[ Cerita Inspirasi Olahraga ] : Terinspirasi Permainan Bola Basket, Ku Terapkan Pada Permainan Sepakbola

10 min read

cerita inspirasi olahraga
0
()

[ Cerita Inpirasi Olahraga ]  : Terinspirasi Permainan Bola Basket, Aku Terapkan Pada Permainan Sepakbola

Cerita Inspirasi ( Olahraga ) – Kenangan saya masih kecil, sangat menyukai bola basket dari zaman Sekolah Dasar periode 1987 – 1991. Posisi saya di tim basket adalah pemain tengah dan pemain belakang, yang hobinya menghentikan pemain depan team lawan dengan cara halus supaya tidak melukai diri orang lain dan diri sendiri.

Saya mulai menyukai olahraga sepak bola pada tahun 1988, yang berawal dari nonton pertandingan semi final Piala Eropa antara Belanda versus Jerman Barat, dan selanjutnya final antara Belanda versus Uni Sovyet. Itulah momen yang saya rasakan bahwa bermain sepak bola itu ternyata asik dan menyenangkan.

Saya langsung berimajinasi dan bertanya 1 (satu) hal dalam hati, apakah bisa pola permainan tersebut bisa dikembangkan ke olahraga lain yang cirinya bersifat permainan tim atau antar tim yang jumlahnya lebih dari 5 orang pemain ? Seharusnya bisa, tapi apakah mungkin ? Selanjutnya, saya coba ke olahraga permainan sepak bola.

Selanjutnya, saya pun menghubungi salah satu radio swasta yang mengadakan kuis tebak skor 2 (dua) hari sebelum pertandingan Piala Dunia 1990 tersebut digelar. Saya utarakan ingin mengikuti tebak skor akhir Final Piala Dunia. Kemudian saya ditanyakan oleh salah satu karyawannya : berapa skor akhir pertandingan terakhir itu ? 1 – 0 untuk kemenangan tim panzer Jerman Barat atas tim Argentina.

 ***

Baca Juga :

[ Cerpen Inspirasi ] Ketika Tiga Puluh

[ Cerpen Inspirasi ] Senjaku Dengan Keluarga Semut

Terinspirasi Permainan Bola Basket, Ku Terapkan Pada Permainan Sepak Bola

Ya, saya tidak tahu judul di atas merupakan judul yang tepat untuk cerita pendek (cerpen) ini  atau perlu perbaikkan lagi ? Namun yang pasti, ketika saya masih kecil, saya sangat menyukai permainan bola basket dari zaman Sekolah Dasar, tahun 1987 – 1991. Posisi saya di tim basket adalah pemain belakang, yang hobinya menghentikan pemain depan lawan dengan cara halus maupun cara kasar.

Uniknya, meskipun badan saya tinggi, kecil, dan kerempeng namun aspek tersebut tidak menghentikan laju saya pada posisi favorit tersebut. Bahkan saya sering berlatih teknik menempel pemain depan. Saya menyukai posisi tersebut karena kesulitan memasukkan bola ke keranjang, lebih banyak tidak masuknya daripada memasukkan bola. Bahkan melakukan lay up saja, saya tidak bisa, saya alami kesulitan mengambil kuda – kuda dan pergerakannya.

Namun, ketika menjaga lawan termasuk teman saya sendiri, maka teman tersebut bisa tak bergerak melihat cara saya menempelnya. Ketika bertanding dalam olahraga class-meeting, pergerakkan pemain depan lawan bisa tak berkutik. Terlepas dari tim saya memenangkan pertandingan atau pun kalah, namun menjadi catatan tersendiri buat pemain depan lawan. Itulah salah satu kenangan terindah saya zaman sekolah dasar dulu periode 1986 – 1991. Momen terindah.

Namun bukan hal itu yang saya mau bagikan kepada para pembaca melainkan kisah permainan sepak bola yang menurutku adalah momen yang paling indah ketimbang menjaga pemain depan lawan tak bisa mengembangkan permainan dan membuatnya tak berkutik. Saya menyukai olahraga sepak bola pada tahun 1988, yang berawal dari nonton pertandingan semi final antara Belanda versus Jerman Barat, dan selanjutnya final antara Belanda versus Uni Sovyet.

