[ Cerpen Keluarga Sedih ] Tak Diinginkan

7 min read

cerpen keluarga sedih anak tak diinginkan
5
(1)

Cerpen keluarga sedih tak diinginkan – Menjadi seseorang yang tak diinginkan bukanlah sesuatu yang Nurman impikan. Tersisihkan, teracuhkan, tak dianggap. Semua dilalui tanpa batasan waktu. Namun, disuatu masa,  perilaku-perilaku tak mengenakan itu akhirnya memberikan sebuah jawaban yang selama ini dipertanyakan oleh Nurma. Memang benar mereka membenci Nurma, sementara Nurma tidak tahu apa-apa tentang masa lalu mereka pada jaman itu. Kepada Ayah dan Ibunya, Nurma hanya berharap suatu saat nanti mendapat kasih sayang yang layak dari mereka.

***

Baca Juga :

[ Cerpen Keluarga ] Tetangga Zalim

[ Cerpen Inspirasi Keluarga ] Semua Salah Ayah

Cerpen Keluarga Sedih – Tak Diinginkan

cerpen keluarga sedih anak tak diinginkan

Di sini ramai dan padat. Banyak yang berjualan. Ada sayur-sayuran, makanan juga mainan. Aku berdecak kagum melihat keindahan pasar. Mataku berbinar cerah. Jarang sekali Ibu mau mengajakku ke pasar, beruntung Adikku membujuknya tadi.

Aku terlena dengan suasana ramai di pasar, hingga tanpa kusadari sosok Ibuku sudah berada jauh dari tempatku berjalan. Aku segera berlari menyusul Ibu.

Kuraih tangan kanan Ibu ketika aku sampai didekatnya. Aku menggenggam jemari lembut Ibu, tapi Ibu tidak membalas genggaman dariku. Ibu fokus pada sekeliling pasar— melihat-lihat sesuatu yang akan dibeli. Aku terus mengikuti langkah Ibu sembari menggandeng tangannya, dengan Ibu yang menggenggam erat tangan mungil Anita di sebelah kirinya.

Kami berhenti disalah satu tempat penjual sayuran. Ayuk-Ayuk itu tersenyum menyambut kedatangan kami bertiga.

“Sayurnya, Mbak…” Ayuk menawarkan sayur yang dijual.

Gandenganku terlepas ketika Ibu menarik tangan. Sebelah kiri masih tetap mencekal tangan Anita, dan yang tak kupegang lagi tengah sibuk memilah sayuran.

“Kangkungnya berapa satu ikat, Yuk?”

“Satu ikat dua ribu, ambil yang seikat isi tiga cuma lima ribu.” Ayuk itu menjelaskan kepada Ibu.

“Saya ambil yang lima ribu…” Ibu membongkar sayur kangkung sampai yang paling bawah. Memilih yang paling segar untuk dibawa pulang.

Mataku mendapati susunan bakso yang berbungkuskan plastik transparan. “Ibu, mau bakso…” aku menarik-narik tangan Ibu sambil menunjuk ke arah bakso itu. Aku suka sekali makan bakso, apalagi kalau dimasak sup.

Ibu berdecak. “Jangan bawel!” Ibu menyentak tangannya dengan kasar, membuat tubuhku ikut sedikit tersentak. “Makan saja apapun yang dimasak!” lanjutnya.

Aku menundukkan kepala. “Baiklah, Ibu…”

“Bu, mau bakso.” Kali ini Anita yang minta. Adik perempuanku yang berusia enam tahun ke atas.

Kudapati segaris senyum tulus di bibir Ibu. Ia menatap ke arah Anita, lalu mengelus pucuk kepala Anita.

“Iya sayang… mau bakso ayam atau daging?”

