[ Cerpen Keluarga ] Badut Kesayangan Mama

6 min read

cerpen keluarga badut kesayangan mama
5
(2)

Cerpen Keluarga Badut Kesayangan Mama – Gadis berambut panjang menyadari sesuatu. Dibalik senyum lebar pemilik wajah berhidung merah, tersembunyi garis-garis ekspresi berbeda. Air wajah yang membuat si sulung tertarik, hingga dia terus mengingat pernak-pernik tentang sosok dengan riasan tebal.

Awalnya tidak terasa sakit, tetapi bertambah banyak jumlah putaran roda waktu, sesuatu menusuk hatinya. Ada hal berbeda dari kasih sayang yang dia terima. Sesekali gadis itu ingin bersuara, lalu protes, tetapi semua itu hanya menjadi imajinasi.

Memberikan kasih sayang yang sama besar kepada dua insan sedarah, merupakan kewajiban dari setiap orangtua. Namun sterotip tentang tiada cinta yang mampu terbagi sama rata terus menghantui. Dia berusaha mengabaikan, menyingkirkan duri di hatinya. Berupaya memahami cara malaikat tanpa sayapnya menyampaikan cinta, karena adil bukan berarti sama, tapi sesuai porsi yang setiap orang butuhkan. Namun hatinya memberontak, perasaan menguasai pikiran. Sampai si sulung berhenti di ujung persimpangan, lalu memilih berbelok, lantas turut memoleskan bedak seperti badut. Demi membuat dirinya meraih seteguk lebih banyak kasih sayang.

***

Baca Juga :

[ Cerpen Keluarga Sedih ] Tak Diinginkan

[ Cerpen Keluarga ] Tetangga Zalim

[ Cerpen Keluarga ] Tepian Senja

cerpen keluarga badut kesayangan mama

Cerpen Keluarga – Badut Kesayangan Mama

Dia selalu datang setiap tahun, meskipun gadis kecil tidak menyukai sosok berhidung merah dan perut gendut. Berulang kali omongannya menjadi angin lalu, hingga bibirnya terasa malas mengutarakan hal yang sama. Sesaat langit hari itu tidak lagi cerah untuknya. Namun, suasana tetap meriah, sejumlah balon menempel di sebagian sudut ruang tamu. Canda dan tawa mengisi tanggal merah di akhir pekan, setidaknya masih lebih mendominasi dibanding sedikit debu yang menempel di hati si putri satu hari.

Menjelang matahari tumbang, lelaki berbadan tambun pamit, setelah menyimpan pakaian polkadot di dalam plastik. Wajahnya tidak lagi berwarna putih, bola merah di hidung juga telah menghilang. Dia berjalan memunggungi rumah berwarna putih.

“Kak, nanti malam mau makan di luar?” tanya ayah saat gadis berkuncir kuda sedang bolak-balik membawa sisa makanan ke dapur.

“Besok aja gimana, Yah?”

“Kenapa? Ada janji sama teman?”

Si sulung menggerakkan kepala, ke kanan dan kiri. Kemudian berlalu, sibuk kembali memindahkan sisa-sisa makanan ke dapur, dan membuang sampah kasatmata ke tempatnya.

“Kalau Tia selalu bisa, kan?” pertanyaan kini teralih pada bocah paling kecil. Si bungsu mengangguk mantap, kemudian dia kembali sibuk dengan boneka.

Matahari belum tumbang saat ruangan berisi sofa dan meja telah kembali kinclong.

“Nah, semua sudah beres, sekarang kita siap-siap! Dua puluh menit, yang mau ke kamar mandi, ganti baju, silakan!” setelah bertepuk tangan dan menarik seluruh perhatian, kepala rumah tangga memberi perintah. Tanpa menunggu angin bertiup, si bungsu melontarkan protes.

“Mama juga, ya, dua puluh menit nggak pakai nawar,” tambahnya setelah menanggapi protes anak-anak. Tidak terima dengan jangka waktu yang diberikan.

