[ Cerpen Keluarga ] Tepian Senja

Cerpen Keluarga – Tepian Senja

Cerpen Keluarga – Takdir memang tak dapat ditolak oleh kita sebagai manusia. Namun fokus kita adalah tentang penerimaan. Baik itu takdir baik atau takdir buruk, kita harus menerima. Yakinlah semua adalah jalan Tuhan untuk menempa diri kita agar semakin kuat dalam menjalani hidup ini.

Kak Bayu adalah kakak kandung Mega. Lelaki berperawakan tinggi dengan kulit sawo matang itu sangat disayangi Mega. Bukan karena Kak Bayu adalah kakak satu-satunya, melainkan sifat mengayomi dan tanggung jawabnya yang besar terhadap keluarga. Meski terkadang sifat jahilnya membuat Mega geleng-geleng kepala. Hidup keluarga Mega baik-baik saja setidaknya sebelum Bapak jatuh sakit dan menghembuskan nafas terakhirnya.

Kepergian Bapak memang menjadi pukulan berat bagi Mega. Sehingga Mega, Kak Bayu dan Ibu terpaksa meninggalkan rumah lama mereka dan pindah ke tempat yang lebih tenang: pantai. Tempat itu sangat menarik bagi Mega dan Bayu, karena pemandangan senjanya yang luar biasa. Mereka betah berlama-lama duduk berdua di batu-batu pinggir pantai.

Namun kepindahan mereka justru menimbulkan masalah lain. Kak Bayu dan Ibu berubah sikap. Ada apa dengan mereka? Mampukah Mega memecah tanda tanya besar di kepalanya?

Baca Juga : Cerpen Religi – Impian Qurban Tukang Pijat Keliling

Semburat warna senja menerpa wajahku. Lukisan alam memang selalu tersaji cantik saat senja begini. Burung-burung beterbangan hendak pulang. Angin laut membelai lembut rambut panjangku yang tergerai.  Terasa sejuk. Pantas saja banyak penyair yang menjadikan senja sebagai inspirasi dalam puisinya.

Aku sedang memejamkan mata sembari menghayati suara angin ketika seorang laki-laki dengan tubuh tinggi semampai menghampiri kemudian duduk di atas batu di sebelahku. Aku membuka mata dan memperhatikan gerak-geriknya. Kaki jenjangnya sengaja ia luruskan. Sambil menatap ke arah laut, ia menyisir ke atas poni yang sudah mulai panjang itu, membuat nilai ketampanannya bertambah berkali-kali lipat.

“Kak Bayu, senjanya terlihat damai ya.” Pernyataan itu mungkin membuat Kak Bayu bosan karena betapa seringnya aku ucapkan.

Kak Bayu hanya diam. Pandangan matanya masih fokus menuju laut. Aku memang yang paling cerewet di antara kami berdua. Namun beberapa hari ini Kak Bayu memang terlihat lebih pendiam dari biasanya. Entahlah, setahuku ia bukan sosok yang begitu tertutup. Tapi aku tidak akan memaksanya untuk bercerita.

***

Sinar mentari pagi mulai masuk melalui celah jendela. Aku mengusap mataku yang masih terasa berat. Beberapa saat kemudian kudengar pintu kamar diketuk. Tanpa menunggu jawaban, Ibu langsung masuk ke kamarku membawa sarapan dan membukakan jendela. Kemudian membuka lipatan kursi roda, menggendongku lalu mendudukkanku di atasnya.

“Bu, Kak Bayu dimana?” kataku sembari meraih roti selai yang tadi dibawa Ibu.

Ibu tidak menanggapi pertanyaanku. Sudah beberapa hari ini Ibu seperti itu dan aku pun tak bosannya bertanya. Meski setelah aku diam, Ibu selalu terlihat menyeka ujung matanya. Aku tidak tahu betul apa yang sedang terjadi. Apakah Kak Bayu membuat masalah?

Aku menggerakkan kursi roda menuju ruang tamu. Sesaat lamunanku melayang. Aku sangat dekat dengan kak Bayu. Ibu pun sangat menyayangi kami. Tapi entah, akhir-akhir ini semua terlihat berbeda. Kak Bayu pun makin tertutup. Padahal biasanya ada saja yang ia ceritakan padaku. Entah kisah percintaannya yang tak pernah mulus atau sekedar bercerita tentang isi dompetnya yang kosong karena terlalu banyak menuruti keinginan pacar barunya yang cantik tapi matre itu. Sudah berkali-kali kusuruh ia menjauhi cewek itu, tapi Kak Bayu adalah sosok pencinta yang tulus, yang rela mengorbankan apapun demi seseorang yang disayanginya, termasuk aku dan Ibu.