Aku terkejut mendengar pertanyaan Ibu. Keinginan Anita langsung dituruti, padahal permintaan kami sama-sama mau bakso. Tundukkan kepalaku semakin dalam. Caraku menyembunyikan kesedihan ini. Hal yang seperti ini sudah biasa terjadi padaku. Anita disayang-sayang, sementara aku disisihkan.

Anita mendekatiku. “Kakak mau bakso apa?” tanyanya padaku. Mata bulatnya begitu polos saat sedang menatapku.

“Kakak ikut yang Nita makan saja.” Jawabku.

Tatapan Anita kembali pada Ibu. “Aku mau dua-duanya.”

Ibu tertawa geli. “Baiklah, sayang.” Ibu kembali bercakap dengan Ayuk. “Bakso ayam sama dagingnya sekalian, Yuk.” Katanya.

“Total semua ada tiga puluh ribu.” Ayuk menyerahkan belanjaan pilihan Ibu yang sudah dibungkus dalam plastik.

Ibu membuka dompet kemudian menyerahkan selembar uang kertas bewarna biru. Kembalian dua puluh ribu diserahkan, dan diterima oleh Ibu.

“Terimakasih.”

“Sama-sama, Yuk. Beli ya.”

“Jual, Mbak…”

Kamipun pergi dengan Ibu yang menggandeng tangan Anita, sementara aku berjalan di sisi kiri Ibu tanpa bergandeng tangan.

***

Napasku berembus dengan berat. Tiba-tiba pandanganku menjadi buram, dan mataku terasa panas. Saat air asin itu memaksa menitik, cepat-cepat aku menyeka tanpa meninggalkan jejak di pipi.

Aku menarik napas dalam-dalam, kemudian kuhembuskan kembali.

Aku menatap selembar kertas putih di tangan. Kertas yang berisikan soal ulangan, dan mendapat nilai empat puluh dari guru. Ibu tidak akan peduli apalagi marah melihat nilai-nilai rendahku selama di Sekolah. Hanya saja, aku ingin menjadi lebih baik dari sebelumnya. Tak kusangka akan sesulit ini.

 

Berjuang tanpa dukungan, rasanya sama seperti makan sayur tanpa garam. Terasa hambar. Aku butuh dukungan dari Ayah dan Ibu sebagaimana mereka mendukung Anita. Mendorong Anita hingga menjadi murid yang berpestasi walau masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

Aku iri sekali. Rasa ini hanya bisa kupendam sendiri. Lagi pula, yang mereka sayangi bukan orang lain melainkan saudari kandungku sendiri. Anita— Adikku yang manis itu kini sudah tumbuh besar dan menjadi anak pintar. Taat kepada orang tua, peduli dengan Kakak serta menjadi kebanggaan keluarga. Jauh berbeda dengan diriku.

Aku bagaikan remahan rengginang bila dibandingkan dengan Anita. Tak sepadan.

Sekian menit aku mengayuh sepeda kesayangan, hingga sampailah aku di halaman rumah. Berucap salam saat di depan pintu, kemudian aku langsung masuk setelah melepas sepatu kumuhku.

Seperti biasa, Anita pulang lebih dulu dan Ibu sendiri yang menjemputnya ke Sekolah. Dulu waktu masih Sekolah Dasar, aku selalu pulang sendirian dengan berjalan kaki.

Kasih sayang mereka berbeda sekali, tetapi aku memakluminya. Mungkin karena Anita anak bungsu, alasan yang membuat Anita sangat dicintai oleh Ayah dan Ibu.

“Kakak…!”

Anita berlari ke arahku. Ia langsung memeluk pinggangku, dan kubalas dengan belaian di kepalanya. Sesaat kemudian, ia mendongak— menatapku.

“Bagaimana dengan ulangan Kakak hari ini?”

“Alhamdulillah lancar, kalau Nita?” tanyaku kembali.

Tak ada jawaban. Anita langsung menarik tanganku, membawaku berlari melewati ruang tamu. Aku tergopoh mengikutinya.

“Nita, jangan lari-lari, nanti jatuh.”

