NaniHeryani Seorang pelajar yang hobi menulis cerpen dan ingin menjadi penulis terkenal. Lahir pada tanggal 05 Mei 2003 dilahirkan dari pasangan Bapak Ono dan Ibu Euis Kokom, ini merupakan kisah cerita yang dialami oleh saya sendiri. Mudah-mudahan bisa inspirasi bagi para pembaca. Penulis bisa dihubungi di sosial media : Instagram : Naher Nani Heryani Facebook : Naher Nani Heryani email : nanyheryany2@gmail.com

[ Cerpen Religi ] Impian Qurban Tukang Pijat keliling

4 min read

cerpen religi impian qurban tukang pijat keliling
1
(1)

[ Cerpen Religi ] Impian Qurban Tukang Pijat keliling

Cerpen Religi – Semua orang tentu mempunyai keinginan atau impian bukan? Cerpen ini mengisahkan tentang impian qurban tukang pijat keliling. Dimana dia harus bekerja keras, sabar, ikhlas, dan dia selalu melibatkan Allah disetiap do’a. Akhirnya dia dapat mewujudkan impiannya walaupun harus menyisihkan dari sebagian uang belanjanya untuk dikumpulkan di dalam celengan. Ibu Euis merupakan istri sekaligus ibu dari anak-anaknya yang kuat dan sabar dalam membina rumah tangganya dengan Pak Hartono, suatu ketika keluarga Pak Hartono dan IBu Euis ada biaya kebutuhan yang harus mereka tanggung demi anaknya. Tetapi  dia ikhlas bila uang celengannya harus terpakai.

Baca Juga : Cerpen Horor – Hantu Penunggu Belokan Angker Rumah Sakit Lama

Cerpen Misteri – Rumah Kosong

Keluarga Pak Hartono merupakan keluarga yang sederhana. Memiliki 2 orang anak dari pasangan istrinya, Euis Kokom. Di ruang keluarga mereka semua berkumpul membicarakan perihal biaya yang mereka harus hadapi. Membiayai 2 orang anak bukan hal mudah bagi Pak Hartono. Dia bekerja sebagai petani, dibantu oleh istrinya menjadi Ibu rumah tangga yang sekaligus sebagai tukang pijat keliling. Untuk bisa mencukupi kehidupannya. Ibu Euis memiliki keahlian dalam memijat, banyak orang yang ingin dipijat oleh Ibu Euis.

Hari Sabtu malam minggu sudah biasa ada orderan memijat di salah satu rumah. Ibu Euis mendatangi rumah Bidan Rianeu, yang selalu rutin setiap minggu ingin dipijat. Jam 7 malam Bu Euis datang kerumah Bidan Rianeu untuk memijat, terkadang pulang jam 11 malam. Walaupun merasa lelah seharian harus membantu suaminya bercocoktanam dan malam harus memijat.  Ibu Euis melakukan semua itu supaya bisa mencukupi kehidupan keluarganya dan membantu orang lain.

Dari penghasilan keahlian dalam memijat kebutuhan hidup keluarganya sangat terbantu. Sebagian uang dari hasil memijat, Ibu Euis menyimpan di kaleng celengan yang sudah beberapa tahun Ibu Euis simpan. Rencana bila sudah mencapai harga 1 ekor kambing, Ibu Euis akan membeli dan diqurbankan pada tahun ini. Tetapi ada hal  lebih penting yang anaknya butuhkan.

“Neng bagaimana, informasi tempat Prakrin ( Praktek Kerja Industri )?” Pak Hartono menanyakan kepada Annita selaku anaknya.

“Sudah Pak, Bu guru mengatakan Prakrinya boleh di luar kota atau di dalam kota.” Annita hanya menjawab seadanya.

“Kalau Bapak boleh menyarankan neng, mendingan Neng prakrinya di dalam kota saja, supaya biaya lebih ringan. Kalau di luar kota Neng harus kost ditambah lagi uang makan dan uang jajan. Coba Neng pikirkan Wildan yang sama butuh biaya. Kalau Neng prakrin di luar kota, takutnya Bapak gak bisa membiayai.” Bapak memberikan saran supaya Annita prakrin di dalam kota.

Annita hanyalah menunduk, tak kuasa ingin menolak saran dari Bapak. Sejujurnya Annita ingin prakrin di luar kota, Annita ingin menambah wawasan serta pengalaman di luar kota. Tetapi Annita juga tidak boleh egois memikirkan dirinya sendiri, masih ada Wildan yang sama membutuhkan biaya untuk sekolah SMP.

