[ Cerpen Keluarga ] Tetangga Zalim

8 min read

cerpen tetangga membakar rumah karena iri
5
(1)

Cerpen keluarga tetangga zalim – Beragam kehidupan dalam bertetangga, bermacam pula sifat-sifat karakter mereka. Pahit, manis dan asam rasanya. Seperti halnya dengan Dian, tetangga Tina yang nyaris setiap hari memamerkan harta benda tanpa bosan. Memaksa Tina agar mau menilik barang yang baru dibeli, tak jarang lisan Dian menuturkan kalimat-kalimat sarkas yang merendahkan martabat seseorang selama melakukan aksi pamer. Sebagai tetangga berseberangan rumah yang terletak cukup jauh dari keramaian, Tina yang paling kerap menjadi bahan cemooh dari mulut kotor Dian.

Seorang tetangga nekat membakar rumah tetangga gara-gara panas melihat si tetangga membawa pulang mobil baru. Berita memalukan.

***

cerpen tetangga membakar rumah karena iri

[ Cerpen Keluarga ] Tetangga Zalim

POV Tina.

Dinn… dinn…

Suara klakson itu terdengar tidak jauh dari luar rumahku. Tak perlu keluar untuk menjenguk, aku cukup paham bahwa seruan itu bukan untukku melainkan untuk tetangga depan rumahku.

Ini sudah biasa terjadi, tentu saja membuatku hapal di luar kepala.

Tak diragukan lagi, pasti tetanggaku itu membeli barang-barang baru lagi. Kemarin kulkas, kemarinnya lagi lemari, kemarinnya lagi mesin cuci, entahlah kalau untuk hari ini. Masa bodoh, aku tidak ingin tahu.

Tokk tokk…

Aku berdecak. Tidak salah lagi, itu pasti dia, si tukang pamer.

Pintu kubuka. “Ada apa, Mbak?” tanyaku padanya.

Dian tersenyum sumringah padaku. “Itu Tin, bisa bantu aku angkat sofa? Aku baru beli satu set sofa beserta meja, karena tidak ada buruh, bisa ‘kah aku minta tolong kepada Suamimu?”

Selalu melontarkan alasan yang sama, tidak ada buruh angkat. Tapi, sebagai tetangga yang budiman juga baik hati, tentu saja aku tak menolak. “Baiklah.”

Bagaimana cara agar aku benar-benar tidak tahu apapun barang yang dibeli oleh Dian? Aku tidak ingin tahu, namun ia seakan memaksaku supaya tahu. Paksaannya selalu disampulkan dengan kalimat tolong.

“Mas, Mas…” aku berseru ke dalam, memanggil-manggil Mas Hendra.

“Iya, Dik. Ada apa?” Mas Hendra menyahut tanpa menampakkan batang hidung.

“Mbak Dian minta tolong, nih.”

“Sebentar…”

Baca Juga : [ Cerpen Keluarga ] Antara Cinta, Kenangan dan Upaya Menjaganya

Ah, Suamiku itu pasti sedang lelah. Ia baru beberapa menit pulang dari kerja, dan sekarang harus bergerak tanpa upah. Dian hanya tahu menyuruh tanpa membayar sepeserpun. Kalau hanya sesekali tak masalah, berbeda kalau setiap kali beli barang selalu Suamiku yang dicari untuk meminta bantuan. Jengah aku dibuatnya.

Niat Dian untuk pamer benar-benar murni. Ia rela menunggu di teras rumahnya sampai Mas Hendra pulang kerja. Bahkan, matanya tak pernah teralihkan dari rumah kami. Kalau sudah begitu, bagaimana aku bisa memberi alasan? Mengatakan tidak bisa membantu karena Mas Hendra sedang tidak di rumah, sementara Suamiku itu ada di kamar dan Dian sempat melihat kepulangan Suamiku.

Tidak bisa berlindung diri. Beberapa menit setelah Mas Hendra pulang, Dian akan datang mengetuk pintu lalu berkata, tolong kepadaku. Menyebalkan.

Aku ingin masuk dan menunggu Mas Hendra di dalam, namun tampaknya Dian tak membiarkanku melakukan itu. Ia bertahan di ambang pintu rumahku sambil mengoceh tidak jelas. Bibir nyinyirnya begitu khas kalau sudah berbicara.

