[ Cerpen Horor ] Bisikan Dari Masa Lalu

Cerpen Horor – Pratama atau yang biasa dipanggil Tama seorang karyawan yang masih lajang dan tinggal di kota. Dia selalu menyempatkan pulang kampung di kala libur. Kepulangannya bukan saja melepas kangen dengan Ibu dan saudarasaudaranya, tetapi juga karena ada bisikan yang memanggilnya pulang. Tama terkenang oleh sosok Dewi Gayatri, gadis bangsawan yang pernah didongengkan oleh Nek Birah di masa kecilnya.
Dewi Gayatri menjalin cinta dengan Aryo Wirejo, namun hubungan mereka tidak direstui orang tua Gayatri. Aryo Wirejo pergi mengembara. Dewi Gayatri mencarinya, namun dia kecewa karena Aryo Wirejo sudah menikah dengan wanita lain. Gayatri marah hendak mencelakai mereka. Niat jahatnya diketahui warga, Gayatri lalu dihakimi warga hingga tewas.
Konon, jasad Dewi Gayatri disemayamkan di atas bukit utara desa. Pada suatu malam purnama Tama datang ke tempat itu dan bertemu Dewi Gayatri. Disanalah Tama memadu kasih dengan wanita cantik itu. Seakan Dewi Gayatri hidup kembali. Namun ternyata wanita itu tak lain jelmaan jin yang menyaru sebagai dewi Gayatri. Esok paginya Tama ditemukan telanjang sedang memeluk pohon Gayatri oleh warga desa yang mencarinya. Tama sangat malu sekali. Dia segera dibawa pulang oleh pamannya.

Cerpen Horor – Bisikan Dari Masa Lalu


Setiap kali pulang ke kampung halaman, aku selalu dihinggapi gairah yang menggebu-gebu. Bukan sekadar letupan rasa kangen bisa bertemu kembali dengan Ibu, sanak kerabat, atau teman-teman semasa kecil. Juga bukan karena perasaan senang bisa terlepas dari rutinitas kerja yang cukup memenatkan di kota. Acara pulang ke kampung halaman saat cuti libur sudah menjadi agendaku setiap tahun. Aku selalu menyempatkan barang satu minggu menengok rumah masa kecilku nun di pelosok desa, menengok keadaan Ibu yang semakin renta di usia senja.

Baca Juga :

[ Cerpen Horor ] My Doppelganger?


Tapi ada sesuatu yang menggelinjang dalam diriku untuk pulang ke rumah. Semacam ada magnet kuat menarik diriku. Mungkin kedengarannya takhayul dan tidak masuk akal sehat, aku dihinggapi semacam kerasukan. Ada makhluk lain dalam diriku yang memaksaku untuk bergegas pulang, ia memprovokasiku melalui bisikan gaib yang menyusup ke dalam gendang telinga. Ayolah, Tam. Aku ingin segera bertemu kekasihku. Dia sedang menungguku. Bertahun-tahun dalam dekapan sunyi yang menyiksa. Tidakkah kau tahu, cinta bisa mengalahkan segalanya!
Mungkin aku telah dihinggapi sebuah obsesi masa kecil yang keterlaluan. Aku tertantang oleh kisah yang pernah dituturkan oleh Nek Birah, seorang wanita tua yang tinggal sebatang kara di gubuk reot ujung kampung. Wanita itu sekarang sudah tiada, lebih tepatnya menghilang. Sebab, jasadnya yang terseret arus dan tenggelam di sungai Wiroko, saat dia sedang mencuci pakaian, tak pernah ditemukan.


Tapi sebagian orang percaya kalau dia tidak meninggal, melainkan hilang. Dia sengaja menyembunyikan dirinya, bertapa di salah sudut goa gelap yang ada di lereng gunung Gandul, tak jauh dari kampungku. Untuk menyempurnakan ilmu kesaktiannya, Wijayakusuma. Kejadian itu sudah beberapa tahun silam, tepatnya saat aku masih duduk di bangku SMA. Jadi kupikir, mengingat usianya yang konon sudah ratusan tahun waktu itu, tak mungkin dia bisa hidup hingga sekarang, setelah duapuluh tahun lewat.