 

Anita tak menggubris teguranku. Ia terus menyeretku memasuki rumah hingga kemudian lari kami berhenti saat sampai di ruang keluarga.

Terlihat Ibu sedang duduk di sofa. Kertas ulangan yang kuyakini milik Anita berada di tangannya. Aku langsung menghampiri Ibu untuk mencium punggung tangannya.

“Assalamualaikum, Ibu.”

“Wa’allaikumsalam.” Ibu menjawab dengan nada dingin, pun raut wajahnya datar.

Aku melepas tas dari punggung. Resleting tas kutarik hingga ke pangkal dan memperlihatkan isi di dalamnya. Aku mengeluarkan kertas ulangan dan menyerahkannya kepada Ibu.

Ibu menerima hasil ulanganku. Ia menatap kertas tersebut dengan sorot yang sulit diartikan. Matanya menyiratkan ketidaksukaan— mungkin, reaksi yang tak pernah ada sebelumnya. Berarti aku mulai diperhatikan walau berawal dari ekspresi wajah yang tak senang.

“Mau sampai kapan kau terus seperti ini?”

Mataku melebar mendapat teguran itu. Ibu baru saja melayangkan protes kepadaku. Aku harus bahagia atau sedih? Sepertinya bahagia, ya? Karena ini respons pertama yang pernah aku dapat dari segala harapanku.

“Maaf, Ibu…” aku menunduk bersalah sembari duduk bersimpuh di hadapan Ibu. Anita berdiri di belakangku menjadi penonton.

Andaikan nilaiku bagus, akan ‘kah Ibu memberi respons positif? Seharusnya aku tidak terlena dengan nilai-nilai rendahku. Aku menyesal.

Ibu beranjak meninggalkan sofa. Aku memerhatikan setiap gerakan langkahnya. Ia berjalan ke arah pintu, membuka bagian belakang pintu lalu kembali padaku dengan membawa sapu lidi di tangan.

Dan, ratusan lidi yang diikat menjadi satu mendarat di lenganku. Beralih ke punggung, pipi bokong lalu paha.

 

Aku meraung. Tubuhku terbaring meringkuk di lantai menerima sebat demi sebat dari Ibuku. Anita menangis ketakutan menyaksikan pemukulan ini.

“Kau memang tidak berguna!”

“Anak pembawa sial!”

“Menyesal aku melahirkanmu!”

Sambil terus memukuliku, Ibu juga melontarkan kata-kata yang menyayat hati. Aku menangis sejadi-jadinya merasakan sakit di fisik dan hati.

“BERHENTI!”

Suara berat itu berhasil menghentikan serangan Ibu yang membabi-buta. Aku masih meringkuk di lantai sambil sesenggukan. Badanku nyeri.

“Ada apa lagi ini?” Ayahku memasuki ruangan dan menghampiri Ibu. Ia menatap ke arahku sesaat, lalu kembali bersuara. “Bu?”

Ibu mengambil kertas ulangan milik Anita beserta milikku. “Ini, Yah. Lihat! Gara-gara Nurma sering dapat nilai jelek Anita juga jadi ikut-ikutan. Nurma memberi dampak negatif kepada Anita! Nilai ulangan Anita kali ini turun sangat parah. Anita dapat nilai lima puluh, Yah!” Ibu marah-marah. Dia terlihat begitu kesal.

Baru kusadari, ternyata perhatian itu bukan tertuju untukku melainkan kepada Anita. Aku memang Kakak yang bodoh dan tidak berguna.

Maafkan Kakak, Anita. Adikku sayang.

Sekarang bergantian Ayah yang memukuliku. Dia menggunakan sabuk pinggang kulit kesayangannya. Ah, ini memang sudah biasa terjadi kepadaku. Ayah dan Ibu akan langsung memukuliku tanpa ampun jika ada kesalahan yang kulakukan berdampak pada Anita.

