[ Cerpen Inspirasi ] Langkah Tujuan

12 min read

cerpen inspirasi langkah tujuan
5
(1)

Cerpen inspirasi langkah tujuan – Akila merupakan sosok gadis sederhana yang telah dibekali hati baja, memiliki satu kekurangan dan kelebihan secara bersamaan. Han yang merasa menjadi manusia paling malang di muka bumi dipertemukan oleh Akila. Ketangguhan Akila membuat Han tersadar dari ketidakbersyukuran atas nikmat yang Tuhan berikan, dan menghadirkan rasa malu kepada mereka yang jauh lebih menderita dari apa yang Han jalani. Dan, disaat itu pula Han sudah menemukan tempat untuk pulang setelah sekian lama menelusuri perjalanan panjang tanpa arah tujuan yang jelas.

***

Baca juga : 

[ Cerpen Inspirasi Keluarga ] Semua Salah Ayah

[ Cerpen Inspirasi ] Ketika Tiga Puluh

Cerpen Inspirasi – Langkah Tujuan

cerpen inspirasi langkah tujuan

Sisa-sisa hujan pada sore tadi masih membekas hingga malam tiba. Menyisakan hawa dingin yang menyelimuti lembabnya malam kelabu beserta aspal yang licin karena basah.

Langkah demi langkah terus menapaki lantai jalan yang terletak di pinggiran kota. Mengikuti mereka— yang disibukan dengan aktifitas wajib keseharian, pergi dan pulang kerja, walau hanya menjadi penguntit tak berguna karena tidak adanya tujuan dalam setiap titian jalan.

Hari demi hari dilakukan. Tak berguna memang, tapi menurut Han itu jauh lebih baik dilakukan daripada berdiam diri di rumah. Seperti orang gila saat terabaikan.

Rasanya cukup sampai di sini dulu walau belum lelah, Han ingin menghampiri kafe yang terletak di sudut jalan. Cuaca di luar cukup sejuk, pas sekali untuk duduk bersantai ria sembari menikmati secangkir cokelat panas.

Han menyeberangi jalan raya setelah dirasa aman, kemudian langsung memasuki kafe tersebut, tak lupa menutup kembali pintu kafe agar hawa dingin di luar tidak membuntuti.

Kafe satu lantai itu cukup sederhana dengan dinding yang terdiri dari lapisan kaca tebal, lebar serta panjang ruangan masih di atas rata-rata. Cukup untuk menampung belasan hingga puluhan pengunjung.

Orang di dalam sana terlihat nyaman dengan suasana tentram yang ditemani segelas minuman hangat beserta cemilan ringan lainnya. Sukses menyempurnakan malam nan sejuk ini.

Hanya beberapa langkah, sejurus kemudian Han telah menemukan tempat yang tepat bagi dirinya. Di pojok ruang yang terletak didinding kaca sehingga dapat memanjakan mata karena berhadapan dengan jalan raya. Tempat yang sempurna.

Baru hendak menghampiri meja tersebut, seseorang yang entah tak sengaja lalai atau memang tidak becus dalam bekerja, menubruk dada bidang Han secara berkejutan.

Prang!

Mug beralaskan nampan seng jatuh tanpa dihendaki, pecah berderai di lantai keramik tempat mereka berpijak. Alhasil, jaket hitam yang membungkus apik tubuh Han sukses terciprat oleh sisa minuman hingga meninggalkan noda coklat di sana.

Seketika, pemuda berambut hitam itu naik darah sampai dadanya membusung karena tarikan nafas yang panjang. Cara ia meredam amarah agar tak mengamuk bagai singa kelaparan di sini.

Suara pecahan kaca menarik atensi beberapa pengunjung kafe. Kini kedua sejoli itu sedang dipertonton oleh beberapa mata.

“Kalau jalan pakai mata!”

Ini amukan yang belum seberapa, Han masih menahan diri di tengah malu. Ia benci menjadi pusat perhatian, terutama untuk musibah sekecil ini. Sepele.

Si pelayan segera membungkukkan badan— memohon maaf atas ketidaksengajaan ini. Han yang tak ingin melihat drama apapun di sini sesegera mungkin pergi sambil membawa kekesalan. Bertambah kesal saat mengingat si pelayan tak tahu diri itu bukannya langsung mengucapkan maaf, hanya membungkuk dalam-dalam tanpa suara lalu memungut pecahan gelas.