Perkenalanku dengan Nek Birah terbilang unik. Aku memasuki gubuk tempat tinggal wanita tua itu karena melihat seekor tupai menyelinap ke dalam. Banyak anak-anak kecil takut mendekati rumah Nek Birah, semata karena cerita seram yang dihembus-hembuskan ibu mereka. Kehidupan Nek Birah yang penyendiri, terasing dari pergaulan, tertutup, dengan penampilan layaknya gembel jalanan –rambut kusut, muka kisut, kulit keriput, baju kumal berkerut—, terbitlah syak wasangka tentang kepribadiannya yang serba gelap.


Konon, ia pengamal ilmu hitam, suka menculik anak kecil untuk dijadikan tumbal, bersekutu dengan iblis, dan sangkaan-sangkaan buruk lainnya yang semakin menyudutkan wanita tua itu ke dalam persepsi negatif masyarakat. Aku sendiri sebenarnya juga takut berdekatan dengan Nek Birah. Tapi hasrat menangkap tupai yang lucu itu menguapkan rasa takut. Tahu-tahu aku sudah berada dalam gubuk.


Dan mataku terbelalak melihat pemandangan di dalam. Terlebih ketika suara berat dan serak menyeruak ke gendang telingaku. “Cari apa, le?” Panggilan le berasal dari penggalan kata Jawa, yakni thole yang artinya anak. Aku berdiri kaku seperti tiang listrik. Kepalaku rasanya dibanduli benda berton-ton ketika akan menoleh. Sementara sosok seram dengan tongkat kayu hitam berdiri hanya dua langkah di sampingku.


Kenyataan bahwa aku menemukan puluhan binatang kecil, benda-benda aneh dan asing berserak di dalam ruangan, menguatkan cerita-cerita yang pernah kudengar. Dan celakanya, aku telah terjebak di sini layaknya terdakwa hukuman mati yang siap dieksekusi!


Namun, saat mataku bersirobok dengan bola mata yang tersembunyi dalam cekungan hitam, dinaungi sepasang alis hitam, dan garis bibirnya yang pucat tertarik ke samping, segalanya menjadi berubah. Bayangan seram, gothic, burung gagak, ilmu hitam, syetan, dhemit, dan handicap lainnya langsung sirna. Nek Birah jauh dari persangkaan orang selama ini. Dia ramah, santun, dan lebih dari itu, baik hati. Dia menyambutku layaknya tamu agung. Disilahkannya aku duduk di kursi, dikeluarkannya makanan untuk menjamu, dan dengan suaranya yang halus lembut ia bertutur kepadaku. Awalnya aku sangsi, mungkin ini bagian trik dari seorang nenek sihir yang doyan makan anak, seperti tergambar dalam dongeng Hansen and Gretel karya H.C Anderson.

Tapi tidak, semuanya alamiah. Kepribadiannya tidak dibuat-buat, memang ia orang yang baik. Dia lalu menjelaskan tentang binatang-binatang yang berkeliaran di dalam rumahnya. Kucing, tupai, anjing, marmut, kadal, bunglon, tikus, burung jalak, burung dara, tokek, trenggiling, belibis, dan beberapa lainnya. Mereka adalah sahabatnya, bukan peliharaan.


Karena mereka bebas datang dan pergi sesuka hati. Ia bilang, keseimbangan alam harus dijaga agar hidup menjadi harmonis. Sebagaimana manusia, binatang juga berhak menjalani kehidupannya dengan bebas. Jika mereka diburu, ditindas, dan diperdaya, akan membawa bencana. Ia tampaknya seorang pecinta binatang.


Jika selama ini ia tak pernah bergaul dengan tetangga sekitar dan terkesan tertutup, itu karena ia tak mau merepotkan siapa pun. Dia tak mau terbawa arus kehidupan orang-orang kampung yang gemar bergosip, meributkan hal remeh temeh, dan menghabiskan waktu untuk hal-hal tak perlu. Ia makan apa adanya, terutama yang diambil dari alam.