Itulah momen yang saya rasakan bahwa bermain sepak bola itu ternyata asik dan menyenangkan, ada roh permainan dan kerjasama antar pemain disana. Mirip olahraga basket. Saya melihat pertandingan semifinal dan final yang berlokasi di Jerman Barat berlangsung cukup menarik, menegangkan, terorganisir, adanya jual beli serangan. Saya melihat bagaimana pemain belakang masing – masing Negara mengawal dan menjaga pemain depan lawan.

Ada yang berhasil dan tidak kemasukkan goal dan ada yang tidak berhasil dan kemasukkan goal. Itu semuanya adalah dinamika pertandingan. Momen sepakbola tahun 1988, merupakan momen saya menyukai olahraga lain, yakni sepakbola selain olahraga basket. Selama saya memakai baju seragam sekolah dasar, terlebih saat mata pelajaran olahraga, guru saya hanya mengajarkan 4 permainan, yakni bola kasti, bola basket, bola volley, dan berenang.

Saya cukup mumpuni pada 2 jenis olahraga, yakni bola basket dan bola kasti, sisanya saya tidak cakap dan tidak memadai. By the way, Saya sebut nama guru olahraga yang dimaksud adalah Pak Helmi B.A. Saya tidak tahu beliau masih hidup atau tidak saat ini. Namun kalau beliau mengajar olahraga basket, tidak hanya skill saja atau pun cara memainkan bola basket, tapi berkembang luas pada membaca permainan, bermain pada luas dan lebar lapangan, taktik, strategi, dan yang tidak kalah penting adalah pola permainan.

Pola permainan umum yang diajarkan Pak Helmi B.A kepada anak – anak asuhnya adalah pola 2 – 1 – 2  dimana 2 pemain depan, 1 pemain tengah, dan 2 pemain belakang. Pola 2 – 1 – 2 merupakan pola yang disukainya karena pola permainan yang menjaga keseimbangan organisasi permainan. Meskipun ada beberapa taktik tim dalam menyerang dan bertahan, tetap selalu mengedepankan keseimbangan dan keselarasan, artinya diupayakan tidak boleh ada celah yang kosong.

Pak Helmi, B.A selalu mengatakan 1 pemain tengah merupakan pemain yang paling berjibaku karena selalu bermain ke depan untuk membantu pemain depan memasukkan bola ke keranjang team lawan dan bermain ke belakang untuk membantu pemain belakang menjaga wilayahnya supaya tidak kebobolan apabila menerima serangan balik dari team basket lawan.

Namun kembali lagi, itu merupakan pola permainan umum dan mendasar, ada juga pola permainan lain yang diajarkan kepada murid – muridnya, misalnya pola 1 – 2 – 2 ; 3 – 1 – 1 ; 2 – 3 – 0. Bisa dibayangkan, sedari kecil sudah diajarkan pola permainan setinggi itu. Saya langsung berimajinasi dan bertanya 1 hal dalam hati, apakah bisa pola permainan tersebut bisa dikembangkan ke olahraga lain yang cirinya bersifat permainan tim atau antar tim yang jumlahnya lebih dari 5 orang pemain ?

Saya bergumam, seharusnya bisa, tapi apakah mungkin ? Secara teori bisa, selanjutnya saya coba ke olahraga yang lebih besar, permainan sepak bola. Saat pulang dari sekolah, saya suka melihat permainan sepak bola, tak jauh dari sekolah SD. Bahkan ketika ada ajakan untuk ikut nimbrung bermain bola, saya selalu ikut dan bermain di posisi belakang, posisi lazimnya di basket.

By the way, saat menyukai sepak bola, pemain belakang yang saya kagumi berjumlah 4 orang, yakni Paolo Maldini, Franco Baresi, Mauro Tassoti, dan Alessandro Costacurta dimana semuanya itu berasal dari klub yang sama AC Milan. Gaya permainannya dalam menjaga wilayah belakang bercirikan halus, bersih, tidak kasar, elegan, dan tegas kepada penyerang (striker) lawan. Aspek inilah yang menjadi inspirasi permainan saya dalam bermain bola basket.

