Cerita Seram Ojol – Ih Serem, ada yang ngikutin!!!

Sejujurnya saya paling malas kalau menulis cerita seram. Kenapa? Karena kalau saya menulis cerita seram itu artinya saya baru aja mengalami kejadian yang menyeramkan. Saya yakin banget, tidak ada satu pun dari kalian yang ingin mengalami kejadian seram bukan?

Saya pun demikian, biar saya bukan orang yang parno tetapi saya selalu berdoa agar saya dihindarkan dari hal-hal mistis seperti ini. Jangan sampai tidur nyenyak kamu terganggu oleh hal-hal di luar nalar manusia.

Cerita seram ini bermula ketika saya mendapat orderan offline dari mantan kastamer saya di GOJEK. Jadi ceritanya 3 bulan yang lalu, saya mendapat seorang kastamer bernama Nindi dari Makassar yang datang ke Bandung untuk memberi kejutan kepada temannya yang baru lulus wisuda.

Mungkin karena dia merasa nyaman, jadi dalam 1 hari itu saya ‘disewa’ untuk mengantarkan dia memutari kota Bandung, mulai dari Gasibu, Gedung Sate, Braga sampai Alun Alun Bandung.

Dia lantas menyimpan nomor ponsel saya dan mengatakan kalau dia ada rencana untuk berlibur ke Bandung bersama teman-temannya dan dia meminta kepada saya agar saya bisa menjadi Guide ketika mereka berlibur ke Bandung.

……………………………………………………………….

Beberapa bulan kemudian, saya dihubungi oleh Nindi dan dia mengabari kalau besoknya, dia akan tiba di Bandung bersama teman-temannya. Nindi lantas bertanya apakah saya bisa menjadi Guide untuk mereka dan bertanya berapa biaya untuk menjadi Guide mereka.

Setelah bersepakat, kita janjian untuk bertemu di Mess tempat mereka menginap selama di Bandung. Mereka sudah membuat list, tempat mana saja yang akan mereka kunjungi selama di Bandung.

Salah satunya adalah mereka request pergi ke atas bukit agar bisa melihat keindahan Kota Bandung. Saya merekomendasikan mereka untuk pergi ke Dermaga Bintang. Tempat wisata Dermaga Bintang letaknya ada di Cimenyan, lumayan jauh dan jalannya cukup menanjak sih.

Total yang pergi ada 8 orang dan mereka menggunakan motor sewaan. Saya membonceng teman Nindi yang bernama Ely Freitas yang berasal dari Timor Leste.

Jarak tempuh menuju Dermaga Bintang saya perkirakan sekitar 1 jam lebih. Kita menggunakan 4 motor untuk menuju kesana. Jalannya lumayan sempit dan berkelok, tidak disarankan untuk kamu yang belum terlalu jago bawa kendaraan buat kesini.

Jam sudah menunjukkan pukul 5:30 dan saya baru ngeh kalau Dermaga Bintang ini cuma dibuka sampai jam 6 sore saja. Alasannya karena penerangan yang minim dan lumayan ngeri juga sih kalau ampe Malam disini karena tempatnya yang dipenuhi oleh pohon besar.

Setelah membayar tiket (15rb), kita masuk dan menaiki tangga untuk mencapai spot paling maksimal buat foto-foto. Tapi ada yang aneh ketika kita sedang menaiki tangga, Ely Freitas malah naik ke atas bukit menuju tempat yang penuh dengan pepohonan.

“Itu si Ely kenapa?” tanya salah seorang teman sembari memperhatikan Ely yang naik bukit.

“Eh, si Ely kok ngangkat baju, mau kencing ya?” kata salah satu teman yang lain.

Gile ini orang keren amat, kencing di sembarang tempat, hahaha. Saya sih mikirnya gini, udara di atas kan dingin banget jadi si Ely kebelet kencing. Karena sudah gak tahan (kalau kencing di WC lumayan jauh jaraknya) jadi dia kencing di pohon.

Tidak lama kemudian, Ely turun menuruni bukit sambil cengar cengir. Saya perhatikan, senyum Ely kali ini seperti penuh arti. Saya lantas sedikit berbisik ke dia, “Ely ada apaan?”

