[ Cerpen Inspirasi ] Senjaku Dengan Keluarga Semut

5 min read

cerita inspirasi keluarga semut
0
()

cerita inspirasi keluarga semut

[ Cerpen Inspirasi ] Senjaku Dengan Keluarga Semut

Cerpen Inspirasi – Sore ini langit sangat cerah, lembayung terlihat begitu indah dengan semburat orange yang memenuhi ufuk barat Membuatku enggan terjebak didalam kotak ajaib dengan rangkaian berbagai mesin yang biasa mengantarkan ku ke tempat kerja.

Dan akhirnya aku memutuskan untuk menikmati senja ini dengan cara berjalan kaki menuju gubuk peristirahatan ku Memang jaraknya tidak terlalu dekat. Butuh waktu sekitar setengah jam jika jalanan sedang sepi. Namun jangan kawatir karena seperti biasanya, aku tak akan membuat kaki ini benar-benar lelah dengan berjalan sampai rumah.

Mungkin aku hanya akan berjalan sejauh empat kilometer dan sisanya aku akan tetap menggunakan kotak ajaib itu. Sebuah angkutan umum dengan mesin yang terdengar begitu kencang sebagai musik alami sehingga perjalanan kami tidak begitu sepi. Meski sebenarnya hal itu sangatlah berisik dan dapat merusak gendang telinga kami. Dan dilengkapi dengan AC alami dari hembusan udara yang dengan lega masuk kedalam kendaraan dengan sangat bebas.

Baca Juga : Cerpen Religi – Impian Qurban Tukang Pijat Keliling

Ok, kembali pada rencana perjalananku sore ini. Karena langit sedang sangat bersahabat, maka aku tidak akan menyianyiakan waktu ini. Segera kuambil botol air minum yang telah aku isi penuh dengan air galon yang ada di kantorku yang memang disediakan untuk kami semuanya.

Ya, sekedar buat jaga-jaga jika nanti aku merasa kehausan saat berjalan kaki. Bukan manja sih, namun bagiku yang jarang berolahraga jarak empat kilometer sudah lumayan menguras tenaga. Namun demi menikmati indahnya sore ini, maka aku akan selalu rela melakukannya, itung-itung buat olahraga juga.

Setelah semua siap dan urusan di kantor telah selesai, maka aku segera mengambil ransel ajaibku dan segera memanggulnya dipundak yang selalu rela menerima beban yang aku bawa diatasnya sembari melangkahkan kaki untuk segera menjauh dari hadapan meja yang penuh dengan segunduk gunungan kertas yang didalamnya terdapat ribuan cacing dari cairan tina hitan, dan sebuah kotak ajaib yang berisi berbagai entri data yang entah kenapa data-data tersebut ada didalamnya.

“Guys, aku duluan ya,….” sapaku pada rekan kerja yang masih setia dengan ruangan tersebut.
“ok, hati-hati dijalan friend,….” Sahut mereka
“sipptt lah,….” jawabku sambil mengacungkan jempol

Dengan tegap aku melangkahkan kaki meninggalkan gedung tempatku menghabiskan waktu seharian ini. Tempat mengais selembar dua lembar kertas untuk menyambung hidupku bersama keluarga.

“Pulang bareng yuk Na….”
Sebuah suara yang dibarengi dengan tepukan dipundakku telah sangat mengagetkan dan memotong langkah kakiku.
“Ahh,…. Hilda, kamu duluan aja lah”

Hilda adalah salah satu rekan kerja yang rumahnya tak berjarak jauh dari desa tempatku tinggal. Biasanya kita pulang bersama jika aku tak sedang lembur ataupun saat ingin langsung pulang tanpa menghabiskan sisa senjaku disepanjang jalan.

“Hmzz,…. pasti mau menghabiskan soremu ya,…” Sahutnya sengan sangat santai.
“Ahhh, kamu sudang sangat hafal rupanya”,

Memang ia adalah salah satu rekan yang sudah sangat hafal dengan kebiasaanku. Saat hari terlihat indah dan bersahabat, aku akan selalu menghabiskan soreku dengan sedikit berjalan santai saat pulang bekerja, ataupun pergi ke salah satu cafe yang ada diseberang halte tempat kami menunggu angkutan, ataupun mampir di salah satu storebook yang sejalan dengan arah kami pulang meski kadang hanya sekedar melihat-lihat jika ada buku baru yang menarik.

