[ Cerpen Inspirasi Keluarga ] Semua Salah Ayah

5 min read

cerpen inspirasi keluarga semua salah ayah
4.8
(31)

Pernahkan kamu merasa kecewa, tentang masa lalu yang pernah dilakukan oleh orang tuamu?

Masa lalu yang membuatmu dipandang rendah dan dihina orang-orang.

Hal itu dirasakan oleh Riki.

Ketika orang lain membanggakan pekerjaan orang tuanya, Riki hanya meringis dalam hati.

Katanya, tidak ada yang bisa dibanggakan dari orang tuanya.

Hidup berdua bersama sang ayah, membuatnya terasa sulit. Terlebih, masa lalu sang ayah yang pernah menjadi pesakitan, akibat membunuh orang dan ibunya yang pergi bersama lelaki lain.

Orang-orang selalu menganggap mereka hina dan penjahat.

Teman-temannya di sekolah pun, selalu menyebutnya pecundang, mereka tidak mau mempunyai teman, anak dari seorang pembunuh.

Semua orang menjauhinya.

Kisah cinta anak muda pun menjadi imbasnya, sang ibu dari kekasih malah membencinya.

Hal itu membuat Riki selalu menyalahkan sang ayah. Semua salah ayah, katanya.

Hanya satu keinginan ayahnya. Dia ingin melihat putranya itu sukses, jauh dari lingkungan yang kejam ini.

Akankah Riki berhenti menyalahkan sang ayah dalam hatinya?

***
Baca Juga :

[ Cerpen Inspirasi ] Senjaku Dengan Keluarga Semut

cerita inspirasi keluarga semua salah ayah

Apa yang kamu banggakan dari ayahmu?

Kurasa, tidak ada yang bisa dibanggakan dari ayahku sendiri.

Sudah bertahun-tahun hidup terasa sulit, mengingat hidup bersama Ayah seorang. Aku hanya menjalani hari-hari dengan perasaan yang tidak bisa dijabarkan.

Pernah suatu ketika aku berkumpul bersama teman. Dengan bangga mereka menceritakan pekerjaan ayahnya. Ada yang menjadi tentara, polisi, dokter, guru sampai pejabat. Aku hanya meringis dalam hati, tidak ada yang bisa kubanggakan sendiri.


***

“Ki, cepat habiskan sarapanmu!” teriak Ayah dari luar. Aku malas diantar olehnya. Padahal aku ini sudah besar, kenapa tidak diberi uang untuk naik angkot saja, sih?

Dengan malas kuhabiskan nasi goreng yang dibuatnya. Hambar, tidak ada rasa sama sekali.

Kulangkahkan kaki dengan gontai ke luar rumah. Tidak ada semangat. Terlebih, ada ulangan matematika yang menyambut pagi ini.

“Belajar yang rajin, Ki. Jangan kayak ayah, paling tidak kamu harus masuk PTN dan jadi insinyur,” ucap Ayah sambil memberikan helm padaku.

Masuk PTN? Jadi insinyur? Mustahil. Cita-cita Ayah terlalu tinggi untuk seorang pekerja serabutan. Lagi pula, otakku juga tidak pintar-pintar amat.

Aku hanya mengangguk dan langsung menaiki motornya. Motor butut tahun 90-an. Orang-orang menatap kami dengan pandangan yang tidak bersahabat, selalu saja begitu. Semua ini karena masa lalu Ayah.

Tidak terasa kami sudah sampai di depan gerbang sekolah. Aku langsung turun dari motor, lalu mencium tangannya. Ayah langsung tancap gas untuk pergi bekerja.

Bila ditanya Ayah kerja apa. Jawabanku, adalah tidak tahu. Ayah tidak punya pekerjaan yang tetap seperti orang tua lain pada umumnya. Kerjanya serabutan, itu pun bila disuruh orang.

Kulangkahkan kaki menuju kelas. Banyak yang bercokol di depan koridornya masing-masing.

Kududukkan diri di kursi dan kubuka halaman per halaman, menghafal beberapa rumus yang sekiranya lumayan sulit. Tidak lama bel pun berbunyi, guru Matematika pun sudah siap untuk membagikan lembar soal.

***

“Ki, awas!” teriak seseorang dari lapangan. Aku yang sedang berjalan di pinggir lapangan pun menoleh ke arahnya.

Bugh!

Sebuah bola menghantam tubuhku.

Sakit? Pastinya. Bola itu mengenai dadaku dengan keras.

“Kau tak apa, Ki?” tanya seseorang.

Aku menoleh ke arahnya. Dia. Dia lagi, aku memegangi dadaku sambil terbatuk.

“Tidak apa-apa,” jawabku. Raut wajahnya mengisyaratkan kekhawatiran.

“Woy, Melissa! Ngapain ngobrol sama si pecundang, sih?” teriak teman laki-lakinya yang melempar bola ke arahku tadi—mereka sedang melakukan permainan bola voli.

Aku menghela napas dengan kasar. Kata ‘Pecundang’ selalu ditujukan kepadaku, di mana pun dan kapan pun itu.