Tanpa basa basi dia bilang kalau ada KUNTILANAK yang sedang memperhatikan kita dan Ely ternyata bukan mau kencing tapi dia sengaja menaikkan baju untuk memperlihatkan pusar karena dia bilang kuntilanak itu takut dengan pusar manusia.

“Sekarang kemana Kuntinya?” tanya saya polos.

“Sudah pergi sekarang” balas Ely. Saya tidak terlalu memikirkan hal itu sih dan kita pun kembali ke tujuan awal buat happy dan foto-foto.

Sebelum pulang, kita mampir dulu ke sebuah warung di dekat Dermaga Bintang buat jajan supermie kuah. Cocok gak sih, makan supermie sambil menikmati udara yang dingin. Lebih pas lagi kalau pergi bersama pasangan dan peluk pasangan kamu saat udara lagi dingin gini, ahiw.

Saya ambil posisi duduk di pojokkan sambil minum segelas teh hangat. 5 menit kemudian, pesanan supermie kita sampai. Semua pesan supermie kecuali Ely yang pesan pisang keju. Dari ujung saya merasa ada yang aneh, Ely gak banyak cakap, mata dia terlihat awas sambil sesekali menggosok-gosokkan tangannya sambil meniup tangannya.

Setelah supermie saya habis, saya pindah posisi ke deket Ely dan ANEHNYA saya merasa kedinginan yang luar biasa. Udara disini memang dingin tetapi entah kenapa di sekitara Ely duduk, udarannya dingin luar biasa. Kalau saya bisa menggambarkan, dinginnya tuh seperti kita sedang membuka kulkas (berasa disembur udara dingin).

“Disini kok dingin banget” tanya saya ke Ely. Ely hanya tersenyum sambil terus menggosok-gosokkan tangannya.

“Iya dingin banget disini” jawab salah satu teman lain yang kebetulan posisi duduknya berdekatan.

Setelah selesai makan, kita melanjutkan perjalanan untuk pulang ke Mess. Ketika saya bersiap menaiki motor, Ely bilang “Eh, saya saja ya yang bawa motor” dan saya langsung memberikan kunci motor kepada Ely.

Di tengah perjalanan, Eli bilang “Tuh di pohon lagi ada yang ngeliatin kita”. Saya menengok ke samping, kosong sih, cuma ada pohon besar aja. Mungkin ‘dia’ mangkal disana ya, pikir saya dalam hati. Saya lantas bilang ke Ely supaya jangan ngomong kalau ada penampakkan atau apa, bikin ngeri soalnya.

Setelah itu terjadi sesuatu yang mengerikan, di tikungan terjadi kecelakaan hebat. Tidak tahu bagaimana ceritanya, ada motor yang berlawanan arah dengan saya (rombongan saya turun kebawah sedangkan motor tadi naik ke atas) jatuh dan nyenggol motor di depannya. Hampir 4 motor jatuh beruntun dan ada 2 anak kecil yang kegencet motor, beberapa orang mengalami luka karena tikungannya memang lumayan curam.

Saya dan Ely turun sebentar, menolong yang kecelakaan. Anehnya, hawa dingin yang saya rasakan sewaktu di warung supermie kembali terasa disini. Setelah menolong korban kecelakaan, Saya dan Ely melanjutkan perjalanan menuju Mess.

Di Malam itu semua berjalan seperti biasa, cuma satu hal yang membuat saya sedikit aneh adalah di Malam itu saya susah sekali untuk tidur. Jam 2 subuh, saya baru bisa tidur padahal biasanya saya tidak bermasalah dengan tidur.

……………………………………………………………………………..

Besoknya, setelah pulang dari Lembang, Ely meminta saya untuk tidak pulang dulu. Di depan Mess ada warung kopi dan Ely mengajak saya untuk mengobrol sembari minum kopi.

Kita ngobrol panjang lebar terutama tentang rencana dia setelah kembali ke Timor Leste. Kita ngobrol sambil ditemani 2 buah gelas kopi sachetan. Di tengah obrolan, tetiba Ely nyeletuk gini:

“Eh, aku mau cerita sesuatu tapi kamu jangan takut dan marah ya”

“Ya sok aja El” balas saya sambil menyeruput susu.