“Memang seindah apa suaranya?”

“Semoga kau menjadi bisu!”

Batin Han menyumpah murka.

“Sialan!”

Sebuah makian lolos secara nyata dari belah bibir tipis Han. Ia mengacak rambut dengan frustasi hingga merusak tatanan sidepartnya.

Sore ini berakhir dengan kesialan.

***

Di sinilah Han berakhir usai mengalami kejadian naas sewaktu hendak menghangatkan diri di kafe, duduk seorang diri di tepi laut tanpa peduli akan terpaan angin sejuk. Benar-benar sendiri, persis seperti hidup yang tengah dijalani.

Han duduk dalam kehampaan sejak senja tadi hingga malam tiba. Manik hitam miliknya menatap teduh hamparan laut di depan mata. Air asin tersebut tampak mengkilap karena pancaran dari lampu-lampu gedung di kota. Indah dan menenangkan.

Han merasa nyaman dengan ketenangan ini.

Karena merasa sudah cukup lama berdiam diri di tempat tersebut, maka Han memutuskan untuk menyudahi aksi termenungnya.

“Hahh…” Han mengela napas, merasa sedikit berat hati beranjak dari bangku muatan dua orang itu. Ketika sudah berdiri, ia lekas memutar tubuh ke arah yang seharusnya. Arah itu akan menuntunnya ke jalan pulang.

Dari seberang jalan tempat Han berdiri sekiranya lima puluh meter, tersaji pemandangan yang tidak mengenakan mata. Han menganggap bahwa ini kesialan kedua yang dialaminya pada hari ini, dari sore berlanjut hingga ke malam.

Itu dia, pelayan tidak berakhlak tadi.

Mata Han masih terlalu tajam untuk dibilang rabun dini. Jelas sekali gadis di sana ialah si pelayan kafe yang disinggahi tadi. Rambut bewarna hitam-kecokelatan— panjang sepunggung, meski kali ini digerai, kulit putih bersih berbekal tubuh mungil dengan tinggi di atas 160 cm.

Bagaimana bisa ini terjadi.? Menyebalkan.

Lalu kesialan apa lagi ini. “Ck.” napas Han berhembus kasar tatkala melihat dengan teramat jelas adanya seorang lelaki bertudung hoodie mengikuti langkah si gadis putih tersebut.

Ya Tuhan.

Rasa tak ingin menolong, tapi, bukan ‘kah itu terlalu kejam. Rasa ingin menolong, tetapi hati masih merasa muak. Dilema macam apa ini.

Namun, hitung-hitung sebagai sedekah. Anggap saja keberuntungan untuk pelayan tidak becus itu.

Han mengambil langkah cepat menyusul orang di sana. Menyeberangi jalan raya yang tak terpakai karena malam yang dingin ini tanpa harus mengantri dengan kendaraan lainnya.

Han tak habis pikir, sebenarnya apa yang spesial dari gadis pelit suara itu sampai diikuti segala. Melihatnya saja bikin muak, apalagi untuk mengikuti seperti lelaki bodoh itu.

Jelas ada niat tidak baik di balik ini semua. Semakin terlihat nyata gelagat aneh yang ditunjukan oleh lelaki berjaket dongker tersebut ketika matanya menyapu sekeliling tempat, seakan mengawasi orang di sekitar jalan.

Dia merasa ada kesempatan, hanya ada seorang laki-laki bukan masalah besar baginya.

Grepph!

Akila terkejut. Tasnya baru saja dirampas dan terlalu cepat sehingga tak memberinya kesempatan untuk mempertahankan miliknya.

Han yang melihat tak tinggal diam lantas memacu langkah secepat— atau bahkan semampu yang ia paksakan. Mau tak mau harus melepas bakat di sini. Si rampok terlalu berani beraksi di depan mata Han tanpa menyadari siapa pemuda itu sebenarnya.

Sang Atlet lomba lari juara tiga pada tahun ini. Sungguh, kebetulan yang menguntungkan sekaligus untuk pamer bakat.

Baca juga : 

[ Cerpen Inspirasi ] Senjaku Dengan Keluarga Semut

[ Cerpen Keluarga ] Antara Cinta, Kenangan dan Upaya Menjaganya

BRUKHH!