Kembali ke laptop, maksudnya pola permainan organisasi yang diajarkan guru olahraga basket. Secara seksama dan mencermati instruksi dan pengajaran beliau membuat saya sadar bahwa ilmunya begitu penting dalam setiap pertandingan khususnya basket yang saya geluti. Disamping itu, ketertarikan dan minatku pada dunia olahraga sepakbola sepanjang periode 1988 – 1990 semakin bertambah dari waktu ke waktu.

Pelan – pelan, saya mulai mengikuti perkembangan Piala Dunia, Timnas yang akan bertanding, pemain bintang, pemain biasa, pelatih, sejarah, dan hal – hal lain. Ke semuanya itu merupakan modal saya untuk bisa mengikuti jalannya pertandingan. Piala Dunia 1990 yang berlokasi di Italia, dimulai pertengahan Juni 1990 sampai dengan pertengahan Juli 1990. Pertandingan pembukaan antara Tim Nasional Argentina Juara Bertahan 1986 versus Tim Nasional Kamerun.

Tim Nasional Argentina Juara Bertahan 1986 dengan bintang Utama Diego Armando Maradonna versus  Tim Nasional Kamerun dengan Bintang Utama Roger Milla. Diego Armando Maradonna versus Roger Milla. Tentunya pertandingan ini pasti berat sebelah dan tidak sepadan. Namun saat itu, bocah sekolah dasar yang baru naik kelas dari sebelumnya, kelas V naik ke kelas VI, yakni saya sendiri tidak sependapat.

Saya pun mulai menebak secara asal – asalan bahwa pertandingan tersebut akan dimenangkan Tim nasional Kamerun. Pertanyaannya adalah skor kedua team berapa ? Saya pun ingat kalimat guru olahraga yang pernah mengatakan kepada murid – muridnya bahwa kalau ingin melihat titik kelemahan team lawan (blind spot), maka posisikan dirimu bukan hanya sebagai pemain, namun posisikan juga dirimu sebagai pelatih.

Kalimat itulah yang memicu dan memacu diriku untuk menebak skor pertandingan saat Piala Dunia 1990 berlangsung melalui tinjauan pola organisasi permainan dan titik lemah permainan. Semua tim olahraga memiliki titik lemah yang terlihat jelas maupun tidak terlihat, namun para pelatih selalu berusaha menutup atau menambalnya dengan cara mengganti pemain tersebut dengan pemain yang memiliki karakter kuat atau perkuat pemain tersebut dengan pemain lain.

Pertanyaannya adalah skor kedua tim berapa ? Skor Timnas Argentina versus Timnas Kamerun ? Ketika pertandingan tersebut berlangsung, lagi – lagi saya tidak memiliki landasan apapun untuk mengukur dan menilai pertandingan tersebut kecuali tebak – tebakan asal. Jadi, saya hanya mengatakan paling Timnas Argentina kalah dengan skor 0 – 1. Timnas Kamerun lah yang secara definitif memenangkan pertandingan.

Saya pun lanjut tidur untuk beristirahat dan tidak menonton pertandingannya karena kecapean habis bermain di luar bersama dengan teman – teman. Besoknya, saya bangun pagi, mandi, dan sarapan pagi. Kemudian saya membaca Koran Kompas yang berisi kemenangan Timnas Kamerun 1 – 0 atas Timnas Argentina sebagai Juara Bertahan. Saya tidak menyangka tebak asal – asalan tersebut menjadi suatu kenyataan.

Padahal awalnya, saya pikir tebakan itu tidak menjadi kebenaran. He..he..he.. Saya pun terharu dan semakin terpacu untuk melakukan tebak skor pertandingan, hanya saja untuk menebak skor secara tepat harus memiliki landasan pola organisasi permainan dan titik lemah kedua belah tim. Sesuai dengan kalimat guru olahraga saya yang pernah berkata bahwa : melihat titik kelemahan team lawan (blind spot), maka posisikan dirimu sebagai pelatih.