“Ya sudahlah, sebahagianya Kak Bayu saja,” kataku waktu itu sambil mengerucutkan mulut. Kak Bayu mengambil karet hendak menguncir mulutku, segera saja kutepis tangannya.

“Ih Kak Bayu!” responku justru membuat ia makin geli dan tertawa terbahak-bahak.

“Jangan sering manyun. Nanti nggak ada cowok yang mendekatimu,” celetuknya sambil mengacak pelan rambutku. Mukaku makin masam dibuatnya. Namun nampaknya nasehatku tak sepenuhnya ia abaikan. Beberapa hari setelah itu, Kak Bayu putus dari pacarnya. Masalah siapa yang memutuskan terlebih dulu, aku tidak peduli dan sebenarnya tidak jadi soal. Menurutku Kak Bayu terlalu berharga jika hanya dilihat dari segi kepemilikan uang.

Sejak Bapak kami meninggal. Kak Bayulah yang menggantikan peran jadi kepala keluarga. Mengayomi dan mengasihi aku dan Ibu seperti yang Bapak lakukan dulu.

Untuk sedikit melupakan sakit ketika ditinggal pergi Bapak, kami bertiga akhirnya memutuskan untuk tinggal di dekat pantai seperti ini. Semua dilakukan demi aku yang rentan terpukul ketika menghadapi kepergian. Ibu dan Kak Bayu adalah sosok yang tegar. Sedang aku mengikuti sifat Bapak yang perasa dan lemah terhadap sesuatu yang tiba-tiba. Jadilah ketika usaha bengkel milik Bapak suatu hari dilalap api, batinnya sangat terbebani. Berhari-hari tidak nafsu makan dan akhirnya jatuh sakit. Kami bertiga sudah berkali-kali menguatkan Bapak, tapi memang sudah takdirnya – Bapak menghembuskan nafas terakhir keesokan harinya.

Sudah bertahun-tahun sejak kepergian Bapak, aku masih saja patah. Kalau bisa dibilang kehilangan orang tua rasa sakitnya jauh berkali-kali lipat dibanding ketika kita patah hati. Rasanya begitu hampa. Kerinduan yang tiada akhir.

Aku memandang teras depan rumah, membayangkan ada aku, Kak Bayu, Bapak dan Ibu saling bersenda gurau sambil mencolek sambel di cobek dengan buah mangga muda. Betapa sering dulu kami menghabiskan waktu dengan makan rujak bersama seperti itu.

Tiba-tiba saja aku merasakan sakit yang sangat di kepalaku. Kuletakkan kedua tangan di pelipis.

“Aaarrgghh!!” Seberkas sinar terang lewat tiba-tiba di pikiranku.

“Mega! Kamu Kenapa? Mega!” Ibu mengguncang-guncangkan tubuhku.

“Kepalaku sakit banget, Bu,” kataku ketika membuka mata sambil menahan sakit yang belum saja hilang.

Sesaat kemudian Ibu masuk ke kamar dan membawakanku obat yang entah aku pun tak sadar sejak kapan Ibu punya obat itu.

“Sudah ini diminum dulu,” kata Ibu sembari menyodorkan obat dan air putih.

Aku ikuti perintah Ibu. Benar saja, rasa sakitku perlahan berangsur menghilang.

“Ini obat apa, Bu? Sejak kapan Ibu punya obat ini. Mega sebelumnya belum pernah lihat obat semacam ini Bu,” kataku disambut helaan nafas panjang dari Ibu.

“Yang penting kamu ndak ngerasa sakit lagi kan, Nduk,” kata Ibu sambil membereskan botol obat dan gelas kemudian membawanya ke dapur.

“Ibu dapat obat ini dari dokter yang merawat kamu waktu kamu …, “ Ibu menghentikan kalimatnya.

Ibu menghampiriku sambil membawakan sepiring bubur, “Ibu suapin ya.”

Aku mengangguk sambil menatap mata Ibu dengan dalam. Entah mengapa ada keengganan dari dalam diriku untuk menanyakan kalimat Ibu yang menggantung tadi. Mata Ibu berkaca-kaca. Entah apa itu, yang jelas Ibu belum mau menceritakan seluruhnya. Aku tidak ingin Ibu menangis, itu saja. Meski beribu pertanyaan kini bergelayut di pikiranku.