Si rampok terjembab. Wajahnya sukses mencium aspal.

“Cari mati, ya?” Han berdesis tajam.

“Arrghhh!”

Pria bertubuh kurus itu menjerit kesakitan saat kedua tangannya diikat ke belakang. Rasanya sangat sakit, seperti mau patah.

“A-ampun…”

Han merampas kasar tas selempang dari genggaman si rampok. “Gunakan tangan-tangan ini sebaik mungkin dalam kesempatan keduamu.” gertaknya geram.

Begitu dilepas, tiada basa-basi bagi pria itu untuk segera melarikan diri membawa kekalahan. Jika saja badannya lebih besar dan kekar, pasti akan dengan mudah memutar balik keadaan. Sayang sekali ukuran badan mereka terpaut jauh. Si pemuda tinggi, atletis dan kuat, sementara dirinya kurus dan lebih pendek. Ia tak berdaya jika diadu.

Dengan malas Han menyerahkan kembali tas selempang itu kepada pemiliknya. “Ini.” katanya, ketus tanpa memandang. Wajahnya berpaling.

Merasa telah diterima oleh si empu, Han melanjutkan kembali niat utamanya untuk pulang ke rumah. Tidak ada ucapan apapun meski sudah ditolong. Perduli setan.

Baru selangkah membuka kaki, sebuah tarikan kecil sukses menahan langkahnya. Han menoleh ke sumber dan mendapati ujung tangan jaketnya sedang ditarik kecil oleh gadis bermata bulat itu.

Kening Han berkerut hingga menyipitkan kedua matanya— pertanda heran. Kedua alisnya sampai berpaut. “Berani sekali…” batinnya memprotes tidak terima mendapat sentuhan dari pelayan itu.

Sambil tersenyum, Akila mengarahkan tangan di hadapan Han setelah meletakkan pucuk jemari di depan bibir. Persis seperti sedang mempersilahkan, namun sebenarnya ia menunjukan bahasa isyarat.

“Terimakasih.” arti dari gerakan isyarat Akila.

Han terkejut. Mata sipitnya melebar.

Setelah memberi bahasa isyarat atas ucapan terimakasihnya, kembali Akila memberi isyarat lainnya.

“Maaf soal yang tadi, aku tidak sengaja.”

Tentu saja Akila ingat lelaki itu. Orang yang tanpa sengaja ia tabrak sewaktu di kafe karena terburu-buru, membuat mantelnya tersiram sisa cokelat dari mug yang hendak dibawa ke belakang untuk dicuci.

Han hanyut dalam keterkejutannya. Ia sampai syok tak bisa berkata-kata, ditambah lagi tidak mengerti dengan gerakan si gadis.

***

Bukan sumpah yang terkabul melainkan memang sudah keadaannya seperti itu. Dia hanya seorang gadis Tunawicara yang bekerja sampai larut disebuah kafe sederhana.

Han tak henti-hentinya merutuki diri sejak mengetahui kondisi si gadis. Seperjalanan, ia terus berkutat dengan batin— menyalahkan mulut kotornya.

“Aku bahkan merasa lebih brengsek dari penjahat kelamin itu.” Han bergumam kecil. Memaki seseorang yang dikenal.

Anehnya, Han sendiri tidak tahu tujuannya mengikuti langkah kecil gadis itu. Dari kejauhan ia terus menguntitnya seolah menggantikan posisi rampok keparat tadi.

Akila berjalan lurus ke depan, begitu pula dengan pandangan matanya. Pikiran untuk menoleh ke sana sini ditepisnya, memilih fokus pada satu tujuan agar lekas tiba ke tempat tinggal. Begitu cara ia membuang rasa takut.

Pulang larut cukup membahayakan untuk seorang gadis seperti Akila, namun hanya itu satu-satunya pilihan dalam hidupnya. Tapi memang tidak biasanya pulang selarut ini, berbeda dengan hari-hari sebelumnya. Ini terjadi sejak musim hujan bermula.

Han mendesah gusar. Pantas saja gadis itu tidak lebih waspada tadi, berjalan saja tak mengedarkan mata mengamati sekitar entah sekiranya aman atau tidak.

Cukup lama larut dalam perjalanan, hingga tak terasa mereka sudah tiba. Han melihat di mana gadis Tunawicara itu menemukan tujuan. Sebuah bangunan kecil terdiri dari dinding serta lantai kayu.

