[ Cerpen Asmara ] Destiny

Cerpen Asmara – Gea dan Geo adalah saudara tiri yang tumbuh bersama dan tidak terpisahkan sejak kecil, mereka saling menyayangi dan melindungi satu samalain, namun kebersamaan mereka ternyata memupuk perasaan yang ada menjadi lebih dalam, rasa yang awalnya hanya kasih sayang antara saudara perlahan berubah menjadi rasa yang lain yang bahkan asing bagi mereka, apalagi mereka tahu mereka bukanlah saudara sadarah,  sampai akhirnya mereka memutuskan untuk menjaalin hubungan yang lebih dari sekedar hanya saudara.

cerita asmara dokter
sumber : https://www.foxbusiness.com/

Hidup mereka sempurna dengan kebahagiaan baru dengan hubungan baru mereka, namun tiba-tiba saja kebahagiaan itu hancur saat Geo meninggalkan Gea tanpa alasan bahkan tanpa mengucapkan selamta tinggal,paahal saat itu adalah saat dimana Gea membutuhkan Geo disisinya.

Sampai akhirnya rasa benci  itu muncul di hati Gea, tapi nyatanya rasa benci iu hanya mampu menutupi rasa cintanya tanpa bisa menghancurkannya.

Entah takdir sedang berbaik hati pada mereka atau malah sedang mengutuk mereka, hingga mereka kembali dipertemukan dalam keadaan yang tidak pernah mereka sangka.

~Destiny~

Hampir semua orang pasti setuju, bahwa hari sabtu dan minggu adalah hari yang paling ditunggu diantara semua hari yang ada, rasanya tidak perlu penjelasan khusus mengenai hal ini, karena tentu saja hampir semua kegiatan pada hari itu diliburkan.

Hal yang sama juga dirasakan gadis yang masih bergelung nyaman diatas tempat tidurnya, tapi sedetik kemudian, gadis itu mendudukan dirinya dengan ramut yang tergerai acak-acakan dan tanpa membuka matanya.

Dengan malas gadis itu beranjak dari kasur, tujuan utamanya adalah kamar mandi yang berada di dalam kamar tidurnya, jika saja bukan karena panggilan alam yang menuntut untuk segera dituntaskan gadis itu tidak akan mau repot-repot meninggalkan kasur dan selimutnya yang nyaman, apalagi matahari baru saja beranjak naik.

Karena rasa kantuknya sudah hilang terkena air, Gea,gadis itu memilih beranjak dari kamarnya menuju dapur dengan rambut yang masih acak-acakan untuk sarapan, kali ini sepertinya  Gea hanya bisa puas dengan dua helai roti selai coklat dan segelas susu, maklum saja di rumah itu hanya ada dirinya dan ayahnya yang sama-sama hanya bisa memasak telur ceplok dan mie instan, sungguh kehidupan begitu kejam  pada mereka.

Makan di meja makan bukan gayanya, Gea lebih senang makan di ruang keluarga sambil nonton TV, makan tanpa nonton rasanya seperti masakan tanpa garam menurut Gea.

“Sudah bangun?” Tanya Tino, ayah Gea yang sibuk membersihkan pigura foto yang sepertinya baru diambilnya dari gudang, tapi Gea sadar laki-laki paruh baya itu sedang berusaha menutupi gambar yang dibingkai pigura itu.

Gea menjawab pertanyaan ayahnya dengan gumaman, selain karena mulutnya yang penuh dengn roti gadis itu juga sedang berusaha keras melihat gambar dibalik pigura itu yang membuatnya penasaran, seketika gea menghentikan kunyahannya dan segera menelan paksa makanannya saat foto yang dibingkai pigura itu tertangkap retina hitamnya.

“Ngapain ayah ngeluarin foto itu lagi?” Tanya Gea dengan geram.