Tidak ada makanan, ia berpuasa. Tak heran, badannya tampak sehat dan awet muda. Bukan karena ilmu Wijayakusumah seperti yang didesuskan orang. Ia tak memiliki suami dan anak, keluarga dan semua sanak kerabatnya pun telah tiada. Sebagian mati karena wabah penyakit pada tahun limapuluhan. Sebagian lagi mati tua. Hanya dirinya tersisa, nunggal balung istilah orang Jawa.


Tapi lepas dari riwayat hidupnya yang getir, aku suka dengan kepiawaiannya bercerita, tepatnya mendongeng. Aku terpesona mendengar kisah Timun Mas, Kancil dan Buaya, Ajisaka, Baru Klinthing, Joko Kendil, dan babad tanah Jawa lainnya. Caranya bercerita, suasana yang terbangun, konflik, dan narasinya membawa aku seakan-akan terbang ke alam dimana kisah itu terjadi.


Rohku seakan melayang, melintasi lorong waktu, dan tahu-tahu berada di pinggiran sungai Bengawan saat sang Kancil sedang mengelabui kawanan buaya untuk dijadikan alat menyeberang. Atau berada di kampung Rawapening ketika anak bersisik naga yang bernama Baru Klinthing dengan kesaktiannya mencabut sebatang lidi yang ditancapkan di tanah lapang, lalu mengeluarkan air berlimpah-limpah sehingga tenggelamlah kampung luas itu.
Namun ada satu cerita yang sangat menyedot perhatianku, yakni kisah perjuangan Raden Mas Sahid alias Pangeran Sambernyawa yang berperang melawan Kumpeni, Belanda. Tapi bukan kisah Pangeran Sambernyawa-nya, melainkan pengikutnya yang bernama Aryo Wirejo. Pendekar muda sakti mandraguna itu mendapat mandat menjaga wilayah Ngadirojo, Pacitan, sampai Ponorogo. Dia mendiami padepokan Kahyangan di desa Ndlepih yang berada di pegunungan Gandul.


Syahdan, Aryo Wirejo menjalin asmara dengan Dewi Gayatri, putri Adipati Sosrowijen. Sayang, cinta mereka terhalang tembok besar karena sang adipati menjadi kroni Kumpeni. Dia bahkan membuat sayembara, siapa saja yang bisa membawa kepala Aryo Wirejo ke hadapannya akan diberi hadiah besar. Jika laki-laki lajang akan dijodohkan dengan putrinya. Sedihlah hati Dewi Gayatri mendengar sabda sang ayahanda. Padahal cintanya hanya untuk Aryo Wirejo, ia tak mau menikah dengan laki-laki lain.


Diam-diam, Dewi Gayatri kabur dari istana kadipaten dan menyusul Aryo Wirejo. Ia menyamar sebagai gadis desa agar tak dikenali orang. Adipati Sosrowijen murka, ia memerintahkan semua orang mencari putrinya. Bahkan, ia memberi perintah, jika sampai Dewi Gayatri sudah menikah dengan Aryo Wirejo, bunuh keduanya.


Bulu kudukku merinding membayangkan sosok sang adipati yang jahat dan pongah, dengan bola mata merah melotot, menguarkan titah yang amat keji itu. Gigiku gemeletuk, ikut merasakan geram. Kalau saja adipati itu ada di hadapanku saat ini sudah kulempar dengan batu!
Aku jadi penasaran mendengar kisah pengembaraan Dewi Gayatri mencari pujaan hati. Namun, Nek Birah menutup kisahnya sementara waktu. Ia malah mengingatkanku untuk pulang ke rumah.
“Nanti ibumu mencari,” katanya dengan nada cemas.


Dengan berat hati aku beranjak. Tapi aku meminta Nek Birah bersedia menuturkan kelanjutannya, esok hari. Begitulah, hari-hari berikutnya aku bertandang ke rumah Nek Birah untuk mendengar kelanjutan kisah Dewi Gayatri mencari kekasih hati. Pengembaraan gadis muda itu ternyata tidak gampang. Ia harus menjelajah hutan, gunung, dan lembah. Keluar masuk perkampungan, berhadapan dengan mara bahaya. Berulangkali ia hampir celaka; terpeleset ke dalam jurang, dikejar hewan buas, bahkan sampai diculik penyamun.

