[ Cerpen Keluarga ] Antara Cinta, Kenangan dan Upaya Menjaganya

6 min read

cerpen keluarga rumah
4.8
(21)

Cerpen keluarga – Antara cinta dan kenangan, keduanya sangat ingin ia miliki dan pertahankan. Ia tidak sanggup jika harus melepaskan salah satu darinya, sebab ia membutuhkan cinta dan ingin memberi cinta pada satu-satunya yang tersisa selain kenangan. Satu-satunya yang ia jaga dan sayangi, sebagai warisan dan hadiah yang paling berharga dari orang yang selalu mencintai dan dicintainya.

Tetapi yang ia cintai justru berusaha menghapus kenangan dan saksi bisu atas peristiwa yang ia kenang itu. Kenangan yang selalu ia jaga sebagai cara untuk menjaga cintanya pada yang telah tiada agar tetap ada. Hidup selalu dihadapkan pada pilihan.

Melepaskan dan mempertahankan.

Merelakan satu atau kehilangan keduanya. Semuanya tetap tak bisa ia putuskan. Ia ingin bertahan dengan cinta yang masih jelas ada, beserta kenangan dari apa yang telah dicintainya dulu.

Cinta seperti mawar.

Indah dan mengagumkan, butuh perawatan, dan tentu memiliki sisi mengerikan.

Duri.

Ia ingin merawat cinta dengan baik sebagaimana ia merawat kebun mawarnya.

Tanpa terluka.

Tetapi keinginan itu justru membuatnya sulit menentukan. Sebab, sekali lagi, cinta membutuhkan kehati-hatian dan pengorbanan.

Lalu, ketika ia menyadari bahwa keinginannya sulit tergapai, ia melayangkan doa untuk mati saja, menyusul cintanya yang lain bersama kenangannya. Namun doa itu tak lekas terkabul, sebab ia dihidupkan untuk memilih.

***

Baca Juga : [ Cerpen Inspirasi Keluarga ] Semua Salah Ayah

[ Cerpen Keluarga ] Antara Cinta, Kenangan dan Upaya

Menjaganya

Sejak anaknya memutuskan kepindahan mereka, kelakuannya menjadi aneh. Ia sering duduk di ruang tamu, atau berkeliling ruangan mengamati jendela, atap, hingga perabotan, seolah tengah Napak tilas. Memutar kembali setiap kenangan yang terjadi di rumah itu, ketika ia pertama memiliki rumah, ketika putri kecilnya lahir, pula ketika ia saksikan suaminya sekarat.

Ia akan melakukannya setiap waktu seolah tengah merekam ulang setiap kenangan agar tak satu pun terlewatkan. Setidaknya, setelah kepindahan yang tak diinginkan itu, ia masih memiliki kenangan akan rumah yang ditinggalkannya. Kadang ia berpikir untuk mati lebih cepat dari yang telah digariskan Tuhan, agar ia tak perlu bersusah hati pura-pura rela meninggalkan rumah dan kenangannya hanya untuk membahagiakan putrinya yang keras kepala.

cerpen keluarga rumah

Di ranjang tidurnya, ada jejak tubuh suaminya. Ia masih bisa merasakan bagaimana aroma tubuh lelaki itu, sengal nafasnya, dekapan hangatnya, bahkan nafas terakhirnya, ketika lelaki itu menggenggam tangannya hangat dan mengutarakan cinta untuk terakhir kali. Di ranjang itu pula ia menangis dalam pelukan putrinya saat dirinya tak mampu menahan rindu dan kehilangan lelakinya hingga terlelap bersama.

Di ruangan lain di dapur, ia kenangkan bagaimana ia memasak dan memenuhi dapur dengan perabotan yang ia cicil. Ia ingat setiap minggu, suaminya mengantar ia ke sebuah lelang perabotan cuci gudang untuk membeli apa saja yang dibutuhkan dan belum dimilikinya. Di ruang itu pula, ia sering tertawa melihat suaminya takut ketika menggoreng ikan.