Rumah kayu sederhana tapi tak menampik keelokannya. Halaman kecil di depan rumah, teras berpagar kayu dihias setapak tangga pendek, terakhir kursi panjang untuk bersantai ria di waktu senggang.

Istana yang sederhana.

Sampai di sini langkah Han berhenti. Dari jarak sekitar tiga puluh meter ia berdiri melihat gadis Tunawicara itu telah tiba di rumah.

“Jadi ini tempat tinggalnya.” Han membantin. Ia jadi tahu tanpa mencari tahu. Tahu begitu saja tanpa niat apapun.

Hanya beberapa kali ketukan pelan, tak butuh waktu lama untuk orang di dalam rumah membukakan pintu. Dia seorang bocah remaja dipertengahan usia. Rambutnya hitam, dan berdiri dengan kaku.

Pintu di sana kembali ditutup. Menyisakan malam sepi yang semakin larut.

Han membuang napas panjang. Mengatupkan kedua mata lalu menangkup wajah dengan sebelah tangan. “Bodoh.”

***

Mengingat saat ini sedang musim hujan yang tentunya dingin, tak heran bila pengunjung kafe berbondong-bondong mampir untuk mencari kehangatan di dalam.

Sejak musim hujan tiba, pelayan kafe dibuat sibuk dengan pesanan-pesanan pelanggan. Beragam pula sifat-sifat mereka yang terkadang membuat para pelayan uring-uringan menahan amarah demi menghindari keributan, terlebih pula ketika mengenang kalimat bijak pembeli adalah raja.

Bak robot, Akila bolak-balik tanpa lelah memungut bekas makan dan minum para pelanggan. Dari dapur kembali ke depan, dari depan kembali lagi ke dapur. Berulang kali seperti itu sampai sore menjelang. Hanya sesekali terjeda selama beberapa menit.

Karena keterbatasan interaksi, Akila ditugaskan di bagian belakang bersama beberapa orang lainnya. Menjadi bagian pemungut piring serta gelas sekaligus membasuhnya jika keadaan kafe tidak terlalu sibuk. Setelah hari mulai sore barulah kesibukan di kafe terjeda sepenuhnya. Ada sedikit waktu untuk istirahat sebelum lanjut pada ronde ketiga. Malam.

Han tidak tahu dorongan apa yang membuatnya sampai bertindak sekonyol ini. Datang berkunjung ke kafe itu lagi, duduk di sana sejak siang hingga sore yang hanya ditemani segelas Green Tea beserta sepotong Brownies. Hanya secuil yang dimakan dan beberapa seruputan diteguk, sisanya menganggur sampai petang. Bodohnya, tanpa lelah ataupun bosan matanya terus memandang lekat kepada gadis berkuncir tinggi bak ekor kuda itu. Dia— si pelayan bisu.

Bagaimana bisa Han berpikir kalau gadis itu seorang pelayan yang tidak giat dalam bekerja setelah seperempat hari diamati tanpa celah. Lagi-lagi ia harus mengutuk diri atas ucapannya.

Akila terlalu sibuk dengan aktifitasnya sehingga tak menyadari kehadiran sosok penyelamat dirinya atas kejadian kemarin malam, yang ada dalam pikiran hanya kerja, kerja dan kerja. Kalau tidak bekerja kasihan dengan Rian. Biaya Sekolah Adiknya bisa menunggak nanti, bisa-bisa tidak ikut dalam Ujian Nasional.

Waktu menunjukan pukul lima sore. Han rasa sudah saatnya meninggalkan kafe sebelum ada yang menyadari keberadaan dirinya di sini yang sudah terlalu lama.

***

Han merasa tidak punya arah tujuan. Masih hidup saja sudah lebih dari syukur. Rumah punya akan tetapi tidak dengan keluarga. Saat usianya dua belas tahun, Ibunya telah berpulang kekehidupan abadi bersama Kakek dan Nenek, hanya tinggal Ayah seorang yang dimiliki.

Tidak! Han tak memiliki Ayah seperti dia.

