Pitriyani Nama Pitriyani, lahir pada 28 Desember 2003 di Serumpun, samba, kabar. Jejak bisa ditemukan di akun facebook @Pitriyani dan instagram @pitri_yani_ni

[ Cerpen Fantasi ] White Wizard

10 min read

cerpen fantasi white wizard
5
(1)

Cerpen Fantasi White Wizard – Hujan deras di pagi hari menjadi awal kehidupan baru bagi Lusianna Alvander, seorang gadis yang selalu merasa kalau dunia ini bukanlah tempatnya. Kehadiran seorang pria bermata merah yang menyerang rumahnya telah membawa Anna menemui dunia baru, dunia yang telah ditakdirkan untuk nya.

Hidupnya semakin kacau saat dirinya ternyata adalah seorang White Wizard dan menjadi rebutan para vampir dengan tujuan yang saling bertolak belakang. Seorang pria misterius yang berasal dari klan vampir menyelamatkan Anna dengan alasan balas dendam pada musuhnya yang menginginkan darah abadi White Wizard milik Anna. Kematian keluarga tercintanya dan orang terdekatnya membuat Anna memilih untuk pergi. Ia menghilang hingga setengah tahun telah berlalu. Saat kemunculannya, Anna membawa kekuatan baru bersama dirinya. Kekuatan White Wizard sang pengendali alam.

Pada saat kemunculan hari sabat, Anna dipertemukan dengan Aragon di sebuah bukit. Tak disangka Anna juga dipertemukan dengan kenyataan masa lalu yang mengungkap identitas orang tuanya. Alasan dibalik kehidupannya yang selama ini menjauh dari dunia asalnya, dunia immortal. Anna adalah putri dari sepasang kekasih legendaris. Dan pria yang pernah menyelamatkan hidupnya kembali datang menghampiri Anna, Alec The Son of Maxus ternyata juga memiliki dendam pada Aragon yang telah menjadi penyebab kematian ayahnya. Bersama-sama mereka menghadapi keserakahan Aragon, seorang vampir yang lahir dari klan rendah yang haus akan hidup dalam keabadian. Namun keserakahannya telah membawa Aragon pada akhir dari kehidupannya. Anna berhasil memenggal kepala Aragon dan mengembalikan kekuasaan Aragon pada pemilik aslinya, Alec The Son of Maxus.

***

cerpen fantasi white wizard

Cerpen Fantasi- White Wizard

Baca Juga : [ Cerpen Fantasi ] Dua Sisi Bulan: Takdir Para Pahlawan dan Raja iblis

Hujan turun begitu lebat di kala embun pagi masih belum beranjak pergi. Awan gelap yang menutup cahaya mentari membuat seisi dunia terasa tak berwarna.

Sama halnya dengan yang dirasakan oleh gadis yang baru menginjak usia 18 tahun itu, Lusianna Alvander yang biasa dipanggil Anna. Gadis berambut pirang yang memiliki kepribadian tertutup, bahkan untuk keluar rumah pun ia enggan.

“Berhentilah merenung! Aku tidak tahan melihatmu seperti itu.” Bibi Sarah menghampiri Anna. Wanita muda yang bahkan tampak setara dengan umur Anna itu merupakan satu-satunya keluarga yang Anna punya.

Anna membalikkan badannya menghadap Bibi Sarah. Ia hanya diam menatap wajah kesal bibinya yang setiap hari selalu menyuruh dirinya untuk bergaul dengan dunia luar.

“Kau ingin jalan-jalan? Aku bisa mengantarmu.”

Anna menggelengkan kepala. “Hari hujan.”

“Alasan! Bahkan saat hari cerah pun kau tak pernah mau ku ajak keluar.” Bibi Sarah mengoceh tanpa henti.

“Bi,” panggil Anna sayu. Bibi Sarah langsung mendekati Anna kemudian duduk di samping gadis berambut pirang tersebut.

“Kemarin malam aku bermimpi. Sebuah tempat yang belum pernah kulihat sebelumnya dan aku yakin semua itu bukan berasal dari dunia kita, ada dunia lain yang tidak kita ketahui. Entah mengapa aku merasa semua itu nyata. Aku benar-benar bingung, setiap mataku bergerak mimpi itu selalu muncul dalam penglihatanku.”

Bibi Sarah tersentak kaget. Gerak matanya mulai gelisah. “Mereka akan datang.”

