ucapnya ramah sambil berjalan masuk ke dalam ruangan.

Jessica berjalan mengikuti perempuan yang mengajaknya ke dalam ruangan. Tampak tempat itu terlihat rapi dan berjejer sebuah meja layaknya tempat resepsionis di sebuah kantor. Jessica duduk di kursi yang disediakan depan meja yang berjejer itu.

“Amira sedang mengajar sekarang, mau menunggunya disini?” Tanyanya.

Jessica mengangguk malu. Lalu Perempuan itu menemani Jessica sambil berbincang dengan Jessica.

“maaf menunggu lama,” ucap Amira sambil mendekati Jessica dengan kursi rodanya. Perempuan itu langsung membantu Amira mendorong kursi rodanya untuk mendekat ke arah Jessica.

Kemudian, Amira meminta perempuan itu untuk mengambilkannya sebuah kertas seperti sebuah formulir. Amira menjelaskan kepada Jessica dengan jelas semua peraturan di Pesantren itu. Selagi Amira menjelaskan, Amira pula memberitahukan tentang sebuah Pesantren dan pembelajarannya. Selesai menjelaskannya secara terperinci, Jessica mengisi formulir yang diberikan oleh Amira. Saat pengisian nama agama yang terdapat pada formulir, Jessica terdiam sejenak.

“boleh.. Gak diisi gak?” Tanya Jessica ragu-ragu. Amira tersenyum.

“Itu hak kamu..” ucapnya lembut.

Mendengar hal itu Jessica kembali merasakan hal yang aneh pada dirinya, namun kembali ia hiraukan perasaan itu. Setelah selesai mengisi formulir yang diberikan Amira. Amira mengajak Jessica ke sebuah ruangan yang bernama Asrama Putri. Ketika Jessica memasuki ruangan tersebut, Amira meninggalkannya sebentar dan membawakan ia sebuah pakaian muslim dan sebuah jilbab.

“Aku tidak memaksa kamu mengenakan jilbab terus menerus tetapi selama disini kamu harus mengikuti peraturan yang telah kuberitahukan demi kenyamanan bersama”. Ujar Amira lembut sambil memberikan pakaian dan sebuah jilbab.

“tenang aja Mir, gue gak masalah kok. Thanks ya,” ucap Jessica. Ketika ingin mengambil pakaian dan jilbab yang dipegang Amira. Amira membuka lipatan jilbab dan memakaikannya ke kepala Jessica.

Subahannallah.. cantik sekalii,” ujarnya tersenyum lebar. Jessica tampak kebingungan dengan apa yang dilakukan Amira kepadanya. Ia hanya tersenyum tipis dan melihat wajah Amira yang tampak bahagia mengenakannya jilbab.

Setelah itu, Amira berjalan ke sebuah kamar yang akan ditempati Jessica selama ia di Pesantren. Jessica tampak terlihat tidak nyaman namun ia berusaha terlihat baik-baik saja di hadapan Amira. Ia masuk ke dalam kamar itu dan meletakkan semua barangnya disana.

***

Malam pun tiba, Jessica keluar dari Asrama dengan mengenakan pakaian yang diberikan Amira kepadanya. Namun, untuk Jilbab Jessica tampak kebingungan dan tidak memakainya. Ia membawa Jilbab itu bersamanya lalu keluar menuju pintu gerbang. Ia bertemu salah seorang perempuan yang diluar Asramanya dan memintanya untuk memakaikan ia Jilbab. Setelah memakainya, Jessica berlari ke arah cermin dan melihat dirinya yang mengenakan Jilbab. Ia tersenyum dan kembali merasakan hal yang aneh pada dirinya. Dia merasa deg-degan dan merasa bahagia.

“ayok Jes! Makan lalu ikut kajian malam,”  seru salah seorang perempuan yang sedang bersamanya.