Saya ceritakan sedikit tentang guru olahraga saya, Pak Helmi B.A. Orangnya asik, tegas, baik, dan tidak pemarah. Saya mengenalnya cukup lama dari tahun 1987 sampai dengan 1991 atau 4 tahun. Dari saya berumur 8 tahun hingga 12 tahun, dari kelas 3 (III) hingga kelas terakhir kelas 6 (VI) di Jakarta, tepatnya Jakarta Timur. Beliau mengajar semua kelas dari kelas 1 sampai kelas 6, bisa dibayangkan betapa asiknya dan betapa capeknya.

Namun beliau tetap selalu mengajar dengan lembut, tegas, bijak, dan tidak pemarah. Saya berpandangan spesialisasinya ada pada olahraga bola volley, bola basket, dan olahraga berenang. Gaya mengajar beliau disegani hampir semua murid, tentunya dengan mengedepankan kondisi dan kesehatan anak plus usia masing – masing anak. Tak pernah Pak Helmi B.A memaksakan murid – muridnya untuk berolahraga harus mengikuti selera atau kemauan, kecuali mengikuti jadwal mata pelajaran olahraga yang sudah dicanangkan.

Baginya, olahraga itu harus sehat dan menyenangkan, bukan sebaliknya keras, dipaksakan, dan menyakitkan. Praktik olahraga yang diajarkannya lebih banyak daripada teori, maklumlah, namanya juga anak – anak, lebih menyukai main daripada teori. Meskipun bebas melakukan permainan namun tetap diarahkan, diajarkan, dan dibentuk dengan semestinya.

Saya menyukai siaran radio swasta. Saat belajar, tak afdol rasanya belajar mata pelajaran tanpa ditemani musik atau radio. Saat santai pun, tetap mendengarkan radio atau memasang kaset yang berisi lagu penyanyi barat terkenal. Kehadiran musik dan berita bisa membantu diriku mengurangi rasa penat dan bosan, plus mendengarkan berita nasional khususnya rubrik basket, sepakbola, dan humor – humor komedi.

Sambil mendengarkan radio, tiba – tiba ada selingan iklan tentang informasi sayembara atau kuis tebak skor pertandingan selama gelaran Piala Dunia 1990. Nomor telepon radio yang bersangkutan saya catat di kertas dan hari – hari selanjutnya mulai menebak skor pertandingan kembali. Hitung – hitung mengisi hari kosong liburan sekolah dengan sesuatu yang berarti selama 1 bulan pada akhir tahun ajaran 1989/1990.

Piala Dunia 1990 di Italia menjadi catatan tersendiri buat saya pribadi. Aspek ini terjadi karena penjaga gawang masing – masing tim nasional menjaga gawangnya dari kebobolan dengan memegang bola terlalu lama di wilayah kiper sehingga membuat pertandingan tersebut menjadi tidak menarik dan membosankan. Hampir semua peserta atau kontestan tim nasional melakukan perilaku itu, ujung – ujungnya terjadi perpanjangan waktu dan adu penalti. Jelas, pertandingan yang melelahkan.

Meskipun demikian, tajuk Piala Dunia yang dihelat setiap 4 (empat) tahun sekali tetap merupakan suatu ritual kebutuhan khususnya bagi masyarakat dunia baik penonton maupun Negara peserta Piala Dunia 1990. Saya pun ikut dan mengikuti kuis tebak skor pada salah satu radio swasta yang berlokasi di Jakarta. Pertandingan dan pertandingan selalu saya ikuti hingga larut malam. Saat itu semua pertandingan Piala Dunia dilangsungkan pada pukul 23.00 ke atas.

Ya bisa dibilang saya mulai menjadi pencandu sepak bola. Setiap ada pertandingan, saya pun langsung menelpon radio swasta tersebut dan menebak skor pertandingan antara Tim A versus Tim B. Tebakan saya sekali – kali meleset pada skor pertandingan akhir ke dua team nasional meskipun selisihnya pada setiap pertandingan selalu benar. Ini menjadi tantangan dan memacu saya untuk bisa menebak lebih baik lagi.