“Sudah Pak, kalau si Neng tetap ingin prakrin di luar kota. Insya Allah Ibu ada sedikit uang celengan, bias membantu untuk biaya si Neng,” usul Bu Euis.

“Itukan uang celengan Ibu yang jauh hari Ibu sudah siapkan untuk qurban tahun ini.” ucap Annita dengan suara parau.

“Tidak mengapa Neng, Ibu ikhlas mungkin tahun ini belum saatnya, kalau masih ada umur Ibu bisa qurban tahun depan.” Ibu Euis meyakinkan Annita.

“Makasih banyak Bu,” Annita memeluk tubuh Ibu Euis, tak kuasa Annita membendung air mata. Akhirnya cairan bening lolos turun membasahi pipi Annita.

*****

Setiap sepertiga malam Bu Euis selalu bangun dari tidurnya, melaksanakan sholat Qiamul lail serta berdo’a meminta kepada Allah supaya tahun ini bisa berkurban dan kebutuhan uang prakrin yang akan anaknya butuhkan tercukupi. Annita sebagai anak juga ingin membantu ekonomi Pak Hartono dan Bu Euis. Berangkat sekolah Annita selalu membawa jajanan ringan yang akan di jual pada teman-teman sekelas, dari uang penjualan jajanan ringan yang Annita jual, cukup membantu kedua orang tuanya. Ibu Euis tidak lagi harus membelikan alat tulis, karena Annita yang selalu membelinya dengan uang hasil penjualan. Menjalani hidup dengan kedua orang tua yang sederhana, membuat Annita hidup lebih banyak bersyukur, dewasa dan mandiri. Ibu Euis dan Pak Hartono juga bahagia menjalani hidupnya walaupun untuk mencukupi kehidupannya pas-pasan.

Beberapa bulan berlalu, dikarenakan ada COVID-19 banyak sekolah-sekolah pada diliburkan dan lockdown pembatasan jarak, sekolah Annita pun terkena imbas membuat prakrin ditunda, menjadi tahun depan.

5 hari sebelum menjelang Idul Adha keluarga Pak Hartono berkumpul lagi, mereka akan membicarakan pembelian kambing untuk qurban.

“Bu, Pak bagaimana perencanaan pembelian hewan Qurban tahun ini apakah jadi? Soalnya Bu guru mengatakan prakrin tahun ini di tunda.” Annita memulai pembicaraan.

“Yang bener Neng?” Ibu Euis menanyakan kepada Annita sedikit tidak percaya.

“Benar Bu, beberapa perusahaan juga membatalkan kerja sama dengan panitia penyelenggara prakrin yang ada di sekolah, karena ada covid-19.” Annita menjelaskan kepada kedua orangtuanya.

“Kalau begitu Bu, uang celengan Ibu biar belikan hewan qurban saja,” Pak Hartono menyarankan.

“Iya Pak, sekarang Ibu akan mengambil celengan dulu di kamar.” Dengan senyuman bahagia Ibu Euis pergi mengambil celengan.

Annita bersama Pak hartono menunggu Ibu Euis keluar dari kamar. Tak membutuhkan waktu lama menunggu Ibu Euis sudah datang, membawa kaleng celengan yang bertulisan ( UANG TABUNGAN UNTUK QURBAN).

“Kita hitung uang bersama-sama Pak,” sahut Ibu Euis, sambil membuka tutup kaleng celengannya.”

Ibu Euis mengeluarkan seluruh isi uang yang ada di dalam kaleng celengan.

“Alhamdulilah Bu, uangnya sudah terkumpul 3.250,000 .” Pak Hartono menyerahkan uang kepada Ibu Euis.

“Simpan saja oleh Bapak, besok atau lusa uangnya belikan kambing,” kata Bu Euis.

*****

 

Satu hari sebelum Idul Adha Pak Hartono sudah membeli kambing dari pasar hewan, dia memilih kambing Qurban dengan kualitas bagus, karena ini merupakan qurban pertama, dia ingin memberikan yang terbaik. Pak Hartono menuntun kambing tersebut yang akan dititipkan kepada panitia penyelenggara pemotongan hewan qurban.

“Assalamuaikum Pak DKM,” Pak Hartono mendatangi Pak DKM mesjid Al-istiqomah

“Waalaikum salam Pak Hartono, ada yang perlu saya bantu?” Dengan senyuman ramah Pak DKM menyambut.

“Kedatangan saya kesini ingin menyampaikan niat baik istri saya, yang ingin menitipkan hewan qurban.”