Mendengar hal itu, Jessica bersemangat dan mengikuti perempuan itu ke tempat kajian. Ia merasa bahwa ia akan dapat bertemu dengan pemuda yang bernama Rahman itu ditempat kajian. Namun ternyata, yang menjadi pemimpin kajian adalah orang lain bukan Rahman yang ia cari sedari awal. Selama kajian, Jessica mendengarkannya dengan baik. Ia mempelajari banyak hal selama ia di Pesantren dan dia merasa damai mempelajari tentang Islam lebih dalam. Berawal dari Jessica yang masuk ke dalam Pesantren untuk lebih dekat dengan Rahman. Ternyata, ia mulai melupakan tujuan awalnya dan fokus mempelajari tentang agama Islam itu sendiri.

Hingga suatu hari ketika ia berjalan dari suatu tempat menuju Asramanya, ia melihat Amira dan Rahman sedang bersama di bawah pohon menatap langit dan mengobrol. Melihat hal itu, Jessica spontan berlari dan bersembunyi di tempat yang dekat dengan pohon tersebut. Ia terus menunggu Amira dan Rahman. Terlihat tatapan cinta dari Rahman ke Amira saat itu.

“bukannya dalam Islam laki-laki dan perempuan tidak boleh bersama secara langsung begitu ya. Kenapa mereka berduaan dan gak ada yang menegur..” Geming Jessica dengan tatapan heran. Lalu tak lama kemudian Rahman mengantarkan Amira ke depan pintu Asrama Putri. Jessica masih bersembunyi dan menunggu Rahman meninggalkan Amira. Dengan mengendap-ngendap Jessica menemui Amira dari belakang.

Assalamualaikum Mir!” Sapa Jessica hingga membuat Amira terkejut. Amira tersenyum.

“Kamu ini gak bisa diem banget ya Jes,” ucap Amira sambil menjalankan Kursi Rodanya.

“cie cie.. apa-apaan itu ukhti berdua-duaan dibawah pohon gitu. Kata Ustad itu gak boleh loh nanti yang ketiganya syetan,” ucap Jessica dengan nada meledek.

“Iya, yang ketiganya syetan kalo gak ada tali pernikahan,” ucap Amira dengan nada meledek pula.

Amira masih terus berbicara sambil mendorong kursi rodanya. Seketika Jessica hanya terdiam dan menatap Amira dengan tatapan kaget. Amira yang terus melaju dan berbicara, berhenti karena Jessica yang tidak menjawabnya. Ia menoleh ke belakang dan melihat Jessica yang diam tanpa mengatakan apapun lalu Amira menghampiri Jessica dan menggenggam tangan Jessica.

“Jes!” Seru Amira dengan tatapan bingung.

Mendengar hal itu, Jessica yang terdiam langsung menatap Amira dan tersenyum dengan mata yang menahan air mata.

“Mir, aku ke kamar dulu ya..” Ucap pelan Jessica dengan nada bergetar lalu meninggalkan Amira.

Hati Jessica hancur seketika. Seakan dunianya runtuh ketika mendengar hal itu dari Amira. Air mata Jessica tidak berhenti bercucuran. Ia langsung membereskan barang-barangnya dan pergi meninggalkan Pesantren. Dengan wajah sedih ia meninggalkan pakaian dan jilbab yang diberikan Amira kepadanya di kamar. Ia pergi tanpa berpamitan dengan Amira maupun orang-orang disana. Jessica sembari menangis melepaskan jilbab yang sedang ia kenakan dan menaruhnya ke dalam tasnya.

Melihat Jessica yang pergi dengan wajah yang sedih membuat orang-orang yang melihatnya bertanya-tanya dan menyampaikan hal itu ke Amira. Mendengar hal itu, Amira langsung mendorong roda dari kursi rodanya dengan cepat menuju pintu gerbang hingga membuat telapak tangan Amira mengeluarkan darah. Namun, Amira tak sempat mengejar Jessica dan menangis karena hal itu. Rahman yang melihat Amira dari kejauhan langsung berlari menuju Amira.

“Ada apa Umi? Kenapa Umi seperti ini?” Tanya panik Rahman sambil menggenggam tangan Amira dengan lembut.

“minta seseorang mengejar Jessica Bi, ini semua karena aku yang tidak mengontrol candaanku,” ujar Amira panik.

” Ya Allah Umi.. Tanganmu sampai seperti ini, ayo ke dalam obati tanganmu ini” Ujar Rahman cemas.

“Jessica keburu jauh Bi,” ucap Amira dengan panik.