Laki-laki paruh baya itu tidak segera menjawab pertanyaan putrinya, untuk beberapa saat laki-laki paruh baya itu hanya menatapi foto yang ada di pelukannya.

“Ayah cuma kangen saja.”

Mendengar jawaban santai ayahnya sontak saja Gea melempar piring berisi roti yang baru satu gigitan dia makan dengan cukup keras, hampir saja roti itu terlempar dari atas piring, “Ayah tahu kan kalau Gea paling gak suka ayah ngingat-ngingat orang itu, ayah sadar kan kalau dia itu cuman orang luar yang udah lupain kita, ninggalin kita, jadi untuk apa kita mengingatnya.”

Tanpa mau mendengar jawaban ayahnya Gea kembali ke kamarnya diikuti suara pintu yang ditutup dengan keras.

Tino hanya bisa menatap bayangan anaknya yang menghilang di ujung tangga dengan prihatin, dia sadar betul dengan keengganan putrinya mengungkit tentang orang itu, tapi dia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa dia sangat merindukan putranya.

Sementara Gea, gadis itu hanya bisa bersandar dibalik daun pintu dengan air mata yang berusaha ia halau, meskipun setetes air matanya tidak bisa ia tahan, tapi dengan cepat gadis itu menghapusnya, Gea tidak bisa menunjukan air matanya di depan ayahnya, apalagi untuk orang yang sudah meninggalkan mereka, sebagai gantinya gadis itu memilih menyalurkan amarahnya dengan mengepalkan tangannya kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Tiba-tiba handphone miliknya berdering, sebelum mengangkat panggilan itu,  Gea berusaha mengatur nafasnya mencoba menenangkan dirinya. Dilihatnya yang meneleponnya adalah Vina, sahabatnya yang sudah seperti saudarinya.

“Halo?”

BACA JUGA :  [ Cerpen Inspirasi ] Langkah Tujuan

“Gea, dokter ahli jantung dari jerman buat nyokap gue udah datang,  nyokap gue harus dioperasi sekarang juga, gue butuh lo.” Suara Vina terdengar bergetar, sepertinya gadis itu sangat ketakutan dan khawatir.

“Gue kesana sekarang.”

Dengan tergesa Gea segera mandi dan berpakaian, dia hanya memoleskan bedak diwajahnya dan mengikat rambut panjangnya asal-asalan, hampir saja Gea melupakan tas kesayangan karena terlalu tergesa-gesa.

“Yah, Gea ke rumah sakit dulu, tante Bening dioperasi sekarang.” Pamit Gea pada ayahnya yang masih berada di ruang TV, tapi Gea sudah tidak melihat lagi tumpukan pigura foto disana, sepertinya ayahnya sudah menyimpannya kembali ke gudang, dan sekarang laki-laki itu sudah kembali lagi sibuk dengan leptopnya.

“Iya hati-hati, nanti ayah nyusul kesana, ayah ada meeting mendadak.”

Sampai di rumah sakit Gea segera menuju ke tempat dimana sahabatnya itu berada, disana hanya ada Vina dan ayahnya, Vina memang hanya anak tunggal seperti Gea, sementara kerabatnya kebanyakan ada diluar kota.

“Gimana keadaan nyokap lo?” Tanya Gea dengan nafas yang tersengal, gadis itu berlari dari parkiran rumah sakit ke ruang operasi yang berada di lantai dua tanpa menggunakan lif.

Vina hanya menggeleng lemah menjawab pertanyaan Gea, sepertinya Vina sangat khawatir dengan kondisi ibunya yang semakin hari semakin memburuk. Gea segera memeluk sahabatnya itu berharap bisa sedikit menenangkannya.

Lima jam lebih Gea, Vina dan ayahnya menunggu lampu di ruang operasi yang awalnya berwarna merah berubah warna menjadi hijau. Tidak  berapa lama seorang suster keluar, gea, Vina dan ayahnya segera menghampiri suster itu dan menanyakan keadaan Bening, tapi suster itu hanya menjawab bahwa operasinya berhasil dan untuk lebih jelasnya dokter ahli itu yang akan menjelaskannya.