Anna menatap wajah bibinya dengan heran. Sepertinya mimpi itu ada hubungannya dengan Anna. Atau, mimpi itu merupakan jawaban atas asal-usul nya yang selama ini bibinya sembunyikan.

“Ada apa, Bi?” Bibi Sarah menatap Anna dengan gelisah. Ia memegang erat kedua pundak Anna.

“Sekarang kau sudah dewasa. Tak kusangka hari itu akhirnya tiba. Mereka akan segera datang kemari,” ucap Bibi Sarah pelan seakan yang ia katakan adalah sebuah rahasia besar.

“Mereka siapa? Katakan padaku, Bi. Siapa yang akan datang, untuk apa mereka datang?” Anna memohon pada bibinya yang mematung tanpa suara.

Tingkah bibinya benar-benar membuat Anna jengkel. Ini bukan pertama kalinya bibinya itu mengatakan hal aneh dan tak pernah menjawab pertanyaannya sedikit pun. Bahkan Anna juga tidak pernah tahu siapa orang tuanya.

TUKK..TUKK..TUKK

Seseorang menggedor pintu rumah mereka dengan keras. Entah siapa yang datang disaat hujan deras seperti ini. Anna hendak berjalan menghampiri pintu itu tapi bibinya menahan langkah Anna. Bibi Sarah mendekati pintu perlahan. Ia tetap memasang gerak waspada. Bibi Sarah mendadak bertingkah super protective.

Pelan-pelan tangan bibi Sarah memutar knop pintu. Ia tak luas membuka pintu itu, hanya cukup untuk kedua matanya melihat siapa tamu yang datang.

“Joe?” Bibi Sarah menghela napas lega.

“Hai, Bi.” Joe menyapa Bibi Sarah dengan ramah. Ternyata teman sekelas Anna yang datang. Bibi Sarah mempersilahkan Joe untuk masuk.

Belum selangkah Joe menginjakkan kaki memasuki rumah Anna, tiba-tiba sesuatu menarik Joe ke atas dan digantikan oleh seorang pria berjubah hitam panjang yang muncul entah dari mana. Wajahnya kaku terlihat menyeramkan.

Melihat kedatangan pria itu, Bibi Sarah langsung menutup pintu, namun pria tersebut menahan nya. Ia mendobrak pintu hingga membuat Bibi Sarah terlempar.

“Di mana Gadis itu?” Mata merahnya mengawasi setiap tempat di rumah Anna.

“Anna lari!” Teriak Bibi Sarah yang masih tergeletak di lantai. Anna terdiam membatu. Ia terlihat sangat bingung dengan semuanya.

Bibi Sarah berusaha untuk menghentikan pria itu. Ia langsung berdiri dan memukul pria tersebut sekuat tenaga. Namun pria tetaplah pria. Wanita bukanlah tandingannya. Apalagi perlawanan yang diberikan oleh pria itu jauh lebih kuat daripada orang biasa. Itu jelas menunjukkan kalau ia bukan berasal dari dunia manusia.

“Anna, cepat lari! Teriak Bibi Sarah sembari menahan tubuh pria itu dengan kedua tangannya yang mencekik pinggang pria tersebut.

Anna semakin terkejut. Dengan cepat Anna menggerakkan langkahnya berlari keluar pintu. Ia terus berlari sekuat tenaga tanpa tahu harus ke mana.

Baca Juga : [ Cerpen Fiksi Remaja ] Pemimpi

Hujan masih belum puas membasahi bumi. Anna yang kini basah kuyup terus berlari tanpa henti hingga akhirnya langkah rapuh gadis berambut pirang itu tertahan oleh sosok pria yang tak asing baginya. Pria itu yang tadi datang ke rumahnya.

Perlahan langkah pria itu mendekat kearah Anna. Anna memundurkan langkahnya mencoba untuk tetap menjaga jarak dengan pria yang tak jelas asal-usul nya itu. Ingin rasanya ia dan berteriak meminta tolong. Tapi pasti tak akan ada yang menolongnya di tempat sepi nan sempit itu. Anna benar-benar terjebak di gang tua yang tak jauh dari rumahnya.

Langkah pria itu semakin membuat Anna takut. Senyum tipis yang keluar dari bibir pria dengan mata merah itu tampak sangat mengintimidasi. Entah apa yang akan dilakukan pada Anna.

“Bi …” Anna berusaha memanggil sosok penyelamat nya. Namun bibinya tak kunjung datang membantu Anna.

