Andri Purnama Seorang mahasiswa yang tidak menyukai Geometri Diferensial

[ Cerpen Misteri ] Rumah Kosong

4 min read

cerpen misteri - rumah kosong
0
()

[ Cerpen Misteri ] Rumah Kosong

Cerpen Misteri – Aku sudah mengawasi rumah itu sejak lama. Rumah kosong yang terletak tiga blok dari tempatku tinggal memang menyimpan banyak misteri. Orang-orang bilang, sebelum aku lahir, pernah ada kasus pembunuhan yang menewaskan seluruh anggota keluarga–yang berasal dari keluarga kaya–dan sang pembunuh tidak pernah ditemukan.

Baca juga : Cerita Horor – Hantu di Seberang jalan

Cerpen Horor – Hantu Penunggu Belokan Angker Rumah Sakit Lama

Namun, karena aku sendiri tak pernah hidup terlibat dalam era yang sama, aku tidak pernah tahu kebenarannya, karena berita mengenai pembunuhan itu tak pernah kutemukan di dalam internet.

Yang kuketahui sekarang ini, seseorang, bahkan mungkin lebih, menempati rumah kosong itu, mengabaikan cerita-cerita mengerikan yang beredar di luar sana. Awalnya aku pikir mereka hanya para tuna wisma biasa yang mencari tempat berteduh. Namun, dugaanku melayang lebih jauh dari itu.

Aku pernah melihat seseorang berpakaian serba hitam masuk ke dalam rumah itu. Walaupun malam hari yang tak kalah gelap berhasil menyamarkannya, aku sangat yakin kedua bola mataku tak menipu. Yang lebih membuatku penasaran adalah pria itu menenteng tas yang beratnya mungkin tak kalah dari seluruh buku pelajaran semasa aku sekolah dulu. Jadi, jelas dia bukan seorang tuna wisma, kan? Aku belum pernah melihat seorang gelandangan menenteng tas besar dan berat seperti itu.

cerpen misteri - pria misterius di rumah kosong
Cerpen Misteri – Pria Misterius di Rumah Kosong

Rasa penasaranku tak pernah lari. Semenjak melihatnya, pikiranku melayang ke mana-mana. Kata-kata pencuri dan perampok dan pernah keluar dari kepalaku. Memang, bukan urusanku untuk mencari tahu. Namun, bagaimana jika di lingkungan tempatku tinggal benar-benar ada perampok yang bersembunyi?

Bukan ingin diidolakan dengan menangkap sang perampok secara diam-diam, tetapi memang keinginantahuanku mencuat begitu saja, membuatku bergerak tak tertahankan untuk mengikuti jejak orang itu.

Aku masuk ke dalam rumah. Cerita hantu yang biasa mengisi dongeng sebelum tidur kuabaikan. Lagipula, aku masuk ketika siang hari. Jadi, selain tak mungkin ada hantu yang berkeliaran, jika si perampok itu ada di dalam rumah, aku bisa berteriak sekencang-kencangnya agar tetangga-tetangga yang tinggal di sekitar rumah kosong itu bisa langsung lari ke arah suara, kemudian menyelamatkanku.

Tahu apa yang terjadi selanjutnya? Ternyata dugaanku benar.

Aku berkeliling, mencari tahu. Untungnya, aku tak bertemu dengan si perampok yang kupikir akan ada di dalam rumah. Sebagai gantinya, aku melihat tumpukan uang yang tergeletak begitu saja di salah satu ruangan, terbalut dalam beberapa tas kain, persis seperti yang kulihat pernah ditenteng oleh pria itu.

Jumlahnya? Tak terkira. Mau bekerja sekeras apapun, kurasa tak akan pernah kudapatkan uang sejumlah itu. Jika satu ikat bernilai sepuluh juta, berarti kemungkinan besar ada lebih dari satu milyar di setiap tasnya. Aku melihat lima tas, yang berarti jumlahnya pasti lebih besar dari lima milyar.

Aku tak perlu mengecek isi tas satu-satu sebelum memutuskan bahwa memang ada sesuatu yang tak beres. Maksudku, teknologi saat ini sudah sangat canggih. Orang-orang akan menyimpan uang dalam nominal besar di bank, atau minimal aplikasi-aplikasi penyedia transaksi virtual. Jika pria itu benar-benar sang pemilik uang, aku yakin dia tak akan menggeletakkannya begitu saja.

Kesimpulannya? Kumpulan yang ada di dalam ruangan ini sudah pasti berasal dari pencurian atau perampokan.

Tak ingin menunggu lebih jauh, aku segera berlari keluar. Tidak berteriak, melainkan langsung menghubungi orang-orang setempat untuk meminta bantuan dan membocorkan fenomena luar biasa yang bisa dimuat di banyak media massa. Namun, tetap tak tergesa-gesa agar tak menimbulkan banyak kecurigaan.

“Seseorang menggunakan rumah kosong itu untuk menyimpan uang curian!”

Aku segera memberitahu tanpa berbasa-basi, membuat si orang yang kuketuk pintu rumahnya segera memanggil ketua RT dan beberapa orang penting untuk memastikan kebenaran akan pemberitahuanku.

Kami berlima; si tetangga yang rumahnya kuketuk, pak RT, diriku sendiri, dan dua orang lain yang dianggap penting, masuk menjelajahi rumah.

