[ Cerpen Fiksi Remaja ] Pemimpi

8 min read

cerpen fiksi remaja
5
(2)

Hari ini adalah hari di mana akan diadakan ujian matematika. Tania hanyalah seorang siswi tanpa mendapatkan les tambahan di rumahnya. Ia hanya berkutik dengan buku paket dan materi yang telah diajarkan. Tania yang malas-malasan hanya membuka selembar bukunya, dilirik tanpa dibaca, lalu ia tutup kembali. Tania merupakan anak bungsu dari keluarga yang dibilang sederhana namun mampu. Hanya saja ayahnya yang bekerja di Jakarta hanya bisa pulang sebulan sekali.

Baca Juga : [ Cerpen Fantasi ] Dua Sisi Bulan: Takdir Para Pahlawan dan Raja iblis

Ayah Tania bekerja disebuah warung makan dengan gaji satu juta rupiah perbulan. Uang dari gajinya mampu menyekolahkan semua anaknya. Keluarga yang dirajut dari kecil, kini sudah berada difase akhir. Di mana semuanya sudah bisa menafkahi dirinya sendiri. Hanya Tania yang sebentar lagi lulus.

Tania sekarang duduk di kelas 12 IPA 1, ia pintar hanya saja pendiam. Kepintarannya ini ia pendam, dan tak ada guru yang mengakui bahwa ia pintar. Tania yang punya mimpi, kini memiliki sebuah angan yang ingin ia gapai. Waktunya beralih untuk mencapai fase itu. Tania yang malas-malasan di rumah, dengan cepat merombak tasnya. Mengeluarkan semua buku pelajaran matematika, dikejarnya semua materi dalam satu jam.

Tania mendudukkan dirinya di kursi, dipahami materi itu satu persatu hingga, menampilkan sederet contoh soal dan soal yang hampir mirip. Tania sudah paham dan dengan kepercayaan dirinya, ia akan mendapatkan nilai yang memuaskan hari ini. Ditutupnya buku itu perlahan, Hingga guru pelajaran matematika masuk, dan membagikan selembar kertas berisi soal.

“Waktu kalian dua jam, jangan sampai ada yang nyontek. Kalau ketahuan, harus ulang kembali,” semua murid menelan salivanya kasar. Berbisik-bisik ria.

“Dengar nggak?” Ibu Lia selaku guru matematika menggebrak meja kencang.

“Dengar Bu.” Ibu Lia tersenyum.

“Baiklah, silahkan dimulai.”

cerpen fiksi remaja

Semua siswa membaca dengan seksama. Ada yang ekspresi malas, bahagia, geleng-geleng kepala, setra menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Berbeda dengan Tania, ia dengan cepat menghitung semua pertanyaan, dan mengisinya dengan jawaban yang sesuai. Ada beberapa pertanyaan yang menurutnya gampang, dan ada yang susah sekali sampai Tania memejamkan matanya agar apa yang ia pahami melintas. Beberapa detik kemudian, Ibu Lia keluar, berjalan menelusuri koridor sekolah. Membawa selembar kertas kosong dan hendak menghitung jawaban juga. Semua murid di dalam kelas itu ricuh. Ada yang berlari ke depan minta jawaban, bisik-bisik, dan bahkan teriak.

“Woi, minta jawaban.” Angga, duduk di bagian belakang. Semua yang mendengar teriakan Angga serentak tertawa.

“Ada apa ini?” semuanya hening, tanpa bisa dihitung waktu senyap itu. Tadinya yang tertawa kini menunduk memperhatikan soal kembali.

Tania yang bisa dibilang pintar, namun malas dan pendiam kini mulai menyerah. Dibulatkannya telapak tangan Tania membuat sebuah kekesalan di sana. Bisa dirasakan bila ada yang melihatnya. Tania frustasi, kini hanya ada satu hal yang harus ia lakukan.

Bismillah hirrahman nirrahim, cap cip cup cap.” Tangan Tania berhenti di jawaban D. Langsung ia lingkari tanpa berpikir. Jika Tania harus berpikir, maka ia paham akan soalnya, ngapain harus buang-buang waktu.