“Siapa yang kau cari? Tidak akan ada yang menyelamatkanmu dari tuan Aragon.”

Suara serak yang agak berat itu semakin membuat Anna bergidik ngeri. “Bibi, kau dimana?” Gumam Anna yang tak henti membawa langkahnya terus menjauh dari pria itu.

“Dia tidak akan datang.” Ungkap lawan bicaranya yang seakan dapat mendengar apa yang Anna gumamkan.

“Menghancurkan penghalang itu sangat mudah bagiku. Betapa indahnya pemandangan saat tubuhnya sudah tak berkepala.” Sambungnya dengan nada suara angkuh yang membuat hati Anna terentak.

Apa Bibi Sarah benar-benar telah tiada? Anna Tampak emosi mendengar omong kosong itu. Ia tentu tidak percaya. Tapi mendengar bibinya diremehkan seperti itu, ia pasti tidak akan terima. Bagaimanapun, bibinya ahli dalam bela diri.

Anna menampakkan wajah kesal. Ia berlari ke arah pria itu tanpa ragu. Ia sudah siap dengan kepalan tinju yang mengepal keras di hadapan pria tersebut. Namun hanya dengan sebelah tangan pria itu menahan pukulan tinju dari Anna. Ia mencekik leher Anna dengan telak. Saking cepatnya, Anna bahkan tidak menyadari orang yang baru saja menahan tinjunya sekarang tiba-tiba sudah berada di belakangnya.

“Aku juga tidak akan segan-segan untuk melepas kepalamu,” ucap pria tersebut sembari mencekik leher Anna dengan semakin erat.

“Ingat! Tuan Aragon ingin dia hidup-hidup.” Seorang gadis yang tiba-tiba datang entah dari mana. Sayangnya, gadis yang juga memiliki iris mata merah darah itu berada di pihak yang berlawanan dengan Anna.

“Apa yang kalian inginkan dariku? Bukan kami yang menginginkanmu, tapi tuan kami. Tuan Aragon.” Kedua orang aneh itu tampak mengagungkan nama yang mereka sebut Aragon. Siapa Aragon?

“Aragon?”

Tampaknya ada yang mendengar pembicaraan mereka. Seorang pria berwajah tirus dengan rambut chestnut blonde yang menawan ditambah iris mata merah darah yang berkesan tajam. Pria itu menghampiri asal suara. Ia menembus dinding tanpa menghamburkan sebutir debu pun.

Anna dapat merasakan kedatangan pria itu. Kali ini siapa lagi yang datang untuk mengusik hidupnya? Akhirnya pria berambut chestnut blonde datang di hadapan mereka. Anna langsung terfokus pada mata merah yang dimiliki pria tirus tersebut. Iris mata yang sama persis dengan kedua orang yang tengah menahan dirinya.

Tamat sudah riwayat Anna kali ini. Tatapan ketiga orang tersebut benar-benar tak kenal ampun.

Alec The Son of Maxus. Lama tak berjumpa. Bagaimana rasanya dibuang dari klanmu?”

Pria yang disebut Alec putra Maxus itu hanya menyeringai. Dengan kecepatan yang ia miliki, Alec mengambil Anna dari pria yang telah mengejek dirinya. Pria tersebut seakan tak sadar saat Alec merebut Anna dari rengkuhannya.

“Kembalikan dia padaku!”

“Tuanmu pantas menerima buah dari perbuatannya. Apa pun yang ia inginkan aku akan merampas semua itu darinya.” Terang Alec dengan suara angkuh.

Alec membawa Anna pergi meninggalkan pengikut setia Aragon. Mereka tidak akan dapat mengejar Alec dan Anna. Kekuatan mereka jauh lebih rendah dibanding dengan kehebatan dari putra Maxus.

Alec menghempaskan Anna di lantai yang kasar dan berdebu. Entah dimana ia berada saat ini.

Tempat yang penuh oleh ribuan sarang tarantula ditambah malam gelap yang menutup semua cahaya.

“Katakan! Apa yang Aragon inginkan darimu?”

“Aku tidak tahu.”

Alec mendekatkan wajahnya di hadapan Anna. Nafas dingin yang seakan menyekat tenggorokan gadis malang itu. “Siapa kau sebenarnya?”

“Aku juga tidak tahu.”

Alec mendengus kesal mendengar jawaban Anna. “Jangan kira kau bisa membodohi ku.”