Seperti waktu itu, saat aku terjatuh dari sepeda bersama Anita. Keadaanku cukup parah, Anita hanya mengalami benturan kecil di kepala, membuat keningnya sedikit benjol. Aku keseleo. Tulang sendiku terasa seperti mau patah, ditambah luka-luka terkelupas di kaki serta tangan. Anita yang diutamakan, sementara aku ditangani oleh Nenek.

Sepulang dari berobat, aku mendapat hukuman. Dipukul secara bergantian oleh Ayah dan Ibu, lalu dikurung dalam kamar selama dua puluh empat jam. Mereka tidak memberiku makan dan minum selama melakukan pengurungan. Aku lapar, dan untungnya ada Anita. Ia datang membawakan makan dan minum, memberikan kepadaku melalui jendela kamar. Aku terselamatkan dari rasa lapar pada saat itu.

Terimakasih, Adikku.

“Kakak, maafkan aku… hiks.”

Anita menghampiriku. Ia berdiri  di tepian ranjang. Aku tersenyum tegar, lalu menarik tangan Anita.

“Ini kesalahan Kakak sendiri, kamu tidak perlu minta maaf.” Aku membelai lembut rambut halus Anita. “Kakak yang seharusnya minta maaf, gara-gara Kakak nilai kamu jadi ikutan jelek. Maafkan Kakak, ya.”

Pelukan Anita bertambah erat. Ia menenggelamkan wajah di dadaku. Tangisnya semakin menjadi. Aku terharu. Aku tidak kuat dengan kesedihan ini. Tangisku luruh tanpa bisa dibendung.

***

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan berganti tahun. Waktu terus berlalu. Aku dan Anita tumbuh bersama, namun dengan bekal kasih sayang yang tak sama.

Hari ini aku sudah lulus SMA, sedang Anita baru menduduki kelas 2 SMP. Karena Sekolahku sudah selesai, maka selesai pula tugas Ayah dan Ibu dalam mendidikku selama delapan belas tahun ini. Mereka tak memberiku tawaran untuk melanjutkan kuliah, dan aku cukup tahu bahwa tabungan mereka disediakan untuk pendidikan Anita sampai pada gelar Sarjana.

 

Aku mengalah. Aku tak menuntut. Masa depan Anita memang jauh lebih penting daripada aku. Anita harus menjadi orang sukses kelak.

Semoga Allah mengabulkan cita-cita Adikku yang ingin menjadi Dokter. Sungguh, pekerjaan yang mulia sekali. Penyelamat.

BYURR!

Bajuku basah. Seseorang menyimburku dengan secawan cat. Aku terkejut, ingin marah namun urung ketika ujung spidol mencoret pipiku. Si pelaku tertawa puas dengan hasil perbuatannya, dan tawanya menular padaku.

Alih-alih melanjutkan aksi murka, aku justru ikut tertawa karenanya. Tak tinggal diam, aku pun membalas perbuatan mereka. Menyimbur mereka dengan warna cat yang berbeda-beda serta membuat coretan-coretan aneh di wajah. Kami terbahak bersama.

Ibu mungkin akan marah melihat aku pulang dengan keadaan penuh warna, atau mungkin tidak peduli sama sekali. Ah, seharusnya aku sadar bahwa selama ini diriku tak pernah dipedulikan, diperhatikan apalagi disayangi.

Aku hidup dengan kesendirian, dan aku sudah terbiasa tanpa perhatian dari Ayah dan Ibu.

“Terimakasih, Rin…” ucapku kepada Karin. Ia mengantarku pulang sampai di depan rumah. “Ayo, mampir dulu.”

Karin menggeleng— menolak tawaranku. “Aku mau langsung pulang. Lapar…” katanya, sambil meringis dan memegang perut.

Aku terkekeh. “Baiklah. Hati-hati, ya.”