Tapi Gusti Allah masih melindungi jiwanya dan menjaga kehormatannya. Berhari-hari, berminggu-minggu, hingga berbilang tahun ia mencari Aryo Wirejo, tapi tak ketemu. Berulangkali ia tersesat arah dan menapak jejak yang salah, tapi ia tak menyerah. Aryo Wirejo sendiri juga turun gunung mencari Dewi Gayatri setelah mendengar kabar perginya sang pujaan hati dari istana kadipaten. Alhasil, keduanya saling mencari. Seperti orang main petak umpet!
Sekali lagi Nek Birah mempermainkan rasa penasaranku karena berulangkali memotong ceritanya sampai di pertengahan. Berulangkali pula aku harus bolak-balik untuk mendengar kelanjutannya. Aku seperti setrikaan. Aku masih penasaran ingin tahu ending kisah asmara Aryo Wirejo dan Dewi Gayatri. Mereka layaknya pejuang cinta sejati; tak surut dan lelah mengarungi coba derita, bertahan di tengah gelombang badai.


Aku pun layaknya pendengar sejati, terus memburu akhir cerita. Tak puas sebelum mengetahui nasib para tokoh utama. Tak terasa waktu melaju, aku mulai bosan karena Nek Birah terus berputar-putar dengan nasib Dewi Gayatri yang tak kunjung menemukan sang kekasih hati. Sampai pada titik kejenuhan, aku lalu bilang pada Nek Birah.
“Sudahlah, Nek. Aku tak mau mendengar lagi kisah pengembaraan Dewi Gayatri dan Aryo Wirejo. Sekarang, ceritakan saja akhir kisahnya. Apakah mereka bertemu atau tidak? Apakah mereka jadi menikah atau tidak? Itu saja!” ujarku sambil bersungut kesal.


“Itulah yang tak kusuka pada diri orang muda, selalu terburu-buru dan ingin mengetahui hasil akhirnya. Tidakkah kau tahu, bukan hasil yang penting tapi bagaimana menjalani prosesnya. Aku ingin kamu belajar mencerna dan menghayati perjuangan hidup yang dialami Dewi Gayatri maupun Aryo Wirejo. Untuk meraih sebuah kebahagiaan hakiki, yakni cinta, mereka harus banyak berkorban dan menghadapi aral rintangan yang tak ringan. Nilai-nilai seperti ini telah banyak ditinggalkan orang,” tutur Nek Birah mencoba bijak.
“Ya, Nek! Aku mengerti, aku paham. Tapi kalau ceritanya terus berputar-putar, tak jelas kapan berakhirnya, capek juga mendengarnya!”


“Baiklah, kalau kamu ingin tahu akhir dari kisah ini, datanglah lagi pada malam purnama penuh. Di puncak bukit sebelah utara desa, di sana kamu akan menemukan seseorang yang akan memberitahumu akhir dari kisah dua sejoli itu!”


***


Angin sore menampar wajahku saat turun dari bus. Tak jauh dari tempat pemberhentian terakhir ini sebuah warung makan kecil. Beberapa orang lelaki, para tukang ojek dan juru parkir, tampak nongkrong sambil minum kopi. Suara obrolan mereka terdengar seru. Salah seorang bergegas menghampiriku, menawarkan jasa. Aku tak mau banyak menawar, mengiyakan saja. Aku sudah tak sabar ingin segera sampai di rumah.


Melepas lelah setelah hampir seharian badan diguncang roda bus. Memeluk Ibu yang penyakit encoknya sering kumat, sehingga ia tak bisa jalan kemana-mana. Sehari-hari banyak dihabiskan di kursi malas, sementara Fitri, keponakannya, melayani keperluannya. Aku yang menggaji Fitri, tepatnya membantu membiayai sekolahnya, agar ia bersedia mengurus Ibu yang kini tinggal sendirian di rumah.