Rusdi bukanlah Ayah yang diimpikan. Seorang lelaki penjahat kelamin, nyaris setiap malam silih berganti pulang ke rumah membawa wanita menginap. Mentang-mentang memiliki banyak uang, dengan seenak kepala dia berganti-ganti teman tidur. Pergi dari pagi-pagi buta hingga malam dan terus dilakukan sejak menduda hingga detik ini tanpa lelah maupun jenuh.

Bilang membutuhkan Han di rumah, nyatanya setelah Han menetapkan diri selama beberapa hari di rumah, tak sedetikpun ia disisihkan waktu oleh sang Ayah.

Rusdi terus sibuk dengan mainannya, mengabaikan keberadaan putra semata wayangnya dengan mengurung diri di dalam kamar bersama pemuas batin.

Omong kosong.

Han benci kalau mengingat tentang Ayahnya. Inilah alasan mengapa dirinya tak pernah bosan berkeliaran di luar rumah walau tanpa tujuan sekalipun. Sekedar menyusur trotoar bak orang-orang yang tengah sibuk pergi dan pulang kerja.

Sengaja atau tidak, untuk yang kedua kalinya Han melihat gadis pekerja kafe itu pulang. Kali ini belum larut seperti kemarin, peluang besar pulang dengan aman dan selamat.

Bisa dibilang memang sengaja Han menunggu Akila untuk melindunginya dari bahaya. Anggap saja ini cara diam untuk menebus kesalahan atas kejadian tempo hari, yang secara tidak langsung telah menghina kekurangannya sebagai sesama manusia.

Lagi-lagi Han membuntuti Akila. Penampilannya cukup misterius karena topi baseball hitam yang dipakai, namun ia harap tidak membuat gadis berseragam lengkap itu merasa terancam.

Jarak rumah Akila tidak begitu jauh dari kafe. Beberapa menit mereka berjalan dengan jarak beberapa meter, tak terasa sudah sampai begitu saja.

Han berhenti tatkala melihat Akila tiba di depan rumah. Terus diperhatikannya gadis di ujung sana, dari mengetuk pintu, dibukakan hingga masuk. Selesai.

“Hahh…”

Han menengadah memandangi awan. Ia tersenyum tipis. Hatinya persis sekali dengan awan kelam di atas sana.

Musim-musim seperti ini sulit ditebak. Bermula dari gerimis kecil, lalu tiba-tiba air hujan mengguyur dengan lebat. Mendadak sekali. Han panik.

Menolak menerobos hujan, Han mempercepat langkah— mendatangi rumah sederhana bercat biru lembut itu. Menumpang untuk berteduh sejenak, atau mungkin sampai hujan sedikit mereda.

***

Ceklek!

Sontak, pemandangan di depan mata sukses membuat si pemilik rumah terkejut. Mata bulatnya melebar.

Han tidak menyangka bahwa ia akan tertidur dengan pulasnya dikursi panjang itu. Awalnya sekedar duduk menikmati suasana hujan, namun semakin berlarut membuat kantuk tak tertahan menyerang netra.

Berbaring di sana, iseng memejamkan mata dan berakhir dengan pulas.

Rian yang sudah bersiap pergi ke Sekolah turut tersentak melihat orang asing di depan rumah mereka sedang tidur terlentang dengan tangan yang menjadi penompang kepala.

“Kakak, siapa orang ini?”

Akila mengenalnya. Tentu saja ia ingat dengan pemuda bermata tajam itu.

Mengabaikan keterkejutan sang Adik, Akila mendorong pelan bahu Rian lalu memberi bahasa isyarat.

“Pergilah. Biar aku yang urus ini.”

Rian mengerti, namun terselip kekhawatiran di hati. “Apa tidak masalah?”

Akila mengangguk mantap. Senyum lebar terlukis di wajah manisnya. “Jangan khawatir, aku mengenal orang ini.”

Gerakan isyarat terakhir Akila disetujui oleh Rian. “Baiklah. Aku pergi dulu, Kakak.” pamitnya.

Akila mengangguk-anggukan kepala sambil terus tersenyum— meyakinkan, kemudian kembali memberi bahasa isyarat. “Hati-hati.”

***

Sebenarnya bukan akhir seperti ini yang Han harapkan. Terjebak hanya berdua bersama seorang gadis Tunawicara, terlebih di rumah gadis itu sendiri.

Ketika tubuhnya mendapat guncangan pelan, tak ayal membuat Han terburai dari alam mimpi. Bangun lalu terkejut, berakhir dengan kepanikan. Gadis itu langsung mengajaknya masuk ke dalam, menawarkan bantuan usai sepanjang malam bergelut dengan dingin.