Tidak berapa lama, seorang dokter dengan baju khas operasi dan masker yang masih menutupi wajahnya keluar, dari perawakan dan warna kulit wajahnya yang tidak tertutup masker Gea bisa menebak bahwa dokter itu orang asia.

Saat dokter itu membuka maskernya, untuk sesaat Gea hanya bisa terdiam, dia hanya bisa berdiri mematung dengan tatapan yang tidak lepas dari dokter itu, meskipun wajahnya sedikit berubah dengan terakhir kali Gea lihat, tapi gadis itu tidak akan mungkin bisa menghilangkan sosok itu dari fikirannya meskipun dia ingin, dia adalah Geo, laki-laki yang sudah meninggalkannya tanpa alasan.

Hal yang sama dilakukan Geo saat dia selesai menjelaskan keadaan pasiennya pada suami dan anak pasien itu, awalnya dia tidak menyadari keberadaan Gea disana, tapi saat dia menoleh pada gadis yang hanya berdiri mematung disamping suami pasiennya, dengan sekali tatap dia bisa mengenali gadis itu adalah Gea, adiknya yang sudah dia tinggalkan.

Tanpa menghiraukan sahabatnya yang sedang bahagia dengan operasi ibunya yang berhasil, gadis itu segera berbalik dan berlari sekencang yang ia bisa tanpa menghiraukan teriakan sahabatnya yang memanggil dirinya.

Gea tidak langsung pulang ke rumahnya, gadis itu memilih pergi ke tempat dimana dia bisa menenangkan diri.

Orang bilang, melihat air yang tenang akan membuat hati juga ikut tenang, kiranya itu juga yang dipercayai Gea, duduk beralaskan rumput sambil memandang jauh kearah danau yang tenang memang sangat membantunya menenangkan diri, meskipun begitu, kilasan balik masa kecilya seakan kembali berputar di kepalanya.

Ingatannya kembali ke tujuh belas tahun yang lalu, saat itu dirinya baru saja masuk SD, saat itu Gea dimintai uang oleh  kakak kelasnya yang berada di tingkat akhir,padahal uang itu adalah uang jajan terakhirnya dan sialnya dia tidak membawa bekal hari itu. Gea sudah bersiap memberikan uang itu pada kakak kelasnya, dia tidak mau mengambil resiko dengan disakiti oleh kakak kelasnya itu, tapi Geo dengan sigap mencegahnya,alhasil kakak kelasnya itu marah dan mendorong Geo, dengan sikap keras kepala Geo tentu saja laki-laki itu tidak akan mau menyerah begitu saja, dengan berani Geo membalas perlakuan kakak kelasnya itu, padahal tinggi Geo saat itu hanya sedada kakak kelasnya, perkelahian pun tidak terelakan lagi, dan entah karena apa saat itu Geo bisa mengalahkan kakak kelasnya.

Sejak saat itu tidak ada lagi yang berani membuly Gea baik di SMP ataupun di SMA,apalagi setelah Geo membuat komplotan.

Saat mereka beranjak dewasa segalanya berubah, apalagi  mereka tahu bahwa mereka bukanlah saudara kandung, perasaan yang awalnya hanya kasih sayang antara saudara seketika berubah menjadi perasaan yang asing bagi mereka.

Gea masih ingat bagaimana terkejutnya dirinya saat  Geo menyatakan perasaannya , saat itu Gea baru saja masuk SMA dan Geo berada di akhir masa SMA, meskipun ragu , Gea menerimanya karena dia juga memiliki perasaan yang sama dengan kakak angkatnya itu, tentu saja mereka merahasiakan hubungan itu dari semua orang tanpa terkecuali, terutama dari ayah mereka.