Tukang ojek yang mengantarku ini cerewet sekali. Sepanjang jalan ia bercerita tentang apa saja. Tentang istrinya yang lagi bunting, anaknya yang merengek minta dibelikan HP baru, kucingnya yang bertambah banyak, tetangganya yang selingkuh, dan bla bla… aku hanya diam saja. Ia tak kenal aku, begitu pun aku tak mengenalnya. Jadi, apa peduliku. Perhatianku justru tertuju pada puncak bukit sebelah utara desa.


Samar-samar tempat itu bisa dilihat dari jalan yang kami lalui. Aku seperti melihat kilatan cahaya dari atas bukit, seperti lampu yang dipancarkan. Aku tersentak. Apakah itu isyarat agar aku segera ke sana? Memenuhi janji yang selalu tertunda! Hatiku tercekam. Jiwaku bergejolak. Ingatan tentang Nek Birah kembali berkelabatan. Perjumpaan terakhir dengan perempuan misterius itu, masih menyisakan tanya sampai sekarang.


***


Aku merajuk, tak mau lagi datang ke rumah Nek Birah setelah ia tak mau memberitahu akhir dari kisah Dewi Gayatri dan Aryo Wirejo. Dia malah memberi petunjuk agar aku datang ke puncak bukit sebelah utara desa. Aku lalu pergi ke sana, tapi tidak pada malam purnama penuh –tentu saja aku tak berani datang malam-malam, orangtuaku pasti juga melarang—, dan aku tidak menemukan apa-apa selain sebongkah batu hitam besar di dekat pohon Gayatri.


Selebihnya hamparan padang rumput. Ah, ternyata Nek Birah menipuku. Dengan perasaan kecewa aku kembali ke rumah. Aku diam terpekur di teras. Tiba-tiba aku sadar, mungkin Nek Birah ingin mengatakan kalau pohon Gayatri di puncak bukit itu adalah penjelmaan Dewi Gayatri. Bukankah begitu yang biasa diceritakan oleh para orang tua zaman dahulu selalu menghubung-hubungkan sebuah legenda dengan peninggalan berupa candi, prasasti, batu, pohon, binatang, dan benda lainnya. Seperti kisah Malin Kundang yang konon jasadnya masih ada sampai sekarang dalam wujud batu. Aku hanya nyengir kecut memikirkan hal itu.


Akhirnya, aku memutuskan tidak akan terobsesi pada kisah yang pernah dituturkan Nek Birah. Aku tak mau jadi orang sinting. Aku tak mau melewatkan waktuku hanya untuk berburu ending kisah asmara Dewi Gayatri dan Aryo Wirejo. Hingga suatu hari, saat aku masih duduk di bangku kelas 2 SMA dan kos di kota, kudengar kabar Nek Birah menghilang, tepatnya meninggal terbawa arus sungai.


Sejak itu aku tak pernah memikirkannya lagi. Rumah Nek Birah pun sudah dibongkar warga dan tak berbekas. Aku melanjutkan hidupku, kuliah, lalu bekerja di kota. Sudah berbilang tahun aku bekerja dan menetap di kota. Setahun sekali aku menyempatkan pulang ke rumah. Selama tinggal di kota aku kerap bermimpi bertemu Nek Birah, bahkan bertemu Dewi Gayatri dan Aryo Wirejo. Mereka seakan memanggil-manggil dan menarik jiwaku untuk pulang!
Sosok Dewi Gayatri yang cantik, putih, lembut, bertutur kata halus, dan tinggi ramping –seperti yang diceritakan Nek Birah—, telah mengobsesi diriku. Setiap kali bertemu dengan seorang gadis, aku selalu membandingkan dengan Dewi Gayatri. Aku rupanya telah kerasukan roh Aryo Wirejo, mencari perempuan yang serupa Dewi Gayatri. Hal ini kemudian menjelaskan, kenapa di usia kepala tiga aku belum juga kawin.