Dari balik jendela mobil yang tertutup rapat, netra gadis berkuncir kuda menangkap sosok di bawah pohon. Seorang lelaki dewasa sedang duduk mengipas rambut palsu ke sekitar wajah dan leher. Langit telah menggelap, bulan mengambil alih pusat cahaya, tetapi bapak berkulit sawo matang itu tidak terlihat nyaman dengan suasana yang ada di sekitarnya. Gadis di dalam mobil terdiam cukup lama, menilik seseorang di bawah pohon dari tempatnya, hingga sengatan listrik mengusik ingatannya. Dia mengenal wajah berwarna putih dengan bulatan merah di hidung. Tampak serupa dengan seseorang di rumah berwarna putih siang tadi. Bibirnya bergerak membentuk bulatan.

Lampu lalu lintas masih berwarna merah saat wanita bercelana panjang oranye datang mendekati pohon paling rindang, dia menggandeng seorang bocah. Setelah sedikit berbasa-basi, si kecil bersanding dengan lelaki berbadan tambun. Kedua sudut bibir tertarik lebar.

Namun senyum dan tawa lelaki bertubuh tambun itu turut berlalu, pergi bersama langkah bocah laki-laki yang baru saja bersenda gurau dan berfoto dengannya. Dia terlihat melipat wajah, lalu kembali membebaskan rambut hitamnya dari warna-warni wig.

***

Roda waktu berputar beriringan dengan bola mata gadis kecil berambut panjang yang bertambah hitam setiap harinya. Sungguh pekat. Kala itu, dia memegang lembaran kertas tebal nan kaku sembari melangkah tanpa melepas senyuman. Sepanjang kedua kakinya bergerak, selama itu juga dia tidak berhenti menebar senyuman. Mentari telah berada di atas kepala, namun tetap tidak sanggup mengusik wajah cerah si gadis berseragam merah putih.

“Mama…! Kakak pulang…!” setengah berteriak dia memanggil, setelah berhasil melepas sepatu dan membuka pintu. Berjalan menyusuri setiap ruang.

“Ma…! Lihat, deh! Aku juara satu!” serunya sambil berlari kecil menuju sosok yang sejak tadi dirinya cari.

“Waaah…! Kakak hebat! Lomba apa, Kak? Gambar atau mewarnai?”

“Bukan, Ma….” Lawan bicara gadis kecil mengubah air wajah saat dia hanya mampu melontarkan jawaban seadanya.

“Aku menang lomba cerdas cermat…. Maaf, ya, Ma….”

Wanita berkulit coklat sawo matang mengangkat dagu si sulung dengan jemari tangan. Lalu tersenyum sembari berkata, “Jangan sedih, dong…! Mama tetap bangga, kok!”

Dia pikir, saat itu dia bisa mempercayai kalimat lawan bicaranya. Tidak perlu ada rasa bersalah. Berbekal omongan dari wanita dewasa yang setiap hari dirinya temui, dia terus berjalan ke depan, menuju tempat pancaran sinar berasal. Namun bertambah banyak usia yang gadis kecil miliki, semakin besar wujud keraguan yang menyesakkan dada. Menyaksikan informasi yang dia terima berbeda dengan kenyataan di depan mata.

“Kak, lihat, deh! Aku juara tiga!” seru si bungsu yang selalu memakai pernak-pernik berwarna merah muda. Dia datang dari balik pintu.

“Wah, selamat, ya! Lomba apa?”

“Lomba gambar. Tiara hebat, ya, Kak?” balas wanita berambut panjang yang baru saja masuk dalam obrolan. Dia menggenggam piala berwarna kuning emas dan di tangan lain tas jinjing hitam.

“Mama habis jemput Tiara?”

“Simpan ini, nanti kasih tahu Ayah.” Setelah mengangguk wanita berambut panjang menyerahkan benda setinggi botol satu liter ke bocah berpipi bulat.

“Padahal aku udah bilang, Mama nggak usah datang, tapi tetap ke sekolah.” Perempuan berseragam merah putih yang menjawab.

“Masak datang ke sekolah anaknya tidak boleh?”

***

Setelah berpikir berulang kali, menimbang ini itu, perempuan berambut panjang akhirnya memutuskan pergi, menghampiri salah satu malaikat tanpa sayapnya. Sampai lebaran monyet pun dia tidak akan mendapatkan apa pun kalau tidak mencoba dan memastikannya sendiri.