Aku memandu mereka dengan cepat. Aku tahu di mana tumpukan uang itu digeletakkan, jadi tak perlu membuang-buang waktu lagi, menghindari si perampok yang bisa datang kapan saja.

Anehnya, pintu kamar tempat di mana tumpukan uang itu berada tertutup. Padahal aku tak ingat pernah menutupnya. Maksudku, aku kan lari terbirit-birit, mana sempat aku memikirkan pintu untuk ditutup, kan?

Namun, berpikir bahwa mungkin saja aku salah, aku mencoba untuk tidak peduli. Jadi, begitu kami berlima ada di depan ruangan yang seharusnya, aku segera membuka pintu.

Apa yang ada di dalam sana membuatku terbelalak. Tidak dengan empat orang lainnya, tetapi hal tersebut membuatku benar-benar terkejut.

Uang-uang itu lenyap. Ruangan itu kosong. Semuanya menghilang tak tersisa.

“Di mana?” Salah seorang dari mereka langsung bertanya, dan tentu saja secara spontan aku menjawab, “Uang-uang itu ada di sini seharusnya.”

Benar, seharusnya. Namun, kenyataannya? Semua menghilang.

Pertemuan itu ditutup dengan berbagai pertanyaan yang mereka lontarkan padaku. Apakah aku benar-benar melihatnya? Apakah aku tak salah melihat dan berhalusinasi? Kenapa aku masuk ke dalam rumah kosong ini?

Tentu, pertanyaan-pertanyaan itu kujawab dengan serius, sebaik mungkin, dan berpikir bahwa mereka akan menerima jawabanku. Namun, ketika aku bilang, “Aku melihat seseorang masuk ke dalam rumah ini di malam hari,” mereka langsung mempertanyakan kejiwaanku.

“Tak pernah ada orang yang masuk ke dalam rumah kosong ini di malam hari.” Pak RT berkata, dan aku tak bisa menyanggah pertanyaannya. Bagaimanapun, dia tinggal di sekitar tempat ini. Segala hal yang ada di tempat ini sudah pasti, seharusnya, diketahuinya. Jadi, pertemuan itu benar-benar ditutup tanpa adanya hasil.

Oh, tidak, tentu saja tidak.

Aku tidak ingin dicap sebagai pembohong. Selain itu, sebenarnya ada beberapa pertanyaan yang masih mengganjal di kepalaku. Pertama, aku yakin melihat orang itu, di malam hari, masuk ke dalam rumah. Kedua, jika memang si perampok itu menyembunyikan seluruh uangnya, ke mana dia menyembunyikannya?

Sisiran yang kami lakukan ke seluruh penjuru rumah memang tidak memberikan hasil apapun. Tas-tas itu tak pernah ditemukan, tetapi aku tahu memindahkan lima tas besar seperti itu tidaklah mudah.

Kemungkinan besar, perampok itu bukan hanya seorang atau dua orang, melainkan minimal lima orang–agar satu orang mengambil satu tas masing-masing. Namun, bukan berarti pergi begitu saja akan mudah. Membawa kabur satu tas penuh berisi uang pasti membutuhkan kekuatan dan kecepatan yang luar biasa. Apalagi, tak lebih dari lima menit aku pergi dan memanggil orang-orang.

Ada ruangan rahasia. Setidaknya itulah satu-satunya alasan paling logis yang bisa kupikirkan. Jadi, aku masih mengawasi rumah itu seorang diri.

Hari-hari telah berlalu. Aku tak menemukan tanda-tanda kehidupan. Aku bingung, penasaran, dan mulai berpikir mungkin aku saja yang salah, walaupun bukan berarti aku bisa menerimanya begitu saja.

Aku hampir putus asa, tepat sebelum secara tiba-tiba bayangan di jendela depan rumah tampak dan memperlihatkan seseorang tengah mengayunkan benda. Sayangnya terlalu gelap, jadi aku tak tahu benda apa yang digenggamnya. Yang jelas, sebelumnya dia mendorong seseorang.

Seketika, aku mendengar teriakan, “Jangan! Jangan!” melengking begitu keras. Aku bisa mendengarnya dengan jelas. Pikiranku memberikan gambaran aneh akan kekerasan.

Apakah si orang yang bayangannya bisa kulihat dari jendela tengah menggenggam pisau?

Tunggu! Gila! Apakah seseorang tengah melakukan upaya pembunuhan?

Aku melesat secepat kilat. Kedua kakiku beradu dengan suara sol yang menempas rerumputan. Napasku terengah, jantungku terasa terbakar. Namun, aku tak peduli. Seseorang di dalam sana membutuhkan bantuan, seseorang lainnya membutuhkan waktu untuk menenangkan diri agar tak melayangkan pisau itu ke tubuh lawannya.

Aku membuka pintu, mengempaskannya, kemudian berteriak, “Hei! Berhenti!” dengan sangat keras.

Namun, ketika aku masuk, alangkah terkejutnya diriku.

Tak ada apa-apa di sini. Rumah ini hanya rumah kosong.

Suka Artikel Ini ?

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

Andri Purnama Seorang mahasiswa yang tidak menyukai Geometri Diferensial

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!