BACA JUGA :  [ Cerpen Romantis Sedih ] Pesan Dari Langit Ketujuh

Kehidupan mereka awalnya baik-baik saja meskipun dengan hubungan yang tidak lagi sama, tapi semuanya berubah saat Gea mengalami kecelakaan, Gea koma selama satu bulan dan saat dia membuka mata, Gea sama sekali tidak melihat Geo ada diruangan itu menunggunya, dua minggu lebih gea dirawat setelah dia sadar dari koma dan sampai dia diperbolehkan pulang, dia sama sekali tidak melihat Geo.

Hatinya sangat hancur saat ayahnya mengatakan bahwa Geo meninggalkan mereka dan memilih kembali pada keluarganya, tapi Gea dengan setia menunggunya, berharap laki-laki itu akan kembali atau setidaknya memberinya kabar.

Setiap hari yang dilakukan Gea hanya berdiam diri di kamar Geo, menghirup aroma kamar itu yang masih kental dengan aroma Geo, bahkan setiap malam gadis itu memilih menidurkan dirinya dikamar itu, memeluk foto Geo dan menangis hingga lelah dan tertidur, sungguh hatinya meronta ingin laki-laki itu cepat kembali, tapi setahun, dua tahun, laki-laki itu tidak juga kembali atau setidaknya memberinya atau ayahnya kabar.

Mungkin memang benar yang diakatakan orang, bahwa kesabaran itu ada batasnya, karena sekarang Gea sudah berada di luar batas kesabarannya.

Rasa kecewanya perlahan berubah menjadi rasa benci, dia merasa dibuang oleh kakaknya yang juga adalah kekasihnya, tapi seberapa besarpun Gea memupuk rasa bencinya nyatanya rasa cintanya tidak pernah hilang atau berkurang sedikitpun dan seberapa besarpun Gea berusaha melupakan Geo nyatanya rasa rindunya malah semakin bertambah dan semakin menyiksanya.

Setelah merasa cukup mengeluakan air matanya, Gea segera beranjak dari tempatnya, saat itu hari mulai sore, saat Gea sampai dirumahnya dilihatnya ada seorang laki-laki yang meskipun membelakanginya, gadis itu mengenalinya.

Geo duduk disamping ayahnya yang sepertinya baru behenti menangis, tanpa befikir panjang Gea segera menghampiri mereka, membuat kedua orang itu sedikit terkejut dengan kedatangan Gea yang tiba-tiba.

“Untuk apa kau datang ke sini?” Tanya Gea tanpa basa-basi lagi.

“Menemuimu dan ayah.”

“Untuk apa?”

Tanpa mau mendengar jawaban Geo, gea segera melanjutkan kata-katanya.

“Lebih baik kau tidak usah menemui kami untuk selamanya, aku tidak pernah mau bertemu dengnmu lagi, jadi saya mohon Dokter Geo, lebih baik anda segera pergi dari rumah kami!”

Kali ini ego Gea mengalahkan segala rasa yang ada di hatinya, jadi dia mengatakan sesuatu yang bahkan tidak pernah ia fikirkan sebelumnya dan itu sangat bertentangan dengan hatinya.

“Gea,,,”

“Tidak apa-apa Ayah,aku sudah mengerti.” Ujar Geo menyela perkataan Tino, lalu dia menatap Gea dan melanjutkan perkataannya, “aku tidak akan pernah menemuimu lagi, mungkin ini akan menjadi pertemuan terakhir kita, aku hanya ingin mengatakan maaf dan selamat tinggal.”

Setelah itu Geo meninggalkan rumah itu juga Gea dan ayahnya.

“Kenapa kau melakukan itu?” Tanya Tino dengan kekecewaan yang kentara di wajahnya.

“Aku memang tidak pernah mau bertemu dengannya lagi,dia sendiri yang meninggalkan kita, jadi untuk apa dia ingin menemui kita sekarang?” Lagi-lagi egonya mengalahkannya.