Prediksi skor pada even edisi Piala Dunia 1990 yang saya lakukan hanya berdasarkan tebak – tebak berhadiah, artinya meramal tapi tidak berdasarkan data empiris atau fakta lapangan yang kuat. Hingga pertandingan akhir pun antara team nasional Jerman Barat versus Argentina pun masuk Final pasca mengalahkan lawan – lawannya. Jerman Barat sukses menyingkirkan Inggris via adu penalti pada babak semifinal, sementara Argentina melaju ke final sesudah mengalahkan Italia juga pada babak semi final.

Sebelum pertandingan Final Impian tersebut di helat, maka saya pun eksperiman pertandingan antara ke dua tim nasional tersebut. Saya pun mencoba membuatkan prediksi kira – kira taktik tim yang bertanding akan seperti apa ? Metode taktik guru olahraga Pak Helmi dalam permainan Basket menjadi inspirasi saya dalam membuat taktik pertandingan sepakbola. Langsung saya mengambil papan, kertas, bolpen, dan membuat simulasi skema pertandingan berdasarkan fomasi tim masing – masing Negara.

Ketika itu saya ingat ada beberapa pemain Argentina yang diperkirakan tidak bisa bertanding karena faktor akumulasi kartu kuning / merah dan faktor cidera. Nama – namanya yang saya ingat antara lain : Claudio Cannigia, Jorge Buruchaga, Oscar Rugeri, dan 2 pemain lain yang saya lupa namanya. Sementara anggota tim nasional pemain Jerman Barat dapat bermain sepenuhnya baik pemain inti dan pemain cadangan. Satu pun pemain Jerman Barat tak ada yang alami akumulasi kartu dan cidera.

Saya pun mulai simulasikan permainan ke dua tim. Saya memposisikan diri sebagai pelatih untuk ke dua Negara, baik pelatih Jerman Barat dan pelatih Argentina. Saat saya sebagai pelatih Jerman, ada beberapa hal yang saya lakukan : (1) Formasi pola tim ; (2) pemain depan ; (3) pemain tengah ; dan (4) pemain belakang. Sementara, saat saya sebagai pelatih Argentina, ada beberapa perspektif sama yang saya lakukan : (1) Formasi pola tim ; (2) pemain depan ; (3) pemain tengah ; dan (4) pemain belakang.

Saya meramu pola permainan taktik Jerman Barat, strategi, dan organisasi permainan, persis seperti yang diajarkan guru olahraga. Saya membuat skema pertandingan yang akan terjadi dengan asumsi tim nasional Jerman yang diturunkan berkekuatan penuh versus tim nasional Argentina yang tidak semua pemain inti bisa diturunkan penuh. Hasil simulasi tersebut saya peroleh pada suatu kesimpulan bahwa team Jerman Barat menang. Pertanyaan baru muncul, bagaimana dengan posisi tim Argentina ?

Untuk tim Argentina pun, saya melakukan perspektif yang serupa. Saya menganggap diri saya adalah pelatih Argentina. Apa yang saya harus lakukan / ramuan taktik apa yang saya harus lakukan ? Saya pun menyusun perkiraan pemain yang akan diturunkan pada Final Piala Dunia 1990. Salah satunya Diego Armando Maradona. Kemudian saya menggunakan papan, kertas, bolpoin, dan mulai menyusun formasi team, anggota pemain yang bertanding, dan taktik yang akan digunakan.

Saya pun mencoba meracik pola permainan taktik Argentina, strategi, dan organisasi permainan, persis juga seperti yang diajarkan guru olahraga. Saya juga membuat skema pertandingan yang akan terjadi dengan asumsi tim nasional Argentina yang diturunkan berkekuatan tidak penuh versus tim nasional Jerman Barat yang semua pemain inti bisa diturunkan penuh. Hasil simulasi tersebut saya peroleh pada suatu kesimpulan bahwa tim Argentina kalah. Pertanyaannya, skor akhir pada episode Final Piala Dunia kali ini brapa ?

Sesudahnya, saya melakukan corat – coret pada papan peta permainan ke dua tim. Selanjutnya kertas yang memuat simulasi permainan ke dua tim sebanyak 2 lembar disatukan. Hasilnya tetap saya peroleh bahwa tim Jerman Barat memenangkan Piala Dunia 1990 atas tim Argentina ini dengan skor akhir 1 – 0. Kemenangan tersebut diperoleh melalui adu penalti, sementara prediksi saya pada peta permainan ke dua team adalah kemenangan melalui salah satu tendangan pemain Jerman Barat.