Dan setelahnya, motor matic yang aku tumpangi tadi melesat meninggalkan kediamanku. Aku menghembuskan napas kemudian melangkah masuk. Saat memasuki ruang keluarga, aku mendapati Ayah dan Ibu sedang duduk di sofa sambil menonton televisi.

Aku berbelok menghampiri mereka. Melihat aku datang dengan kondisi penuh coretan dan warna, mereka langsung memberi penolakan telak ketika aku hendak menyalami. Mereka menggeliat risih.

“Tidak sopan!” Ibu berujar kesal.

Aku membungkuk sungkan. “Assalamualaikum.” kataku, mengucap salam dengan pelan.

Ayah dan Ibu tak menyahut. Mereka fokus pada layar televisi. Memang sudah biasa, tapi masih saja nyeri di hati ini belum membiasakan diri. Aku berlalu dari hadapan mereka. Pergi membawa tangis tak bersuara, hanya menitikkan air mata dalam diam.

***

Sikap mereka tak kunjung berubah. Mungkin tidak akan pernah berubah. Aku sehat, aku sakit bahkan mati sekalipun, mereka tidak akan peduli. Aku tak tahu ada salah apa pada diri ini hingga mereka begitu mengucilkanku dan mengutamakan Anita.

Apakah aku anak pungut?

Tidak mungkin, di Kartu Keluarga namaku tertulis jelas di sana sebagai anak kandung.

Tapi kenapa perlakuan mereka kepadaku sangat berbeda?

Aku ingin tahu, dan ketika aku bertanya, Ibu malah menamparku. Ayah memakiku, mengatai aku sebagai anak yang tidak tahu diuntung karena sudah dilahirkan dan dibesarkan.

Aku terpukul. Merasa bersalah lalu bersujud di kaki Ibu. Memohon ampunan dari sosok wanita yang telah melahirkanku hingga bertaruh nyawa karenaku.

Sejak saat itu, aku tak pernah lagi mempertanyakan tentang diriku. Hingga suatu hari, kebenaran itu datang dengan sendirinya. Aku yang sudah tumbuh dewasa dan akan segera melangsungkan pernikahan dengan lelaki pilihanku sendiri, dihadapkan dengan suatu kenyataan pahit.

Nenek mengungkapkan segala tentang Ayah dan Ibu. Alasan mereka membenci diriku.

Aku, Nurma Alfifah, anak yang tak diinginkan kehadirannya oleh Rusdi dan Arini. Aku tumbuh di rahim Arini— Ibuku pada saat Ayah tengah menjalani pelatihan terakhir untuk lolos menjadi seorang Tentara.

 

Hanya tinggal sehari, Ibu yang sudah tak sabar mendatangi asrama Ayah dengan perut yang membesar untuk menagih tanggung jawab. Alhasil, Ayah gagal lolos. Ayah marah sekali, kata Nenek.

Terlalu marah, Ayah sampai memaksa Ibu untuk menggugurkan kandungan, dan Ibu menuruti perintah Ayah karena sudah dibutakan oleh cinta. Berbagai upaya dilakukan sendiri. Memukul-mukul perut, menelan obat penggugur kandungan hingga mengonsumsi makanan yang dapat membahayakan janin.

Aku bertahan. Allah menciptakan aku sebagai janin yang kuat, hingga tumbuh dewasa dan menjadi wanita yang tangguh.

Terimakasih, ya Allah.

Harapanku, suatu saat nanti Ayah dan Ibu mau menerima kehadiranku. Menganggap aku sebagai anugerah bagi mereka. Jikapun tidak terjadi, maka harapanku jatuh kepada Suami dan anak-anakku. Semoga mereka mampu memberi kasih sayang yang tak pernah aku dapatkan sewaktu kecil, walau kasih sayang yang berbeda.

( Cerpen ini diikutsertakan dalam lomba menulis cerpen Okeylah Media )

 

Suka Artikel Ini ?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

error: Content is protected !!