Baca Juga : [ Cerpen Horor ] My Doppelganger?

Sudah memakan waktu dua jam. Ulangan matematika telah selesai. Waktunya mereka istirahat. Kepercayaan Tania mendapatkan nilai besar hanya angan-angan semata. Mungkin sekarang ayahnya akan marah. Tania pulang dengan raut wajah yang ia buat dengan sedemikian rupa. Berharap semuanya tidak marah, walaupun hasilnya belum keluar.

“Bagaimana hasil ulangan kamu?” Ayah Jo sudah bertengger di kursi ruang tamu.

“Ayah udah pulang?” Ayah Jo mengangguk.

“Iya, memangnya kenapa?” Tania menggeleng cepat.

“Nggak papa, Tania bersyukur kalau ayah udah pulang dan sehat. Hasil ulangan nya belum diumumin, Yah.”

Tania menciumi tangan kedua orang tuanya, setelah itu Tania langsung melengos masuk ke dalam dan mengunci pintu. Jantung Tania berdebar kencang. Bagaimana jika hasilnya itu jelek. Tania mengatur nafas perlahan. Semoga semuanya di luar pikiran Tania.

Seminggu kemudian, hasil ulangan matematika diumumkan, nilai Tania mendapat 50 dari 100. Tania menyenderkan kepalanya di kursi. Ditatapnya atap langit yang kian usang. Tania pulang dengan raut wajah sedih. Dibuka engsel pintunya perlahan.

“Ayah ko pulang lagi?” Tania terkejut ketika Ayah Jo kembali bertengger di sofa dengan kaki diangkat ke kursi sebelah.

“Gimana hasil ujian kamu?”

“Nilai aku 50,”

“Dari?”

“100.” Ayah Jo langsung berdiri.

“Kamu nggak dapat uang jajan selama sebulan.”

“Tapi aku, aku, aku, aku udah bel—,” ucapan Tania terpotong.

“Jika kamu memang udah belajar, kenapa hasilnya jelek.” Tania terduduk lesu. Ibu Nia menghampiri Tania, mengusap punggungnya perlahan dan menyemangatinya.

“Nggak perlu sedih, nanti ibu yang kasih uang jajan ya.” Tania mengangkat pandangannya.

“Jangan ada yang kasih uang jajan sama Tania, kalau ada. Berhubungan langsung sama ayah.” Ayah Jo membantingkan daun pintu dengan keras.

“Nggak papa Bu, aku yang salah.” Tania berdiri, menggendong tasnya dan pergi ke kamar.

Mulai hari ini, sudah waktunya bimbingan belajar. Semua siswa SMA 03 Pertiwi pulang larut. Semuanya harus mempersiapkan ujian nasional serta ujian masuk perguruan tinggi. Perut Tania keroncongan, ia tidak jajan seharian di sekolah, bahkan tidak ada yang menawarinya minum. Tania hanya sarapan di rumahnya, itupun pagi hari.

Hari demi hari terus berganti, kini sudah berada dipuncak semua ujian. Besok adalah waktunya ujian sekolah. Tania masih belum mendapatkan uang jajan, bahkan ia tidak mendapatkan dukungan dari ayahnya. Tania hanya mendapatkan dukungan dari ibunya saja. Bahkan saudara pun rata-rata sibuk dengan kehidupannya masing-masing.

Tania melukis-lukis kertasnya dengan angka-angka yang merumitkan otak. Sesekali ia beralih ke komputer untuk menekan jawabannya dan berganti soal. Hari pertama untuk ujian matematika dan agama. Semua murid pulang cepat, Tania kini berlari pulang. Ayah Jo, masih libur. Mengambil cuti satu bulan hanya untuk melihat hasil ujian Tania.

“Ayah,” panggil Tania. Tania yang tidak berganti baju terlebih dahulu, lebih memilih berbicara langsung.