Di sana, di dapur itu, ia pernah menangis melihat putrinya yang baru sembilan tahun membuatkan telur dadar untuknya sebagaimana ia sering membuatnya untuk Utari. Segalanya akan hilang saat ia pindah ke rumah lain.
Perempuan itu berjalan menuju ruang tengah, tempat di mana buku-buku yang sering dibeli ia dan suaminya terpajang rapi dalam rak kayu.

Terpajang pula boneka-boneka putrinya. Saat kecil, suaminya sering membelikan putrinya boneka sebagai hadiah. Di ruangan itu, ia lihat bayangan dirinya tengah menimang putri kecilnya yang balita, sementara suaminya khidmat membaca. Ia lihat pula ruangan itu gaduh oleh candaan Utari dan ayahnya. Candaan yang tidak mungkin akan terulang lagi.

Saat senja tiba, ia akan duduk pada sebuah kursi yang berhadapan dengan jendela besar yang terbuka. Dari sana ia bisa melihat pekarangan rumahnya yang ditumbuhi mawar, pula pohon mangga yang sedang ranum buahnya. Beberapa hari lalu ia meminta anaknya untuk mengundur jadwal kepindahan, menunggu panen mangga, tapi perempuan yang sudah berusia 27 tahun itu tidak mau menunda.

“Kalau mangga, kita kan bisa beli di supermarket. Kalau pekerjaan Utari yang hilang, susah mencarinya lagi, Bu. Kalau Tari tidak kerja, kita akan makan apa?” kata perempuan itu lembut, mengusap punggung tangan ibunya yang keriput.

Perempuan itu tidak bisa menolak lagi. Betapa pun ia berdalih dengan hal lain, putrinya tetap tak akan mengundur jadwal. Ia pun harus merelakan mangga-mangga itu, dan kini menatapnya tanpa jemu sampai ia merasa puas. Sebab di rumahnya yang baru nanti, ia belum tentu menemukan pohon mangga. Jika pun ada, tidak akan sama dengan yang tumbuh di pekarangan rumahnya. Sebab mangga itu menyimpan banyak kenangan yang tak akan mungkin disimpan pohon lain. Begitu pula dengan mawar-mawarnya. Ah, mawar itu menjadi alasan lain mengapa ia berat meninggalkan rumah.

Mawar itu tumbuh dari ketekunan suaminya yang saban pagi menyiram dan merawatnya dengan telaten, hingga bunga-bunga itu mekar dan ia petik beberapa sebagai persembahan untuknya. Mawar-mawar itu dimasukkan pada vas yang telah ia isi air, lalu disimpan di atas meja tempatnya membaca. Saat pindah nanti, ia tidak akan tahu bagaimana nasib mawar-mawar itu. Barangkali akan tumbuh tak terawat, atau mati.

“Tari, kau ingat tidak, dulu kau pernah menangis karena tertusuk duri mawar?” Tanyanya suatu waktu ketika itu ia sedang memandangi mawar-mawar. Mawar-mawar yang tak akan bisa lagi ia pandangi saat pindah nanti.
“Ingat. Saat itu aku ingin sekali memetik mawar buat ibu. Dan akhirnya ayah lagi yang memetiknya.”

Ia tertawa, lalu kembali mengenangkan pohon mangga dan antusiasme putrinya untuk memetik mangga-mangga yang telah besar. Utari selalu menanti panen mangga di rumahnya, namun itu dulu, sebelum ia tumbuh menjadi perempuan dewasa yang hanya mengenal karier. Sekali lagi ia membujuknya untuk menunggu panen, lalu ditolak lagi.

Setitik air hangat menetes dari matanya. Meluncur haru dan diam-diam seperti kenangan dan ketakutan akan kehilangan kenangan itu, yang muncul perlahan. Hanya tinggal menghitung hari menuju waktu pergi. Segalanya akan tertinggal di rumah itu. Kenangannya. Jejak suaminya. Ia menjadi semakin tak berselera untuk beraktivitas selain menelusuri kenangan di setiap ruang di rumah itu, lalu berdiam memandangi hamparan mawar mekar sampai bosan.