Sore ini laut menjadi temanku lagi. Tempatku bercerita meski tak sepatah katapun keluar dari mulutku. Kini gerakku terbatas sebab aku ada di kursi roda. Aku tak tahu kapan tepatnya aku mulai memakai kursi roda. Yang jelas dulu aku bisa berlari dan bergerak dengan leluasa.

Seorang lelaki dengan tinggi semampai menghampiriku. Seharian aku tak melihatnya.
“Kak Bayu seharian kemana saja? Aku rindu ngobrol dengan Kak Bayu. Rindu ngobrol nggak penting di tepi pantai begini,” kataku.

Kak Bayu hanya diam. Seperti beberapa pertemuan kami akhir-akhir ini.

“Kak Bayu kenapa tidak menemui Ibu? Kenapa tidak pulang ke rumah? Ibu terlihat sedih saat aku menyebut nama Kak Bayu.”

Kak Bayu tersenyum kepadaku. Senyum yang ditahan. Senyum yang menyembunyikan kepedihan.

“Apapun masalahnya Kak, pulanglah. Kakak tahu kan Ibu tidak pernah marah lebih dari tiga hari,” kataku sembari memperhatikan wajahnya yang kian hari kian pucat. Aku jujur khawatir dengan Kak Bayu. Dimana sekarang dia tinggal? Apakah dia makan tiga kali sehari? Apakah ada yang merawatnya ketika dia sakit? Aku sungguh tak tahu apapun. Kakak tak pernah memberitahuku. Ibu tak pernah mau menjawab pertanyaanku.

Lagi, kepalaku diserang rasa sakit yang dahsyat. Kututup mataku. Kutekan kedua pelipisku. Rasa sakitnya justru malah bertambah dahsyat. Cahaya putih lagi-lagi datang dengan sangat menyilaukan. Sebuah ingatan silih berganti muncul di pikiranku. Pabrik yang terbakar. Kepergian ayah. Tangisku yang terdengar paling keras di antara Ibu dan Kak Bayu.

Kusebut sekali lagi, “Ayah…” Rasa sakit kini tidak hanya menyerang kepalaku tapi juga dadaku.

Belum lagi rasa sakit itu hilang, ingatan kedua langsung mengambil alih. Gambaran keseruan pindahan kami ke pantai ini. Aku bekerja sama dengan Kak Bayu mengangkut barang-barang. Makan pisang goreng hangat-hangat buatan Ibu. Tertawa bersama. Betapa aku dan Ibu bahagia memiliki Kak Bayu.

Sekilas cahaya putih datang lagi. Seperti slide dalam program powerpoint, ingatan selanjutnya muncul setelah cahaya putih itu. Jalanan menuju rumah. Aku masih berseragam kerja dibonceng seseorang yang menggunakan jaket kulit hitam.

“Kak Bayu nanti mampir beli martabak yuk,” ajakku kepada seseorang yang saat itu memboncengku. Lampu merah menghentikan laju motor kami.

Tiba-tiba ada suara klakson yang sangat keras dan menggema. Diiinn…Diiinn… Terdengar makin dekat… makin dekat… Aku memalingkan pandangan ke bagian belakang, sebuah cahaya putih menyilaukan mataku. Tidaaakkk!!!

Kubuka perlahan mata yang terasa basah dan perih olehku kala itu. Kuusap sedikit dan ternyata berwarna merah. Otakku langsung menerjemahkannya sebagai darah. Ada besi-besi besar juga roda-roda besar di depan mataku. Aku menyadari bahwa aku sedang tergeletak di aspal di depan sebuah truk besar. Ada sesuatu lain di bawah badan truk itu. Seseorang dengan jaket kulit hitam. “Kk..kkaak Ba…,” kataku dengan terbata. Inginku berdiri dan memeluk orang itu, tapi kaki dan tubuhku mati rasa. Kusebut nama itu sekali lagi dengan rasa sesak yang begitu sangat, “Kak Bba… Bayu.” Lalu semuanya menjadi gelap.

Seseorang mengguncang tubuhku dengan keras sambil terisak. “Mega..Mega..sadar nak.. Mega!”

Aku membuka mataku dengan rasa sesak dan sakit kepala yang masih sama. Kulihat sekelilingku langit sudah hampir gelap. Aku masih duduk di kursi rodaku di pinggir pantai.

“Mega, minum obat dulu. Biar rasa sakitnya bisa berkurang.” Ibu menyodorkan obat dan segelas air putih sambil terisak. Kali ini aku tidak langsung meminum obat itu. Aku mencari kebenaran dari ingatan-ingatan yang tiba-tiba datang padaku itu.