“Kamu inget gak pas kemaren aku naik ke atas bukit terus buka baju buat ngusir kuntilanak”

“Inget, kenapa?”

“Kuntialanak-nya marah dan dia ngikutin kita” kata Ely sambil pasang mimik serius.

Sewaktu dia cerita begitu, rasa kopi saya mendadak jadi hambar. Saya lumayan kaget dan takut biar mencoba tetap cool di depan Ely.

Ely kemudian melanjutkan cerita dan saya baru merasa semua ada keterkaitan satu sama lain. Ely bilang kalau kuntilanak sudah mengikuti sejak kita sedang makan supermie di warung dekat Dermaga Bintang.

Awalnya dia menunggu di motor yang dipakai oleh Ely dan saya. Terus sewaktu kita sedang makan supermie itu, si kunti ternyata berdiri di samping Ely. Kenapa saat itu hawanya terasa dingin banget karena jaraknya berdiri si kunti ama saya itu DEKET BANGET!

“Kamu udah sadar kalau si kunti berdiri di samping kamu” tanya saya

“Sadar banget. Kalau mau liat hantu tuh jangan liat langsung tapi lirik aja pasti keliatan” jawab Ely. Tenang El, cara kamu barusan itu gak akan saya pakai kok.

“Dia tuh ngikutin kita terus dan karena dia marah ama aku (karena Ely buka pusar itu), jadinya dia ngikutin motor aku”

Tunggu, tunggu. Itu kunti kan marahnya ama Ely jadi dia ngikutin motor Ely. Terus itu kan motor saya dan saya yang dibonceng Ely kan? Jadi dia mengikuti motor saya dong?

“Iya, jadi sepanjang perjalanan pulang, dia di belakang kamu terus”

“Kamu inget gak pas kecelakaan di tikungan itu”

“Iya inget, kenapa?”

“Itu juga karena si kuntilanak dan seharusnya tuh kita yang celaka karena kuntilanaknya mengincar kita sebenarnya”

Keringet dingin langsung menetes di kepala saya. Saya dalam posisi percaya tidak percaya tetapi karena saya yang mengalami sendiri secara langsung, saya jadi percaya beneran.

Ely cerita sepanjang perjalanan pulang, kunti yang lagi marah terus mengganggu konsentrasi Ely lewat spion. Jadi beberapa kali, si kunti menghentak di spion motor supaya konsentras Ely terbaikan. Tapi berhubung si Ely sudah biasa dengan hal-hal mistis seperti ini dia jadi kuat dan gak lalai.

Pantas saja kenapa pas mau pulang, Ely minta dia yang ngendarai motor karena dia tau, saya bisa saja diganggu lewat hentakkan di spion.

Saya jadi lumayan paham kenapa di jalan tol atau tanjakkan yang (katanya) berhantu sering terjadi kecelakaan. Percaya gak percaya, hal seperti ini memang ada dan terkadang hantu mengganggu kita lewat hentakkan di spion yang membuat pengemudi jadi tidak berkonsentrasi.

Karena gangguan ke Ely gak mempan, itu kunti beralih ke motor yang kebetulan ada di sebelah saya untuk memberi semacam warning kepada Ely. Kata salah satu teman yang melihat kecelakaan itu langsung, dia bilang memang sedikit rada aneh.

Jadi ada motor yang sedang belok di tikungan seperti kaget melihat ‘sesuatu’ dan langsung bantir stir ke kiri. Nah di kiri itu ada 1 motor isi 4 (suami isri dan 2 anak) yang ikut jatuh tertimpa motor dilanjut dengan 2 motor lagi yang ikut jatuh.

Kalau kecelakaan itu menimpa di rombongan saya, pasti bukan cuma saya dan Ely aja yang jatuh tapi 3 motor depan yang diisi oleh temen saya pasti bakalan kena juga.

“Untungnya kita berdoa dulu sebelum pulang kalau misal gak berdoa, kemungkinan besar kita yang bakalan kena” lanjut Ely serius.