Akila membawa semangkuk mie kuah kari pedas yang baru dimasak. Asapnya mengepul tebal— menebar aroma lezat yang menggelitik hidung.

Cacing dalam perut Han mulai meronta. Ia menelan ludah.

Glek.

Akila menghidangkannya kepada Han. Ia memberi bahasa isyarat, bermaksud menyuruh lelaki tampan itu makan, namun tampaknya dia tak mengerti dengan bahasa tubuh.

Beranjak dari duduk bersimpuhnya, mengambil buku kosong beserta pena dan setelah itu Akila kembali duduk di hadapan Han. Segera buku kosong tersebut dipoles dengan tinta pulpen, cara jitu mengganti bahasa isyarat dengan menuliskan kalimat dikertas. Beruntung dirinya dahulu pernah ikut bergabung dalam pelajaran membaca dan menulis di tempat khusus Tunawicara/Tunarungu.

Selesai menulis, Akilla langsung menyodorkan hasilnya di hadapan Han.

“Aku membuatkannya untukmu. Silahkan dimakan.”

Tentu saja Han tak menolak. “Ah, terimakasih.” dengan cepat ditariknya mangkuk mie tersebut. Akila terkekeh geli melihat tingkahnya.

Slrrupphh…

Ini terlalu lezat, Han tak bisa berkata-kata. Rasa yang benar-benar sempurna, terlebih untuk seorang pecinta mie kelas kakap.

Akila agak terkejut. Bagaimana tidak, dalam hitungan di bawah lima menit semangkuk mie kuah ludes tak berbekas. Cepat sekali dia makan.

Han merasa bahwa dirinya sudah seperti seorang gelandangan. Ia kerap lepas kendali jika dihadapkan dengan mie, terlebih untuk rasa sesempurna ini.

Selesai makan dan minum, kembali Akila menyodorkan kertas yang telah ia isi dengan beberapa kalimat. Kali ini sebuah pertanyaan.

“Apa kau tidak punya tempat tinggal?”

Pertanyaan itu tidak salah, melainkan Han sendiri yang salah. Tidur di emperan rumah orang seperti tidak punya tempat tinggal.

“Kau bisa mendengar suaraku?”

Akila mengangguk.

“Bagaimana bisa?”

Semua orang tahu, bisu dan tuli suatu penyakit yang terhubung bagi si penderita. Pertanyaan Han terjawab ketika Akila menyelipkan helaian rambutnya ke belakang telinga. Memperlihatkan sesuatu.

Dia memakai alat bantu pendengaran. Han baru mengetahuinya, dan itupun setelah ditunjukan.

“Aku punya rumah, tapi hanya sendirian di sana.”

Ternyata dia seorang yang kesepian, pantas saja sedikit sensitive ketika tersenggol tanpa sengaja sewaktu di kafe.

“Siapa anak laki-laki itu?”

Pertanyaan itu membuat Akila sedikit terkejut. Buru-buru ia menulis.

“Bagaimana kau bisa tahu?”

Han menyentuh tengkuknya kikuk. “Ehm… Aku pernah melihat kalian tanpa sengaja.” sungguh, ia tak akan berbohong. Jawaban ini memang jujur.

Akila membalas dengan cepat. “Aku berjuang melawan kerasnya hidup demi dia, karena dialah satu-satunya harta yang kumiliki saat ini setelah kepergian kedua orang tuaku.”

Bagai dihantam batu raksasa lalu terlempar ke jurang paling tinggi di dunia, setelah Han mengetahui fakta pilu tentang gadis Tunawicara itu.

Han berpikir, bagaimana mungkin dirinya bisa kalah telak dengan seorang gadis Tunawicara sekaligus Tunarungu. Derita hidup yang tak seberapa terlalu dikeluhkan, merasa seakan menjadi manusia paling malang di dunia.

Han merasa malu setelah menyadari ketidakbersyukurannya atas pemberian Tuhan. Sungguh bodoh, ke mana dirinya selama ini? Hanyut dalam kesengsaraan yang diciptakan sendiri.