Baca Juga : [ Cerpen Keluarga ] Tepian Senja

Seketika dadanya sesak. Ulu hatinya begitu nyeri tak tertahankan, seolah ada yang menusuk-nusuk. Sakit yang sama dengan rasa ketika ia melepas suaminya ke pusara, menatap lekat wajah yang tersenyum hangat itu untuk terakhir kalinya, sebelum ditimbun tanah. Nyeri yang linu. Ia akan melepaskan segalanya karena keinginan putrinya.
“Kau masih di situ, Rosa?” tanya suaminya yang baru datang, lantas mengecup dahi perempuan itu. Mawar-mawar mekar yang tertimpa cahaya senja menjadi saksi kemesraan mereka.

“Kau sudah pulang. Ya ampun aku sampai tidak menyadarinya. Padahal sedari tadi diam di sini karena menunggumu pulang. Tapi mawar-mawar itu membuatku terlena.” Ia menyandarkan kepala di dada suaminya.
“Mawar-mawar itu memang tumbuh untuk menemanimu saat aku tidak ada di dekatmu.”

Ia mengusap air matanya. Ucapan suaminya saat senja dulu seolah memberinya jalan keluar dari labirin kesedihan yang menakutkan. Ya, ia tidak akan kehilangan rumah itu pula kenangannya. Ia akan tetap tinggal bersama mawar-mawar yang dulu ditanam suaminya. Mawar-mawar yang akan selalu menemaninya bersama kenangan hingga ajal menjemput, mempertemukan ia dengan lelakinya.

Ia bangkit dari kursi, berjalan menuju pekarang rumah, memetik setangkai mawar yang rekah dan merah, menciumnya sembari mengenang suaminya. Dari gerbang, putrinya datang dan memarkir mobil sedan yang baru dicicilnya tiga bulan lalu. Terkadang Rosa tidak mengerti mengapa putrinya bersikeras pindah ke rumah yang akan dicicilnya juga, padahal mobilnya pun belum lunas. Ia sudah berusaha memberitahu putrinya untuk tidak dulu pindah sebelum cicilan mobil lunas, atau merelakan mobil sebelum memiliki rumah. Namun perempuan itu berdalih lain. Karena tuntutan pekerjaan. Lagi-lagi itu alasan yang membuat Rosa tak bisa berkata lagi. Padahal dulu ia dan suaminya membangun rumah tanpa berhutang. Bukan karena banyak materi, melainkan kesabaran membeli bahan-bahan dengan menabung.

Ia berikan setangkai mawar pada Utari. Lalu mereka masuk untuk menikmati hidangan yang dibeli Utari di rumah makan. Perempuan itu tahu ibunya tidak lagi berselera masak.

“Tari, besok-besok kau tidak perlu membeli makanan seperti ini. Ibu akan memasak lagi.”
“Iya Bu,” kata putrinya berbinar. “Selera ibu untuk memasak sudah kembali, ya? Syukurlah.”
“Sudah seharusnya perempuan memasak, bukan.”

Utari terdiam. Perkataan itu seperti bius yang melumpuhkan tubuhnya. Wajahnya sedikit memerah mendengar ucapan ibunya.

“Tapi, sepertinya ibu belum bisa memasak. Di rumah baru kita belum dilengkapi peralatan masak. Besok Utari akan memindahkan beberapa alat dapur di sini ke sana. Jadi, nanti kalau kita sudah pindah ke sana, Ibu bisa langsung masak. Tidak perlu repot memindahkan.”

“Ibu tidak akan pindah Ri. Ibu tetap di sini.” Utari diam.

Wajahnya berubah dingin. Ada raut kecewa tergurat di sana.

“Kenapa? Jangan bilang untuk sebuah kenangan.”

“Ini rumah kita. Bagaimana pun akan tetap jadi rumah kita. Tempat di mana kau tumbuh dalam asuhan ibu dan ayahmu. Satu-satunya kenangan dari ayahmu. Kau tidak akan menemukan kehangatan ayah dan kenangannya, bahkan juga kenangan tentang ibu di rumah lain.”