Awalnya saya meragukan prediksi hasil ini mendekati valid atau jauh dari kata valid. Memang tidak ada yang pasti, semua bisa saja meleset. Namun saya yakin dan optimis tim Jerman Barat akan memenangkan pertandingan meskipun saya bukanlah salah satu fans Jerman Barat. Saya mencoba membolak – balikkan lagi peta simulasi pertandingan Final tersebut, namun pada akhirnya firasatku mengatakan bahwa Piala Dunia 1990 kali ini akan dan pasti dimenangkan Jerman Barat sebagai Jawaranya.

Mengenai skor akhir pertandingan final Piala Dunia 1990 Italia dimana berakhir 1 – 0 untuk kemenangan Jerman Barat. Memang saya sudah bisa menebak dan memprediksi hasil akhirnya, ironisnya kemenangan tersebut diperoleh melalui adu penalti, sementara prediksi saya pada peta permainan ke dua tim adalah kemenangan melalui salah satu tendangan pemain Jerman Barat yang menceploskan bola ke gawang tim Argentina.

Selanjutnya, saya pun menghubungi salah satu radio swasta yang mengadakan kuis tebak skor 2 (dua) hari sebelum pertandingan Piala Dunia 1990 tersebut digelar. Saya utarakan ingin mengikuti tebak skor akhir Final Piala Dunia. Kemudian saya ditanyakan berapa skor akhir pertandingan terakhir itu oleh salah satu karyawannya, saya pun menjawabnya 1 – 0 untuk kemenangan tim Jerman Barat atas tim Argentina. Sesudahnya, saya pun mempersiapkan diri untuk menyaksikan akhir Final dari edisi Piala Dunia 1990.

2 (dua) hari kemudian, tibalah acara Final tersebut di gelar. Masing – masing Negara mempersiapkan pelatih dan pemain dalam kondisi prima dan siap bertanding. Kalau Jerman Barat menang, maka ini merupakan capaian ke – 3 Piala Juara Dunia, hal sama juga berlaku untuk tim Tanggo Argentina. Saya ingin serius menonton dan menyaksikan acara 4 tahunan itu, namun tak disangka saya pun mulai terlihat lelah dan mengantuk meskipun saya sudah berusaha istirahat yang cukup. Finally, saya pun tidur malam dan larut di dalamnya.

Saya pun bangun tidur dan melakukan aktivitas pagi, misalnya mandi, sarapan pagi, menonton berita non olahraga, dan rehat sejenak. Hingga akhirnya, telpon rumah pun berdering dan saya pun mengangkatnya serta diberitahu bahwa saya diundang ke salah satu kantor radio swasta atas keberhasilan menebak skor Final Piala Dunia 1990 secara tepat. Awalnya saya bingung, takut, dan tidak mengerti dan memanggil mama (Ibuku) untuk mengangkat telpon. Mama pun menerima telpon itu dan mendengarnya.

Karyawan tersebut mengulangi kembali informasi tersebut kepada Ibuku. Beliau kaget mendengarnya dan menanyakan ulang kepadaku tentang perihal ini. Mama ingin mendengar dan memastikan, katanya. Dan saya pun  mengakui, membenarkan, dan berkata bahwa beberapa hari melakukan tebak skor Piala Dunia. Saya tak pernah menyangka dan kaget karena tebak skor itu pada ritual 4 tahunan menjadi realitas yang sesungguhnya.

Semua saudara ikut senang dan bahagia mendengar berita ini, bahkan berita ini sampai kepada ayahku yang sedang berlayar. Kami berdua pun diundang hadir untuk menerima pemberian hadiah. Jelas hatiku senang dan ini menjadi berita gembira buatku. Ini merupakan salah satu momen kenangan terindah dalam hidupku yang tidak terduga dan masih membekas sampai saat ini padahal sudah berlangsung 30 tahun lalu (era tahun 1990 – tahun 2020).

Suka Artikel Ini ?

Click on a star to rate it!

Average rating / 5. Vote count:

No votes so far! Be the first to rate this post.

error: Content is protected !!