[ Cerpen Inspirasi ] Ketika Tiga Puluh

6 min read

cerpen romantis ketika tiga puluh
5
(5)

Cerpen Inspirasi – Ketika Tiga Puluh

Cerpen Inspirasi ini berkisah tentang seorang ibu rumah tangga yang merasa berat menjalani kehidupannya, riwayat pernikahan muda, melupakan gelar sarjana dan situasi rumah tangga bercampur aduk. Namun saat dia mendapatkan kenyataan yang buruk dialami oleh tetangganya, semua berubah seketika

Baca Juga : Cerpen Religi – Impian Qurban Tukang Pijat Keliling

Aku berusia tiga puluh tahun. Dan disaat ini adalah Ibu dari seorang anak berusia tiga tahun bernama Tomi. Serta, istri dari seorang Sales Marketting produk susu.

Dulu aku menikah muda, gelar sarjana manajemen bisnis yang kumiliki tidak pernah kugunakan sampai sekarang. Aku murni hanyalah Ibu Rumah Tangga.

Kegiatanku monoton, setiap hari sama. Mencuci, mengurus anak, membereskan rumah, memasak. Kadang, bukan kukerjakan satu persatu, tapi dua atau tiga sekaligus. Aku lelah.

Seawal apapun aku memulai kegiatanku, sampai malam hari, rasanya tidak pernah selesai juga. Dulu, aku tidak pernah membayangkan di usia tiga puluh tahun, akan memiliki hidup seperti ini.

***

Tomi masih tidur, tadi dia bangun jam empat subuh dan main sampai jam lima lewat. Kemudian kembali tidur.

Sambil berdiri, aku bersender pada pagar rumahku, sekarang sekitar jam setengah tujuh. Biasanya tukang sayur akan lewat sebentar lagi.

“Buk Retno! Ngapain diam di sana? Entar kesambet loh…” tegur Mbak Ima, tetangga sebelah rumahku yang sedang menyapu

“Mbak Ima? Nggak ngajar?” tanyaku, dia adalah seorang guru SMA, pasti menyenangkan, apalagi anaknya sudah besar-besar.

“Loh? Buk Retno ini, ada ada aja. Ini kan hari minggu!” tawa Mbak Ima sebelum masuk ke rumahnya.

Aku hanya tersenyum getir. Bahkan aku sekarang sudah mulai lupa hari. Jika ini hari minggu, berarti tukang sayur tidak akan lewat. Mereka pasti lebih memilih memarkirkan gerobak di dekat pasar. Untuk apa aku menunggu disini?

Saat aku masuk ke rumah, Tomi menangis. Mungkin karena dia baru bangun dan tidak menemukan aku. Mungkin dia pikir, aku meninggalkannya di rumah sendirian.

“Eh, anak mama sudah bangun..” sapaku riang

Setelah Tomi diam, aku memandikannya, dan kami pergi ke pasar untuk belanja bahan masakan hari ini.

“Retno? Kamu apa kabar?” sapa Marlina di parkiran pasar

Aku tersenyum, menurunkan standar motor dan menggendong Tomi. Marlina langsung mencubit pipi anakku, dia selalu geram jika melihat anak kecil sejak dulu.

Saat Marlina sedang mencoba mengakrabkan diri dengan Tomi, aku memerhatikan penampilannya. Celana dasar bewarna cream, tunik putih yang ditutupi jas kotak-kotak tiga perempat yang senada dengan celananya. Sedangkan aku, hanya memakai daster.

“Retno? Kamu sehat?”

“Oh, i-iya sehat, kamu?”

“Sehat, kamu sendiri? Eh, maksudnya cuma dengan anak, gitu?” Marlina mulai melangkah memasuki pasar, aku mengimbanginya sambil menggenggam tangan anakku yang juga mengimbangi langkah kami.

“Iya, kamu juga?”

Marlina hanya menggidikkan bahunya, mungkin tanda malas menjawab pertanyaanku. Marlina sudah janda, pernikahannya hanya bertahan tiga tahun.

“Anak kamu mana?” tanyaku lagi,

“Sama Mama, di rumah.”

“Kok nggak diajak?”

“Masih tidur, kemarin sempat demam.hari ini pengen di rumah aja sebenarnya. Tapi, siang nanti ada perjalanan dinas. Huh..”

“Wah! Kenapa sampai demam?”

“Nggak tahu! Aku sempatin belanja buat bikin makanan kesukaannya ini. Biar banyak makannya dan nggak sakit mendadak lagi”

“Ya, aamiin, kalo gitu” aku spontan menatap Tomi dan mengusap kepalanya. ‘Sehat-sehat, ya, Nak’ batinku

Setelah selesai belanja, aku dan Marlina berpisah di parkiran. Marlina melambaikan tangannya sekali lagi sebelum masuk mobilnya.

“Ma?” Tomi menarik-narik tanganku

“Apa?” tanyaku pelan sambil berlutut

“Mau naik itcu” tunjuknya ke arah parkiran sebelah kiri, ada odong-odong.