“Apa? Kamu ganti baju dulu sana. Kotor banget kayak nggak keurus.” Tania membulatkan mata, ini bukan hal pertama ayahnya mengatakan hal itu, namun ini kesekian kalinya ia ingin menangis karena perkataan ayahnya itu. Tania berganti baju, dan berusaha melupakan semua kesedihannya. Ia berjalan menghampiri Ayah Jo sambil berdoa.

“Ayah?” panggil Tania.

“Hmmm,” Ayah Jo hanya bergumam.

“Anakmu mau bicara, dengarkan sebentar.” Ibu Nia kini berbicara.

“Apa?”

“Ayah, aku mau kuliah. Aku ingin masuk kuliah di Yogyakarta. Namanya tuh, Universitas Gajah Mada. Boleh ya ayah.”

“Ayah nggak ngijinin. Kamu tinggal di sini aja, bantu ayah cari uang.”

“Kakak-kakak aku aja kuliah, masa aku nggak sih ayah?”

“Mereka itu beda.”

“Apa bedanya ayah?”

“Dia pake uang dia sendiri, dan tanpa seijin ayah. Ibumu yang lakuin. Kamu minta ijin kan sama ayah, ayah udah jawab kan tadi.”

“Tapi ayah, aku pake bidikmisi, aku janji sama ayah nggak akan ngerepotin ayah.”

“Ayah bilang nggak boleh ya tetep nggak boleh.”

Tania tidak bisa melakukan apapun, ia ingin berjuang tapi terkendala. Tania pergi ke kamarnya dengan keadaan marah. Apa salahnya jika anak punya impian, selagi impian itu baik harusnya disetujui.

Ayah Jo kembali pergi bekerja. Ayah Jo akan pulang dalam 2 bulan, karena perasaannya kini tidak karuan dan hanya ingin melarikan diri. Ayah Jo memang sedikit tidak peduli kepada anak bungsunya. Tania terkadang merasa iri terhadap saudara-saudaranya. Mereka mendapatkan perhatian lebih. Bahkan dahulu, banyak makanan di meja, Tania ada di samping ayahnya, ia sedang memotong cabai. Tetapi Ayah Jo tidak menawarinya makan, malah saudara-saudaranya yang Ayah Jo tawari. Oke, mungkin karena mereka sudah punya penghasilan sendiri dan bisa memberikan bantuan yang cukup.

Sekarang Tania berada dipuncak masalah. Di meja belajarnya, berserakan buku-buku SBMPTN serta tak lupa buku kiat belajar dan sukses. Tania menghembuskan nafas kasar. Diliriknya buku-buku itu dengan penuh kesedihan, apakah harus Tania bakar semua buku itu. Ibu Nia menghampiri Tania di kamarnya. Ibunya menyemangati Tania, dan memaksanya untuk tetap ikut ujian masuk kuliah. Apapun yang terjadi, Tania harus kuliah. Tania harus lebih sukses dari kakak-kakaknya.

“Nak, kamu ikutan aja ya. Masalah biaya, ibu insya Allah bakal bantu kamu, walaupun nggak sepenuhnya,” lirih Ibu Nia sambil mengusap puncak kepala Tania lembut.

“Ibu bagaimana? Nanti ibu dimarahin ayah,” tanya Tania sambil menatap ibunya penuh harapan dan kesedihan.

“Ibu siap, mau ayah mukul ibu, mau cerai ibu, ibu nggak masalah. Asal anak ibu sukses.” Tania menangis, air matanya mengalir dengan sendirinya.

“Nggak boleh gitu ibu, aku pengen keluarga ini harmonis. Aku pengen semuanya saling mendukung, aku pengen semuanya saling memberi kasih sayang. Aku nggak mau ngeliat ibu disakiti, apalagi sampai dipukuli. Ngeliat ibu dibentak aja sama ayah, aku nggak rela ibu.” Tania terus menangis di pelukan hangat ibunya. Ibu Nia ikut menangis.

“Dengerin ibu,” Ibu Nia menumpu wajah gadis mungilnya itu.