“Jangan sungkan, Tina… nanti kalau kamu beli perabotan pasti kami bantu juga…” Dian tersenyum, tetapi bukan senyum tulus. Senyumnya terkesan mencemooh.

Sindiran telak Dian tepat mengenai sasaran. Ia memang menyindirku, karena selama kami bertetangga tak pernah sekalipun aku mengisi perabotan rumah. Rumah kontrakan ini sudah disediakan sofa, meja makan beserta meja masak. Aku tak perlu lagi membeli perabotan baru, yang tersedia saja sudah lebih dari cukup untuk kelurga kecilku.

Lagipula, uang kami hanya cukup untuk makan sehari-hari dan jajan untuk tiga orang anak.

***

“Dik.”

“Hm?” aku berdehem— menyahut panggilan lembut dari Mas Hendra.

“Ada teman Mas yang menjual sepeda motor bekas pemakaian sendiri. Dia sudah ganti motor baru, dan motor lama tak terpakai lagi, dia menawarkan kepada Mas, tak masalah kalau harus mencicil bulanan.”

“Motor jenis apa?” tanyaku.

“Motor matic, Dik… yang kepalanya lebar seperti stang sepeda.”

Walau pengguna motor bebek sejati, namun aku cukup tahu jenis sepeda motor yang dijelaskan oleh Suamiku. Masih dalam kategori motor kekinian, biarpun lebih banyak pengguna motor berbody besar lainnya saat ini.

“Berapa cicilannya?” tanyaku lagi.

“Murah, Dik. Cuma lima ratus ribu selama dua tahun setengah.”

Tidak terlalu berat. “Ambil saja, Mas… nanti aku bantu bayar cicilannya.” mengingat aku juga bisa menghasilkan uang, tak masalah kalau hanya membayar cicilan sepeda motor sebesar lima ratus ribu setiap bulan.

Tentu saja uang yang aku hasilkan seratus persen halal. Seminggu sekali aku berjualan makanan kering seperti peyek, keripik pisang, keripik tempe yang aku titipkan dibeberapa warung makan. Lumayan untuk tambahan uang belanja dan jajan anak-anak.

Kulihat, senyum bahagia menghiasi wajah manis Suamiku. Tampaknya ia bahagia bisa membeli motor kekinian. “Baiklah, Dik. Besok Mas bilang sama Darto.”

Kini tatapan sumringah tertuju padaku. Mas Hendra menatapku lekat. “Iya, Mas…” bersikap acuh, aku memilih fokus melipat baju.

“Dik, Mas mau min—”

“Nanti malam, Mas!” aku tersipu. Wajahku merona.

“Kenapa dengan nanti malam?”

Aku menatap tajam Mas Hendra. “Mas mau minta jatah ‘kan?” mataku mendelik.

Suamiku itu menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Bukan itu… Mas mau minta dimasakkan nasi goreng kampung.” katanya, lalu tersenyum kikuk.

Telingaku panas seperti mengeluarkan asap. “Se-sebentar, tinggal sedikit la-lagi.” aku terbata. Duh, malu karena sudah salah mengerti.

“Iya, Dik, Mas tunggu.”

Aku lekas berpacu menyelesaikan pekerjaan. Suamiku Sayang, sabar sebentar, ya. Aku akan membuatkan nasi goreng kampung spesial untukmu.

***

Susai ucapan, sore ini Mas Hendra pulang membawa motor baru. Pagi ini ia berangkat kerja naik ojek agar pulangnya tidak kelimpungan membawa dua motor sekaligus. Suamiku memang cerdas.

“Assalamualaikum…”

Aku beranjak dari ambang pintu. “Waalaikumsalam, Mas.” kuraih tangan kokoh Mas Hendra, lalu mencium punggungnya. “Ini motornya, Mas?” tanyaku sesudah menyalami.

Mas Hendra mengangguk mantap. “Keren, ‘kan?”

Aku mengacungkan jempol. “Sangat keren. Seperti Mas, hehehe.”

“Woahh… Ayah beli motor baru!” anak bungsuku berseru girang. “Asik!” ia heboh sendiri, aku dan Mas Hendra terkekeh karenanya.