“Dia tidak pernah bermaksud meninggalkanmu.” Ujar Tino dengan nada yang sedikit meninggi.

Gea tertawa sumbang mendengar perkataan ayahnya, “Tidak pernah bermaksud meninggalkanku? Lalu kenapa dia malah meninggalkanku saat aku dalam kondisi paling kritis?  dia bahkan tidak pernah menampakan dirinya walau hanya untuk mengucapkan selamat tinggal.”

Tino menundukan kepalanya mendengar perkataan anaknya, semua adalah kesalahannya yang tidak mengatakan kebenarannya, “Aku yang menyuruhnya untuk pergi.”

Gea menatap ayahnya tidak percaya,”Apa maksud ayah?”

Tino menundukan kepalanya tidak berani menatap putrinya, “Maafkan aku!”

“Kenapa?”

“Aku sudah mengetahui tentang hubungan kalian.”

“Lalu kenapa ayah menyuruhnya pergi? kau sudah menganggapnya sebagai anakmu, kau begitu menyayanginya.” Ujar Gea sedikit berteriak, dia tidak bisa lagi membendung kemarahannya.

Tino menatap mata putrinya yang mulai berkaca-kaca, setelah mengumpulkan keberaniaannya, laki-laki paruh baya itu menjawab pertanyaan putrinya, “Dia adalah kakak kandungmu, kalian lahir dari rahim yang sama.”

Seketika dunia Gea runtuh, dadanya seperti tertimpa beban yang sangat berat yang bahkan tidak bisa ia tahan, dia lupa bagaimana caranya bernafas, hatinya seperti dicengram kuat hinga hancur berkeping-keping, perlahan Gea luluh ke lantai, kakinya seakan kehilangan kekuatannya dan tidak bisa lagi menopang beban tubuhnya.

“Tidak mungkin!” dan akhirnya pertahanannya selama ini hancur, air matanya tidak bisa lagi ia tahan, gadis itu hanya bisa menangis menerima kenyataan pahit itu.

BACA JUGA :  [ Cerpen Fantasi ] Dua Sisi Bulan: Takdir Para Pahlawan dan Raja iblis

Tino bersimpuh dihadapan putrinya dengan kepala tetunduk, air matanya yang sempat berhenti mengalir sekarang kembali lagi tumpah, meskipun begitu, laki-laki itu tetap melanjutkan peerkataannya dan mengungkap semua kebenaran yang selama ini dia simpan.

“Kau ingat saat Geo pertama kali datang ke rumah ini? Saat itu umurnya baru tujuh tahun, Geo kehilangan ayah kendungnya, sementara ibumu meninggal saat melahirkanmu, dan nenekmu dari pihak ibu tidak mau mengakuinya, sementara keluarga ayahnya tidak cukup mampu untuk membesarkannya. Aku tidak tega melihat anak sekecil Geo harus terlantar, akhirnya aku mengadopsinya, sementara nenekmu tidak mau sampai semua orang tahu bahwa Geo adalah putra dari putrinya, aku tidak punya pilihan lain selain menyetujuinya.”

Gea hanya bisa mendengarkan penjelasan ayahnya dalam diam, hatinya menolak kenyataan ini, tapi inilah kenyataan yang harus diterimanya.

Setelah puas meluapkan emosinya, Gea segera beranjak dari tenpatnya, “Dimana dia sekarang?” Tanya Gea dengan nafas tersengal.

“Bandara, penerbangannya mungkin satu jam lagi.”

Tanpa basa-basi lagi  Gea segera menyusul Geo, dia memacu kendaraanya dengan kecepatan tinggi, tapi baru setengah pejalanan dia tejebak kemacatan, butuh dua puluh menit untuk dia terbebas dari kemacatan, dan saat dia sampai di bandara penerbangan menuju Jerman hanya tersisa sepuluh menit lagi, dengan cepat gadis itu berlari mencari seseorang yang begitu berarti baginya.