“Kamu harus kuliah, kamu harus lulus. Lihat nanti, kalau kamu lulus, pasti ayahmu ngijinin kamu buat pergi kuliah. Yakin sama ibu,” ucap ibu, Tania melepaskan pelukan. Menatap mata ibunya, menghapus air matanya, lalu memeluknya kembali sangat erat.

“Makasih ibu.” Ibu Nia kembali mengelus puncak kepala anaknya.

“Iya.”

Hari demi hari terus berlalu, bulan demi bulan terus berganti seiring berjalannya waktu. Kini adalah hari di mana jalur SNMPTN telah dibuka. Tania dengan jarinya yang lihai, mengetik-ngetik dan jadi peserta pendaftar pertama. Tania mendaftarkan dirinya di Yogyakarta, tepatnya Universitas Gadjah Mada. Tania sebenarnya tidak optimis memilih opsi di sana. Karena Universitas Gadjah Mada itu terkenal dan sangat banyak peminatnya.

Hari demi hari terus berganti kembali, Tania terus menunaikan kewajibannya yaitu ibadah lima waktu, dan tak lupa berdoa. Detik demi detik dan sampailah pada pengumuman SNMPTN. Raut wajah Tania kini berubah masam dan menyedihkan. Ditampilkannya bagian depan situs SNMPTN, dan di sana tertulis bahwa Tania tidak lolos dalam tahap ini. Tania menundukkan kepalanya sedih. Harapannya kini hancur sedikit demi sedikit. Tania memberitahukan kepada ibunya bahwa dirinya tidak lolos. Ibu Nia hanya bisa menyemangati sambil memeluk tubuh anak malang itu.

“Sabar Nak, masih banyak tahapnya bukan? Orang sukses nggak langsung Nak, ada prosesnya, ada tahapnya, ada masa sedihnya. Dan ada juga masa kebahagiaannya, di mana semua beban kamu hilang, ketika kamu berhasil berada di puncak.” Tania mengangguk.

“Baik Bu.”

Jalur demi jalur berguguran, Tania tidak lolos di jalur manapun. Mungkin ini salah satu faktornya, ayahnya tidak menyetujuinya. Ayah Jo pulang, tak lupa menanyai nilai ujian Tania. Ayah Jo tersenyum melihat nilai Tania yang bagus. Ayah Jo memberinya uang dua ratus ribu rupiah, namun Tania tolak.

“Ayah memberiku hadiah?” tanya Tania, langsung mendapat anggukan dari ayahnya.

“Aku tidak mau hadiah uang,” Tania terus terang.

“Aku ingin ayah menyetujui aku untuk ikut kuliah.” Ayah Jo berdiri tak senang.

“Ayah tanya, kamu lulus jalur apa emang?” Tania menundukkan kepalanya.

“Tania nggak lulus di semua jalur, tapi ada satu jalur lagi ayah.” Ayah Jo terkekeh geli, menumpu kedua tangannya di dada.

“Jalur ujian? Jalur mudah aja kamu nggak lolos, apalagi jalur ujian.” Ayah Jo tertawa terbahak-bahak.

“Mana buku soal kamu, sini kasih ayah semuanya,” teriak Jo membuat semuanya melirik bersamaan.

Tania yang tidak bisa berbuat apa-apa, hanya bisa memberikan setumpuk buku soal yang diminta ayahnya tadi. Ayah Jo mengambil paksa buku ditangan Tania. Dibukanya pintu rumah, dan segera memantik api di tong sampah yang bisa dibilang cukup besar. Dimasukkannya buku itu ke dalam tong, dan hangus terbakar di lalap si jago merah.  Tania menangis histeris. Bukunya kini hancur, apakah impiannya akan hancur juga.

Tania yang malang kini hanya bisa merutuki dirinya. Ini memang kesalahannya. Tania akan membuat ayahnya menyetujuinya, serta tak lupa ia akan lolos dalam ujian kali ini.