“Ehem. Motor pinjaman, ya?” tiba-tiba Dian muncul. Berdiri di teras rumah, menegakan leher dan mengamati motor baru kami dengan mata bergerak ke sana-kemari.

Sudah kuduga, Dian pasti ingin tahu. Sesekali balas pamer tak masalah, bukan?

“Alhamdulillah motor baru, Mbak.” aku menunjukan surat lengkap kepada Dian, BPKB beserta STNK yang baru saja diserahkan oleh Mas Hendra sebagai bukti kepemilikan kami yang sah.

Dian tersenyum masam. “Palingan juga motor bekas, iya ‘kan?”

Kali ini saja, biarkan aku menyombongkan diri. Motor ini masih hitam mengkilap, yang memakai pasti merawatnya dengan baik, dan tak akan kusia-siakan kesempatan ini.

“Baru beli, Mbak… ini buktinya masih cerah dan mengkilat.” aku tak menunjukan isi BPKB karena masalah nama. Punya bukti sah saja sudah lebih dari cukup, kok.

Mas Hendra yang paham akan perasaanku mengenai tetangga depan rumah kami, hanya menggelengkan kepala mendengarkan kami yang saling menyindir satu sama lain. Mas Hendra turun dari motor, menghampiri Angga lalu mengajaknya masuk ke dalam.

“Darimana dapat uang? Pinjam di bank, ya?”

Ya Allah, nyinyir sekali mulutnya. “Alhamdulillah bukan dari uang riba, murni dari gajih Suamiku, Mbak.”

Dian tampak sewot. “Memangnya cukup?”

Aku mengangguk. “Alhamdulillah cukup, Mbak… sudah lama kami menabung uang untuk beli motor cash, ditambah lagi Suamiku baru naik gajih, makanya sekarang kami bisa beli motor baru.” jelasku, berdusta.

Dian menjadi kesal seketika. Ia mendengus keras hingga terdengar ke telingaku. Membuang muka dengan gaya angkuh, ia kemudian memasuki rumah.

BLAM!

Aku berjengit ketika Dian membanting pintu rumahnya dengan kasar.

“Astaghfirullah hal adzim.” aku menggelengkan kepala sambil istighfar. “Baru juga sepeda motor, bagaimana kalau mobil?” aku bergumam sendiri. “…mungkin mati bunuh diri, hahaha…” gelak tawa mengiringi langkahku.

Karena ada motor baru, enaknya pergi jalan-jalan sore bersama Suami. Pasti menyenangkan, sekalian pamer-pamer ria kepada lingkungan kompleks. Ups! Sepertinya jiwa pamer Dian sedikit menular padaku.

***

Dugaanku tidak meleset. Setelah melihat kami punya motor baru, si Dian akan kepanasan lalu membalasku dengan memamerkan barang-barang baru. Hari ini Dian membawa pulang motor matic bewarna merah, berbody bohai dengan setir hampir sama seperti motor milikku.

Menyesal aku duduk di depan rumah.

Tiinn…

Dian membunyikan klakson motor. “Hay, Tina.” sapanya.

Senyum terpaksa kulempar pada Dian. “Selamat sore, Mbak.”

Dian tersenyum puas. “Bagaimana dengan motor baruku? Keren ‘kan?”

Masih dengan senyum yang sama, aku hanya menganggukan kepala sebagai jawaban.

“Dahlah, masuk saja…” batinku memberi solusi, tentu saja aku tak menolak.

Ketika baru hendak mengangkat bokong, Dian lebih cepat memanggilku sehingga aku terpaksa menunda keinginan karenanya.

“Tin, ayo jalan-jalan sore. Aku pakai motor besarku, kamu pakai motor kecilmu.”

jemariku membentuk sebuah kepalan. Aku menggeram. “Lain kali saja, aku sedang sibuk.” jawabku setenang mungkin. Aku tak ingin menampakan kemarahanku, hanya akan membuat Dian besar kepala dan beranggapan bahwa aku iri kepadanya. Aku tidak iri, hanya saja tidak suka kalau direndahkan.

“Sibuk apa?” Dian masih berusaha mencegahku pergi.

“Banyak cucian.” aku berdiri.