Wanita berkulit kuning langsat terlihat sedang duduk, fokus menatap layar bersinar biru di atas sofa. Jarak kian bertambah dekat, tetapi tidak juga membuat keputusannya menjadi benar-benar bulat. Isi kepala mulai menusuk diri sendiri, menghancurkan pikiran positif yang sebelumnya sempat memegang kendali. Gadis itu menahan gerak, bermaksud ingin mengambil langkah seribu dan melupakan tujuan awal.

“Kak!” Seruan itu meruntuhkan niatnya.

“Coba sini, kamu suka yang mana?”

“Warna biru, Ma.”

“Eh, jangan, deh! Warna pink kosong. Kita cari yang lain, ya.”

Hening sempat berada di antara keduanya. Memberikan ruang untuk isi kepala si sulung kembali berputar. Bohlam kuning tak kasatmata muncul, rasa percaya dirinya kembali terisi banyak.

“Hm, Ma, Sabtu depan aku ikut lomba cerdas cermat. Mama bisa datang?”

“Sabtu tanggal berapa, Kak?”

Gadis berkuncir kuda menyebutkan angka.

“Hmm, Mama usahakan, ya, Kak. Tante Rika minta tolong bantu masak, hari minggunya keluarga Om Indra datang,” jelas wanita berkulit kuning langsat setelah meninggalkan ponsel berukuran lima inci. Matahari tenggelam setelah perbincangan tanpa kepastian. Pasir waktu terus meluruh, turun menuju ruang lain melalui celah kecil.

“Mama mau nginep di rumah Tante Rika?” pertanyaan terlontar setelah wanita berkulit kuning langsat menenteng tas besar.

“Enggak, Kak. Tante Rika akhirnya pesan katering. Mama mau temani Tiara lomba gambar di luar kota. Acaranya besok siang. Kamu sama Ayah, ya. Kalau bukan Mama, siapa yang menemani dia?”

Sedetik lalu, si sulung masih sempat ingin menanyakan keikutsertaan sang ibu di acaranya esok. Namun dia mengubah arah pikiran sesaat sebelum bibir mungilnya meloloskan rangkaian kalimat itu. Bukankah sejak awal dia sudah bertekad untuk tidak berharap?

Mentari kembali muncul setelah terbenam dua belas jam lalu. Seruan penyemangat dari para suporter lambat laun mampu mencetak garis lengkung di wajah gadis berambut panjang, sesaat dia terlihat melupakan luka kecilnya di hari kemarin. Saat waktu yang dia miliki hanya dipenuhi awan hitam, kini mulai menampakkan langit biru, menggeser kegelapan yang sempat mendominasi.

“Halo…. Ma, Kakak izin pulang telat, ya? Ibunya Rania ngajak makan… Berempat. Boleh nggak, Ma…?” Ucapnya pada seseorang di seberang panggilan.

“Bilang, pulangnya bareng sama Rio!” Laki-laki berseragam serupa di sebelah gadis berambut panjang tiba-tiba turut bersuara. Namun titahnya berlalu begitu saja.

“Kok nggak bilang diantar Rio, sih?” protesnya saat ponsel telah tersimpan lagi.

“Nggak bilang begitu juga dikasih izin, kok!” balasnya membaca situasi. “Mama tuh di luar kota, lagi sibuk, jadi kemungkinannya kecil kalau nggak dikasih izin.”

“Oh! Itu yang bikin tim kita hampir kalah…? Kamu sadar nggak, tadi tuh mukamu jelek banget! Mana salah hitung terus lagi! Biasanya ya, orang galau gara-gara gebetannya hilang, nggak ada kabar. Lah, situ galau gara-gara emak keluar kota. Unik banget temanku satu ini,” tutup laki-laki berkulit putih sambil mengangguk-anggukKan kepala beberapa kali.

“Sejak kapan kamu jadi dukun? Kamu nggak tahu apa-apa.”

“Makanya, cerita, dong! Biar aku tahu! Eh, sadar nggak, sih, cara kamu bicara ketika menelepon ibumu dan saat kamu ngobrol sama aku, beda, cuy!” Pembicaraan merembet ke sana-kemari. “Kamu kaya orang lain. Kalau denganku, mukamu nggak ada tegang-tegangnya, tapi kalau sama ibumu, beeeh! Persis orang yang ditagih hutang tapi belum bisa bayar! Bingung, linglung, kaya orang yang ogah-ogahan hidup!” Jelasnya meski tidak seorang pun meminta.