Padahal kerap melihat orang-orang hidup dalam kesulitan dijalanan, namun tak membuat Han sadar diri, karena yang dilihat selama ini hanya aktifitas mereka tanpa mengenal dari dekat. Hidupnya hampa setelah kehilangan orang-orang yang dicintai, sehingga merasa menjadi manusia paling menderita di dunia tanpa melihat sekeliling tempat.

Han malu kepada Akila, juga kepada orang-orang malang diluaran sana. Anak-anak, orang tua hingga orang tak waras. Sungguh, ia benar-benar malu. Lebih malu lagi kepada Tuhan.

Han baru sadar, seharusnya ia tahu cara untuk bersyukur.

***

Kali ini kesibukan Han cukup jelas. Dalam semingguan ini disibukan dengan pengelolahan Hotel peninggalan sang Ibu. Keputusannya tersebut sempat membuat sang Ayah terkejut, lantas pada waktu yang bersamaan ia menjadwalkan pelajaran bahasa isyarat menggunakan ponsel melalui aplikasi online. Sedikit demi sedikit mulai memahami bahasa tubuh, namun untuk mengerti sepenuhnya membutuhkan waktu yang panjang.

Bagi Han, paling tidak sudah mengerti walau masih sedikit.

Tak lupa, disela kesibukannya, Han kerap menyempatkan waktu mengunjungi Akila. Meski hanya bisa di siang hari dengan waktu terbatas, itupun hanya di kafe sekedar pelayan dan pembeli.

Han menghela napas lega setelah berhasil menyelesaikan berkas-berkas Hotel. Hari ini ia dibuat lembur lagi seperti hari sebelumnya, tapi untunglah menjadi kerja keras yang tak sia-sia selama beberapa hari.

Berkas-berkas yang menumpuk hingga menjulang tinggi sudah teratasi, namun semuanya tak cukup sampai di situ karena besok akan ada hari sibuk selanjutnya. Bahkan seterusnya mengingat bahwa sekarang Diamon Hotel, Han sendiri yang mengelola dan bukan lagi Pamannya.

Karena sudah hampir larut malam, pastinya sebagian kafe sudah mulai bertutupan, terutama kafe tempat Akila bekerja.

Han tidak punya pilihan untuk menolak ajakan si pikiran. Tubuh nan atletis itu menggiringnya tanpa beban, lalu si kaki menyinggahkan pada sebuah rumah kayu sederhana.

Ya, rumah itu lagi.

Hampir satu jam menunggu di sana. Sendirian melawan dingin serta sepinya malam tanpa berbekal kain penghangat. Hanya sepatu kulit mengkilap, celana blazer hitam berbahan katun kemudian kemeja putih yang dilapis jas sewarna dengan celana.

Kalau lebih dari ini bisa dipastikan keesokan hari Han akan terserang demam tinggi.

Lagi-lagi kejutan dari pria itu, sosok yang belum lama ini dikenal. Kini Akila kembali dihadirkan dengan sosok Han Andarata di depan rumahnya. Kali ini kondisinya cukup mengenaskan. Dia tampak mengigil karena kedinginan akibat perbuatan gerimis-gerimis kecil malam ini.

Senyum tipis mengambang tatkala sosok yang dinanti mati-matian akhirnya menampakan batang hidung. Han berdiri dengan tubuh menggigilnya. Tak disangka akan sedingin ini. Salahkan saja dirinya yang mau berlama-lama berada di luar.

Akila memberi bahasa isyarat. “Apa kau baik-baik saja?” raut cemas tak dapat disembunyikan.

Bukannya menjawab, Han malah mengangkat plastik belanjaan ditangannya ke depan wajah Akila. “Mau menikmati Mie Cup?”

Akila diam mencerna. Menatap lekat pada manik hitam Han, sesaat kemudian beralih ke plastik transparan dalam genggaman jari-jemari panjang tersebut.

Masih ada waktu untuk menerima tamu.

Senyum di wajah Han kian merekah. Gadis berhidung kecil itu mengangguk pertanda menerima ajakan kencan darinya. Lebih cocok disebut begitu.

Han bahagia. Terimakasih untuk Akila. Berkat dari cerita pilu pada waktu itu, sekarang ia tahu ke mana arah tujuannya dalam melangkah.

***

( Cerpen ini diikutsertakan dalam lomba menulis cerpen Okeylah Media )

Suka Artikel Ini ?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

error: Content is protected !!