“Katanya gajih Suamimu sudah naik, masa masih cuci baju sendiri di rumah. Di loundry, donk.”

Aku menarik napas sedalam mungkin, kemudian kuhembuskan kembali. “Tidak apa-apa, Mbak… terlalu malas akan membuat tubuh tidak sehat. Lagipula yang kucuci bukan baju, tapi piring.” jawabku sekenanya.

Dian tertawa. Lebih tepatnya, tertawa meremehkan. “Pintar beralasan, padahal hidup memang pas-pasan.”

Kali ini Dian semakin berani mencibirku secara terang-terangan. Terlalu muak, aku memilih enyah dari depan matanya.

“Permisi, Mbak!” sengaja kutekan nadaku. Aku langsung melangkah— meninggalkan teras, tak lupa sekalian membawa ponselku.

“Kau dengarkan ini, Tina. Besok aku akan membeli mobil baru, jangan lupa dilihat ya. Tunggu kedatangan mobilku di depan rumahmu.”

Aku tiba dipintu. “Selamat ya, Mbak… maaf, besok aku tidak bisa menjenguk, ada banyak pekerjaan di dapurku.” setelah memberi jawaban, pintu kututup tanpa menimbulkan suara dentuman. Pelan dan penuh perasaan, lalu kukunci dari dalam.

Samar-samar masih bisa kudengar suara tawa cekikikan dari arah depan. Tawa Dian persis seperti tawa Kuntilanak. Menyeramkan.

***

“Berapa totalnya, Mang?”

Mamang penjual sayur mengumpulkan belanjaan yang sudah kupilih. “Jagung sekilo, tomat dua biji, cabai merah semata, ayam sekilo, udang setengah kilo, petai setengah kilo, kangkung dua ikat jumbo, bumbu ayam goreng dua bungkus dan penyedap rasa empat bungkus. Total semua delapan puluh empat ribu, Neng.”

Aku menarik selembar uang merah, lalu menyerahkan uang tersebut kepada si Mamang.

“Tumben belanja banyak.” Dian menimbrung.

Bola mataku berputar. Lagi-lagi kedatangan orang ini. Padahal sudah belanja paling duluan, tapi masih saja berpas-pasan. “Mas Hendra baru gajihan kemarin sore, minta dimasakkan sambal udang campur petai, anak-anak minta ayam goreng.” aku menjelaskan sedetail mungkin agar Nenek Sihir itu berhenti mengajukan pertanyaan yang berkelanjutan.

“…’kan gajih Suamimu sudah naik, kalau bisa makan-makanan bergizi seperti ini setiap hari, jangan satu bulan sekali.”

Dan ternyata aku salah. Bodoh, seharusnya aku sudah paham dengan watak Dian yang pantang berhenti mencemooh sebelum si korban pergi.

“Iya, Mbak. Terimakasih sarannya.”

“Ini, Neng, kembaliannya ada enam belas ribu.” kata Mamang, begitu kental logat Jawanya ketika menggunakan bahasa Indonesia.

“Terimakasih. Beli ya, Mang.”

“Iya. Jual, Neng…”

Aku pun berlalu. “Tina, jangan lupa nanti sore…” Dian berseru— mengingatkanku. “Lihat mobil baruku.” imbuhnya, kemudian tertawa cekikikan.

“Beli mobil baru, Neng Dian?” kurasa, Mamang telah salah karena mengajukan pertanyaan seperti itu kepada Dian.

“Iya, Mang. Kemarin baru menggadaikan SK, uangnya untuk beli mobil.” Dian menjawab dengan penuh bangga.

“Bayar cicil, Neng?”

Dian sumringah. “Mamang tak perlu tahu masalah pembayaran, pokoknya cukup tahu bahwa saya sudah punya mobil sekarang.”

Aku tertawa dari kejauhan. Mobil hasil cicilan saja bangganya selangit, dipamerkan ke sana ke sini pula. Kupikir urat malu Dian sudah putus, makanya pongah tanpa berkaca.

***

Dinn dinn…

Itu pasti Dian dan mobil barunya. Persetan. Aku tak ingin melihat, apalagi menampakan diri di depan matanya. Kesombongan Dian selama ini sudah cukup membuatku muak.

Dinn dinn….