“Baiklah, yang ingin berniat berqurban tahun ini atas nama Ibu Euis Kokom.”

“Iya betul Pak, kalau begitu saya pulang dulu ada keperluan yang lain.” Pak Hartono berpamitan kepada Pak DKM masjid.

“Assalamuaikum.”

“Waalaikum salam warohmatullohi wabarrokatuh.

******

الله أكبر

 الله أكبر

الله أكبر

اللهلاا له الا

                هواللهاكبر

اللهأكبر

 ولله الحمد

Suara takbir bergema, terdengar diseluruh penjuru dunia yang mayoritas beragama islam, ini merupakan dimana hari raya Idul Adha telah tiba. Semua umat muslim nampak bahagia menyambut Idul Adha. Setelah melaksanakan sholat Idul adha dan mendengarkan khotbah keluarga Pak Hartono cepat-cepat kelapangan untuk menyaksikan penyembelihan hewan qurban. Di lapangan sudah berkumpul hewan qurban yang sudah disiapkan oleh panitia penyelenggara qurban, satu persatu hewan disembelih. Tinggal giliran terakhir kambing  qurban Bu Euis, saat panitia akan menyembelih kambingnya.  Bu Euis meneteskan air mata terharu dan bahagia tidak menyangka impian berqurban tahun ini terlaksana.

“Allhamdulilah Ya-Allah engkau mengabulkan do’a hamba, tahun ini hamba bisa berkurban. Semua penantian dan impian hamba bisa terkabulkan.”

Semua perjuangan dan kesabaran yang selama ini Bu Euis jalani  terbalas dihari Idul adha tahun 1441-H. Selalu berdo’a dan libatkan Allah dalam setiap urusanmu, jangan pernah berhenti berdo’a.

Adapun sejarah yang menganjurkan qurban:

Nabi Ibrahim adalah nabi yang mendapatkan gelar sebagai ‘Khalilullah’ yang artinya kekasih Allah, ini diberikan karena kesabarannya dalam menantikan keturunan yang tak kunjung datang.

Setelah lahirnya Nabi Ismail As, Nabi Ibrahim As mendapatkan ujian kembali dari Allah, dalam mimpinya dirinya diminta untuk menyembelih sang putra. Bahkan terdapat ayat yang menjelaskan perintah qurban yaitu perintah untuk menyembelih putranya lewat mimpi, ini tertuang dalam surah As saffat ayat 102.

Dalam surat tersebut dijelaskan, jika Nabi Ibrahim As, menjelaskan pada putranya jika dirinya bermimpi untuk menyembelih putranya. Dimana Nabi Ismail As dengan ketakwaannya pada Allah SWT menjawab, dirinya bersedia dan meminta sang ayah untuk melaksanakan perintah Allah sehingga masuk dalam golongan  orang yang sabar.

Bukan hal mudah bagi Nabi Ibrahim As untuk melaksanakan perintah tersebut, apalagi ditengah cemoohan dari orang sekitar. Bahkan hal ini membuat Nabi Ibrahim As bersedih dan ingin mengurungkan niatnya, tapi Nabi Ismail As memberikan dukungan pada sang ayah untuk segera melaksanakan perintah tersebut.

Saat keduanya yakin, pergilah ke padang terbuka. Nabi Ismail As tidak diikat kaki dan tangannya, bahkan bersiap dan memantapkan niatnya. Saat pedang diayunkan dan hampir mengenai leher Nabi Ismail As, Allah SWT segera menggantikan dengan seekor domba. Hal ini membuat Nabi Ibrahim As dan Nabi Ismail As lega karena telah melaksanakan perintah Allah SWT dengan baik. Dimana memberikan 3 pelajaran utama yaitu nilai ketakwaan pada Allah SWT, meningkatkan hubungan antar manusia dan meningkatkan kualitas diri. Mudah-mudahan hewan yang Ibu Euis qurbankan bisa mendapatkan Ridho dari Allah Swt

Suka Artikel Ini ?

Click on a star to rate it!

Average rating 1 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

NaniHeryani Seorang pelajar yang hobi menulis cerpen dan ingin menjadi penulis terkenal. Lahir pada tanggal 05 Mei 2003 dilahirkan dari pasangan Bapak Ono dan Ibu Euis Kokom, ini merupakan kisah cerita yang dialami oleh saya sendiri. Mudah-mudahan bisa inspirasi bagi para pembaca. Penulis bisa dihubungi di sosial media : Instagram : Naher Nani Heryani Facebook : Naher Nani Heryani email : nanyheryany2@gmail.com
error: Content is protected !!