“Bu, semua itu hanya kenangan. Kita tidak hidup dengan kenangan. Kita perlu makan dan pekerjaan.”

“Kalau kau mau pindah, pindah saja. Tapi jangan memaksa ibu untuk ikut. Suatu hari nanti, kau pasti butuh tempat untuk pulang dan benar-benar tempat yang menenangkan. Hanya di sini tempatnya. Lagi pula untuk apa kau memiliki mobil jika harus pindah ke rumah yang lebih dekat dengan kantormu hanya karena kau tak ingin terlambat datang ke sana,” katanya seraya bangkit meninggalkan makan malam yang baru ia santap beberapa sendok. Ia mendadak kehilangan selera makan.

Malam itu ia mengurung diri di kamar, dan tak bicara lagi pada putrinya. Ia berharap putrinya sadar bahwa rumahnya hanya yang didiaminya kini. Rumah yang dibangun suaminya, yang tiap hari ia rapikan dan rawat dengan tulus. Rumah yang menjadi saksi pertumbuhan putrinya, juga cintanya. Namun harapannya kekosongan belaka. Putrinya tak datang membujuk atau menyetujui keinginannya.

Ia mendengar langkah putrinya keluar rumah. Beberapa saat, didengarnya pula isak tangis perempuan itu, lalu suara pintu ditutup, kemudian suara mesin mobil sebelum akhirnya kembali hening. Dadanya berdebar seketika. Ia tahu, putrinya keras kepala seperti dirinya. Utari pasti kecewa dan ia tak akan mengubah langkahnya.

Ia mulai gelisah. Sungguh dirinya tak akan sanggup berjauhan dengan Utari, belahan jiwanya, buah cintanya, dan separuh nafasnya. Anak yang ia lahirkan dan ia besarkan. Tetapi ia juga tidak ingin melepas kenangannya dengan suaminya, cintanya. Perempuan itu membenamkan kepalanya pada bantal yang selalu dipakai mendiang suaminya. Ia terisak lagi. Ada yang mengoyak perih hatinya. Keadaan dan keinginannya yang bertentangan dengan putrinya. Bukankah seharusnya ia telah sanggup merelakan segalanya, sebab ia telah menyimpan segala macam kenangan dengan memerhatikan rumahnya setiap waktu?

Tetapi kenangan bukanlah perkara yang mudah untuk direlakan tetap ada tanpa bukti. Ia bimbang, tak tahu apakah benar yang dilakukannya kini, dan menangis hingga tertidur.

Pagi itu, ia membuka mata yang telah sembab bekas menangis semalam. Kamarnya telah terang diterpa sinar matahari yang menerobos jendela. Tirainya telah terbuka. Ia terheran, siapa yang membuka tirai itu. Lalu, dari luar putrinya datang membawakan secangkir teh madu kesukaannya.

“Ibu sudah bangun?” sapa putrinya, lalu menyerahkan teh hangat di tangannya.

“Kau kembali, Ri. Kau tidak marah?”

“Tentu tidak Bu.”

“Kukira kau pergi tadi malam. Bagaimana dengan rumah barumu?” tanyanya sedikit waswas. Ia berharap putrinya tidak akan memaksa pindah, dan akan selalu menemuinya kendati pekerjaan membuatnya lelah. Ia ingin mendengar putrinya mengatakan tak lagi berkeinginan pindah.

“Iya. Aku memang pergi tadi malam. Ada banyak hal yang perlu diurusi untuk masa depan rumah kita. Kita tidak perlu mencicil rumah baru.”

“Maksudmu?”

“Aku sudah menjual rumah ini. Kita bisa langsung melunasi rumah baru, Bu.”
Wanita itu diam. Ia tak ingin mengatakan apa pun lagi dan berpaling dari putrinya.

***

( Cerpen diikutsertakan dalam lomba menulis cerpen okeylah media )

Suka Artikel Ini ?

Click on a star to rate it!

Average rating 4.8 / 5. Vote count: 21

No votes so far! Be the first to rate this post.

error: Content is protected !!