“Aku benar-benar tidak berbohong padamu.” Anna menjauhkan wajahnya dari tatapan Alec. Tatapan sadis yang membuat siapa pun yang menatapnya pasti akan tertunduk takut. Dia memang pantas disebut putra Maxus sang penakluk. Bangsa dari klan vampir abadi.

“Aragon menginginkan darah murni White Wizard, darahmu.”

Wizard?” Sebuah kata yang sering Anna dengar dari kisah novel yang ia baca setiap malam. Mana mungkin mereka ada. Wizard hanyalah sebuah mitos semata bagi Anna.

Anna tak henti menggelengkan kepalanya. Ia masih tak percaya dengan semua kejadian yang baru saja ia alami.

“Tidak mungkin! Bagaimana mungkin aku ini seorang Wizard?” Anna bergeming sesaat. “Tapi aku juga tidak tahu siapa diriku. Apa aku benar-benar seorang Wizard? Lalu siapa orang tuaku?” Sambung Anna dalam gumamannya.

“Bibi Sarah pasti tahu siapa diriku yang sebenarnya. Aku harus pulang.” Anna bergegas keluar dari ruangan gelap itu dan mencoba untuk pulang ke rumah. Namun sebuah tangan mencengkeram lengan Anna.

“Kau ingin pulang?” Anna menganggukkan pertanyaan Alec.

“Tunjukan kekuatanmu padaku!”

Anna tercengang. “Aaa? Kekuatan apa?”

Pria misterius itu benar-benar aneh. Kekuatan apa yang bisa Anna miliki, dirinya tak lebih hanyalah seorang gadis kaku yang menjadi bahan hinaan teman sekelasnya.

Alec merangkul Anna dalam pelukannya. Saat Anna membuka mata, mereka sudah sampai di depan pintu rumah Anna. Ia akan terkejut untuk yang ke sekian kalinya. Dan Anna mungkin terlalu takut untuk mengucapkan terima kasih.

Rumahnya begitu gelap. Entah ke mana perginya penghuni rumah tersebut. Bahkan kedatangan Anna dan Alec tidak mendapat sambutan dari Bibi Sarah. Anna membuka pintu perlahan, tangannya mencari sakelar lampu di samping jendela dekat pintu.

Saat cahaya lampu mengikis gelapnya malam di dalam rumah, alangkah terkejutnya Anna saat kepala Bibi Sarah menyapa kakinya. Seisi rumah nya habis berantakan, pecahan kaca jendela berserakan dimana-mana.

“Aaaaaa.” Anna berteriak histeris. Apa yang dikatakan pria dengan jubah hitam tadi benar. Ia sungguh tak main-main dengan perkataannya. Tak hanya Bibi Sarah, bahkan Joe teman sekelas Anna pun ikut terjerat dalam masalahnya. Jasad Joe terbaring di sudut ruangan dengan tanda bekas gigitan di lehernya, pasti juga perbuatan pria berjubah hitam itu.

“Kenapa mereka melakukan semua ini?” Teriak Anna dalam isakan tangisnya yang tak terbendung.

Amarah Anna mengambil alih dirinya, ia menatap kearah pecahan kaca di bawah kakinya dan menodongkan nya dengan beringas di hadapan Alec. Serpihan kaca seperti itu hanya bagaikan sebuah mainan bagi Alec.

“Menjauh dariku! Kalian semua pembunuh! Kalian membunuh bibiku.” Alec hanya tersenyum meremehkan perkataan Anna yang tengah dilanda emosi. Tapi Alec adalah makhluk tanpa jiwa yang tak pernah termakan waktu. Bagaimana mungkin ia akan tersentuh dengan rasa kehilangan dari gadis itu.

Tak perlu waktu lama, Anna membalas senyum angkuh itu dengan satu tusukan tajam di perut Alec.

“Kalian tidak akan mendapatkan apa yang kalian inginkan!” Tegas Anna dengan gigi yang terkatup rapat.

Pria bermata merah itu masih tersenyum dengan angkuhnya. Ia menarik serpihan kaca itu dari kulit pucatnya. Seketika luka itu memudar hingga tak menyisakan sedikit bekas pun. Anna semakin kesal. Ia tahu kalau makhluk bertubuh dingin itu tidak mudah untuk mati. Anna berlari keluar rumah, Alec membiarkannya pergi begitu saja. Aura Wizard yang begitu membara dalam diri Anna  membuat Alec memilih untuk membiarkannya pergi. Jati diri gadis itu akhirnya menampakkan diri.