“Bu…Kak Bayu…,” ucapku disambut pelukan Ibu. Hujan makin deras turun dari kedua pelupuk matanya.

“Kamu sudah ingat, Nak?” kata Ibu sesenggukan.

“Bu, sebenarnya ada apa ini?”

“Ibu ditelpon seseorang malem-malem. Ada truk yang rem blong waktu itu. Kok ya kamu dan kakakmu ada disitu waktu itu, Nak…,” Ibu tak kuasa menahan tangis. Kemudian menarik nafas dan melanjutkan kata-katanya. “Kakimu terlindas ban. Dokter bilang gak bisa balik normal kayak dulu. Kepalamu terbentur keras. Kemungkinan ada beberapa ingatan yang hilang. Dokter bilang kamu bakal amnesia, Nak.”

“Lalu kondisi Kak Bayu?” kataku was-was.

“Kakakmu lebih kangen Bapak, Nak. Kakakmu nyusul Bapak.” Tangis Ibu makin pecah. Ia menepuk berkali-kali dadanya. Sesak yang sama menghampiriku. Kuatur nafas baik-baik tapi rasa sakit itu sudah menguasai tubuhku.

“Tapi tiap sore aku duduk disini dengan Kak Bayu, Bu. Nggak mungkin Kak Bayu…,” Aku tercekat. Tak sanggup kulanjutkan kalimatku.

“Kenapa Ibu nggak bilang sebelumnya ke aku, Bu?”

Ibu diam sejenak, mengatur nafas. Menahan tangisnya kemudian mulai menjawab pertanyaanku. “Kamu nggak bakal percaya kata Ibu. Kamu bakal sedih dan terpukul tapi tetap dengan tidak menerima apapun yang Ibu omongin ke kamu. Ibu kenal kamu, Mega. Ibu nggak mau kamu makin terpuruk dengan kondisi ingatan kamu yang belum pulih itu. Ibu kasih kamu waktu untuk mengingat apapun itu sendiri. Tubuhmu akan lebih mudah menerima itu dibanding cerita dari Ibu,”

“Aku masih ketemu Kak Bayu, Bu. Nggak mungkin Kak Bayu…,” Aku menggeleng pelan. Kuulangi lagi kalimat yang tak pernah sanggup kuselesaikan itu berkali-kali. Betapa sulitnya aku menerima satu demi satu kata yang terlontar dari mulut Ibu.

“Ibu selalu mengawasi kamu, Nak. Kamu selalu sendiri disini. Kamu ngomong sendiri. Nggak pernah ada yang menemanimu, termasuk Kak Bayu.” Tangis Ibu pecah lagi.

Ada sesuatu dalam hatiku yang memaksaku untuk mengedarkan pandangan menyusur tiap-tiap sudut. Di bawah salah satu lampu yang ada di sepanjang pinggir pantai, aku menangkap satu sosok.

“Kak Bayu,” kataku dalam hati.

Dia hanya diam, berdiri dan tersenyum padaku. Dia tak berkata satu patah kata pun, tapi aku bisa mendengar apa yang ingin disampaikannya.

“Jaga Ibu, dek. Tetaplah kuat. Jangan jadi Mega yang lemah. Kakak sudah menyelesaikan tanggung jawab Kakak menjaga kamu dan Ibu. Sekarang tanggung jawab itu Kak Bayu beri ke kamu. Kakak sudah bahagia disini, dek. Kamu boleh rindu, tapi jangan kamu sesali kepergian Kakak. Kamu bahagia kalau Kak Bayu bahagia kan, dek?” Aku mengangguk pelan dengan butir air mata yang menggantung.

Bayangan Kak Bayu perlahan menghilang. Kupeluk Ibu sesegera.

“Bu, jangan sedih lagi. Ada Mega disini.”

Di langit yang lebih bersih dari biasanya, sebuah bintang mengerling padaku. Tangisku tumpah.

Mentari Eka

Mentari Eka. Gadis kelahiran Semarang yang memiliki nama pena Keripik Kentang ini memang menyukai dunia sastra sejak kecil. Hobi menulisnya diawali sejak ia duduk di bangku sekolah dasar. Baginya menulis adalah suatu bentuk rekreasi. Dengan menulis, pikiran kita akan bebas berkelana kemana saja dan bebas membayangkan hal-hal menarik di mana saja.

Recommended Product

Comments to: [ Cerpen Keluarga ] Tepian Senja
    error: Content is protected !!