Ibu saya selalu berpesan sejak dulu, kapanpun dan dimanapun kamu mau berpegian jangan pernah lupa untuk berdoa, minta perlindungan dari Tuhan sepanjang jalan. Apapun agama dan iman percaya kamu, jangan pernah lupa berdoa sebelum pergi dan jangan lupa juga minta didoakan oleh Ibu saat mau bepergian.

Doa Ibu itu kuasanya besar loh.

Ely kemudian cerita swaktu saya dan dia turun buat menolong keluarga yang terjatuh itu, si kunti ternyata masih berdiri tepat di sebelah Ely dan pantas aja, saya merasakan hawa yang dingin sekali seperti saat di warung supermie.

Kuntilanak itu kemudian mengikuti Ely sampai ke kamar Ely dan Ely cerita di malam itu, si kuntilanak hadir di mimpi dia. Jadi di mimpi si Ely, dia seperti mengulang hari itu, hari dimana kita pergi ke Dermaga Bintang dan benar saja, si kuntilanak marah dengan perbuatan Ely yang membuka baju untuk mengusir ‘dia’. Dalam mimpi, Ely minta maaf dan meminta si Kuntilanak buat kembali ke asalnya.

“Tapi dia sekarang masih ngikutin kita gak El?” tanya saya

Ely tidak menjawab, dia hanya tersenyum penuh misteri.

Stefanus Sani

Blogger, Content Writer and WWE Biggest Fans!

Recommended Product

People reacted to this story.
Show comments Hide comments
Comments to: Cerita Seram Ojol – Ih Serem, ada yang ngikutin!!!
  • Rizqia Abyaksa
    21 Januari 2021

    Wah mantap mas! Ngebayanginnya aja bikin merinding..
    Ditunggu cerita2 selanjutnya

  • Angga Sebastian
    21 Januari 2021

    Kiranya menjadi pelajaran untuk kita agar tidak melakukan perbuatan sembarangan dan sompral, apalagi di tempat yang tidak kita kenal. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah.

  • Frank Salerno
    21 Januari 2021

    Cerita seperti ini sangat bagus untuk mengajarkan anak anak generasi sekarang bahwasanya etika dan tata krama itu adalah hal yang krusial dan fundamental. Karena jika kita perhatikan anak anak jaman sekarang itu cenderung bertindak semena-mena atau rela melakukan apapun demi konten. Salut untuk Eli yang berani bertanggung jawab atas perbuatannya!

  • Bhaskara Ikhsan
    21 Januari 2021

    Jadi ingat cerita dari tukang baso tahu di dekat sekolah saya, jaman dulu dia selalu pulang malam sehabis keliling untuk berjualan. Jalan yang dilewati pun sepi dan gelap, hanya terang rembulan yang menerangi jalannya. Kiri dan kanan jalan pun hanya ada sawah dan pohon pohon yang rindang. Dia bercerita ketika dalam perjalanan pulang di malam hari, ia selalu di ganggu oleh makhluk-makhluk tak kasat mata. Karena lelah selalu diganggu dan malas untuk merasakan rasa takut yang terus menghantui, dia pun melucuti semua pakaian yang dia kenakan ketika melewati jalan yang sepi dan gelap itu agar rasa takutnya hilang, namun rasa malu saja yang muncul. Dia berfikir, mungkin jika tidak memakai pakaian maka makhluk-makhlus tak kasat mata itu pun akan berhenti menggangu. Karena buat apa menggunakan energi mereka hanya untuk mengganggu orang gila tidak pakai pakaian yang lewat? Mungkin itu yang ada di pikiran Ely sehingga dia melakukan hal-hal yang tidak masuk akal.

  • I Nyoman Arya Wiguna
    21 Januari 2021

    ngeri ya, tapi kalo kita rajin berdoa mudah2an akan selallu dalam lindungan-Nya.

  • ilham dwi
    21 Januari 2021

    jangan bilang ini dari cerita nyata, jadi takut buat ke Dermaga Bintang

  • cucu hindayatulah
    22 Januari 2021

    untung aja doa dulu sebelum brngkt, semoga ga ngikutin lagi ya

Write a response