“Itcu?” aku mengikuti cara pelafalannya

Tomi mengangguk, aku juga.

***

Esoknya, saat akan menjemur pakaian. Aku melihat Buk Desi dan suaminya, tetangga depan rumahku, mereka sudah delapan tahun menikah tapi belum punya anak.

Mereka berangkat ke kantor bersama, kebetulan mereka memang sekantor. Buk Desi sempat senyum menyapa sebelum masuk mobil. Aku balas dengan anggukkan.

Pasti enak, selalu sama-sama.

Sebagai istri seorang sales marketing, itu adalah hal yang sulit bagiku. Mungkin karena dia sangat sibuk, terutama jika ada perekrutan sales. Dia akan jadi pengawas selama masa pelatihan. Dia juga bertanggung jawab atas semua sales produk yang harus terjun kelapangan, meski ketika itu dia pun sedang sibuk membuat presentasi harian di kantor.

Jadi, dia harus siap kapanpun jika ada kecelakaan kerja yang dialami sales baru. Seperti pingsan karena kelelahan atau kekerasan yang dilakukan pihak tertentu dan lain-lain. Di dalam kondisi itu, suamiku akan buru-buru keluar kantor untuk terjun langsung memeriksa sebagai penanggung jawabnya.

“Retno, rajin banget.”

Aku tersenyum ke sumber suara “Kak Sita? Ah biasa aja, Kak” kataku

“Rajinlah itu, Kakak aja tiga hari sekali baru nyuci”

“Wah? Hehe Kakak, Kan, sibuk” kataku, Kak Sita adalah tetangga yang cukup ramah, dia memiliki usaha rumahan yang cukup terkenal di sekitaran komplek, dan sudah memiliki tiga karyawan yang membantunya.

“Haha, Mari, kalo gitu, No” izin Kak Sita

“Mari, Kak”

***

Saat sedang arisan di rumah Buk RT.

Aku mendengar hal yang tak pernah kubayangkan bahkan sempat terlintas saja juga tidak.

Jadi, acara sudah selesai. Hanya menyisahkan beberapa ibu-ibu saja dan rumah yang berantakkan. Tomi tertidur pulas dan kubaringkan di Sofa depan.

Jadi, acara sudah selesai. Hanya menyisahkan beberapa ibu-ibu saja dan rumah yang berantakkan. Tomi tertidur pulas dan kubaringkan di Sofa depan.

Aku sedang membantu mengangkat piring kotor kedapur, dan disaat itulah Buk Yis dan Buk Nik yang sedang mencuci piring menarik tanganku untuk duduk di dekat mereka.

“Buk Retno, tahu kan?” tanya Buk Yis berbisik

“Apa ya, Buk? Saya jadi bingung” akuku sambil mengambil piring basah untuk dilap.

Sebenarnya aku tidak begitu suka mendengar berita simpang siur. Karena itu membuat praduga yang tidak jelas kebenarannya. Mungkin itu juga yang menyebabkan glagatku jadi tidak nyaman.

“Buk Desi, itu loh, tetangga depan rumahmu. Mau cerai, sama suaminya.” Buk Yis sudah tidak lagi menatapku, dia bicara sambil mencuci piring. Dan Buk Nik yang membilas piring pun hanya mengangguk.

Aku tertegun. Piring yang kupegangpun hampir jatuh.

Beberapa malam yang lalu, aku memang mendengar adanya pertengkaran di rumah Buk Desi. Tapi tidak begitu heboh, akupun bisa mendengar karena masih bangun, suamiku pulang larut malam itu.

“Anak saya yang lagi magang di pengadilan agama, lihat sendiri, Buk Desi daftarin dokumen perceraiannya” kata Buk Nik berusaha meyakinkan

“Aduh, Buk, saya nggak tahu sama sekali. Perasaan mereka baik-baik aja.” kataku menepis segala praduga yang muncul

“Gimana loh, Buk Retno ini, mana ada mereka baik-baik aja. Sepuluh tahun menikah belum punya anak!” gerutu Buk Yis.

Jika masalah anak itu kan rejeki, dan rejeki tuhan yang ngatur. Meskipun aku menikah muda, aku juga butuh beberapa tahun lamanya sampai punya anak. Makanya Tomi baru berusia tiga tahun.

“Mereka baru menikah delapan tahun, kok, Buk” kataku meluruskan.

“Saya delapan tahun, sudah punya tiga anak, Buk Retno!” sergah Buk Yis

“Hahaha Buk Yis, emang doyan itu namanya” ejek Buk Nik menyipratkan air bekas bilasan piring yang menempel di tangannya ke arah Buk Yis.

Aku hanya diam, memikirkan Buk Desi.

Apa benar ya Buk Des?

***

Suka Artikel Ini ?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 5

No votes so far! Be the first to rate this post.

error: Content is protected !!