“Hhaahhaa…, ya jelas lah, kita kan udah barwgan cukup lama” “Eh.. gue duluan ya, angkotnya udah datang tu”, Serunya sambil menunjuk pada kotak ajaib yang aku ceritakan tadi.
“Ok…., Hatu-hati di jalan….,
“Loe juga, jangan sampai lupa jalan pulang, ntar kalo loe kesasar temen-temen loe yang pada bingung” Candanya sambil melambaikan tangan.

Perlahan kendaraan itu mulai hilang dari pandangan. Dan aku mulai meneruskan langkahku. Benar saja sore ini begitu indah. Udara hangat yang benar-benar tenang, terasa begitu sejuk meski bukan didaerah pegunungan dan meski ini sudah senja menjelang petang. Semburat orange menghiasi indahnya langit terlihat begitu bersahabat. Memanjakan kedua bola mata saat melihatnya.

Entah kenapa hari ini seperti terlihat lebih sepi dari biasanya. Apakah karena bukan akhir pekan sehingga tidak ada muda mudi yang keluar dan bergandengan tangan menikmati masa muda mereka, atau karena para pekerja masih menikmati pekerjaan mereka sehingga mereka memilih lembur dan pulang lebih akhir dari biasanya.

Ah, sudahlah. Aku tak akan pernah ingin tahu sebab lengahnya jalanan ini. Yang terpenting bagiku sekarang adalah aku sangat menikmati suasana senjaku hari ini. Degan sedikit mobil yang berlalu lalang secara perlahan, seakan mereka menghormati para pejalan kaki dan pesepeda yang menurutku mereka juga sedang menghabiskan waktu sorenya.

Setelah beberapa saat yang tak ku rasa ternyata aku berjalan cukup jauh, bahkan melebihi jarak yang aku targetkan. Rasa lelah perlahan menyelimuti. Keringat mulai bercucuran dan kaki pun mulai terasa payah. Kedua mataku mulai mencari-cari sebuah tempat yang menurutku akan cukup nyaman untuk beristirahat walau hanya menyelonjorkan kedua kakiku. Betul saja nampak sebuah gazebo di taman kecil yang ada di sisi jalan.

Berjalanlah aku menghampirinya dengan sedikit berlari agar segera sampai di sana. Dengan sigap aku mengebaskan tanganku untuk membersihkan debu tipis yang melapisi permukaannya. Segera duduk selonjor sembari mengambil air minum yang telah aku siapkan. Meneguknya dan kemudian membuka sebungkus roti kecil sisa sarapan tadi pagi.

Sembari mengunyah tiap cuilan roti yang aku suapkan kedalam mulutku, mataku tak berhenti mengamati keadaan sekitar hingga tertahan pada sebuah titik sudut pandang yang menarik perhatianku. Sebuah pohon besar dengan daun rimbunnya yang terlihat begitu sejuk saat kita bersantai dibawahnya. Perlahan aku beranjak dari gazebo tersebut tuk mendekati pohon itu.

Perlahan aku berjalan dan tanpa sengaja hampirsaja aku menginjak seekor semut yang sedang membawa sepotong biskuit diatas kepalanya. Mulanya aku tak menghiraukannya, namun tiba-tiba hal itu sedikit menarik perhatianku. Perlahan aku mengangkat dan memindahkan kakiku sedikit menjauh dari keberadaan semut tersebut. Mulai mengamatinya dan tiba-tiba merasa sedikit aneh dengan keberadaannya.

Benakku mulai bertanya-tanya “Mengapa ia hanya sendirian, tidak biasanya semut memanen makanan yang dijumpainya sendirian, biasanya mereka akan selalu memanggil komplotannya jika menjumpai makanan dan bekerjasama memanennnya dan mengumpulkannya didalam markas mereka secara bersama-sama.”