“Maaf ya, Ki.” Melissa berlari ke lapangan, aku hanya menatap kepergiannya.


***

“Kau jangan dekat-dekat dengan Melissa! Ayahmu mantan pembunuh, lalu kau mau jadi apa? Pejudi, perampok, bandar narkoba, atau jangan-jangan, kau mau memanfaatkan anak saya, hah!”

“Ibu jangan kayak gitu, Riki hanya mengantar Melissa saja, Bu,” ucap Melissa berusaha membelaku dan meyakinkan ibunya.”

Memang, ibu Melissa tidak menyukaiku sedari awal. Kata-kata pedas selalu terucap dari mulutnya.

Melissa adalah gadis yang baik, cantik, dan pintar. Aku tidak pernah berniat untuk menyukainya sama sekali, melihat diriku yang memang tidak sebanding dengannya. Namun, cerita berkata lain.

“Ki, lu gak sadar diri banget, sih. Kok Melissa bisa mau, ya, pacaran sama orang kayak lu?” ucap salah satu teman sekelasku.

Mereka selalu saja membanding-bandingkan diriku dengan lelaki yang menyukai dan berusaha mendekati Melissa.

Lamunanku terbuyar.

Kenapa aku selalu dipandang rendah, dianggap sebagai sampah dan penjahat? Bahkan, oleh teman-temanku sendiri.

Semua salah Ayah, masa lalunya yang pernah menjadi pesakitan akibat membunuh orang.

Semua salah Ayah, Ibu pergi dengan laki-laki lain.

Semua salah Ayah, teman-temanku jijik terhadapku.

Ingin kuluapkan seluruh emosiku padanya.


Bel pulang sudah berbunyi sedari tadi, aku hanya menunggu kelas ini kosong. Kulangkahkan kaki meninggalkan ruangan kelas, menuruni beberapa undakan tangga.

Ada sekelompok orang yang harus kuhindari; Ande dan kawan-kawannya. Sekumpulan siswa yang suka memalak dan memeras para murid yang tertindas.

Dengan perlahan kuteruskan langkahku sambil menunduk. Tidak mau mereka melihatku.

“Woy! Sini, Ki!” panggil salah satu dari mereka.

Kuhentikan langkahku seketika.

“Ada apa, Nde?” tanyaku sambil menoleh ke arahnya. Sungguh, perasaanku merasa tidak enak.

“Minta duit, lah!”

“Gua gak punya duit, Nde,” elakku.

“Alah bohong lu, duit hasil curian bokap lu pasti ada.”

Mataku melotot ke arahnya. Aku tidak suka dikaitkan dengan Ayah. Terlebih, cibiran yang selalu mereka lontarkan kepadaku.

Ande menarik kerah bajuku, lalu menghujamkan bogeman mentah ke wajah dan menyeretku ke lapangan. Aku sedikit meringis kesakitan.

Pukulan pertama, aku masih bisa bertahan.

Pukulan kedua, tubuhku mulai tidak bisa menahan serangan.

Pukulan ketiga, tubuhku ambruk dan jatuh ke tanah.

Tidak puas dengan itu, teman-teman Ande yang lain pun ikut mengeroyokku.

“Ini hukuman buat seorang pecundang kayak lu!”

Tidak peduli, entah berapa banyak pukulan yang mereka berikan. Sakit—tidak ada gunanya lagi merasakan itu. Orang yang berlalu lalang, tidak ada yang berniat untuk menolongku. Seakan-akan, aku adalah tontonan gratis di area MMA.

“Lu itu sampah, Ki. Lu itu gak guna, lu itu anak dari seorang pembunuh!”

“Gua juga gak bisa milih gua harus jadi anak siapa! Asal lu tahu, lu juga sama kayak gua. Sama-sama anak dari mantan napi!”

***

Tubuhku terkapar sendirian di tengah lapangan. Langit sudah mulai menggelap karena mendung, tetes air perlahan mulai menyentuh wajahku.

“Riki!” teriak seseorang yang kukenal suaranya. Ayah, ya, itu Ayah.

Ayah berlari menuju tempatku, lalu membantuku untuk berdiri dengan perlahan. Cairan merah mengalir begitu saja dari hidungku, belum lagi rasa perih dan ngilu di sekujur tubuh ini.

“Berantem lagi?” tanyanya. Aku mendengkus kasar. Semua ini terjadi karena dia, karena Ayah.

Semua salah Ayah!

Kami masih berada di pos satpam sekolah. Hujan mulai turun dengan deras, kami bisa basah kuyup jika pulang sekarang.

Hening. Tidak ada yang bersuara, baik Ayah maupun aku.

“Semua ini pasti gara-gara ayah, ‘kan?” Ayah memulai perbincangan.

“Kamu pasti malu punya orang tua seperti Ayah,” lirih Ayah. Aku masih bisa mendengar suaranya.

“Pasti berat bagi kamu, jalani ini semua,” lanjutnya lagi.

Aku menatap wajahnya dari samping. Wajah yang tampak keriput, wajah yang sudah tidak muda lagi.