Jati diri Anna muncul bersamaan dengan tumbuhnya kekuatan yang ia miliki. Hampir setengah tahun Anna menghilang dari keramaian serta meninggalkan orang yang pernah menyelamatkan hidupnya, Alec. Waktu yang begitu lama itu ia habiskan untuk melatih kemampuannya dalam mengendalikan elemen alam. Bahkan kecepatan dan kekuatannya juga meningkat. Perlahan Anna mulai mengakui identitasnya sebagai seorang White Wizard. Meskipun ia masih tidak mengetahui siapa orang tuanya.

Dan tanpa disadari, hari sabat yang berpadu dengan purnama darah akhirnya tiba. Hari dimana darah abadi seorang White Wizard bereaksi dengan sempurna. Malam yang begitu Aragon nantikan.

Malam hari langit sudah mulai memberi pertanda akan kehadiran malam sakral yang sangat langka ini. Aragon dan ribuan pengikut setianya berkumpul di atas bukit menunggu seseorang untuk membawa Anna kepadanya. Namun tak disangka, orang yang disuruh Aragon malah datang tanpa kepala. Beberapa sumber lain membawa tubuh tak berkepala itu ke hadapan Aragon sebagai bukti. Pria anggun dengan tatapan memabukkan itu mendengus marah. Sekarang Anna tahu kelemahan para vampir, kepala mereka.

Kemampuan Anna terus meningkat. Bahkan seorang vampir suruhan Aragon tidak cukup mampu untuk membuat si White Wizard itu tunduk. Kali ini Aragon yang harus turun tangan. Ia harus bergegas sebelum malam sakral ini berlalu.

Cukup sekejap mata bagi Aragon untuk menemukan Anna. Apalagi saat ini Anna ternyata juga berada di bukit yang sama. Anna menunggu saat yang tepat untuk membumihangus kan makhluk dingin yang menjadi penyebab kematian bibinya.

“Kau membuat ku menunggu terlalu lama.” Aragon menyapa gadis di hadapannya.

Anna memperhatikan lawan bicaranya. Ia menyoroti Aragon dari kaki hingga kepala. Jadi seperti inilah Aragon yang mereka agungkan itu. Tinggi, kekar, dengan jubah hitam yang melingkup atas kepala. Wajah putih ditambah alis yang tebal dan bibir tipis yang memesona, ketampanan nya sungguh tiada tara. Tapi yakinlah kalau usianya sudah pasti lebih dari seribu tahun.

“Aku senang membuat orang lain menunggu. Apalagi jika itu adalah kau. Ingin menangkapku? Huh, mimpi!” Anna langsung berlari dengan cepatnya membawa pukulan tinju ke arah Aragon.

Aragon menghindari serangan Anna dengan satu geseran. Anna mulai memanjat pohon dan melompat dari satu pohon ke pohon yang lain. Bahkan jika jaraknya jauh pun Anna tetap mampu meraih nya. Aragon tidak akan tinggal diam melihat gadis itu melarikan diri. Ia mengejar Anna dengan kecepatannya yang melebihi kereta api.

Dan sialnya Aragon berhasil menarik rambut Anna hingga membuat gadis berambut pirang tersebut jatuh ke tanah.

“Lusianna Alvander. Mau seberapa lama lagi kau ingin menghindar dariku? Aku sudah lama menunggumu hingga hari ini tiba.”

“Kau tidak akan mendapatkan apa yang kau inginkan, pembunuh! Bibiku tiada karena ulahmu.” Rutuk Anna pada lawan bicaranya yang sedang berdiri di hadapannya.

“Aku sudah lama mendapatkanmu. Jika bukan karena wanita tua yang kau sayangi itu, aku sudah pasti akan mendapatkanmu.”

Anna tahu betul siapa yang wanita tua yang Aragon maksud. Bibinya yang cantik itu tidak jauh berbeda dengan Aragon.

“Siapa orang tuaku?”

Baca Juga : [ Cerpen Romantis ] Purnama Di Balik Bukit

“Sepasang kekasih yang melegenda karena kehebatannya. Namun karena ayahmu, Luvinus Alvander terlalu mudah untuk dibodohi hingga ia rela memberikanmu demi nyawa ibumu. Namun Sarah datang mengambilmu darinya. Pertikaian antara dua bersaudara.” Aragon mendekatkan wajahnya di hadapan Anna. Terlalu dekat hingga membuat Anna memalingkan wajah darinya.