Demi mengobati rasa penasaranku dan demi menjawab semua pertanyaan yang ada didalam otakku maka akupun mengamatinya dan mengikuti kemana hewan itu pergi. Demi itu semua aku juga rela menahan kakiku yang sudah mulai kesemutan. Perlahan melewati akar yang menonjol ke permukaan, mengitari pohon besar untuk mencari jalan aman, naik turun bebatuan hingga masuk kedalam semak-semak yang sebenarnya tidak begitu lebat.

Namun tak mungkin juga aku harus mengikutinya menembus semak tersebut, sehingga aku terpaksa harus sedikit berputar dengan cepat agar tidak kehilangan sosok hitam kecil itu. Akhirnya sampailah pada sebuah tempat yang ia tuju, namun itu masih perkiraanku karena aku melihat hewan kecil itu mulai menurunkan sepotong biskuit yang ada diatas kepalanya.
Dan ternyata benarlah apa yang ada didalam fikiranku. Semut kecil itu telah dekat dengan markasnya. Nampak beberapa semut lainnya disekitarnya yang juga sedang mengumpulkan makanan sebagai persediaan mereka.

Terlihat juga segerombol tentara semut pengangkut yang mengambil hasil makanan yang dikumpulkan oleh semut-semut pengumpul diluar markas mereka. Semut pengangkut mengambil makanan bergantian secara bergotong royong dengan sangat teratur.

Namun sekali lagi ada yang menurutku mengganjal. Terdapat serbuk bubuk putih bertaburan ditempat ini. Dan yang paling banyak berada disekitar lubang semut. Tidak ada semut-semut yang dapat melewatinya. Saat satu dua semut berusaha menerjang bubuk putih tersebut, tiba-tiba beberapa saat kemudian kakinya akan melemah, sulit berjalan dan bahkan ada yang tiba-tiba meninggal.

Entah bubuk apa itu, namun yang jelas bubuk tersebut telah memerangkap semu-semut itu dan mempersempit jangkauan para semut. Mungkin bubuk tersebut adalah sebuah bubuk racun yang ditaburkan oleh manusia untuk membunuh semut-semut itu agar tidak mengganggu kenyamanan mereka. Namun bagaimanapun semut tetap juga mahluk Allah yang butuh mencari makan untuk bertahan hidup.

Beberapa semut yang berada diluar mungkin adalah semut-semut yang memang sedarinya ada diluar markas sebelum adanya serbuk putih tersebut. Sehingga mereka bekerjasama dengan tugas masing-masing. Membagi tugas antara semut pengumpul dan semut pengangkut.

Setelah beberapa saat aku mengamati keberadaan dan kerjasama yang menurutku sangatlah luar biasa, aku kembali tercengang dengan tingkah semut yang ada diluar markas. Mereka mulai berusaha masuk kedalam markas dan melewati serbuk putih tersebut.

Perlahan menyalurkan beberapa potong biskuit kepada teman sesamanya yang ada didalam lingkaran serbuk dan kemudian bersama menyusunnya hingga dapat digunakan lewat sebagaimana fungsi sebuah jembatan. Ternyata meskipun mereka seekor hewan yang tidak diberikan akal oleh Sang Pencipta, namun mereka masih dapat melakukan berbagai cara agar tetap selamat dan tetap dapat bertahan hidup.

Betapa aku sangat bangga dengan kerjasama yang mereka lakukan. Secara tidak langsung aku telah mendapatkan sebuah pelajaran yang sangatlah berharga dari para semut tersebut. Jika para semut saja mampu melewati masa sulit mereka dengan saling bekerjasama dan saling mendukung antara satu dengan yang lain, maka bagaimana dengan manusia. Mahluk yang telah Allah berikan akal yang membuat manusia menjadi sempurna pasti tidak akan pernah kalah dengan hewan yang tidak berakal.

“Hidup Adalah Perjuangan, Jika Tidak Mampu Sendiri Maka Lakukanlah Bersama-Sama, Saling Membantu Dan Menolong Untuk Ciptakan Keharmonisan, Perdamaian Dan Kesejahteraan.”

Suka Artikel Ini ?

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

error: Content is protected !!