“Hmm, mungkin tepatnya seperti orang yang sama dengan wajah berbeda. Kamu, tuh, lebih tepatnya mirip badut. Pernah dengar soal filsafatnya nggak? Aku pernah baca di laman Psychology Today, karakter badut memang wajar jika dianggap menyeramkan, karena ada kesan psikis yang misterius di balik riasan atau topeng badut.” Omongannya terus berlanjut, bergerak jauh meninggalkan topik awal pembicaraan. Dimulai dari bahaya tidak tersampaikannya emosi seseorang, hingga membahas bagaimana bersikap selalu terlihat bahagia dapat memicu ledakan emosi di masa depan.

Kemudian Rania datang, memotong ocehan laki-laki satu-satunya di tim mereka. Gadis berambut panjang mengembuskan napas lega.

Awalnya hanya menghindar, tidak terima, tetapi dengan bertambah banyak jumlah hari yang berlalu, omongan kawan satu kelasnya tetap mengganggu. Sesekali dia mampu mengusir perkataan yang membuatnya tidak nyaman, namun tak jarang pula hatinya menyetujui rangkaian kemungkinan yang pernah merayap ke dalam telinga.

Berbulan-bulan gadis berambut panjang bertengkar dengan dirinya sendiri. Bertanya pada pantulan cahaya di dalam cermin; apa selama ini dia telah memoles pipinya seperti badut? Lantas membiarkan dirinya terperangkap dalam labirin yang sama, kemana pun melangkah, hanya tembok tinggi yang dia temui. Rasa ingin mengangkat bendera putih terus mendesak. Hingga dia terus berandai, kalau dalam satu kali mata berkedip, semua akan kembali normal, tanpa labirin yang membuatnya lelah.

“Hari Sabtu aku ke rumahmu!” ucap laki-laki berseragam batik-biru sambil berlalu.

“Eh! Aku nggak di rumah.” Gadis yang sedang duduk tenang dengan buku di atas meja menarik lengan kemeja lawan bicaranya.

“Tumben, memang long weekend ya?”dia berbalik arah. “Ya udah, sabtu depan aja.” Teman sekelasnya  menolak lagi. Salah satu alis laki-laki berkulit putih naik. Dahinya sedikit berkerut.

“Mulai pekan lalu, aku les gambar.” Siswa di hadapan gadis berambut panjang masih menyimak. “Udah, itu aja. Nggak ada lagi.”

Embusan napas keluar melewati bibir si penanya. Jawaban yang merayap sesuai dengan bayangannya.

“Buat apa?” dia menjeda omongannya, “kenapa harus di bidang yang bikin kamu nggak senang?”

“Mama senang, berarti aku juga. Kamu nggak lihat ekspresinya saat aku bilang mau ikut les. Dia senyum lebar, padahal aku belum kasih dia piala. Aku mau belajar mencintai apa yang dia suka.”

Gadis berambut panjang merasa lebih baik menjadi badut, karena mengutarakan perasaan juga belum tentu hal baik akan terjadi.

“Sekarang nggak cuma Tia yang akan ditemani lomba sama Mama, tapi aku juga. Terus ke toko buku bareng mama, beli buku gambar, drawing pen, kuas, cat air, pokoknya pergi sama Mama!” serunya riang.

Tidak terbayang dalam benaknya kalau momen memakai bedak akan benar-benar terjadi. Satu kali taburan halus itu menempel di wajah, sesaat itu pula dia rasakan debaran yang tak pernah terbayang sebelum ini. Beban yang terbiasa berada di punggung, lenyap saat matanya berkedip. Netra milik gadis berambut panjang beralih, memandang pantulan cahaya di dalam cermin. Senyum terukir manis di bibir, kini yang tersisa hanya sejumlah debu tak berarti.

Awalnya polesan tipis. Bersama roda waktu yang berputar cepat, bertambah tebal pula tumpukan bubuk di wajah. Goresan-goresan masa lalu itu memudar.

( Cerpen ini diikutsertakan dalam lomba menulis cerpen Okeylah Media )

Suka Artikel Ini ?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

error: Content is protected !!