Kenyataan ini yang membuat ibuku jadi sedih. Dia berharap aku segera menikah sebelum dirinya meninggal. Ibu sampai curiga dan berpikiran macam-macam kalau aku ini; penyuka sesama jenis, mengidap penyakit ganas yang hanya menyisakan sedikit umur untukku, atau trauma karena pernah disakiti perempuan. Aku sendiri bingung menjelaskannya, aku tak mungkin mengatakan alasan sebenarnya.


Ibu menyambut kepulanganku dengan sumringah. Seperti biasa beliau langsung heboh menyuruh Fitri ini-itu, intinya melayani aku sebaik mungkin. Sampai-sampai dia mau mencopotkan sepatuku, layaknya seorang abdi kepada ndoro-nya di zaman feodal, tapi aku buru-buru mencegahnya. Aku tak mau merendahkan sepupuku yang masih kelas satu SMA itu.

“Sudahlah, Bu. Tidak usah berlebihan, kayak aku ini seorang ningrat saja,” kataku jengah.
“Ya, ndak apa-apa. Wong kamu memang masih ada darah ningrat,” tukas Ibu.
“Darah ningrat dari mana, Bu? Kraton Solo atau Yogya?” candaku.
“Lho, beneran, Le. Kamu itu masih ada keturunan bangsawan dari kraton Mataram!”


Aku sebenarnya ingin tertawa geli, tapi tak jadi karena wajah Ibu tampak serius sekali. Lagi pula ada yang menggelitik hatiku. Baru kali ini aku mendengar Ibu menyatakan kalau aku ini keturunan darah biru. Tapi bukan itu yang mengejutkanku, melainkan sebutan kerajaan Mataram. Aku jadi teringat cerita Nek Birah tentang perjuangan Pangeran Sambernyowo, pendiri kerajaan Mataram baru. Dengan serius aku lalu menanyakan kepada Ibu silsilahku jika memang aku masih keturunan bangsawan kraton.


Ibu lalu membuat semacam urut kacang; Pratama Setiawan bin Setiawan Haryosuman bin Haryosuman Sastronegoro bin Sastronegoro Haryokusuma bin Haryokusuma Sumantri bin Sumantri Aryo Wirejo bin R.M Aryo Wirejo bin R.M Wirejo. Nama terakhir masih ada hubungan kerabat dengan R.M Sahid, pendiri kerajaan Mangkunegara.
Nama Aryo Wirejo yang disebut Ibu itulah yang menimbulkan debar hebat dalam dadaku. Untuk memastikan bahwa kakek buyutku itu adalah Aryo Wirejo seperti yang diceritakan Nek Birah, aku lalu mengisahkan pada Ibu sejarah kehidupan Aryo Wirejo, mengutip cerita Nek Birah dulu. Ibu tercengang mendengarnya. Untuk sesaat ia bengong, menatapku seakan tak percaya.


“Kenapa kamu justru lebih tahu sejarah kakek buyutmu? Siapa yang menceritakannya kepadamu?” selidik Ibu.
“Nek Birah,” jawabku lugas.
Ibu terpekur, mendesah panjang. Ia lalu menggumam, layaknya mengeluh. “Kini jelaslah, kenapa ayahmu dulu tampak murung, lalu jatuh sakit dan meninggal. Dia pernah ditemui Nek Birah. Entah, apa yang mereka bicarakan. Mungkin seperti pembicaraanmu dengan Nek Birah saat kamu kecil dulu. Yang jelas, setelah bertemu Nek Birah, ayahmu banyak berubah. Seperti orang linglung dan memikul beban berat. Tahukah kamu, siapa Nek Birah itu sebenarnya?”


Aku menggeleng.


“Dia titisan arwah Dewi Gayatri yang penasaran karena tak bisa menikah dengan Raden Mas Aryo Wirejo. Ketika dia mengetahui Aryo Wirejo sudah menikah dengan wanita lain, dia murka dan berniat membunuh istri serta anak Aryo Wirejo. Tapi niat jahatnya tak terlaksana, karena dia keburu dihakimi massa hingga tewas. Mayatnya lalu dikubur di atas bukit sebelah utara desa ini.