“biar Abi yang mengejarnya, Umi ke dalam dan obati tangan Umi ya..” Ucapnya lembut.

“tolong bawa Ustazah ke dalam dan balut lukanya!” seru Rahman ke salah satu santriwati yang berada disana.

Rahman berlari dan mencari Jessica. Terlihat Jessica yang sedang duduk seakan sedang menunggu sebuah jemputan di sebuah warung. Rahman yang melihatnya langsung berlari ke arah Jessica.

“Jessica? ” Tanya Rahman dengan terengah-engah. Jessica yang melihatnya terdiam dan menundukkan pandangannya.

“kenapa kamu pergi tanpa pemberitahuan?” Tanyanya lagi.

Jessica hanya diam dan menahan air matanya hingga membuatnya gemetaran.

“untuk pertama kalinya di dekatnya sedeket ini. Tapi, kenapa disaat seperti ini!!” Batin Jessica.

Tak lama kemudian sebuah Mobil mendekat ke arah Jessica. Jessica langsung pergi tanpa menatapnya dan meninggalkan Rahman. Selama di Mobil, Jessica membuka Tasnya dan melihat sebuah kotak yang tak ia kenali lalu membukanya. Di dalam kotak, terdapat sebuah Mukenah dan sebuah Al-Qur’an di dalamnya juga sepucuk surat.

Assalamualaikum Jessica, ku lihat pengetahuanmu tentang Islam semakin meningkat ya.. Alhamdulillah. Aku sangat takjub dengan peningkatan yang selalu kamu perlihatkan setiap harinya disini. Kesungguhanmu Jessica, membuatku merasa sangat bahagia sebagai sahabatmu dan ini adalah reward dariku untukmu sebagai bentuk dukunganku untukmu. Semoga kamu suka ya dan Semangat terus Jessica!!” Tertanda Amira.

Air mata mengalir begitu saja setelah membaca surat dari Amira yang begitu tulus terhadapnya. Jessica pun jadi teringat hal-hal yang ia lakukan bersama Amira saat di Pesantren. Amira tak pernah memaksanya harus mempelajari Islam dengan cepat dan selalu sabar menanggapinya serta mengajarinya. Bahkan diluar Pesantren, Amira tidak pernah memaksa Jessica untuk selalu memakai Jilbabnya ketika Jessica ingin melepasnya karena kegerahan.

Amira selalu mengatakan hal-hal baik tanpa menyinggung ataupun bertanya tentang agama Jessica sedikitpun. Semua ingatan itu membuat Jessica semakin yakin tentang agama Islam dan semakin ingin mengenal Allah SWT. Rasa sakitnya tentang Rahman karena cinta yang tak terbalaskan hilang seketika sejak ia yakin akan dirinya untuk memeluk agama Islam. Selain karena Amira yang membantunya jatuh cinta kepada Islam, ilmu yang ia dapat selama di Pesantren pula membantu Jessica mendapatkan sebuah hidayah dari Allah SWT.

Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah” Jessica mengatakannya dengan perlahan dibimbing Ustad yang ia temui di Masjid.

Pada tahun 2020, ia resmi beragama Islam dimata hukum dan diberbagai data yang ia punya. Dan Jessica mengenakan hijab setelahnya. Meski hal itu ditentang keluarga besar Jessica, namun ia percaya bahwa apa yang ia pilih merupakan kehendak dari Allah SWT. Dia mencintai dirinya yang sekarang karena menemukan agama yang membawa ketenangan dalam hidupnya yaitu Islam. Setelah resmi beragama Islam, Jessica menemui Amira di Pesantren dan memeluknya.

Di tahun yang sama, Jessica dipertemukan dengan pemuda Sholeh yang mencintai dia dan menerima masa lalu Jessica. Dan atas izin Allah SWT,  dengan bertaaruf Jessica menikah dengannya dibulan Mei 2020. Akhirnya Jessica hidup bahagia dengan agamanya maupun kehidupannya.

( Cerpen ini diikutsertakan dalam lomba menulis cerpen Okeylah Media )

Suka Artikel Ini ?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 5

No votes so far! Be the first to rate this post.

error: Content is protected !!