Lagi, mobil di luar sana menyalakan klakson. Kali ini suaranya terdengar sangat dekat dengan rumahku.

Dinn dinnn…

Dan semakin dekat. Aku mendesah gusar.

Tokk tokk.

“Allahuakbar!”

Begitu nekat, sampai-sampai Dian rela mengetuk pintu rumahku. Mau tak mau aku beranjak, meninggalkan televisi dalam keadaan menyala dan membukakan pintu.

“Apa lagi, Mbak!?” nadaku begitu ketus.

Dian menarik tanganku, dan membawaku keluar dari rumah. “Lihat, ini mobil baruku. Bagaimana?”

Lagi-lagi aku mendesah. “Iya, sangat bagus.” jawabku. “Sudah ya, aku mau istirahat.” timpalku kemudian.

“Makanya, jadi orang jangan suka pamer.”

Aku berhenti ketika mendengar cibiran itu. Badanku masih membelakangi Dian.

“Iri ‘kan? Sakit hati ‘kan?”

“Tidak, Mbak. Biasa saja… justru ikut bahagia.”  akupun melanjutkan langkah usai menjawab demikian.

Dian mendengus remeh. “Orang susah memang ahli bersandiwara.”

Aku berusaha mengatur napas yang mulai memburu. Dadaku bergejolak. “Sabar…”

“Makanya, kalau rumah masih mengontrak jangan sok pamer-pamer beli barang baru, giliran dibalas malah kenapasan seperti orang kebakaran jenggot.”

Baiklah. Kesabaranku sudah kandas.

“Mbak, tunggu saja tanggal mainnya.”

Dian tergelak. “Mau pamer barang baru lagi? Oke, siapa takut.” ternyata Suami Dian ada di mobil sejak tadi. “Cus, babe, kita pergi dari rumah kontrakan ini.” dan mereka pun berlalu bersama mobil kreditan itu.

BLAM!

Pintu rumah kubanting dengan keras, tak peduli dengan status rumah mengontrak. Kita lihat saja, Dian. Sampai di mana kesombonganmu itu akan bertahan.

POV Tina End

“Begitulah, Pak, ceritanya…”

Pak polisi itu manggut-manggut setelah memahami cerita panjang lebar Tina dari A sampai Z. Semua diceritakan tanpa terkecuali.

“Jadi, karena terlampau sakit hati, bukan karena iri?”

Tina mengangguk. “Saya lelah terus-terusan dihina, padahal saya tidak pernah mengusik hidup Mbak Dian. Saya beli motor bukan niat untuk pamer ke Mbak Dian, tapi karena kebetulan rumah kami berseberangan, mau tak mau motor itu terlihat oleh Mbak Dian. Andai kata bisa dihilangkan seperti iklan deodorant, pasti sudah saya lakukan, Pak.” ia menjelaskan mengenai perasaan serta ketidaksengajaan memperlihatkan motor kredit bekas kepada Dian.

Sarkan memberi tanda tangan pada catatan. “Baiklah, Bu… dengan begini semua masalah sudah cukup jelas, tapi walau bagaimanapun Ibu tetap salah karena sudah membakar rumah Bu Dian. Ibu Tina harus menjalani prosedur hukum yang sudah ditetapkan di negara kita.”

Tina menunduk sedih. “Iya, Pak. Saya juga menyesal karena tidak bisa mengendalikan diri, tapi saat ini saya ingin minta satu hal kepada bapak sebelum memasuki persidangan nanti.

“Permintaan apa itu, Bu?” tanya Sarkan.

“Tolong hapus berita mengenai kejadian ini yang tersebar internet, hanya itu.”

Sarkan mengangguk setuju. “Baiklah.” ia menyorongkan tangan di udara, mempersilahkan Tina beranjak. “Ibu boleh kembali ke sel tahanan.” katanya.

Tina berdiri, dua orang Polisi muda mengawasi dari sisi kanan dan kiri. Selanjutnya, Tina dimasukan kembali ke dalam sel lalu dikunci gembok dari luar.

Seorang tetangga nekat membakar rumah tetangga gara-gara panas melihat si tetangga membawa pulang mobil baru.

Berita memalukan.

Suka Artikel Ini ?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

error: Content is protected !!