Batu hitam besar yang ada di bukit itu sengaja ditaruh di atas makamnya dengan maksud mencegah arwahnya gentayangan. Sebab, sebelum meninggal dia sempat bersumpah akan membunuh semua keturunan Aryo Wirejo. Tapi kenyataan sekarang, sumpahnya tak terjadi. Sebab, anak keturunan Aryo Wirejo masih langgeng hingga sekarang, diantaranya adalah kamu!”


Aku tertegun. Aku bingung, mana yang benar antara cerita Ibu atau Nek Birah? Jika benar cerita Ibu, maka segala rasa penasaran yang pernah kupelihara selama ini menemui muaranya. Ternyata ending kisah asmara Dewi Gayatri dengan Aryo Wirejo tak seindah yang kubayangkan, bahkan sangat tragis. Lalu, apa artinya bisikan-bisikan gaib yang kerap mendengung dalam telingaku? Apakah itu hanya imajinasiku belaka? Atau obsesiku yang berlebihan pada sosok gadis idaman bernama Dewi Gayatri? Ah, semuanya masih misteri!


Seperti halnya misteri kenapa aku ingin sekali pergi ke puncak bukit sebelah utara desa pada malam purnama penuh. Amanat dari almarhumah Nek Birah yang belum sekalipun kulaksanakan. Dan kebetulan, malam ini bertepatan malam 15 penanggalan Jawa. Nanti malam, purnama akan tampak penuh.


***


Malam ini…


Di atas bukit sebelah utara desa. Bulan menampakkan keindahannya di langit. Bundar penuh dengan cahaya kuning keemasan. Aku duduk di atas batu hitam di bawah pohon Gayatri. Sendirian. Udara dingin menusuk tulang. Aku merapatkan jaket yang melekat di badan. Nun di bawah sana kerlip lampu-lampu rumah penduduk serupa kunang-kunang. Sungguh, pemandangan dari atas bukit ini sangat indah sekali.


Sayang, bagi sebagian warga desa tempat ini dianggap keramat dan angker, sehingga tak banyak yang berani mendatanginya. Aku sendiri ke sini tanpa sepengetahuan Ibu. Tiba-tiba udara yang tadinya tenang mendadak disiur angin, gerisik daun memecah keheningan.


“Kakang? Kakang Aryo…?!” Sayup suara halus seorang perempuan memanggil sebuah nama.
Aku tercekat dan segera menoleh. Di depanku sudah berdiri seorang gadis muda dengan memakai kebaya. Wajahnya memancarkan cahaya keemasan. Cantik dan anggun. “Siapa kamu?” Kurasakan suaraku bergetar saat bertanya.


“Aku Dewi Gayatri, kekasihmu!”


Aku terpana. Akhirnya, aku bisa juga bertemu dengan Dewi Gayatri. Seperti ada dorongan kuat, aku lalu menghambur dan memeluknya. Aku merasakan gairah birahi yang meluap. Mataku terpejam. Merasakan kenikmatan tiada tara. Aku seperti berada di nirwana. Aku lupa segalanya, hanya keindahan yang kurasakan. Tapi mendadak seperti ada tangan kuat merenggutku dengan kasar.

Ketika aku membuka mata, betapa kaget dan malu karena sudah banyak orang mengelilingiku sambil menyorotkan lampu senter ke arahku. Sementara keadaanku sendiri sangat tidak pantas; bertelanjang sambil memeluk batang pohon Gayatri. Buru-buru aku mengenakan pakaianku kembali. Seorang paman menuntunku pulang. Sempat kudengar suara-suara tertawa tertahan di belakangku. Dalam hati aku bersumpah; tidak akan pernah datang ke tempat ini lagi! (*)

Tirtomoyo, 20 Oktober 2020


Eko Hartono

Menulis cerpen, novel, skenario, dan drama. Sudah banyak karyanya yang termuat di berbagai media massa daerah atau nasional. Telah menulis ftv dan sinetron lebih dari 50an judul.

Recommended Product

Comments to: [ Cerpen Horor ] Bisikan Dari Masa Lalu
    error: Content is protected !!