“Dan siapa yang kau bilang pembunuh? Aku? Hahah. Bibimu membunuh saudaranya sendiri demi mendapatkanmu. Ia yang menjadi penyebab kematian orang tuamu.” Aragon mengakhiri perkataannya dengan seringaian tipis. Ucapan Aragon seakan bergema ditelinga Anna. Iris mata hazel milik Anna menatap tajam pada Aragon.

“Ia mengambilku agar kau tidak bisa mendapatkan keabadianmu.” Anna memberikan penekanan pada setiap kata yang ia ucapkan.

Anna langsung bangkit dan kembali melompat ke atas pepohonan. Aura sihir seorang Wizard tampak memenuhi seisi hutan. Anna menggerakkan pepohonan dengan sihirnya untuk memperlambat gerak Aragon. Satu persatu dahan pohon mulai merapat dan menutup jejak Anna.

Sinar bulan purnama darah sudah berdiri tegak di atas kepala. Pemandangan itu membuat Aragon bertindak cepat. Entah dari mana Aragon muncul dan langsung memukul Anna dari depan. Ia membawa Anna yang sudah tak berdaya ke puncak bukit. Teriakan riuh para vampir semakin membuat malam penuh mistis itu terlihat sangat menegangkan.

Aragon sudah siap menancapkan giginya di leher Anna. Namun seseorang datang menerjang Aragon dengan telak. Siapa lagi yang berani melakukan itu kalau bukan Alec The Son of Maxus. Anak dari musuh lama Aragon.

“Alec!” Teriak Aragon. “Kau tahu dengan siapa kau berhadapan saat ini?” Aragon langsung menghampiri tamu tak diundangnya.

“Aku tahu. Itu pantas untukmu. Kedudukan itu adalah milik ayahku. Berani sekali kau merebut itu darinya.” Alec kembali menerjang Aragon dan dengan gesitnya Aragon mendarat dengan sempurna.

“Kau tak lebih hanyalah makhluk rendahan! Dulu kau hanya seorang pengemis yang menumpang hidup pada klanku. Dan aku tak akan pernah lupa siapa yang telah mengambil keabadian milik ayahku.” Alec memberikan tekanan keras pada kata terakhirnya. Sontak semua vampir yang ada di sana terkejut atas pernyataan Alec. Rahasia Aragon yang tidak diketahui siapa pun kini bocor oleh seorang Alec.

Anna membuka matanya perlahan. Ia melihat begitu banyak orang di sekelilingnya dan sebuah pertarungan sengit antara Alec dan Aragon yang saat ini menjadi pusat perhatian. Namun sayang, Alec sudah tidak dapat menahan serangan Aragon yang ke sekian kalinya. Alec terhempas dengan beringas ke tanah. Ia sudah tak mampu untuk bangkit.

Aragon kembali mendekati Anna. Kesempatan emas ini tak akan ia biarkan berlalu begitu saja. Alec hendak bangkit untuk menghadang Aragon, namun Anna menggeleng pelan. Anna membiarkan Aragon mendekati dirinya. Biar saja ia mendekat. Maka ia akan tahu kejutan apa yang telah Anna siapkan untuknya.

Aragon sudah tak sabar untuk mencicipi darah abadi milik Anna. Kepalanya mendekati leher mungil gadis berambut pirang itu. Saat dirasa sudah tepat, Anna langsung menarik kepala Aragon dan memutar nya dengan sadis. Ia biarkan kepala itu meninggalkan tubuhnya. Anna memegang kepala milik Aragon dan dalam sekejap muncul api yang membakar hangus kepala itu.

Kematian Aragon membuat vampir lainnya berlari menjauhi Anna. Tapi mereka adalah saksi atas kehancuran dari Aragon yang selalu mendambakan keabadian. Kehancuran yang disebabkan oleh dirinya sendiri.

( Cerpen ini diikutsertakan dalam lomba menulis cerpen Okeylah Media )

Suka Artikel Ini ?

Click on a star to rate it!

Average rating 5 / 5. Vote count: 1

No votes so far! Be the first to rate this post.

Pitriyani Nama Pitriyani, lahir pada 28 Desember 2003 di Serumpun, samba, kabar. Jejak bisa ditemukan di akun facebook @Pitriyani dan instagram @pitri_yani_ni
error: Content is protected !!