Penuh keringat dan air mata, Tania memohon kepada Allah untuk memberinya petunjuk, memberinya ayah yang baik hati, serta semoga mewujudkan impiannya. Tania bangun disepertiga malam, tak lupa ia sholat dan berdoa, belajar sampai pagi membentang.

Ujian diadakan di Universitas terdekat. Tania kini tidak memilih yang jauh-jauh, ia akan memilih Universitas terdekat dan jurusan yang sepi peminat. Tak lupa ia mengucapkan bismillah, dan berdoa. Halaman demi halaman terus berganti, Tania sudah berada dipuncak soal. Ditutupnya dengan alhamdulillah dan ucapan syukur.

Sudah lebih dari satu bulan, hari ini adalah waktunya pengumuman. Jantung yang penuh debaran itu kini memberanikan diri untuk membuka halaman SBMPTN. Tania dengan mata memejam, kini meng-klik tombol masuk.

Bismillahirrahmanirrahim,” ucapnya. Tania masih memejamkan matanya. Entah sampai kapan, ia akan memberanikan diri untuk melihatnya. Ibu Nia memasuki kamar Tania perlahan. Diliriknya Tania yang memejamkan mata membuat kerutan didahi Ibu Nia yang kini terlihat semakin menua karena usia. Ibu Nia mendekati laptop yang dipegang Tania, membacanya sekilas. Dengan cepat menggoyang-goyangkan tubuh Tania histeris.

“Kenapa goyang-goyang gini sih,” dengan mata masih terpejam, Tania bersuara.

“Lihat sini,” ucap Ibunya.

“Apa Bu, aku masih tegang. Nggak mau ah.” Tania menutup matanya dengan kedua tangan.

“Kamu lolos Nak,” ucapan Ibunya membuat mata Tania sontak terbuka. Dilihatnya deretan warna hijau yang menampilkan bahwa siswi yang bernama Tania Cahaya Putri Kirana kini lolos di Universitas Brawijaya, Malang. Tania sontak melompat, memeluk ibunya erat.

“Makasih ibu, ibu udah menjadi sosok ibu terbaik dalam hidupku.” Tak tersangka air mata Tania mengalir deras. 

“Sekarang minta ijin sama ayah, oke.” Tania mengangguk.

Ayah Jo hanya diam saja tak merespon, anaknya kini masuk di Universitas yang bisa dibilang bergengsi. Walaupun Ayah Jo tidak menyahuti, apapun yang terjadi Tania harus berangkat kuliah dan harus menyabet gelar sarjana.

Waktu memasuki kampus masih tersisa satu minggu lagi, Tania harus mempersiapkan pakaian dan buku-buku yang harus ia bawa. Letak kampusnya jauh, berada di kota. Jadi, Tania mau tak mau harus kos.

Di Jakarta, Ayah Jo memberi tahukan kepada teman-temannya bahwa anaknya diterima di Universitas Brawijaya. Semuanya memberi selamat, dan banyak yang bilang kalau kampus itu kampus bergengsi. Tak semua orang bisa lolos seperti anaknya. Mendengar hal itu, hati kecil Jo terbuka. Ia izin cuti untuk mengantarkan anaknya ke kampus dan mencari tempat tinggal baru. Dengan mata berbinar, Jo ingin langsung memeluk anaknya.

Sesampainya di rumah, Tania sudah pergi ke tempat tinggalnya yang baru. Seketika wajah Jo berubah sendu. 

“Tidak apa-apa Nak, ayah mengizinkamu, sekarang ayah akan selalu mendoakan kamu agar kamu pintar, banyak orang baik yang mengelilingi kamu. Maafin ayah, Nak.” Hati Jo bergetar. Setiap malam, ia bersujud dan berdoa agar selalu dimudahkan segala urusannya dan segala urusan anaknya. Tak lupa semoga Tania selalu diberikan kesehatan dan rezeki yang melimpah.

Karawang, 28 Agustus 2020

Suka Artikel Ini ?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 2

No votes so far! Be the first to rate this post.

error: Content is protected !!