Tiba-tiba aku teringat masa kecil. Dulu, aku selalu duduk di atas pundak Ayah. Entah, aku umur berapa kala itu.

Tanpa sadar, aku menyunggingkan seulas senyum tipis.

Kubaringkan kepalaku dipangkuan Ayah. Ayah mengusap kepalaku dengan pelan. “Putra kecil ayah sudah besar rupanya.”

Air mataku mengalir begitu saja. Apa aku terlalu tega, setiap hari dalam hati, selalu menyalahkannya?

Ayah sangat menyayangiku, dia tidak pernah marah ataupun membentak.

Ayah selalu berbuat baik terhadap orang lain. Namun kebaikannya, selalu ditolak mentah oleh semua orang.

“Ki, kamu pantas malu mengingat kesalahan ayah di masa lalu, kamu juga berhak marah akan itu. Namun ayah berharap, jangan sampai semua ini merusak masa depanmu.

“Belajar dengan baik, jangan dengarkan kata orang. Ayah ingin kamu jadi anak yang sukses, terbebas dari lingkungan kejam ini. Ayah ingin melihat kamu menikah dan punya anak, kamu harus mendidik anakmu dengan sebaik-baiknya.”

Suara Ayah yang sedikit parau. Aku tahu, dia sedang menahan tangis saat ini.

Hujan sudah reda, Ayah membangunkanku. Padahal aku hanya menutup mata sambil mendengarkan perkataan Ayah.

Kami pun pulang dengan motor butut itu. Ah, bukan butut, legendaris itu namanya.

Di tengah jalan, seketika Ayah menghentikan motornya. Ternyata ada seekor kucing di tengah jalan. Ayah menepikan motor, lalu turun dan berlari menghampiri kucing itu.

Tunggu, bukannya tadi telah turuh hujan? Kenapa tiba-tiba ada pelangi di tengah mendungnya awan? Lagi pula, ini sudah tampak magrib, mustahil ada pelangi.

Aku mengejapkan mata berkali-kali. Namun, mataku tertuju pada sebuah truk yang melaju dengan kencang dari arah kanan, Ayah masih ada di tengah jalan sambil membawa seekor kucing.

“Ayah!” teriakku dari tepi jalan. Begitu cepat lajunya, sampai truk itu menabrak tubuh Ayah.

Tubuh Ayah terpental jauh bersama seekor kucing itu, bunyi hantaman tubuh dengan awak truk masih saja berdengung di telingaku. Air mataku jatuh seketika, tidak mampu menahan sesak yang mencekam dalam dada.

Kuberlari menghampiri Ayah. Tubuhnya berlumuran darah, matanya yang terpejam membuatku kehilangan daya.

Tangisku pecah begitu saja. Orang-orang mulai berkerumun, aku berteriak meminta tolong sambil menidurkan kepala Ayah di pangkuanku.

Beberapa orang datang untuk menggendong Ayah. Tubuh Ayah diangkat dan dibawa ke dalam mobil ambulans. Suara sirine dari mobil, mengiringi perjalanan kami ke rumah sakit.

Para perawat itu tidak mengizinkanku masuk, aku hanya perlu menunggu kabar baik atau buruknya di luar ruangan.

Bibirku tidak berhenti bergerak untuk mengucapkan doa-doa. Aku tidak mau kehilangan Ayah.

Salah satu perawat ke luar dari ruangan, lalu berkata, “Ayahmu sudah tiada.”

Tubuhku gemetar menahan tangis. Kuberlari menemuinya. Tubuh yang kaku itu, sudah tertutup dengan kain putih. Matanya terpejam begitu damai.

Tidak! Ayah belum tiada. Kuguncangkan tubuhnya beberapa kali. Namun nihil, tubuh Ayahku sama sekali tidak bergerak.

Tubuhku merosot ke lantai, pandanganku tiba-tiba kabur.

“Riki!”

Deg!

Tubuhku tersentak, pipiku terasa basah. Mataku terbelalak melihat Ayah di depanku.

“Mimpi buruk, Nak?”

Aku menganggukkan kepala. Ternyata ini hanya mimpi. Sungguh sakit kehilangan orang tua, bahkan hanya dalam sebuah mimpi.

“Ayo kita pulang, hujan sudah reda,” ucap Ayah sambil melenggang ke arah motor yang terparkir.

Jantungku masih berdetak tidak karuan. Mimpi itu terasa nyata sekali. Aku tidak ingin kehilangan Ayah walaupun itu, hanya sebuah bunga tidur.

Aku langsung menaiki motornya dan memeluk pinggang Ayah dengan erat.

Apa pun kesalahan Ayah di masa lalu, sebanyak apa pun orang membencinya. Bagiku sekarang, Ayah tetap yang terbaik.

Aku sayang Ayah ….

Semua ini bukan salahnya ….

Lebih baik menjadi seorang anak dari mantan penjahat sekalian, daripada menjadi anak dari mantan orang baik.

Suka Artikel Ini ?

Click on a star to rate it!

Average rating 4.8 / 5. Vote count: 31

No votes so far! Be the first to rate this post.

error: Content is protected !!