Gadis itu sudah berkeliling kesana-kemari mencari keberadaan Geo,tapi dia tidak menemukannya, Gea sudah putus asa mencari Geo, tapi tiba-tiba seseorang memanggilnya dari belakang.

“Gea!”

Gea segera membalikan badannya, dan benar saja dugaannya, seseorang itu adalah Geo, untuk beberapa saat mereka hanya saling menatap dengan jarak yang cukup jauh.

“Kenapa kau tidak mengatakan kebenarannya?” Tanya Gea memulai pembicaraan.

Geo berjalan mendekati Gea, mempersempit jarak yang ada di antara mereka, “Aku berharap kau akan membenciku dan melupakan perasaan kita yang salah ini.”

Gea tidak melepaskan tatapannya dari mata Geo yang juga menatap Gea, “Tapi nyatanya perasaan itu tidak hilang, aku malah semakin mengingatmu, merindukanmu dan kau tahu seberapa menyiksanya itu?”

“Maka aku berharap karinduan yang menyiksa ini yang akan menghapus persaan kita yang salah.”

“Apa maksudmu?”

“Ini mungkin akan menjadi pertemuan terakhir kita.”

“Kau akan meninggalkanku lagi? Kau akan menyakitiku lagi  dengan merindukanmu?”

“Ini yang tebaik untuk kita, lebih baik kita tersakiti dengan perasaan rindu kita daripada mengharapkan angan-angan kosong yang akan jauh lebih menyakiti kita. Mungkin masih butuh banyak waktu untuk kita bisa melupakan perasaan telarang ini, dan aku berharap saat itu terjadi kita akan menjadi saudara yang seutuhnya, jadi kuharap kau mengerti dengan keadaan ini!”

Air mata Gea yang sempat terhenti kembali tumpah tanpa bisa ia halau, dengan sigap Geo segera memeluk adiknya itu, ingin sekali Geo menangis deperti yang dilakukan Gea saat ini, tapi dia tidak bisa melakukannya, dia ingin menunjukan pada adiknya bahwa dia kuat dan bisa menjalani semua ini.

Geo melepaskan pelukannya dan menghapus air mata adiknya dengan jarinya, “Kita akan bertemu lagi setelah kita melupakan perasaan kita masing-masing, setelah itu semuanya akan kembali seperti semula, kita akan menjadi saudara yang saling menyayangi dan melindungi satu sama lain. Jadi Gea, berjanjilah untuk tidak mengeluarkan air matamu untuku lagi!”

Gea hanya menjawabnya dengan anggukan, dia berusaha menghentikan tangisannya dan mengubahnya dengan senyuman.

Melihat senyuman adiknya Geo juga ikut tersenyum,lalu laki-laki itu mencium kening adiknya dalam, dan tanpa bisa ditahan lagi air matanya mengalir begitu saja, tapi segera dihapus, dia tidak ingin adiknya semakin bersedih.

Geo segera melepaskan ciumannya di kening sang adik ketika mendengar pemberitahuan penerbangannya, “Aku harus pergi! Jaga dirimu baik-baik!”

Dengan berat hati Gea melepas kakaknya itu pergi lagi, tapi dia juga sadar ini adalah hal yang terbaik untuk mereka, Gea sadar jika mereka tetap bersama rasa itu akan semakin tumbuh subur dihati mereka dan malah akan semakin menyakiti mereka.

Ingin sekali Gea menyalahkan takdir yang membuatnya harus merasakan rasa sakit yang begitu menyiksanya, ingin sekali dia mengutuk takdir yang membuatnya memberikan cintanya pada seseorang yang tidak akan pernah bisa ia miliki, tapi inilah takdirnya, seberapa keraspun Gea menyalahkan dan mengutuk takdir itu, itu tetaplah takdirnya yang tidak akan pernah bisa ia tolak atau rubah sedikitpun.

Comments to: [ Cerpen Asmara ] Destiny